
Rena merapihkan bekas makan mereka, dengan gesit melap meja yang terkena sisa makanan.
“Istirahat sayangku, tenang saja nanti ada yang membereskan,” ucap Ryan, berusaha menghentikan Rena.
“Ya ampun ay, cuma merapihkan, bukan hal yang sulit kok,” jawab Rena, membantah.
“Kamu tuh yang, kalau dikasih tahu suka ngeyel.”
“Ya ampun ay, aku tuh hamil, bukan sakit parah, jadi masih bisa melakukan hal kecil ini.”
“Ok yang, terserah kamu saja,” kata Ryan sambil merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Rena menatap Ryan, dan duduk disebelahnya. “Pegel ya ay?”
“Lumayan,” jawab Ryan masih menutup matanya.
“Bangun sebentar deh,” pinta Rena, otomatis membuat Rya membuka matanya.
“Kenapa?”
“Sudah bangun dulu, hadap kiri,” perintah Rena.
Ryan menatap sebentar pada Rena dan menurutinya. Rena kemudian memijat bahu Ryan, dan dia menikmatinya.
“Kurang keras enggak?”
“Enggak, sudah yang kamu sendiri cape kan, masa masih pijatin aku juga.”
“Kamu lebih cape ay, apalagi gendong aku tadi, cape kan. Sudah diam jangan banyak ngomong, cowok kok bawel kayak mbok Sumi saja.”
“Masa aku di samaain sama mbok Sumi. Wajar kalau dia bawel, orang dia sudah tua.”
“Mbok Sumi itu mengasuh aku dan Kak Damar dari kita masih kecil sampai sebesar ini. Kalau menurut aku wajar dia cerewet karena mbok Sumi sudah menganggap aku dan kak Damar seperti anaknya sendiri. Pasti saat ini Kak Damar lagi di nasehatin supaya mencari aku.”
“Hebat ya mbok Sumi itu,”
“Iya, orang kak Damar lebih nurut sama mbok Sumi daripada sama mama, terkadang papa juga takut sama mbok Sumi. Tapi tahu sendiri papah itu orang yang keras, pasti omongan mbok Sumi cuma dianggap angin lalu.”
“Yang, malam ini kamu mau menginap dimana?”
“Kan tadi sudah aku bilang dimana saja aku tidak masalah ay, jangan memberatkan.”
“Memberatkan apa? Hari ini kita bisa menginap di hotel, tapi besok kita harus cari tempat tingal. Jauh dari pusat kota tidak apa-apa kan?”
“Apanya?”
‘Tempat tinggalnya sayang, kalau cari di pusat kota pasti harganya lumayan.”
“Dimana saja ay.”
“Baiklah calon nyonya Ryan. Terima kasih pijatannya, enak sekali,” kata Ryan sambil berbalik menatap Rena. “Sekarang kamu harus istirahat.”
“Aku tidak cape ay.”
“Kenapa kamu selalu membantah sih yang?” tanya Ryan gemas.
Pintu terbuka, Ridwan membukakan pintu dan Nadia masuk membawa dua piring kecil berisi cake dan meletakan di atas meja.
“Makan Na, aku bawain kue kesukaan kamu.”
“Masih muat perutnya?” tanya Ryan.
“Muat lah gimana sih, Rena kan makan berdua sekarang. Apalagi tadi dia belum makan, iya kan?”
__ADS_1
“Iya sih Nad,” jawab Ryan. “Kamu mau makan yang mana sayang?” tanya Ryan pada Rena.
“Semuanya buat aku?” tanya Rena pada Nadia.
“Iya lah, lagi enggak hamil saja kamu bisa menghabiskan tiga potong cake apalagi sedang hamil begini.”
Rena tersenyum lebar, Ryan menatapnya bahagia. “Jadi mau yang mana?” tanya Ryan kedua kalinya.
“Mau cake coklat dulu, ada macaroon nya,” jawab Rena.
Ryan memberikan piring berisi cake coklat pada calon istrinya. Rena antusias menerima sepirig kue, seperti anak kecil yang sedang mengharapkan hadiah. Dia memotong kue nya dan memberikan pada calon suaminya.
“Kamu makan saja ay, aku gampang,” kata Ryan sambil memakan kuenya.
“Tinggal makan saja bawel sih,” Rena terlihat kesal.
“Ryan, bumil itu sensi tahu, jadi harap maklum,” Nadia menegur Ryan.
“Sorry, enggak ngerti,” kata Ryan sambil menggaruk kepalanya.
“Nad, bawa Rena istirahat di kamar gih,” pinta Ridwan. Nadia mengajak Rena masuk ke kamar yang berada di belakang lemari buku.
“Sudah selesai makan, otak loe sudah mulai jalan kan?”
“Sudah bisa mencernalah,” jawab Ryan.
Tok .. Tok ..
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Waalaikumsalam,” jawab Ryan dan Ridwan.
“Kalau orang salam, dijawab yang lengkap dong,” tegur Fajar.
“Nah kalau gitu artinya juga lengkap kan. Kalau cuma Assalamualaikum atau biasa dibaca assalamu’alaykum adalah semoga keselamatan dberikan untuk kamu atau bahasa dunianya “May peace be upon you.”
“Kalau jawabnya lengkap, itu lebih baik lagi karena artinya semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan untuk mu. Nah kalau artinya waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh adalah semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada kalian.”
“Siap pak haji,” jawab Ridwan sambil memeluk sahabatnya.
“Muka loe keliatan mumet banget Yan,” kata Fajar sambil memeluk Ryan.
