
Sekar terbangun dari tidur nyenyaknya, badannya terasa pegal dan sedikit nyeri di bagian kewanitaannya, hasil perbuatan suaminya yang menggempur habis-habisan setelah mereka mandi tadi malam.
Perlahan dia mengangkat tangannya yang terhimpit lengan Danil, diusap rambut suaminya dengan lembut, tangan nya menyusuri setiap lekuk wajah pria yang sedang memeluknya.
Dia tersenyum dan masih tidak percaya, bahwa mas Danil kini benar-benar menjadi suaminya.
Keputusan putus yang tiba-tiba saat mereka pacaran dulu, membuat Sekar terpuruk, semenjak itu dia berubah, dia memutuskan untuk tidak membuka hati pada siapapun, dengan jangka waktu yang tidak di tentukan. Dia merasa Danil bukan lagi kekasih hatinya, Danil berubah.
Mereka menjadi orang asing, bila bertemu seperti tidak pernah saling kenal. Padahal pasangan ini selalu membuat iri banyak mata.
Bagaimana tidak iri, Sekar yang periang, ramah, dan ceria memiliki kekasih seorang Danil, pria baik hati, tampan, walau terlihat sedikit arogan dan posesif apalagi hal yang berhubungan dengan dirinya.
Banyak yang ingin mendekati salah satunya namun hubungan mereka yang lengket seperti lem, sangat sulit di tembus, sampai suatu hari kesalah pahaman itu terjadi membuat keduanya terpisah, banyak yang berusaha mengambil tempat Danil dan Sekar, namun keduanya langsung menutup diri, membatasi siapapun hanya sebagai teman tidak lebih.
Pada pagi ini, di hadapan Sekar, laki-laki berjanggut tipis yang sedang terlelap itu telah menjadi suaminya. Senyum bahagia tercetak dari bibir mungilnya, ingin berteriak pada dunia, DIA MILIKKU!
“Pagi sayang, mas suka lihat senyum kamu,” sapa Danil membuat Sekar terkejut.
“Mas masih menutup mata, bagaimana tahu aku tersenyum atau tidak?”
“Tanpa buka mata, mas tahu kamu mengagumi wajah mas mu ini sambil tersenyum, iya kan?”
“Percaya diri banget mas, sudah tidak cocok. Terlalu percaya diri,” Sekar melepaskan tangannya dari wajah Danil.
Danil langsung menarik tangan Sekar dan menyimpan di pipinya. “Suka, usapin lagi,” pintanya dengan manja, membuat Sekar tersenyum melihat kelakuan suaminya.
Sekar menuruti permintaan Danil. Saat ini dan sampai akhir hayat, ia ingin selalu seperti ini, bahagia dan menua bersama suaminya.
“Mas, sudah subuh loh,” Sekar mengingatkan Danil.
“Sebentar lagi ya,” pinta Danil sambil mengecup pipi istrinya.
Setelah lima menit, Sekar mulai mengelitik bagian pinggang suaminya, Danil paling tidak tahan kalau dikelitikin, mau tidak mau akhirnya dia terbangun, membalas mengelitik istrinya sambil sesekali mengecup istrinya dengan gemas.
“Mas, Sekar mandi duluan ya,” pintanya sambil mengikat rambut panjangnya.
“Iya sayang, bangunin mas ya kalau sudah selesai.”
__ADS_1
Sekar menyelesaikan ritual mandinya, dia membangunkan suaminya, dan Danil langsung mandi, kemudian mereka melaksanakan kewajibannya, shalat subuh berjamaah.
Sekar mencium punggung tangan Danil, bentuk rasa hormat pada suami. Danil membalas dengan mencium kening istrinya, penuh sayang. Keduanya saling pandang, dan tersenyum, dari gerak gerik mereka sudah dipastikan kebahagiaan sedang menyelimuti keduanya.
“Bee, tidur lagi yuk,” pinta Danil berbisik di telinga, membuat Sekar merinding.
“Mas iiiih, ngomongnya biasa saja, kalau kamu bisik-bisik seperti ini, buat aku merinding.”
Danil tertawa mendengar perkataan istrinya “Memang mas mu ini hantu? pake merinding segala,” ucapnya sambil mengelus rambut istrinya.
"Mas Danil nih, senang banget godain aku."
