
Danil menatap Sekar yang masih terlelap dalam pelukannya, merapihkan rambut yang menutupi sebagian wajah polos dengan jemarinya. Dikecup kelopak mata yang tertutup, masih terlihat membengkak sisa tangis semalam.
“Jangan tinggalkan aku mas,” ucap Sekar membuat Danil menatap tajam istrinya yang masih terlelap.
"Aku hanya butuh mas, tidak yang lain,” igau Sekar kedua kalinya.
“Mas Danil.”
“Mas Danil.”
Apa semalaman dia terus mengigau seperti ini?.
Maafkan mas mu ini Bee, sampai sekarang belum dapat menghilangkan rasa takutmu. Mas akan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan semua rasa itu.
Danil mengecup sayang seluruh wajah istrinya, sedetik kemudian Sekar terlihat gelisah. Nafasnya mulai tidak beraturan, entah mimpi apa yang mengisi tidur lelapnya, peluh mulai bercucuran, dan raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.
Danil dilema membiarkan semua seperti seharusnya atau mebangunkan istri mungilnya agar terlepas dari mimpi buruk yang menghantuinya. Dia memilih untuk menunggu babak terakhir mimpi istrinya.
“Jangan ambil anakku!”
“TIDAK!!!”
Teriakan itu sekaligus membangunkan Sekar dari mimpinya. Nafasnya tidak beraturan, telapak tangan mengusap wajahnya berkali-kali. Jantungnya pun masih berdetak dengan kencang. Bibir mungil berwarna merah itu berubah warna menjadi pucat. Di ucapnya istigfar berkali-kali, berusaha menenangkan diri sambil menghapus air matanya.
“Ya Allah, mimpi apa tadi?” tanyanya sambil membenamkan kepala pada lututnya dalam duduk.
"Mengapa terasa sangat nyata?” kembali Sekar bertanya, dia pun belum dapat jawabannya.”
Danil masih terdiam, ia membiarkan perempuannya menenangkan diri. Tidak ingin menginterupsi, atau melakukan hal lain. Kembali banyak pertanyaan yang muncul di otaknya. Akhir-akhir ini otak besar nya selalu mendapat pertanyaan yang tidak disertai jawaban, membuat dirinya harus banyak berspekulasi.
“Apakah ini sebuah pertanda?” Sekar kembali terisak, lantunan istigfar masih terucap dari bibir mungilnya.
“Bee,” panggil Danil pelan.
“Mas,” Sekar yang kaget mendengar panggilan suaminya namun tidak menyurutkan gerakannya yang langsung memeluk Danil dengan erat.
“Minum dulu Bee,” pinta Danil sambil menyodorkan gelas.
“Mas Danil.”
“Iya Bee,” Danil tersenyum melihat istrinya yang masih terkejut menatap dirinya.
“Sejak kapan mas bangun?”
“Sejak kamu masih terlelap dengan nyaman, dan tidak lama mengigau agar mas tidak meninggalkan kamu. Ada apa Bee, kenapa kamu mengucapkan hal itu?”
“Aku tidak tahu mas,” jawab Sekar bingung.
“Makanya sebelum tidur baca doa dulu, agar tidak mimpi buruk,” Danil mengingatkan istrinya. “Dan satu lagi, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.”
“Siapa yang memikirkan hal yang tidak-tidak?”
__ADS_1
“Pasti seperti ini. Kamu tuh terlalu banyak pikiran Bee, coba berusaha santai dan menikmati hidup. Suami kamu ini bisa diandalkan loh, dan percaya satu hal ...,” Danil menggantung kalimatnya.
“Apa?” tanya Sekar yang membalas tatapan suaminya dengan mata penuh cinta.
“Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu,” ucapnya dengan penuh keyakinan. “Kecuali bila takdir yang berkehendak, mas bisa apa?”
“Jangan bicarakan takdir mas,” pinta Sekar.
“Bukankah semua ini takdir yang harus kita jalani?”
“Iya betul, tapi aku tidak ingin membicarakan takdir yang satu itu.”
“Baiklah nyonya banyak mau,” ucap Danil berusaha mencairkan suasana.
Sekar tidak menanggapi ucapan suaminya, dia masih memikirkan mimpi yang baru saja mengganggu tidur nyenyaknya. Mimpi baik akan menjadi bunga tidur, bila mimpi buruk seperti dirinya alami sama saja dengan menjatuhkan suasana hati.
“Hei, ada apa dengan kamu dan mimpi buruk itu Bee?” Danil menangkupkan telapak tangan pada wajah istrinya.
“Peluk mas,” pinta Sekar dengan manjanya.
“Sini,” perintah Danil yang sudah duduk menyandar pada kepala tempat tidur dan menepuk pahanya agar Sekar duduk dipangkuannya.
“Mas, mimpi aku seram sekali. Ada seseorang yang ingin memisahkan kita, seperti pengakuan Ryan dan Renata. Aku tidak ingat wajahnya, samar sekali,” ucap Sekar putusa asa.
