Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Perjanjian Berat


__ADS_3

“Bee ... Sekar ... Sekar... Bee..” Kinanti menatap Sekar. “Ya ampun kalian berjodoh,” kinanti masih menatap tidak percaya atas apa yang dia dengar barusan.


Tiga tahun lalu, Ketika Danil baru putus dari Sekar dia langsung terbang ke London, untuk menenangkan diri. Kinanti dan mama Maya yang langsung menyambutnya. Membantu dia bangkit untuk melupakan rasa sakit karena kehilangan perempuan yang dia sangat di cintai.


“Syukurlah akhirnya impian itu terwujud. Bagaimana rasanya bisa menikah dengan Sekar?” tanya Kinanti penasaran.


“Luar biasa, loe tau Nan, berasa menang lotre. Mmm ... tidak, tidak, tidak, rasanya melebihi menang tender, tapi itu pun tidak bisa dibandingkan begitu saja, apalah rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang pasti,” Danil tidak bisa menggambarkan betapa dia sangat bahagia bisa menikah denganSekar.


“Syukur, mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian,” kata mama Maya menatap bahagia melihat keponakan kesayangannya.


“Jujur, terkadang Danil masih tidak percaya sampai sekarang mah. Takut semua yang terjadi ini hanya mimpi,” ucap Danil menatap istrinya yang masih terkejut.


“Mama dan Kinan ikut bahagia melihat kamu sekarang. Sekar, andai kamu tahu, bagaimana terpuruknya Danil ketika putus dengan kamu. Mama dan Kinan sampai ikut menangis melihat Danil menyesal meninggalkan kamu begitu saja.”


“Mas...” Sekar menatap suami, Danil hanya tersenyum dan memeluk erat istrinya.


“Kamu tahu Sekar, hari pertama dia datang keadaannya sangat mengkhawatirkan, tidak ada gairah hidup, seharian hanya berdiam diri dan menangis. Danil menjadi cengeng seketika, Kinan dan mama sampai tidak tahu harus berbuat apa.”


“Makanan tidak ada yang di sentuh, hanya air mineral saja yang masuk saat itu. Menatap lurus ke arah jendela, pandangannya jauh namun menyakitkan, sesekali air mata turun, dan selalu mengumpat bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang fatal.”


“Tiga hari tidak makan, hanya minum. Tidak tidur, tidak mandi, apalagi berbicara. Hanya menatap bingkai foto hitam berisi foto kalian berdua. Foto ketika kamu memamerkan cincin di jari manis mu itu,” kata mama Maya, menceritakan kerapuhan Danil saat itu.


Sekar menggenggam jemari Danil, pikirannya kembali pada saat bahagia, ketika Danil melamarnya sebelum sidang skripsi. Sekar ingat foto dalam bingkai hitam itu, mereka memiliki foto yang sama. Mereka mencetak foto dan membeli figura yang sama. Mereka mencetak dengan berbagai ukuran, keduanya kompak untuk menyimpan foto itu dalam dompet, di ruang tidur, bahkan di dalam mobil terdapat foto keduanya.


Foto candid hasil jepretan Adit, sangat menggambarkan kebahagiaan saat itu. Mereka menggunakan pakaian dengan warna putih senada. Latarnya taman bunga, dengan langit biru cerah, tanpa awan. Difoto itu keduanya sedang berpelukan, tertawa lepas, saling menatap dan dengan sombong Sekar memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnyanya. Foto kenangan yang sampai saat ini mereka masih menyimpannya.


Danil mencium puncak kepala Sekar, dengan lengannya masih memeluk perut istrinya dari belakang. Meleburkan kenangan indah saat itu.


“Mas tahu kamu lagi mengingat lamaran indah kita,” bisiknya. Sekar tersenyum, Danil semacam cenayang bisa menebak isi kepalanya.

__ADS_1


“Curang, kamu tidak menatap mas, pasti saat ini pipinya sedang merona. Mas suka lihatnya,” bisik Danil, yang disambut cubitan di lengan yang melingkar.


Danil semakin mengeratkan pelukannya, dan menyandarkan dagunya pada bahu istri tersayangnya. Sesekali membenamkan kepalanya pada punggung Sekar.


“Sampai kapan di Paris Nil?” tanya mama Maya, setelah mengecek makanan yang akan di sajikan.


“Rencana kita dua hari ya mas?” tanya Danil pada Hadi.


“Jadi mau reschedule mas?”


