
Dokter Indah memasuki ruangan Sekar dan Danil. Ia tersenyum menatap keduanya. “Selamat ya Kak Danil.”
Danil menyipitkan matanya. “Kamu mengenal saya?” tanya Danil bingung, dan sapaan dokter cantik itu sempat membuat Sekar menatap kesal keduanya.
Kak Danil! Siapa perempuan ini?
Sabar Sekar! tahan emosimu!
Sekar berusaha menenangkan dirinya agar dapat menahan emosinya.
“Kak Danil lupa sama Indah?” tanyanya membuat Danil berpikir keras, sementara Sekar semakin kesal menatap suaminya.
"INDAH???"
Kembali Sekar mempertanyakan siapa perempuan ini.
Danil menatap perempuan berjas putih itu tanpa berkedip, berusaha mengingat siapakah dokter Indah yang berada di hadapannya. Hal ini membuatnya kesal, ingatannya kuat, hal langka dia bisa melupakan seseorang.
“Maaf,” ucap Danil, dia masih tidak bisa mengingat.
“Donat gula dan susu rasa coklat,” dokter Indah kembali berkata.
Untuk kesekian kalinya, Danil menggelengkan kepalanya. “Maaf,” ucapnya.
Dokter Indah tersenyum, walau senyumnya menyiratkan kekecewaan, karena lelaki yang sedang menggenggam jemari istrinya tidak mengenalnya.
“Kalau Donal Duck?” tanyanya, masih berusaha mengingatkan Danil.
“Rollerblade.”
“Jus alpukat.”
Danil menghembuskan nafas beratnya, dia benar-benar tidak mengingat hal-hal yang dibeberkan. Donat gula, susu rasa coklat, Donal duck, jus alpukat, rollerblade adalah favoritnya.
Mengapa dokter ini begitu mengetahui hampir semua hal yang mas Danil sukai, siapa dia?
Kepalanya terasa berdenyut, namun Sekar berusaha bertahan. Dia harus mengetahui siapakah perempuan yang menggunakan jas putih dihadapannya.
“Maaf,” ucapnya sekali lagi, sambil mengeratkan genggaman pada Sekar yang berusaha melepaskannya.
“Sudah lama kita tidak bertemu, sampai kak Danil lupa padaku. Padahal dahulu hampir setiap hari kamu main ke rumahku.”
“Kapan?”
“Waktu SMA.”
Danil baru tersenyum, akhirnya dia menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan yang membuatnya putus asa, karena tidak bisa mengingatnya.
“Kamu Indah adiknya Rianti?”
__ADS_1
“Akhirnya kamu mengingatnya kak. Butuh lama untuk mengingat kesayanganmu ini?” tanya Indah dengan senyum manis.
“Ternyata adik kecil kesayanganku sudah besar sekarang.”
“Sudah lama kita tidak bertemu ya, terakhir kali ketika kakak lulus SMA.”
“Iya, karena kita kuliah beda tempat. Apa kabar Rianti?” tanya Danil.
“Kenapa kak Rianti yang ditanya?” Pertanyaan Indah membuat Danil kaget begitu pun Sekar.
“Karena sudah lama tidak bertemu, kamu adiknya pasti tahu keadaan kakaknya,” jawab Danil.
“Kak Rianti baik, sudah menjadi dokter juga seperti cita-citanya.”
“Akhirnya, tercapai juga cita-citanya sejak dulu.”
“Aku pun mengikuti jejak Kak Rianti. Karena dulu kak Danil pernah berkata ingin memiliki pasangan hidup seorang dokter.”
Indah berkata tanpa malu-malu. Danil hanya tersenyum sedikit menanggapi pernyataan dokter dihadapannya. Dia dapat merasakan aura cemburu yang dikeluarkan istrinya, terlebih sejak tadi perempuan yang dicintainya hanya diam dan berusaha melepaskan tautan jemari mereka.
“Kamu masih ingat saja, omongan ngawur masa sekolah dulu.”
Buat kakak mungkin hanya omongan ngawur, tapi buat Indah itu motivasi Indah untuk mendapatkan Kak Danil. Indah berucap dalam hati.
“Iyalah. Apapun tentang Kak Danil selalu aku ingat,” ucap Indah tanpa peduli ucapannya membuat Sekar meradang.
“Apakah hasil tesnya sudah keluar dok?” tanya Sekar, berusaha mengakhiri nostalgia antara suaminya dengan dokter Indah. Danil kembali tersenyum bahagia, meskipun Sekar tidak melihatnya.
“Indah perkenalkan, pasien kamu yang cantik dan menggemaskan ini adalah istri tercintaku,” ucap Danil bangga, wajah Sekar merona, membuat Danil gemas dan mencubit lembut pipinya.
