Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Intuisi


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu kamar tidur mereka di ketuk. Ibu Ita tersenyum melihat Sekar yang membuka pintu. Wanita paruh baya ini memberi tahu bahwa orang tua dan mertuanya datang. Ia langsung pamit setelah memberi tahukan tujuannya.


Sekar mengetuk pintu kamar mandi dan memberitahu kedatangan ayah, bunda, mama dan papa kepada Danil. Suaminya segera bergegas menyelesaikan mandinya.


“Mas, cari apa?” tanya Sekar melihat suaminya membuka lemari baju dengan handuk yang masih penutupi perutnya.


“Cari baju Bee, mas tidak ke kantor hari ini. Maaf, kamu sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak mas pakai.”


Sekar menghampiri suaminya. “Kenapa tidak ke kantor?” tanyanya sambil memberikan kaos berkerah warna biru muda dengan celana kargo warna coklat muda.


“Terima kasih Bee,” ucapnya sambil menerima pakaian yang diberikan Sekar, tidak lupa mengecup lembut pipi istrinya.


“Selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Selagi ada kesempatan kenapa tidak,” ucap Danil tersenyum manis.


“Kesempatan yang manis, aku suka,” ucap Sekar.


“Tidak ingin membalasnya?”


“Apa perlu?”


“Sangat membutuhkannya,” jawab Danil sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sekar mencium kedua pipi Danil dan langsung merangkul tubuh lelakinya “Suka wanginya,” ucap Sekar mencium aroma segar tubuh suaminya.


“Masih pagi Bee,” ucap Danil menggoda.


Blush! Pipi istrinya langsung merona. “Apa sih mas, merusak suasana saja.”


“Ada apa Bee, kenapa akhir-akhir ini begitu sensitif?”


“Hanya perasaan mas saja.”


“Benarkah?” Danil seakan mengingatnya.


“Kenapa tidak ke kantor mas?” tanya Sekar tanpa menjabaw pertanyaan Danil.


“Kenapa tidak ke kantor mas?” tanya Sekar ke dua kalinya.


“Karena mas tidak ingin jauh dari kamu Bee, dan pekerjaan di kantor dapat mas kerjakan dari rumah,” jawab Danil sambil memakai baju yang diberikan oleh istrinya.


“Aku baik-baik saja mas.”


“Dan mas lebih baik-baik saja, bila dapat menatap kamu setiap saat.”


“Gombal!”


“Mas serius Bee,” ucap Danil dengan tegas.


“Apa ada sesuatu?”


“Tidak ada,” Danil tersenyum menatap istrinya yang mudah sekali curiga semenjak pengakuan Ryan dan Renata.


“Aku tidak suka dibohongi mas,” Sekar mulai menuntut.


“Dan mas pun tidak suka berbohong, apalagi sama kamu Bee.”

__ADS_1


Sekar mencari tanda-tanda kebohongan dari mata suaminya, namun ia tidak mendapatkannya. Mata tegas itu balik menatap dengan tulus.


“Kamu masih ragu sama mas?”


“Entahlah mas, sulit untuk mencerna semua ini. Ragu? bukan ragu karena rasa sayang mas.”


“Kamu masih takut?”


“Rasa takut itu pasti ada mas, bohong kalau aku bilang tidak takut.”


Danil menarik Sekar dengan lembut kedalam pelukannya. Membelai punggung istrinya dengan sayang. “Apapun yang terjadi, terjadilah. Mas tidak takut, asalkan hidup kita tidak pernah terpisah.”


“Bagaimana pun, siapa pun yang melakukan, apa pun caranya, bila jodoh! Kita tidak akan mungkin terpisah.”


“Kamu boleh curiga, boleh takut, boleh resah, boleh gelisah, boleh apapun, tapi satu hal yang tidak boleh kamu lakukan,” ucap Danil sambil menatap Sekar.


“Apa?”


“Kamu tidak boleh menutupinya dari mas, hal sekecil apapun.”


“Mas juga, seburuk apapun berita yang mas dapatkan, aku harus tahu. Tidak ada yang ditutupi, dirahasiakan, atau pun bertindak tanpa seizin aku.”


Danil tersenyum menatap istrinya. “Istri mungilku sudah pintar bernegosiasi.”


“Aku belajar dari ahlinya.”


“Masih harus mas asah kemampuan negosiasimu Bee. Not bad (tidak buruk) lah untuk pemula.”


“Jadi, setuju atau tidak setuju?” tanya Sekar.


"Setuju tentang apa?"


"Bee.”


“Mas harus bersumpah!”


