
Setelah kurang lebih tiga belas jam dalam perjalanan, akhirnya pesawat mereka mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam. Bandara utama di Belanda ini terletak di daerah selatan, persisnya di gemeente haarlemmermeer. Gemeente adalah sebuah istilah dalam bahasa Belanda, sebuah nama pembagian administratif, kalau dalam bahasa lazim kita mah kotamadya.
Selisih waktu empat jam antara Belanda dengan tempat lepas landas tidak membuat semua penumpang pesawat kelelahan, mereka tampak bahagia akhirnya perjalanan panjang selesai, mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat, begitu pun keluarga Jayanegara dan keluarga Kesuma.
Schippol memiliki berbagai fasilitas yang memanjakan kita, ah rasanya mata ini dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ada. Suasana yang tenang, sepi dan teratur, memberikan ketenangan untuk Sekar. Maaf bukan bermaksud membandingkan, namun rasanya sulit mendapatkan ketenangan di tempat kita.
Setelah melewati urusan imigrasi dan pengambilan barang, mereka sekeluarga langsung meninggalkan bandara menuju hotel, tempat mereka menginap.
Temperatur di bawah minus lima derajat itu membuat Sekar semakin kedinginan, tubuhnya yang hanya di balut kaos tangan panjang dan celana jeans membuat badannya menggigil dan mukanya terlihat pucat, terlebih ketika di pesawat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Sekar, kamu masih sakit?” tanya bunda.
“Enggak bunda aku enggak apa-apa,” jawab Sekar.
“Badan kamu dingin Bee,” kata Danil.
“Aku enggak apa-apa mas,” ulang Sekar.
“Enggak apa-apa gimana?” kata Danil khawatir, sambil membuka jaket yang di pakainya. “Pakai ini dulu,” kata Danil sambil memakaikan jaketnya pada Sekar, langsung memeluk dan menyandarkan kepala Sekar di pundaknya.
“Makasih mas, jadi hangat,” katanya manja.
“Jangan sakit ya, hari ini kita istirahat saja.”
“Iya mas.”
“Danil, sampai di hotel kamu tolong temani Sekar ya. Biarkan dia istrirahat dulu, kelihatan pucat, dan lemas. Saran mamah, besok saja jalan-jalannya,” kata mamah Fina khawatir melihat keadaan menantu mungilnya.
“Aku enggak apa-apa mah, enggak usah sampai kayak gini, aku kuat kok. Aku hanya kedinginan,” kata Sekar, menolak diaggap sakit..
“Sayang, kalau kamu enggak istirahat, malah enggak jadi bulan madunya,” kata bunda Rianti.
“Sudah kalian semua tenang dulu, kita sudah sampai hotel.” Kata ayah Bagas menenangkan para nyobes (nyonya besar).
“Ini kuncinya pak,” kata Indra, memberikan kunci kamar pada bossnya.
“Danil, bawa Sekar istirahat dulu. Ayah dan papah harus langsung pergi, kalau kamu butuh apa-apa tinggal telepon Hadi, dia yang akan menyiapkan semua yang kamu butuhkan,” kata papah, sambil memberikan no ponsel Hadi.
Setelah pamit pada semua orang yang mengantar, Sekar dan Danil langsung menuju kamar. Danil terlihat sangat cemas, dia langsung turun tangan mengurus istrinya. Memberi obat, menyelimuti, bahkan menemani agar Sekar bisa cepat tidur.
“Mas Danil, kamu juga istrirahat dong, aku sudah enggak apa-apa kok.”
“Jangan banyak tingkah Bee, sekarang kamu tidur ya,” kata Danil, sambil membetulkan letak selimut Sekar.
“Temenin, jangan tinggalin loh,” pinta Sekar dengan manja.
“Iya Bee.”
“Sini jangan pergi,” pinta Sekar menarik tangan Danil.
“Iya cantiknya aku, sayangnya aku, manjanya aku,” kata Danil gemes melihat kelakuan istrinya.