Ryan hanya tersenyum, kemudian dengan inisiatif Ridwan menceritakan masalah yang sedang dihadapi Ryan.
“Niat sudah bagus, dan harus segera dilaksanakan. Sudah tahu apa saja yang dipersiapkan?”
“Mas kawin,” jawab Ryan.
“Bukan hanya itu, Ridwan enggak ngasih tahu?”
“Gue kasih tahu, tapi dia enggak mau dengar.”
“Loe cuma ngasih tahu tentang mas kawin sama cincin kawin doang, enggak ngasih tahu yang lainnya.”
“Gimana sih kemaren paling banyak nanya waktu kajian,” sindir Fajar sambil tertawa meledek.
“Insyafnya cuma pas kajian saja, buktinya tadi pas masuk ruangan, malah lagi asik zina,” adu Ryan.
“Sia*an loe,” teriak Ridwan sambil melempar bantal yang telak kena wajah Ryan.
“Sudah nikahin kalau sudah gatal, dosa makin numpuk. Mendingan pacaran halal,” ucap Fajar. “Jadi apa yang mau ditanya Yan?”
“Apa saja yang harus disiapin Jar?”
__ADS_1
“Ok, syarat sah nikah itu harus ada mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Harus ada wali nikah. Nah, ini biasanya orang tua kandung pihak perempuan, yaitu ayah, kakek, saudara laki-laki kandung bisa kakak atau adik, saudara laki-laki seayah, saudara kandung ayah, anak laki-laki dari saudara kandung ayah, paham sampai sini?”
Ridwan dan Fajar menatap Ryan, yang ditatap hanya menggangguk sambil membalas tatapan kedua sahabatnya. “Eh, tapi ...”
“Tapi apa?” tanya Ridwan, sementara fajar hanya menatap Ryan menunggu kelanjutan ucapannya.
“Dengan kasus ini, siapa yang akan jadi wali nikah? Sudah pasti keluarga besarnya tidak akan ada yang mau,” ucap Ryan pasrah.
“Ada dua macam wali yang di golongkan dalam dua garis besar. Pertama wali nasab, wali yang berdasarkan hubungan darah kekeluargaan. Kedua adalah wali hakim yang berarti laki-laki yang diberi kuasa atau hak untuk menikahkan dalam keadaan sebab tertentu. Paham?”
“Berarti bisa sama wali hakim ya?”
“Iya bisa.”
“Ok paham,” jawab Ridwan.
“Kok loe yang paham? Ryan lah yang paham,” celutuk Fajar sambil tertawa. “Makanya kalau sudah siap, lanjut saja menikah setelah Ryan.”
“Paham, ayo nikah bareng Wan,” ajak Ryan.
“Masih bisa ngelawak aja loe pada, sudah lanjut,” kata Ridwan.
“Baiklah kalau paham, kita lanjut ya. Tadi kan harus ada kedua mempelai, wali nikah selanjutnya harus ada saksi nikah, tidak sah pernikahan kalian kalau tidak ada saksi. Saksi nikah ini dapat diwakilkan kepada pihak keluarga, atau orang yang dapat dipercaya untuk menjadi seorang saksi.”
“Selanjutnya ijab dan qabul, dan terakhir pernikahan ini terjadi bukan karena paksaan. Jadi sudah siap semuanya?”
“Belum ada yang siap,” jawab Ryan. “Seperti yang tadi sudah diceritakan oleh Ridwan begitulah kejadiannya.”
“Kita urut satu-satu, mempelai sudah ada, wali nikah kemungkinan wali hakim, saksi nikah, siapa?”
“Loe berdua saja,” jawab Ryan.
“Untuk jadi saksi nikah ada syaratnya juga Yan. Dia harus berakal, kalau gila enggak mungkin jadi saksi pernikahan, iya enggak Wan?” tanya Fajar.
“Kenapa sih bagian yang jelek langsung ngeliat gue?”
Fajar dan Ryan tertawa bersamaan, “Nah gitu senyum mas bro, kekhawatiran loe ini bukan akhir dunia,” kata Fajar mencairkan suasana.
“Lanjut ya syarat saksi yang lainnya selain berakal, baligh, berjumlah minimal dua orang, semua saksi harus laki-laki, merdeka dalam artian bukan budak atau hamba sahaya, harus adil, beragama islam, bisa melihat, maaf orang yan tuna netra tidak dapat jadi saksi. Terakhir, dua saksi harus mendengar dan paham terhadap ijab qabul. Sampai saat ini apa yang mau ditanyain?”
“Duh panjang lebar loe ngejelasin, ya sudah semua syarat saksi ada sama kalian, jadi kalian lah yang gue tunjuk jadi saksi pernikahan gue.”
“Gini deh, enggak akan benar ngomong sama kalian. Loe tenang saja Yan, gue yang nyiapin semuanya, besok tinggal datang ketempat yang seharusnya. Sekarang serahkan semua data-data kalian berdua, pokoknya loe tahu beres, tapi setiap gue telepon atau kirim pesan langsung jawab, paham?”
“Ryan pasti paham,” jawab Ridwan. “Bukan hanya Ryan, loe juga harus siaga dekat dengan smart phone loe itu, awas kalau enggak,” ancam Fajar.
“Siap bos,” jawab Ridwan sambil mengangkat tangannya memberi hormat.
“Istirahat Yan,” pinta Fajar.
Bersambung...
***
Mengurus pernikahan terencana saja memusingkan apalagi mendadak seperti Ryan dan Rena, masih setia menunggu kan? Sabar ya...
Ditunggu like komen dan votenya...
Terima kasih semuanya
__ADS_1