"Dapat pahala kalau godain istri sendiri," ucapnya sambil menarik sekar menuju tempat tidur.
“Aku mau buat sarapan mas, sudah kesiangan ini. Apa kata mamah sama papah, masa aku bangun siang,” ucap Sekar.
“Semua pasti mengerti kalau kita pengantin baru, sini ah temenin mas,” pinta Danil membuat Sekar mengurungkan niatnya, toh di rumahnya masih banyak orang yang akan membuatkan sarapan, bukannya membahagiakan suami adalah tugas istri.
"Kamu mikirin apa sih sayang? kita kan masih di hotel, bukan di rumah," ucap Danil membuat Sekar tertawa menyadari kebodohannya.
Danil memeluk tubuh Sekar dengan erat, gemas melihat kelakuan istrinya yang tidak sadar. Namun pelukan eratnya membuatnya Sekar merasa sesak. “Mas, kalau kamu meluknya kayak gini, aku sesak.”
“Mas kan cuma pengen meluk kamu,” kata Danil sedikit kesal.
Cup...
“Kenapa sih, mas ku ini jadi kesel-kesel, marah-marah terus. Aku kan sudah nurutin kemauan mas, kalau kayak gini aku mau sarapan aja ke bawah,” ucap Sekar mulai bangun dari tempat tidur.
Danil memeluk Sekar dari belakang menahan istrinya. “Maafin mas Bee, mas cuma pengen dekat kamu,” katanya menaruh kepalanya di bahu Sekar.
Sekar mengelus lembut rahang suaminya “ tapi jangan sambil kesal dong mas. Mending manja seperti ini aku suka kok, suka banget.”
“Maaf ya,” ucap Danil sambil memeluknya erat.
“Mas sudah lapar belum? Temenin ke bawah yuk, aku buatin sarapan. Sudah lama mas enggak makan masakan buatan aku."
“Bee ada apa dengan kamu, apakah semalam percintaan kita membuat otak dan daya ingatmu melemah sayang?” tanya Danil.
__ADS_1
Sekar yang menyadari kebodohannya kembali menertawakan dirinya. Apakah benar yang suaminya katakan bahwa percintaannya membuat daya ingat melemah, dia menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Danil tersenyum melihat tingkahnya.
“Ingin memeluk kamu,” kata Danil manja.
“Ya ampun mas Danil ku ini, seperti anak kecil manja banget, jadi gemas lihatnya,” Sekar mencubit kedua pipi Danil dengan gemas.
“Aww, Sakit sayang, ampunnnn. Kamu KDRT sama suami sendiri” teriak Danil berusaha melepaskan cubitan maut dari tangan istri.
“Kamu tuh yah, kalau sudah nyubit ampun deh. seperti di gigit semut,” Danil memeluk istrinya
dengan erat.
Sekar mengelus pipi suaminya yang tadi dia cubit dengan gemas, masih ada tanda merah bekas cubitannya. “Masih sakit?” tanyanya merasa bersalah.
“Sedikit,” jawab Danil.
“Maaf ya mas, siapa suruh kamu begitu menggemaskan tadi.”
“Sekarang mas mu ini masih menggemaskan enggak?”
“Kamu selalu menggemaskan buat aku mas, tahu tidak aku selalu kangen mengelus rahang kamu, dan kangen menyandar kepala di dada kamu.”
“Sekarang apapun yang ingin kamu lakukan, langsung lakukan. Mau mengelus rahang mas mu ini ya tinggal mengelus rahang, atau bersandar di sini,” tunjuk Danil pada dadanya.
“Kayak gini mas?” tanya Sekar sambil mengelus rahang Danil dengan lembut, membuat hasrat suaminya bangkit lagi.
“Sayang, kamu nakal!” kata Danil dengan suara seraknya.
“Jadi aku harus bagaimana mas?” tanya Sekar, sambil mengecup bibir suaminya sekilas.
“Kamu benar-benar nakal, dan sekarang kamu harus dihukum,” ucap Danil langsung memeluk tubuh Sekar dan mencium seluruh wajahnya, kembali mereka melanjutkan perang yang baru di mulai.
***
Maafkan aku baru up lagi jangan marah ya, semoga kalian semakin menyukai kisah Sekar dan Danil. Ditunggu like, vote dan komennya ya.
Terima Kasih
__ADS_1