“Jadi mas,” jawab Danil tanpa perlu bertanya lagi sama Sekar.


“Ayolah kalian lama disini, mama masih mau ngobrol dengan kalian.”


“Baiklah mungkin kita disini kurang lebih tiga sampai empat hari,” jawab Danil, disetujui oleh Hadi, yang langsung mengurus semuanya melalui smartphonenya.


“Kapan pun kalian merindukan makanan rumah, minta Hadi untuk mengambil kesini atau kalian bisa langsung makan disini,” kata mama Maya.


“Terima kasih mama,” ucap Sekar dengan senyum manisnya.


“Sama-sama sayang, ya ampun pantas saja Danil sulit berpaling, kamu begitu manis,” mamah Maya memuji Sekar disambut senyum dari bibir mungil istri Danil.


Makan bersama berakhir, keduanya terlihat kekenyangan, masakan mama Maya memang enak, ditambah mereka sudah rindu makan masakan rumah. Setelah pamit pada Kinanti dan mama Maya, Sekar dan Danil menuju Menara Eiffel, tujuan pamungkas sebelum ke hotel tempat mereka menginap.


Kini keduanya sudah berjalan menuju Eiffel, hanya mereka berdua. Danil hanya ingin menghabiskan malamnya bersama Sekar. Sesekali Sekar meminta selfie berdua dengan suaminya. Danil berusaha menuruti apapun yang istrinya inginkan.


Sekar, Sekar, Sekar, isi kepala Danil hanya ingin membahagiakan istri manja yang sangat dia cintai, semua rela dia lakukan asalkan istrinya selalu tersenyum bahagia. Mereka berdua memiliki tujuan yang sama, sama-sama ingin mengganti waktu yang hilang ketika mereka berpisah.


Danil membeli tiket untuk naik ke puncak menara, setelah lima belas menit mengantri, akhirnya tiket menuju puncak mereka dapatkan.

__ADS_1


“Terima kasih mas, untuk semuanya,” kata Sekar sambil mengalengkan tangannya pada lengan suaminya.


“Sama-sama Bee, keinginan mas hanya satu, melihat kamu selalu bahagia.”


“Kebahagiaan mas, kebahagiaan Sekar berarti kebahagiaan kita berdua.”


Sekar begitu terpesona melihat keindahan kota Paris dari puncak menara Eiffel yang di bangun di Champ de Mars, Lapangan Mars, ruangan terbuka hijau di tepi sungai Seine.


Tata kota yang tertata apik, dengan lampu yang menerangi dari berbagai tempat, perahu yang mengapung di atas sungai dengan kelip lampunya pun turut menyumbang keindahan tangan manusia. Memanjakan mata dengan keindahan dunia.


Sekar menatap sekeliling, banyak wisatawan seperti dirinya dan Danil yang ikut menikmati suasana malam ini. Banyak dari mnrek yang tidak segan mengumbar kemesraan membuat Sekar merona.


“Je t’aime Mas Danil, je t’aime beaucoup, (aku mencintaimu mas Danil, sangat mencintaimu)” teriak Sekar, seakan ingin meneriakan pada dunia bahwa dia sangat mencintai suaminya.


Danil yang kaget mendengar teriakan Sekar langsung memeluknya dari belakang, hal yang ia sangat sukai baru-baru ini. “Mas Danil lebih mencintaimu Sekar,” bisiknya.


“Apakah tidak ingin berteriak mas, katakan pada dunia betapa kamu mencintaiku,” pinta sekar.


“Tidak perlu berteriak untuk mengumumkan pada dunia bahwa aku mencintai mu sayang, jangan salah sangka,” ucap Danil ketika melihat perubahan raut muka pada wajah istrinya.


“Bukan karena mas malu berteriak saat ini. Karena ijab kabul yang mas ucapkan ketika pernikahan kita telah, menggemparkan seluruh dunia dan isinya, Perjanjian berat yang telah mas buat di depan Allah telah mengguncangkan singgasananya. Sehingga mas tidak perlu berteriak pada dunia, bila langit dan singgasananya pun telah terguncang hebat oleh perjanjian mas di depan Allah.”


Sekar menatap Danil dengan mata berkaca-kaca, dia begitu kaget mendengar penjelasan suaminya. Romantis, bagi Sekar jawaban Danil saat ini sangat mengharukan, membuat sangat-sangat bahagia.


***


Apakah kalian pun terharu seperti Sekar?


Ditunggu like, komen dan vote nya.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2