Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Kamu Yang Utama


__ADS_3

Keadaan tidak bersahabat sore itu. Lalu lintas mulai padat merayap seiring waktu pulang kantor. Ditambah hujan turun dengan deras menambah kemacetan. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh setengah jam saja, kini sudah hampir empat puluh lima menit belum juga sampai. Bangunan kokoh serba putih itu pun belum terlihat.


Danil mendekatkan minyak kayu putih pada hidung istrinya, sedari tadi dia lakukan namun Sekar belum juga siuman. Terlihat ia sangat khawatir, baru kali ini Sekar pingsan, dan cukup lama.


Bee, bangunlah. Sebentar lagi kita sampai. Mas tidak akan berbicara macam-macam lagi Bee. Bangunlah sayang, jangan seperti ini. Kamu tega membuat mas sangat cemas, mas khawatir.


Cemas? Tentu saja. Ada kah suami yang tidak khawatir bila istrinya seperti ini?


Tiba-tiba pingsan, dan belum sadar sampai waktu yang cukup lama. Mungkin ada suami yang santai, ketika istrinya sakit, tapi bukan aku!


Danil bertanya dan menjawab dengan sendiri dalam hati.


Bangunlah sayang, cintaku, jangan siksa masmu seperti ini. Kalau ini prank, sumpah kamu sukses buat jantung mas berolahraga.


Di usap dengan lembut rambut istrinya yang bak mayang terurai. Wajah perempuannya pucat, terlihat kondisinya tidak dalam keadaan baik. Ingin rasanya mengumpat semua orang agar menyinggir dari jalanan.


Danil berharap betapa bahagianya bila memiliki karpet terbang Alladin atau pintu ajaib Doraemon, pasti perjalanan menuju rumah sakit tidak akan selama ini.


“Mas, bahagianya Alladin mendapatkan putri Jasmine ya.”


“Yang beruntung itu putri Jasmine Bee, dia mendapatkan Alladin bonus karpet terbangnya, mau kemana pun tinggal memanggil karpet terbang dan, langsung sampai di tempat tujuan." Danil mengingat percakapan mereka setelah menonton film tersebut.


Danil menatap penuh harap kepada perempuan yang masih tertidur dalam pelukannya.


“Mas, ingin punya pintu ajaib Doraemon.”


“Memang kamu mau kemana sih?”


“Kangen Paris,” ucap Sekar.


“Baru juga pulang, masa sudah kangen lagi?”


“Iya, rindu suasananya mas, romantis sekali,” jawab Sekar kala itu.


“Tidak usah ke Paris, dimana pun tempatnya asal kita bersama pasti akan romantis,” Danil kembali mengingat obrolan ringan mereka. 


Sayangnya karpet terbang dan pintu ajaib semua hal itu hanya ada dalam film. Danil mengusap wajahnya.


Banyak Doa dipanjatkan dalam diamnya, Danil masih menatap cemas melihat istrinya yang belum juga sadar. Sudah hampir satu jam, mereka di dalam kendaraan. Selama itu Sekar belum juga siuman.


“Sebentar lagi sampai mas,” ucap Bisma, disambut senyum tipis Danil yang dipaksakan.


Gedung kokoh berwarna putih mulai terlihat, kendaraan pun mulai memasuki area rumah sakit. Di lobby depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah siap brankar dorong dengan dua perawat yang sedang menunggu, rupanya Bisma telah menelepon pihak rumah sakit.


Danil segera menggendong dan merebahkan istrinya, dia menjawab beberapa pertanyaan dari perawat. Dengan setia dia genggam jemari istrinya, tidak ingin terlepas.


Seorang perempuan menggunakan jilbab warna hijau botol terlihat senada dengan kemeja warna hijau muda dan celana panjang warna hitam, memasuki ruangan no dua. Jas putih dan stetoskop yang melinggar di lehernya, menambah kesempurnaan penampilan saat itu.


Dokter cantik itu sempat kaget ketika melihat Danil sedang berbisik di telinga perempuan yang tertidur. Dengan langkah pasti dia menyapa dengan senyumannya. Perawat yang menyambut Danil di depan ruang IGD memberi informasi yang di dapat. Keadaan Sekar saat itu masih belum siuman.

__ADS_1


“Apa ada keluhan sebelumnya?” tanya dokter Indah, begitulah nama yang tertera dalam name tag yang tersemat di jas putihnya.


“Dua kali muntah, siang tadi dok,” jawab Danil. “Badannya lemas, mengeluh pusing, hanya bilang sepertinya masuk angin.”


“Sudah berapa lama tidak sadarkan diri?”


“Mungkin saat ini sudah satu jam,” jawabnya. “Oh iya, tadi siang sempat oleng ketika dia bangun dari duduknya.”


