
Beruntungnya saat itu poli klinik tidak terlalu ramai. Bisma tampak sedang berbicara dengan Danil, sambil video call. Entah dengan siapa, Sekar menatap pesan yang baru masuk dalam ponselnya. Ia menyipitkan pelupuk matanya.
“Nyonya Sekar,” Seorang perawat berbaju hijau meneriakan namanya, mengalihkan perhatian dari ponselnya. Ia memasukkan ponsel dalam tas hitam kecil yang berada di pangkuannya.
Danil menarik kursi roda Sekar hingga poli klinik sembilan.Ketika masuk ruangan keduanya disambut hangat oleh dokter Rianti, yang ternyata kakak dari dokter Indah, teman SMA Danil.
“Tadi bertemu dengan adiknya sekarang bertemu kakaknya,” ucap Danil ketika memasuki ruangan sejuk dengan harum lavender.
“Wah, ternyata bertemu sahabat lama. Apa kabar Nil?” tanya Rianti tulus.
“Kabar baik sekali,” jawabnya. “Kenalkan ini Sekar, istriku.”
“Hai Sekar, aku Rianti. Sahabat Danil, zaman SMA tapinya,” Rianti mengulurkan tangan kanannya, dan Sekar membalas jabat tangan kakaknya Indah.
“Kamu sudah bertemu Indah?” tanya Rianti.
“Sudah, tadi kita ketemu dia IGD.”
“Dia pasti shock. Melihat pujaan hati yang sudah lama menghilang tiba-tiba datang bersama istrinya yang cantik.” Rianti tersenyum sambil menatap pasangan suami istri di hadapannya.
“Jangan dimasukkan dalam hati ya Sekar, sejak dulu dia mengagumi Danil,” ucap Rianti, tersenyum manis berharap Sekar tidak tersinggung dengan kelakuan adiknya.
“Tidak, hanya sedikit kesal dengan sikap agresifnya.” Danil menggenggam jemari istrinya, mengelusnya dengan lembut. Ia terkejut mendengar ungkapan perasaan Sekar yang sejak tadi tertahan.
“Maafkan adikku bumil sayang, sampai sekarang dia masih berharap mendapatkan cintanya suami kamu.”
“Aku mendengar jelas dari ucapannya.”
Danil menatap Sekar, senyum menghiasi bibirnya. Dia senang mendengar istrinya cemburu. Kebahagiaannya berlipat ganda.
“Indah sudah seperti adikku sendiri Bee.”
Rianti tertawa kencang. Dia tahu sejak lama bahwa sahabatnya hanya menganggap adik kepada Indah. Danil pun tidak pernah menjanjikan apapun terhadap adik semata wayangnya. “Jangan khawatirkan apapun sayang. Percayalah sahabat aku yang satu ini tipe laki-laki pencemburu, dan setia.”
“Iya, semoga selalu seperti itu.”
“Kamu meragukan mas?” tanya Danil menatap tidak percaya atas ucapan istrinya. Ingin rasanya saat ini ******* habis bibir mungil istrinya.
“Tunggu sampai dirumah Bee, mas akan menghukummu karena sempat terpikir meragukan suamimu ini.”
“Apakah aku bilang, aku meragukan mas?”
Danil mencubit gemas pipi istrinya, sudah cukup Sekar menguji kesabarannya dengan bersikap pura-pura tenang, namun lontaran ucapannya membuat siapapun yakin bahwa ia sedang berusaha meredam emosi.
“Tidak Bee.”
“Maafkan kelakuan adikku Sekar,” pinta Rianti dengan tulus.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, dokter Indah hanya menggungkapkan rasa bahagianya bertemu dengan pujaan hatinya.Namun seketika harus kecewa karena dia sudah memiliki istri. Saya disini yang menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”
__ADS_1
Rianti tersenyum “Luar biasa istrinya Danil ini. Kamu hebat bisa meredam emosi dimasa seperti ini. Saya sudah menemui banyak ibu hamil, hanya beberapa yang bisa meredam emosi seperti kamu.”
“Terima kasih sudah tulus memberiku pujian,” ucap Sekar bahagia dan tersenyum tulus.
“Kamu memang pantas menjadi istri sahabatku. Mari kita periksa,” ucap Rianti menyuruh Sekar menaiki meja periksa.
Setelah ditimbang dan diukur tinggi badan, kemudian perutnya dioles oleh gel bening, dan kemudian dokter Rianti menekan alat usg pada perutnya yang masih rata. Danil tetap menggenggam jemari Sekar sambil menatap layar.