“Aku hukum kalau mas ninggalin aku,” ancamya.
“Kalau aku enggak ninggalin kamu, kamu yang aku hukum Bee,” Danil tersenyum jahil mengancam Balik.
“Enggak jadi mas, enggak jadi mas. Perjanjian batal,” kata Sekar, sudah tahu hukuman apa yang akan suaminya berikan.
__ADS_1
“No ... No ... No ...” kata Danil sambil memeluk istrinya.
Karena pengaruh obat yang di minum, tidak lama kemudian Sekar tertidur dalam pelukan Danil. Di kecup kepala istrinya dengan penuh kelembutan, terlihat kekhawatiran dalam wajahnya.
“Tidurlah dengan tenang Bee, cepat sembuh. Mas sayang kamu Bee.”
Danil membasuh mukanya berkali-kali, dan langsung duduk di sofa sambil menyalakan televisi, yang ia yakini saat itu tidak acara yang seru. Danil susah untuk memejamkan matanya, ia ingin melepaskan beban yang ada di otaknya, tetapi kata-kata Rena dan Ryan selalu mengiang-ngiang di kepalanya.
Dia menuliskan beberapa pesan pada Bisma dan Rio, tidak lama ponselnya berdering, dengan cekatan ia langsung mengangkatnya.
“Cari tahu semuanya secara detail Bisma, tidak boleh ada yang terlewat. Data mereka berdua, sedetail mungkin harus aku dapatkan, dan aku minta Rio untuk mencari siapa dalang dibalik semua ini.” Perintah Danil menjadi titah yang harus segera dilaksanakan oleh mereka.
Danil tampak terpukul, bukan karena kelicikan sepasang suami istri itu, namun dia merasa kecolongan, tidak mengetahui ada seseorang misterius yang ingin mengganggu kehidupannya.
Sesekali ia memeriksa keadaan Sekar, ia tahu pasti penyebab sakitnya Sekar bukan hanya udara yang begitu dingin tapi penyebab utamanya adalah Ryan, Sekar begitu shock mendengar langsung apa rencana keduanya.
Sebenanrnya Ia sempat tidak percaya ketika Papah Andi ingin menjodohkan dirinya dengan Sekar, sempat terjadi penolakan dari keduanya, namun semua masalah dapat di atasi, kini mereka berdua telah menjadi sepasang suami istri, tanpa ada perjanjian yang mengikat.
‘Untung aku sudah membatalkan perjanjian kita Bee? Kamu milikku selamanya, tidak akan ada seorang pun yang akan menyentuhmu. Aku pasti akan selalu ada untuk mu Bee, kamu pasti akan selalu ku lindingi,’ janjinya di dalam hati.
Belum lama Sekar tertidur, ia kembali gelisah, keringat dingin membasahi wajahnya, ia mendengar Sekar mengigau, dan tubuh Sekar kembali menggigil.
Danil berusaha membangunkan Sekar, tapi Sekar tidak juga bangun, dan tubuh mungil itu semakin menggigil. Danil memutuskan untuk memeluk Sekar, yang ia rasa dengan cara itu ia dapat meringankan demam Sekar. Danil yang kelelahan pun tertidur sambil memeluknya.
Sekar tersenyum menatap wajah suaminya, di belai dengan lembut wajahnya. Tidak lama Danil membuka matanya, menatap istrinya dengan lega.
“Sudah baikan Bee?”
“Sudah mas,” jawab Sekar. “Mas, semalam pasti aku ngerepotin kamu ya?”
“Kapan kamu pernah ngerepotin aku Bee?” tanya Danil, sambil mengecek suhu tubuh Sekar. “Sudah enggak demam ya,” katanya sambil menurunkan tangan dari kening Sekar.
“Mas Danil,”
“Makasih,” kata Sekar.
“Untuk apa?” tanya Danil. “Kenapa kamu suka sekali berterima kasih Bee?”