“Bunda saya berkata mungkin itu karena kurang cairan.”


“Bisa saja, banyak kemungkinan yang terjadi.”


“Mengapa istri saya belum sadar juga dok?”


Perempuan ini sempat terdiam, mendengar ucapan Danil. “Saya coba tangani ya pak,” ucap dokter Indah dengan lembut.


“Tolong istri saya dok,” pinta Danil.


“Baik pak, kami coba untuk membuat istri bapak siuman terlebih dahulu,” ucap dokter Indah.


Danil masih menggenggam jemari Sekar, sedetik pun dia tidak ingin berpisah dari istrinya. Perawat dan dokter yang menyaksikan tersenyum menatap kelakuannya.


“Apakah istri bapak mengalami stress akhir-akhir ini?”


“Sepertinya iya.”


Danil berusaha mengingatnya, pasalnya Sekar tidak pernah absen dalam memenuhi permintaannya. Belum sempat Danil menjawab, istrinya mulai siuman.


Sekar mulai membuka matanya perlahan, tatapannya langsung mengecil, entah karena kepalanya terasa pusing atau karena bingung saat ini dia berada di mana.


“Bee,” panggil Danil lembut, ada kelegaan menatap istrinya.


“Mas, kepala aku terasa berat sekali,” katanya lemah.


“Sekarang apa yang ibu rasakan?” tanya dokter Indah.


“Kepala saya terasa berat sekali dok, tubuh rasanya tidak ada tenaga, rasa mual tidak hilang dari tadi. Hanya saat tidur tadi, sepertinya rasa mual ini menghilang.”


“Sekarang mualnya masih terasa?”


“Iya dok,” jawabnya lemas.


“Kapan terakhir ibu haid?”


Sekar berusaha mengingatnya. Ketika bulan madu, dia tidak mengalaminya. “Sepertinya terakhir saya haid satu minggu sebelum pernikahan saya, itu berarti kurang lebih satu setengah bulan lalu,” jawab Sekar.


Danil menatap istrinya, begitupun dengan Sekar. Sepertinya mereka berdua memikirkan hal yang sama dalam benaknya. “Apakah istri saya hamil dokter?” tanya Danil antusias.


Dokter Indah tersenyum. “Mari kita cek kalau begitu.”

__ADS_1


Suster datang mendekati Sekar dan memberikan tabung untuk urine yang akan masuk lab. Danil kemudian mengambilnya, dan menggendong tubuh mungil istrinya ke kamar mandi.


“Mas, aku bisa jalan sendiri loh,” ucap Sekar sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Danil.


“Kamu masih lemas Bee, mas tidak mau kamu pingsan seperti tadi,” jawab Danil. “Lagian badan kamu mungil, mas masih sanggup menggendong.”


“Maaf ya mas, sudah membuat mas cemas.”


“Kamu tahu Bee, jantung mas ikut berhenti melihat kamu seperti tadi.”


“Maaf mas.”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semoga didalam sini sudah ada calon anak kita,” Danil sangat berharap.


“Bagaimana bila aku tidak hamil mas?”


“Berarti kita harus berusaha lebih keras lagi,” ucap Danil sambil menaik turunkan alisnya.


“Mas keluarlah,” pinta Sekar setelah Danil mendudukan istrinya diatas kloset.


“Tidak!”


“Mas ah, masa ditungguin,” Sekar manyun menatap suaminya. “Aku mau buang air kecil mas.”


“Sudah jangan macam-macam Bee. Mas tidak ingin, kamu pingsan lagi,” ucap Danil tegas tidak ingin di bantah. “Cukup sudah kamu membuat mas frustasi tadi.”


“Mas,” Sekar merajuk.


“Jangan menentang dan membuat jantung mas berhenti berdenyut karena terlalu khawatir memikirkan kondisimu Bee.”


“Jangan asal berbicara mas.”


“Ayo sayang, bukankah kamu sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya?” Sekar mengangguk.


“Maka jangan banyak membantah dan mulai nurut sama masmu ini. Sekarang isi tabung ini,” pinta Danil lembut namun tegas.


Dengan kesal Sekar menuruti suaminya. Setelah tabung penuh, tanpa rasa jijik, Danil mengambilnya dan membantunya. Kemudian menggendong kembali ketempat semula.


“Mas.”


“MMM,” Danil menatap istrinya yang sedang ragu. “Katakan Bee,” pintanya.


“Terima kasih mas untuk semuanya. Maafkan hari ini aku merepotkanmu.”


“Terima kasih kembali cintaku, mas tidak pernah merasa direpotkan Bee,” ucap Danil, sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut. “Berhentilah selalu merasa seperti itu.”


“Bee, kamu yang paling aku utamakan dari hal apapun.”


***

__ADS_1


__ADS_2