Hal manis yang Danil lakukan, membuat tatapan sinis dari Indah. Pandangan boleh menghujam, namun sayang yang ditatap tidak ada yang melihat.
“Hai Indah, saya Sekar istrinya mas Danil,” ucap Sekar dengan tegas, membuat Danil tersenyum senang mendengarnya nada sarkas yang terucap dari bibir istrinya.
“Hallo saya Indah, secret admirer (pengagum rahasia) Kak Danil,” ucapnya bangga. Membuat Danil dan Sekar kembali terkejut dengan jawabannya.
“Pantas saja kamu terlihat sangat mengagumi mas Danilku,” ucap Sekar tegas.
Mas Danilku! Mas suka Bee. Aku tahu kamu sangat cemburu padanya. Betapa menggemaskan melihat mu cemburu seperti ini.
“Aku mengagumi Kak Danil sejak dia masih berseragam putih abu. Hampir setiap hari Kak Danil main kerumahku, dan menghabiskan waktu bersama.”
“Wah seru sekali.”
“Tentu saja, Kak Danil selalu memanjakanku.”
“Dia memang ramah, selalu memanjakan orang terdekatnya.”
“Itu karena kamu selalu bermain sendiri, dan kesal melihat Rianti sibuk pacaran,” Danil memberi alasan agar dua perempuan di depannya berhenti berdebat.
__ADS_1
“Aku menjadi dokter juga karena Kak Danil,” ucap Indah.
“Mas Danil memotivasi kamu dengan baik ya.”
“Iya, namun sayang aku baru tahu Kak Danil sudah menikah. Aku pikir tadi kalian sodara dekat.”
“Maaf, tidak mengundang kalian ketika kita menikah,” ucap Danil menyela pembicaraan keduanya.
“Tidak apa, tapi kamu cukup membuatku kecewa Kak,” ucap Indah sungguh-sungguh menampakkan wajah kecewa.
“Maafkan saya, hadir diantara kisah cinta kalian.”
“Tidak ada yang harus dimaafkan Bee. Tidak ada kisah cinta yang terjalin antara kita," ucap Danil tegas. "Kami tidak pernah pacaran, Indah sudah seperti adikku sendiri,” ucap Danil sambil mencium kening istrinya.
Sekar tersenyum, ada sedikit rasa kemenangan atas perlakuan Danil terhadapnya. Walau Sekar sempat melihat kilatan amarah dalam tatapan dokter Indah yang melihat kemesraan mereka serta mendengar ucapan suaminya.
“Jadi hasil tesnya?” tanya Danil tidak sabar.
“Hampir saja lupa pada intinya. Selamat, menurut hasil tes, ibu Sekar positif sedang mengandung.”
“Alhamdulillah,” keduanya mengucapkan dengan perasaan yang sangat berbahagia. Tanpa disadari, Danil mengusap lembut perut istrinya yang masih rata dan mengecup keningnya. “Terima kasih Bee,” ucapnya membuat Sekar tersipu, namun mendapat tatapan kesal dari dokter Indah.
“Kak Danil dan Ibu Sekar bisa langsung menemui dokter kandungan,” ucap dokter Indah dijawab anggukan keduanya.
“Terima kasih Indah,” ucap Danil dan Sekar. Keduanya sumringah dan Danil langsung membawa Sekar keluar dari ruang IGD.
Setelah mendapat perintah, Bisma segera mendaftar, Danil tidak ingin menunda pemeriksaan, ia harus tuntas mengetahui kehamilan istrinya secara mendetil. Satu hal yang selalu Danil tekankan, tidak ada alasan untuk menunda sesuatu yang harus dilakukan segera, kecuali ada hal yang lebih mendesak.
Ia membawa Sekar menuju poli klinik kandungan. Kali ini dia menuruti permintaan istrinya, yang tidak ingin digendong. Namun Sekar harus menurut untuk duduk di kursi roda.
“Mas, aku ini hamil loh,” protes Sekar.
“Lalu?”
“Aku bukan sakit keras mas.”
“Mas tahu.”
“Kenapa harus pakai kursi roda?”
“Aku tidak mau kamu pingsan lagi.”
“Mas Danil, selalu berlebihan seperti ini.”
“Sekarang pilih! Kamu mau mas gendong atau duduk manis di kursi roda?” tanya Danil. Tidak ada pilihan yang Sekar inginkan, terpaksa dia menuruti permintaan suaminya dan memilih duduk di kursi roda.
Danil tersenyum penuh kemenangan, menatap Sekar yang kesal dengan kelakuannya. “Jangan menunjukkan wajah seperti itu Bee,” ucapnya.
“Maaf mas,” jawabnya. Ia kesal namun malas memulai keributan dan memerkan senyum terpaksanya.
__ADS_1
***