
Sebenarnya Sekar agak deg degan menemui orang tua mereka, setelah kemarin pergi tanpa pamit, dan menghebohkan seluruh penghuni rumah. Tapi kan tidak mungkin dia hanya berdiam diri di kamar.
“Mas Danil mana sayang?” tanya mamah Fina, ketika Sekar menghampiri dua pasang orang tuanya yang masih berkumpul di meja makan.
“lagi mandi mah, sebentar lagi turun,” jawab Sekar.
“Bilang sama mas mu jangan lama-lama, ada yang mau kita bicarakan sama kalian berdua” pinta bunda.
“Baik bunda,” jawab Sekar.
Sekar kembali ke kamar, saat itu jantungnya berolahraga, dia sampai merasa sesak, memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh orang tua dan mertuanya.
******! habis sudah riwayatmu kali ini Sekar. Pasti semuanya akan membahas masalah yang kemarin. Duh, aku harus bagaimana?
Sekar sudah berada dalam kamar, namun ia tidak berani mengetuk pintu kamar mandi.
Bila pembicaraannya tidak penting, pasti mereka tidak akan menyuruh dirinya memanggil Danil.
“Mas.”
“Iya sayang,” jawab Danil sambil membuka pintu kamar mandi. “Kenapa, Sudah rindu ya?”
“Mas.”
“Kenapa Bee?” tanya Danil curiga melihat istrinya sedikit pucat dan lemas.
“Bunda, ayah, mamah dan papah meminta aku memanggil mas. Ada yang ingin dibicarakan sama kita berdua katanya mas,” jawab Sekar.
“Mau ngomong apa ya?” tanya Danil bingung.
“Apa karena kemarin aku pergi diam-diam?”
“Masalah itu nanti mas yang akan handle, sudah jangan tegang gitu, semoga yang mau dibicarakan bukan masalah kemarin.”
“Iya mas,” jawabnya.
Tanpa sadar, sekar melamun. Dia bingung menyiapkan jawaban yang pas, karena dia tidak ingin membuat semuanya kecewa.
“Mikirin apa lagi?” bisik Danil.
Bisikan suaminya membuat Sekar kaget dengan jujur dia menjawab. “Takut ditanya tentang kemarin.”
“Sudah tenang saja, tidak akan ada yang membahas masalah kemarin. Mas yang akan handle itu semua, kamu tinggal jawab seadanya saja,” ucap Danil berusaha menenangkan Sekar.
“Kalau ditanyain?” tanya Sekar panik.
“Jawab seadanya dan sejujurnya.”
“HAH!”
“Jangan bohong, bicarakan semuanya. Mengenai foto dan semua kekesalan mu pada mas."
"Harus?"
__ADS_1
"Harus."
"Kenapa mas?"
"Kemarin ayah sama papah mengerahkan para bodyguard untuk mencari kamu.”
“HAH!” Sekar kaget.
“Sudah tidak usah panik.”
“Tapi mas ...”
“Tidak ada tapi-tapian Bee," ucap Danil.
"Mengenai Foto?"
"Iya jujur saja, mas tidak takut. Karena itu bukan mas, biarkan saja orang ingin memfitnah mas dan melancarkan rencananya. Dengan begitu penjagaan untuk kamu akan lebih extra."
"Ayo sekarang kita ke bawah, nanti mereka menunggu kita terlalu lama,” ajak Danil sambil menggandeng tangan Sekar.
Sesekali Danil mencium rambut Sekar, hobi baru semenjak dia menjadi suaminya. Aroma perpaduan strawberry dengan mint sangat lembut dan menyegarkan.
“Pagi semua," sapa Danil krtika memasuki ruang makan.
“Sudah siang Danil,” ucap mama Fina, menyindir anaknya.
"Iya mama sayang, maklum lah pengantin baru. Sesekali bangun siang kan tidak apa-apa, apalagi kalian menyuruh kita cepat memberikan cucu. Harus bergerak cepat lah," ucap Danil membuat pipi Sekar merona.
"Mas, ih," Sekar mencubit perut Danil, malu mendengar celetukan suaminya.
“Sayang, aku mau kopi susu dong,” pinta Danil sambil mencium rambut Sekar untuk kesekian kalinya.
“Mantu ku sudah pintar membuat kopi untuk suaminya nih,” goda mamah Fina.
Sekar hanya tersenyum, sambil membuatkan kopi susu pesanan suaminya.