“Untuk semua yang mas lakuin. Untuk perhatian, ketulusan dan kasih sayang mas,” jawab Sekar. “Aku enggak tahu, kalau enggak ada mas, bagaimana aku menghadapi ini semua.”
Danil menutup mulut Sekar dengan telunjuknya “Jangan pernah bilang makasih Bee, aku melakukan itu karena itu sudah menjadi tugas aku. Mencintai, menyayangi dan melindungi kamu, karena kamu adalah separuh jiwaku,” kata Danil.
“I love you mas Danil, sangat mencintaimu.”
“I love you too istriku, aku lebih mencintaimu,” balasnya sambil mengecup bibir istrinya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sekar selalu bahagia dengan perhatian Danil, pipinya merona merah, jantungnya berdetak lebih kencang, tanpa sadar dia tersenyum malu-malu tidak bisa lagi menutupinya. Ia sangat bahagia.
Sekar membuatkan secangkir kopi dan memilihkan baju yang akan di pakai suaminya. Setelah Danil selesai mandi, Sekar langsung masuk ke kamar mandi. Danil, tersenyum melihat perhatian Sekar padanya.
“Makasih Bee,” kata Danil, sambil menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.
“Mustinya aku yang harusnya ngucapin makasih mas,” jawabnya baru saja keluar dari kamar mandi.
“Jangan malu-malu sama mas mu ini, Bee,” kata Danil sambil menjentikkan jarinya di kening Sekar. “Semua sudah menunggu kita untuk sarapan, kita turun sekarang?” tanya Danil sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Sebentar mas, aku masih siap-siap, belum selesai,” jawabnya.
“Apalagi yang belum selesai?”
“Aku belum dandan, sabar dong,” pinta Sekar dengan manja. Melepaskan kedua tangan Danil yang melinggkar di perutnya.
__ADS_1
“Enggak perlu dandan juga sudah cantik istri aku ini.”
“Sebentar saja, aku enggak mau saingan sama perempuan di luar sana, yang selalu melihat mas tanpa berkedip, padahal ada aku disebelah mas.”
“Aku suka banget lihat kamu cemburu Bee,” katanya tersenyum jahil. “Tapi hanya ada satu bidadari yang selalu ada di mataku ...” kata Danil.
“Siapa?”
“Mamah Fina,” jawab Danil tersenyum jahil.
Sekar langsung kesal. “Kalau itu sudah pasti di setiap hati seorang anak laki-laki pasti ibunya yang akan menjadi bidadarinya,” kata sekar kesal.
“Kamu, permaisuriku, ratuku, Bee, tidak akan terganti oleh siapapun,” kata Danil.
Sekar tersenyum mengejek, “Rajaku pagi-pagi sudah gombal,” katanya meledek.
“Janji seorang Raja itu Bee,” kata Danil menatap istrinya.
“Ok Raja, ratumu ini akan memegang janji setia mu,” kata Sekar sambil melanjutkan dandannya.
“Ok ratuku, selamat berias, jangan terlalu cantik, aku tidak suka mata laki-laki yang menatapmu dengan tidak berkedip, rasanya ingin aku ...”
“Sudah ya, sekarang mas duduk manis di sofa. Mas ingin aku cepat selesai kan, maka sekarang mas duduk yang manis dan tidak mengganggu,” pinta Sekar.
“Siap sayang,” jawab Danil menurut perintah istri mungilnya.
Lima belas menit kemudian Sekar sudah selesai, terlihat cantik walau hanya memakai, celana jeans dipadu dengan kaos turtleneck tebal berwarna putih dengan dandanan natural ala dirinya.
“Ayo rajaku, istrimu sudah siap,” kata Sekar. Danil menatap istrinya tidak bekedip.
“Cantik,” hanya itu yang bisa Danil gambarkan ketika melihat istrinya.
***
Ayo, apakah kalian siap jalan-jalan dengan pasangan pengantin baru ini?
Jangan lupa like dan vote ya semuanya...
Terima kasih
***
__ADS_1