“Entah dia perempuan atau laki-laki, aku ragu. Untuk suara pria dia tidak terlalu kuat, untuk suara seorang perempuan dia terdengar berat sekali. Aku ragu, siapa sebenarnya yang kita hadapi?”
“Sabar sayang, semua butuh waktu.”
“Tapi mas, kita berpacu dengan waktu.”
“Mereka ...,”
“Mereka?” tanya Danil dengan mengecilkan kelopak matanya.
“Iya mas, dia tidak sendirian, ada ...,” Sekar berusaha mengingat sambil jarinya seakan menghitung berapa orang yang berada dalam ruangan tempat ia di sekap. “Satu, dua ..., empat, lima ...,” ucapnya terus menghitung berapa banyak orang yang berada dalam mimpinya.
“Kurang lebih tujuh atau delapan orang dalam ruangan itu mas,” ucap Sekar.
“Lalu.”
“Ada satu orang yang berbisik pada seseorang di balik kursi ...,” Sekar kembali menceritakan isi mimpinya. “Kursi apa ya? sepertinya ruangan itu sebuah kantor. Bukan, sepertinya dalam gudang namun ada meja kerja lengkap dengan kursi melingkarnya itu mas, dan ada lemari di balik kursi.”
“Jadi bila kita melihat ke arahnya, kita dapat melihat meja kerja, kursi kerja yang bisa berputar seratus delapan puluh derajat, dan ada lemari, semua serba hitam. Ada papan nama tapi tidak terbaca. Aku sangat yakin itu tidak ada namanya, seperti wajah seseorang yang duduk di kursi kerja itu. Samar!”
Danil menyimak dengan serius cerita istrinya. Kembali banyak spekulasi muncul dalam otaknya.
“Anggaplah ini bunga tidur Bee. Jangan terlalu dipikirkan ya,” Danil berusaha bijak menanggapi mimpi istrinya.
“Dia berbisik pada lelaki yang berada di dekatnya. Mereka akan memisahkan kita mas, bila kita masih bersama. Siapa mereka seenaknya ingin memisahkan kita?”
“Mas bilang juga apa, kamu terlalu memikirkan hal ini, sehingga muncullah mimpi seperti ini.”
__ADS_1
“Wajar lah mas, kalau aku memikirkan hal ini. Siapa sih yang bisa tenang setelah mendengar pengakuan seseorang yang memang dengan sengaja berniat untuk memisahkan kita.”
Danil mengusap punggung Sekar dengan lembut. Ia sangat memaklumi apa yang sedang dialami oleh istrinya. Jangankan istrinya dia sendiri pun berusaha keras, menekan Bisma untuk segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Mas.”
“HMMM ...,” Danil menatap Sekar.
“Mereka ingin mengambil anak kita,” ucap Sekar.
“Anak kita?”
“Iya mas, saat aku dalam ruangan itu ada bayi dalam gendongan aku mas.”
“Kamu yakin itu anak kita?”
“Aku tidak tahu mas, kalau masalah yakin ..., jujur aku tidak yakin mas. Tapi masa bayi itu bukan anak kita?”
“Namanya mimpi, siapa tahu dalam mimpi itu, bayi tersebut bukan anak kita, namun dia berada dalam gendongan kamu.
“Bisa jadi mas. Tapi, dalam mimpi itu, aku berteriak, jangan ambil anakku,” ucap Sekar sambil menatap Danil, seakan meminta jawaban dari penjelasan.
“Bila itu anak aku, tentunya itu nak kita mas.”
“Bisa jadi.”
“Kok bisa jadi?”
“Iya bisa jadi Bee. Kita tidak tahu asal usul bayi itu. Tiba-tiba sudah berada dalam gendongan kamu. Jadi bisa saja itu anak kita, atau anak orang lain yang dititipkan pada kita. Anggap saja kamu sedang berkhayal.”
“Kenapa begitu?”
“Karena ini mimpi.”
“Apa artinya mas?”
“Mas tidak bisa membaca arti mimpi, namun dapat mas simpulkan ini karena kamu terlalu memikirkan kejadian kemarin.”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa begitu, kenapa begini, kenapa mimpi istriku buruk? Dan jawabannya adalah karena eh karena dia terlalu memikirkan pengakuan Ryan dan Renata.”
“Aku takut ini terjadi di kehidupan nyata mas,” ucapnya.
“Pasrahkan saja Bee, dan ingat bahwa mas akan selalu melindungi kamu.”
“Iya mas,” Sekar menyudahi debatnya. Ia sudah mengenal suaminya, bila dia berkata dengan sedikit nada tinggi sudah dapat dipastikan, agar dia mendengarkan ceritanya.
Hidup tidak selama nya indah, banyak hal yang terjadi di luar apa yang kita inginkan. Terkadang semua proses yang dijalani melenceng dari apa yang kita inginkan.
***
__ADS_1
Ditunggu like, comment dan votenya.
Terima Kasih