“Mau roti atau aku buatkan telor ceplok mas?” tanya Sekar pada suaminya.
“Danil paling suka telor ceplok loh Kar,” kata mamah Fina, menyebutkan kesenangan anaknya.
“Mau aku buatkan telor ceplok saja mas?” tanya Sekar.
“Makasih sayang, roti aja. Rasa coklat kacang ya” pinta suaminya dengan manja.
“Mulai saat ini Sekar sudah harus terbiasa menyiapkan sarapan untuk mas mu," ucap bunda sambil menatap wajah anaknya.
“Mulai kemarin Mbak Sekar sudah menyiapkan sarapan untuk Mas Danil, roti bakar rasa coklat kacang, sama kopi susu. Sepertinya Mbak Sekar pintar nyenengin mas Danil,” celetuk Siti polos, sambil menyimpan air lemon di meja makan.
“Masa sih Ti?” tanya Ayah, seakan tidak percaya, pasalnya sebelum pernikahan mereka, anak dan mantunya sama-sama menolak untuk di jodohkan, terlebih kemarin anaknya tiba-tiba menghilang.
“Iya pak, masa saya bohong,” jawab Siti. "Orang mbak sendiri yang turun ke dapur dan menyiapkan serta mengantar ke kamar, saat itu Mas Danil masih tidur seperrinya," jawab Siti.
Danil bahagia mendengar omongan Siti yang begitu polos. Ia tidak menyangka ternyata sarapan
__ADS_1
yang di sediakan di kamar untuknya adalah buatan Sekar, bukan buatan Siti.
Danil menatap Sekar, tetapi yang ditatapnya hanya tersenyum di goda oleh penghuni rumah lainnya.
“Rotinya mas,” ucap Sekar, sambil memberikan piring berisi dua tangkup roti yang sudah di potong empat bagian, kemudian duduk di sebelah suaminya.
“Makasih Bee,” ucap Danil dengan mesra.
“Katanya tadi ada yang mau dibicarakan," ucap Danil membuka pembicaraan, sambil menyantap roti"
"Mau ngomongin apaan sih pah?” tanya Danil penasaran.
“Oh iya sampai lupa,” ucap papah Andi. “Melihat kejadian kemarin, Sekar pergi tanpa memberi kabar, maka kami akan...,”
“Maafkan kelakuan sekar kemarin. Sudah membuat papa, mama, bunda, dan ayah kecewa.” Katanya meminta maaf dengan cepat.
“Sekar janji tidak akan melakukan hal itu lagi," ucapnya menyesal.
Danil menggengam lembut tangan Sekar memberinya kekuatan. “It’s ok Bee.”
“Sudah tidak perlu di bahas lagi cantik, yang penting kamu pulang dengan selamat” ucap Mamah Fina.
“Langsung intinya saja pah,” ucap Danil tidak sabar mendengar keinginan para orang tua.
“Kami memberikan hadiah kepada kalian tiket berbulan madu ke Eropa selama 2 minggu,” ucap papa Andi.
“Ke Eropa pah?” tanya Sekar.
“Iya, dua minggu. Kalian hanya tinggal duduk manis, karena jadwal semua sudah fix,” jawab papa dengan semangat.
“Makasih pa, tapi bagaimana kerjaan Danil?” tanya Danil.
“Papah sudah memberi kamu cuti, tenang saja.”
“Kerjaan kamu gimana Bee?”
“Harus cek dulu mas, nanti aku hubungi Nia sama Kintan,” jawab Sekar.
“Habis makan kalian segeralah menyiapkan semuanya, kalian berangkat pukul tujuh, malam ini, menuju Belanda,” ucap bunda.
“Sore ini?” tanya Sekar
“Mendadak banget pa,” ucap Danil tidak kalah kaget.
“Lebih cepat lebih baik Danil,” kata ayah Bagas.
“Makasih bunda, ayah, mamah, dan papah, Sekar senang sekali. Mas Danil juga pasti senang. Iya kan mas?” tanya Sekar.
“Pasti dong, kan mau honeymoon sama istrinya," jawab Danil.
"Makasih papah, mamah, bunda, ayah, Danil senang sekali."
“Ya sudah, cepatlah kalian berkemas,” pinta ayah Bagas.
__ADS_1
“Ok, kita akan segera berkemas,” ucap Danil sambil mengajak Sekar dengan mesra.
***