“Harus kah Bee.”


"Harus!"


“Bersumpah atas apa?”


“Atas ucapan mas."


“Bee ...,” Danil menatap istrinya dan tersenyum. “Ok, baiklah cintaku,” ucap Danil gemas menatap istrinya. “Aku, Mas Danil tersayang, suaminya Sekar. Berjanji tidak akan melakukan hal tersebut.”


“Coba sebutkan hal tersebut itu apa?”


“Ya Tuhan Bee,” Danil semakin gemas dengan istrinya.


“Kamu boleh main cantik mas, aku akan teliti mulai sekarang!” ucapan Sekar membuat Danil tertawa sangat keras.


“Baiklah sayang,” ucap Danil pasrah.


“Aku, Mas Danil tersayang, Suami Sekar, BER-JAN-JI tidak akan menutupi, merahasiakan hal sekecil apapun dan tidak akan bertindak tanpa sepengetahuan dan seizin istri mungilku tersayang.”


“Terima kasih mas Danilku sayang,” ucap Sekar sambil mengalungkan lengannya pada lengan Danil.


Danil menatap istrinya dengan senyum jahilnya, ia sangat mencintai istri mungilnya. Sangat terlihat dari tatapan dan perilakunya.

__ADS_1


“Jangan menatap istrinya dengan tatapan seperti itu mas,” ucap Sekar menghentikan langkah mereka yang hendak keluar kamar.


“Tatapan seperti apa?”


“Jangan pura-pura bingung mas, tatapan mu barusan adalah tatapan jahil!”


“Kamu memang selalu mengejutkan aku dengan intuisimu.”


“Intuisi ku selalu mengarah kepadamu,” Sekar menyanyikan sebaris penggalan lagu yang dinyanyikan Yura Yunita.


“Lanjutkan masa hanya satu baris,” pinta Danil.


“Ayo kita temui orang tua kita,” ajak Sekar.


“Paling jago kalau masalah mengalihkan pembicaraan.”


Sementara di meja makan para orang tua berkumpul sambil menikmati sarapan. Dimeja lainnya Bisma, Indra dan Tara sedang melakukan hal yang sama, bedanya di meja ini raut wajah terlihat lebih serius.


“Selamat pagi,” sapa Sekar dan Danil. Mereka langsung mencium tangan dan memeluk para orang tua.


“Sekar, bagaimana mas mu ini?” tanya Papa Andi.


“Mas Danil nambah gelar pa,” ucap Sekar tersenyum.


“Gelar apa?” tanya mama Fina penasaran.


“SG,” jawab Sekar sambil melirik suaminya yang ikut bingung. “Sarjana Gombal!” ucapnya lagi membuat Danil menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang.


“Mulai bisa menggoda suaminya ya,” Danil menempelkan dagunya pada bahu Sekar.


“Ayah senang melihat kalian seperti ini. Semoga hal yang terjadi membuat kalian semakin dekat.”


Sekar menyuruh Danil duduk sambil mendengarkan orang tuanya bicara. Sedangkan dia langsung sibuk membuatkan kopi hitam dan roti bakar kesukaan suaminya.


“Jaga istrimu mas, mama khawatir sekali.”


“Papa, mama, ayah dan bunda, Danil akan semaksimal mungkin menjaga Sekar.”


“Apa dia bisa tidur nyenyak?” tanya Ayah Bagas, tidak dapat dipungkiri bagaimana pun orang tua selalu mengkhawatirkan anaknya.


“Baru pagi ini, Danil mendengar Sekar mengigau yah.”


“Apa yang dia katakan?” tanya bunda.


Danil menceritakan bagaimana mimpi dan igauan istrinya yang dia dengar tadi. Bunda dan ayah memberi tahu Danil, hal ini biasanya terjadi ketika anaknya merasa tidak nyaman dan terlalu banyak yang dipikirkan hingga semua itu masuk dalam alam mimpinya.


“Bila dia ketakutan, langsung peluk saja Nil,” ucap ayah Bagas. Danil pun mengangguk, menanggapi ucapan ayah.


Sekar kembali sambil membawa secangkir kopi hitam, dan roti bakar rasa coklat kacang. “Terima kasih Bee,” ucap Danil.


“Kembali kasih mas,” dia memamerkan senyum manisnya. “Apa aku ketinggalan sesuatu?”


“Tidak sayang, kami belum membicarakan apapun,” ucap Ayah Bagas.


“Sekarang kalian sarapan dulu lah.”


“Selamat sarapan semuanya,” ucap Sekar.


***

__ADS_1


__ADS_2