
Akhir pekan begitu cepat berlalu, pagi ini Danil harus rela meninggalkan Sekar di rumah pasalnya ada beberapa jadwal meeting yang tidak bisa ditinggalkan. Ia menatap Sekar, istrinya masih pulas sambil menggenggam jemarinya.
Kamu tahu Bee, Mas sangat mencintaimu. Mas janji, akan menyelesaikan semuanya. Kita pasti hidup bahagia. Janji Danil dalam hati.
Menatap Sekar membuatnya tenang, terlebih diperut wanitanya sudah ada calon buah hati mereka. Danil mengelus rambut halus istrinya, mencium kening serta memainkan jari dipipi yang masih kurus.
Sekar mulai bergerak, meskipun matanya masih tertutup. Ia malah mengeratkan pelukannya pada perut Danil. Tingkah laku istrinya sangat menggemaskan, ia tersenyum bahagia menikmati pemandangan pagi hari.
“Mas,” panggil Sekar masih dengan mata tertutup.
“Ada apa Ade sayang?”
“Sekarang jam berapa?”
“Tidurlah lagi, tidak usah memikirkan masalah waktu. Maaf, tapi Mas harus mandi sekarang, hari ini ada beberapa meeting yang tidak bisa ditinggalkan.”
Sekar membuka matanya tiba-tiba, “Jangan tinggalin Ade, Mas,” ia merengek, mengeratkan pelukannya.
Mendengar istrinya merengek manja seperti itu, mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun, dia tidak bisa saja melimpahkan tanggung jawab pada orang lain. Ia membalas pelukan istrinya, Berusaha menenangkan tanpa berkata apapun.
“Maafkan Ade, Mas,” ucapnya, berusaha menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
Danil merapihkan rambut istrinya yang sedikit berantakan, ia tersenyum membuat Sekar dengan berani mengecup lembut bibirnya. Danil ingin membalas, namun Sekar menjauh, turun dari tempat tidur dan berlari meninggalkan suaminya, membuat panik.
“Bee, Jangan lari!”
Sekar terdiam mematung, dia kaget mendengar teriakan suaminya. Tubuhnya sedikit gemetar “Jangan marah Mas,” pintanya. “Ade enggak akan lari.”
Danil mendekati istrinya dan langsung memeluk erat. “Maafkan Mas, Ade enggak salah. Mas takut sama kandungan Ade.” Tubuh Sekar masih gemetar. Ia berusaha mengontrol nafasnya.
Danil mengangkat tubuh Sekar, mendudukkan di atas kasur. Memberikan segelas air, yang langsung diminum oleh istrinya. “Mas tidak bermaksud membentak tadi. Maaf ya,” ucapnya lagi.
Sekar memeluk kembali suaminya, dia sangat manja pagi ini. Sengaja membenamkan wajahnya pada dada bidang Danil. Membuat pertahanan yang sudah goyah semakin merosot.
“De, bagaimana kalau nanti siang menyusul ke kantor? bawa makan siang. Kita makan sama-sama,” tanya Danil. Sekar menatap suaminya terlihat berpikir sebentar dan langsung mengangguk.
“Sekarang Mas mandi dulu, Ade siapkan baju dan sarapan.”
“Jangan cape, kita akan ke ruang makan setelah Mas bersiap.”
__ADS_1
Sekar mengangguk, tidak membantah perintah suaminya. Ia segera memilih pakaian untuk Danil. Kemeja biru muda, dipadu celana berwarna Navy satu stel dengan jasnya, tidak ketinggalan sapu tangan berwarna biru muda dan dasi berwarna sama dengan jas dengan corak garis merah. Ia kemudian membuka lemarinya dan memilih dress yang senada dengan warna baju suaminya.
“Sibuk sekali sih,” bisik Danil sambil melingkarkan tangannya pada perut Sekar.
“Ade belum mandi, Mas.”
Sekar berbalik dan menghirup aroma segar yang tercium dari tubuh suaminya. Danil membiarkan istrinya memainkan jemari pada dada yang tidak tertutupi oleh handuk. Berusaha menahan rasa yang menjalar pada kulitnya.
“Cukup Ade,” perintah Danil, disambut senyuman jahil dari perempuan di hadapannya.
“Kirain mas sanggup, ternyata ...”
Sengaja ia menggantung kalimatnya, membuat Danil mencubit lembut pipi Sekar. “Kamu tuh, mana mungkin sanggup menahannya.”
“Jangan pakai sepatu berhak tinggi,” perinta Danil ketika melihat dress yang mengantung di dekat lemari.
“Siap bos.”
“Jangan menyetir sendirian,” perintah kedua terucap.
“Siap bos.”
“Siap bos.”
Danil menatap istrinya, tidak lama tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Bas Bos, Bas Bos. Kamu bosnya disini.”
