
Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta, tidak terlalu penuh. Sekar berdiri di sebelah Danil, ia tidak tenang, semenjak berangkat dari rumah jantungnya selalu berdebar-debar, biasanya ada kejadian yang kurang menyenangkan yang akan terjadi.
Danil memeluk bahu Sekar, dan sekar membalas menatap suaminya. Dia pun tahu, saat ini Danil ragu menjalankan rencana yang sudah dibuatnya. Terlebih ketika Indra dan Tara, orang kepercayaan Andi dan Bagas, mendatangi ayah dan papah mereka.
“Mas,” Sekar memanggil suaminya, perasaannya sangat tidak enak.
“Iya Bee, kenapa sayang?”
“Mas, aku deg deg degan parah. Aku takut,” jawab Sekar menatap suaminya.
Danil menatap istrinya dan tersenyum berusaha menenangkan. “Tenang ya,” katanya sambil memberikan tumbler berisi air mineral untuk diminum istrinya.
“Makasih mas,” Sekar menatap suaminya, wajahnya terlihat pucat.
“Tenang sayang, apapun yang terjadi kita selalu bersama,” ucap Danil sambil memeluk istrinya.
Danil paham benar keadaan istrinya saat ini, Sekar seperti memiliki kelebihan tersendiri. Bukan hanya sekali dia mengalami hal ini, bila hatinya tidak tenang, biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti saat ini, seakan menanti kejutan.
“Mas, batalin saja perginya ya.”
Danil pun tidak menjawab, dia hanya menatap Sekar, dan menggenggam tangannya dengan lembut mendekati orang tua mereka yang masih mengobrol dengan Indra dan Tara.
Indra dan Tara adalah tangan kanan Ayah Bagas dan Papah Andi.
“Pah, mah Danil sama Sekar berangkat dulu ya,” pamit Danil, ketika mereka akan masuk ruang tunggu pesawat.
“Ngapain pamit Nil, orang kita semua pergi bareng, Indra dan Tara saja ikut, kemungkinan Bisma akan menyusul."
"Papa Andi dan ayah Bagas sedang melakukan bisnis di Belanda,” ucap mamah Fina menjelaskan.
“Setelah ada kesepakatan, baru kita akan pulang, kalau kalian sih, jalan-jalan saja. Kita akan tetap stay di Belanda,” kata papah Andi.
“Kirain semuanya ikut, mau mengganggu bulan madu Danil,” ucap Danil.
“Kita ngerti kok kalau masalah itu, tidak mungkin lah kita ganggu yang muda” jawab ayah Bagas.
“Lebih baik sekarang kita masuk, nanti kalau ketinggalan pesawat tidak jadi bulan madunya,” goda Bunda Rianti.
Perjalanan menuju Belanda, akan ditempuh kurang lebih lima belas jam, mereka akan transit dulu di Singapore, sebelum lanjut menuju tempat yang di tuju.
Perjalanan Jakarta Singapore yang hanya di tempuh kurang lebih dua jam kurang, dengan menggunakan pesawat boing fasilitas first class, bagi sebagian orang bukanlah waktu yang lama, tapi bagi Sekar dan Danil ini adalah waktu terlama yang pernah mereka tempuh, belum lagi perjalanan Singapore Amsterdam yang di tempuh kurang lebih lima belas jam.
Dengan perasaan Sekar yang tidak menentu, banyak hal yang dipikirkan oleh Danil, dari pikiran terburuk mengenai pesawat yang dia takut bila tiba-tiba akan mengalami kerusakan mesin, dan mereka akan mengalami hal yang terburuk, hingga tidak lancar usaha kedua orag tuanya, atau honeymoon mereka berdua yang tidak sesuai bayangan.
Danil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusahan menenangkan diri, sambil menatap wajah istrinya yang berada di sebelah kanannya, dia berusaha tersenyum dan menenangkan istrinya yang masih gelisah.
“Kita akan selalu bersama sayang, mas tidak akan meninggalkan kamu sendirian, mas janji,” Danil mencium kening Sekar.
“Aku pegang janji kamu mas,” bisik Sekar, Danil tersenyum dan mengangguk.
Pukul sembilan malam pesawat mendarat di Changi airport, Singapore.
__ADS_1
Danil dan Sekar bersama penumpang yang lain melakukan transit kurang lebih satu jam.
Sekar langsung menarik Danil menjauh dari semuanya. Di depan gate empat puluh lima, sepi tidak ada satu penumpang pun. Sekar dan Danil mulai memikirkan apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk menghentikan ketakutan yang berlebihan.
Di saat detik-detik terakhir masa transit, Sekar melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal bersama seorang wanita yang ia rasa ia pun sangat mengenal sosok itu.
Ryan?
Sekar berusaha berjalan mengikuti langkah sosok laki-laki itu.
“Kenapa Bee?” tanya Danil terlihat cemas, melihat istrinya pergi menjauh dan belum dapat menutupi kegelisahannya.