“Kalian lihat tanda ini?” tanya dokter Rianti sambil menunjuk bentuk seperti kacang. bentuk seperti titik namun lebih besar berwarna putih itu mampu membuat kedua calon orang tua ini terharu. “Inilah janin yang akan tumbuh dan berkembang, calon anak kalian.”
Danil mengusap perut rata istrinya setelah cairan itu di hapus dan mereka kembali ke posisi semula.
“Tidak ada pantangan untuk makanan, hanya kita tahu apapun yang berlebihan tentu tidak baik. Aku percaya kalian bijak untuk hal ini,” pesan dokter Rianti.
“Usia janin masih kecil, nanti jangan kaget bila suka terasa kembung, bisa saja terjadi kram ringan, jangan khawatir itu bisa jadi bahwa janin sudah berada di posisi yang tepat. Namun bila terjadi kram dan terasa sakit yang parah kalian harus langsung datang dan memastikan keadaan kondisi kandungannya. Bila mual dan muntah-muntah usahakan tetap diisi makanan, buah lebih bagus.”
“Siap-siap menghadapi morning sickness, bersyukur semoga tidak mengalami ya Kar. Jangan bekerja terlalu berat, ibu hamil mudah lelah.”
Selain makanan, dokter Rianti pun menjelaskan mengenai hormon ibu hamil yang akan berubah dan cara penanganannya, dan hal-hal yang harus dihadapi ibu hamil.
“Mulai sekarang jauh-jauh kalau merokok ya Nil, kalau bisa berhentilah,” ucap Rianti sambil menuliskan resep vitamin untuk Sekar.
“Diusahakan,” ucap Danil sambil tersenyum menatap istrinya.
“Dijaga kondisinya Sekar, selamat menikmati sembilan bulan yang menakjubkan,” ucap Rianti sambil memberikan resep vitamin pada Danil.
“Terima kasih dokter Rianti,” ucap Sekar.
“Baiklah, terima kasih Rianti.”
“Sama-sama, jaga kondisi ya dan maafkan kelakuan adikku,” katanya dengan tulus.
Keduanya pamit, setelah Danil meminta nomor ponsel Rianti agar mudah bila menanyakan apapun mengenai Sekar dan calon anaknya.
Danil dan Sekar menunggu di kantin sementara Bisma menebus vitamin di apotik. Danil berusaha membujuk Sekar untuk makan, namun istrinya belum ingin makan. Akhirnya dia membelikan jus alpukat, agar ada asupan yang masuk.
“Makasih mas,” ucap Sekar ketika segelas jus alpukat disodorkan kepadanya.
“Mulai sekarang harus jaga kondisi ya Bee, ingat harus hati-hati. Jangan angkat yang berat-berat. Kalau perlu kamu tidak perlu turun dari tempat tidur, berhenti masak dan melakukan hal-hal yang melelahkan.”
“Selalu seperti ini, mas terlalu berlebihan. Kalau aku hanya duduk manis, pasti bosan mas.”
“Tapi kondisi hamil muda tuh masih riskan Bee. Kamu dengar sendiri tadi Rianti berkata apa.”
“Iya aku mendengarkan mas, semua boleh asal tidak berlebihan.”
“Kalau bisa dihindari, itu lebih baik.”
“Sampai kapan pun aku pasti kalah adu mulut sama mas.”
__ADS_1
“Adu mulut yang mana?” tanya Danil jahil menatap istrinya.
“Mas Danil,” Sekar mencubit perut Danil dengan gemas. Danil mengusap perutnya yang sakit dicubit istrinya.
Jari telunjuk Danil menyingkirkan rambut yang menutup sebagian wajah istrinya. Dielus dengan lembut pipi Sekar dengan sayang. “Terima kasih Bee.”
“Untuk?”
“Kabar bahagia ini.” Sekar mengulurkan tangannya minta peluk, dengan sigap Danil langsung memeluknya dengan penuh sayang.
Danil mengajak Sekar ke taman di samping kantin. Istrinya terlihat menikmati atmosfer yang berbeda. Angin semilir membuat rambutnya bergerak dan mengeluarkan harum mint yang menyegarkan.
Danil mengecup lembut wajah istrinya. “Kamu sexy kalau lagi cemburu,” bisiknya membuat Sekar mengalungkan tangannya di leher suaminya.
“Jangan menggodaku mas, kamu tahu kamu menyebalkan.”
“Memang aku menyebalkan tapi pasti kamu makin cinta sama aku,” dengan percaya diri yang tinggi Danil memamerkan senyum terlebarnya.
“Mas!!!”
***
__ADS_1