“Ok bawahan, kalau saya bilang duduk, DUDUK!” ucap Sekar mengikuti salah satu akun yang sedang menjamur.
Danil mengecup kening Sekar dan segera menurut perintanya. Dengan sigap istrinya langsung memasangkan dasi, wajahnya terlihat serius. Sekar mampu membuat Danil menjadi budak cintanya. Ditengah masalah yang belum juga terurai, ada kebahagiaan terselip diantaranya.
Antara ketakutan dan bahagia tidak ada yang lebih unggul, keduanya berjalan beriringan. Sebagai seorang lelaki tentu Danil harus menutup rapat-rapat rasa was-was terhadap kemungkinan yang bisa saja terjadi dikemudian hari. Ia tidak ingin kebahagiaan ini cepat berlalu, hidupnya dengan Sekar ingin sampai di ujung usia.
“Sudah Mas, jangan menatap Ade seperti itu. Jangan sampai kecantikan paripurna Ade mengurungkan niat bekerja dan melanggar tanggung jawab Mas.”
Danil menatap Sekar tidak berkedip, ia terkejut sejak kapan istrinya menjadi lebih berani dan narsis seperti dirinya. Ingin rasanya menepuk jidatnya saat ini, jangan sampai istrinya menjadi seperti dirinya. Dia tidak dapat membayangkan jika Sekar akan begitu terhadap semua orang.
“Ayo kita ke ruang makan Mas,” ajak Sekar sambil menarik tangan suaminya.
Keduanya meninggalkan kamar menuju ruang makan, sarapan sudah tersaji di meja. Nasi goreng telur, tersedia juga telur ceplok lengkap dengan irisan tomat dan ketimun, serta kerupuk dalam toples kaca. Tidak ketinggalan air putih serta jus melon menjadi pelengkap makan pagi.
__ADS_1
Kring! Kring! Kring!
Ponsel Sekar berbunyi, Danil menatap layar dan membacanya. Terlihat guratan nyata dalam keningnya, tangannya mengepal kuat.
“De, ada telepon.”
“Dari siapa? Angkat saja Mas,” pintanya meskipun Danil elum menjawab pertanyaannya.
Ditekan tombol untuk menerima telepon masuk. Danil sengaja tidak berbicara lebih dulu, dia ingin mengetahui siapa orang yang sepagi ini menelepon istrinya dengan nomor yang belum disimpan dalam kontak.
“Sekar, aku mengirimkan kamu pesan sejak kemarin dan kamu belum membacanya. Temui aku waktu makan siang. Hari ini suami kamu sibuk sekali. Tempatnya nanti aku kabari lagi.”
Danil mendengarkan dengan seksama semua ucapan penelepon tanpa nama, tangannya mengepal kuat, dia langsung membuka pesan dalam ponsel istrinya. Sejak kemarin Sekar memang tidak memegang ponselnya sama sekali. Ada beberapa pesan dari beberapa grup sekolah dan kuliahnya, serta satu nomor tidak dikenal.
+6284567891234, Besok kita harus ketemu, kamu harus tahu sisi kelam suamimu.
Danil segera memberikan nomor telepon pemberi pesan kepada orang kepercayaannya. Dia mulai gelisah, untung saja pagi ini dia yang mengangkat teleponnya bukan istrinya.
“Telepon dari siapan Mas?”
Danil tersenyum “Salah sambung,” jawabnya cepat.
Sekar menatap suaminya, mencari kebenaran. “Tidak mau berbicara yang sebenarnya?” tanyanya.
Sekar memberikan gelas berisi air putih. “Bernafas yang teratur Mas, dan tersenyumlah. Kamu jelek tahu kalau sedang kesal.”
Danil masih menatap istrinya yang sedang menaruh nasi goreng di piring putih dengan corak hitam.
“Apa yang harus Ade lakukan agar Mas tenang?”
Danil kembali menatap istrinya, terkejut karena Sekar seakan cenayang yang mengetahui apa yang ingin disembunyikannya. Dia duduk lalu menatap calon ibu dari anaknya.
“Jangan kemana pun tanpa seizin Mas, maaf kalau penjagaan akan diperketat mulai sekarang,” langsung kepada titik masalah, dia tidak ingin menutupi kegelisahannya. Setidaknya istrinya akan menurutinya.
“Jujur, apakah ini menyangkut sama seseorang yang menelepon tadi?” Danil menganggukkan kepalanya, mengelus lembut pipi istrinya.
"Ade akan nurut perintah Mas."
Danil tersenyum menatap istrinya yang pengertian, meskipun dia sedikit ragu dengan ucapan Sekar. Ada kegelisahan yang berusaha ditutupi. Seseorang diluar sana sudah berani menghubungi istrinya. Dia harus kerja keras untuk segera menuntaskan masalah yang ada.
__ADS_1
***