“Mas, kamu sudah membatalkan pertemuan dengan Rena sore ini?” tanya Sekar.
“Iya tapi sebelum mas membatalkan, beruntungnya mas, dia membatalkan lebih dulu. Dia harus ke Bali ada fashion show gitu deh,” jawab Danil.
“Bali?”
“Iya.”
“Itu bukan Rena?” tunjuk Sekar pada sosok seorang wanita yang sedang berpelukan dengan seorang laki-laki.
“Tidak mungkin itu Rena, masa dia bohong?” tanya Danil.
Sekar tidak perduli apa kata Danil, ia terus berjalan mendekati sosok yang dia kenal.
Siapa mereka?
Sekar berdiri di balik kamar mandi, ia mendengar namanya dan nama Danil di sebut-sebut. Danil berjalan melewati Sekar, ingin memastikan apa benar yang dikatakan istrinya.
Ryan dan Rena bersama! Tapi dengan cekatan Sekar menarik tangan Danil, Sekar tidak ingin ada keributan bila apa yang ia lihat itu benar.
“Sayang, kayaknya misi kita hampir berhasil,”
Suara ini, Renata!
Dalam batinnya Danil terkejut, kemudian dia membuang nafas beratnya. Tidak percaya, bila tidak mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri.
“Kamu ngomong apa sama Danil?” tanya seorang cowok, yang Sekar yakin itu suara Ryan.
“Ke Bali, biar kan lah. Aku ingin dia merasa bersalah dan tahu kalau aku marah”
“Bagaimana Sekar?”
“Lagi aku gantungin, biar dia merasa bersalah sama aku,”
“Tidak menyesal gantungin Sekar?”
“Sedikit lah. Sekar memang calon istri yang baik dan penurut, dia bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah tangga, cekatan, terampil, tidak neko-neko pekerja keras, kalau jadi istri dia pasti nurut sama suami.”
“Awas ya, kalau kamu tergoda sama dia!”
__ADS_1
“Masa tergoda.”
“Kamu begitu memujinya.”
“Kamu cemburu sayang?”
Rena terdiam, dia malas menjawab apa yang Ryan tanya.
“Tapi yang terpenting di hatiku hanya ada kamu istriku yang paling aku cintai.”
“Istri?” Sekar mengulang kata itu, dan tiba-tiba saja tubuhnya mengejang dan kakinya terasa lemas.
“Aku juga enggak peduli dengan Danil, walaupun ia setia, baik, dan dapat diandalkan bila menjadi suami, tapi bagi aku kamu yang terpenting melebihi apapun”
“Jadi mereka berdua suami istri,” bisik Danil di telinga Sekar.
Sekar tidak menjawabnya, ia masih tidak dapat menerima apa yang baru saja ia dengar dengan kepala sendiri.
“Jangan lupa yang terpenting, misi kita untuk menguasain harta mereka. Jangan sampai Mr. B kecewa sama kita,” Renata mengingatkan Ryan, akan misi mereka.
“Bener sayang” jawab Ryan “Sekar bilang, mereka cuma nikah enam bulan setelah itu, Sekar pasti kembali sama aku.
Ketika dia kembali sama aku, aku akan memintanya untuk segera menikahi aku dan setelah aku bisa menguasai hartanya, aku akan ceraikan dia.”
“Dan aku akan melakukan hal yang sama pada Danil, dan setelah itu kita akan meninggalkan negara ini, dan hidup bahagia,” ucap Renata sambil tertawa puas.
“Jadi biarkan saja mereka berbulan madu dan melakukan apapun yang mereka suka, yang penting kita tidak
adirugikan dengan hal kecil ini.”
“Bener sayang, mending sekarang kita belanja di sini aja. Membiarkan mereka bahagia untuk sementara waktu.”
Mereka berdua tertawa, dan membicarakan
khayalan-khayalan yang indah apabila mereka mendapatkan harta kedua anak pengusaha sukses itu.
Sayang mereka tidak menyadari bahwa Sekar dan Danil medengar semua yang mereka bicarakan.
Sekar menutup matanya, dia tidak percaya apa yang barusan saja dia dengar. Tanpa di sadarai airmata turun membasahi pipinya. Danil mengusap air mata yang menetes di pipi Sekar.
“Bee,”
Sekar memeluk Danil, membenamkan wajahya di dada bidang milik suaminya. Terdengar isak tangis yang berusaha dia tahan.
“Stop crying Bee, kita harus naik pesawat” ucap Danil.
Sekar berusaha menghentikan tangisannya. Dia mengambil obat tetes mata dari pouchnya.
“Yuk,” ajak Sekar, setelah dia siap.
Danil menggenggam tangan Sekar sekuat tenaga, memeluknya dan membawa Sekar meninggalkan tempat itu, untuk kembali masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan ke negeri kincir angin.
__ADS_1
***