
Memasuki kabin pesawat, mereka disambut ramah oleh pramugari. Salah satu menanyakan nomor tempat duduk dan kemudian menunjukkan arahnya yang harus mereka lalui.
Kedua pria berpakaian hitam ini pun selalu berada di dekat Sekar dan Danil. Satu orang berjalan di depan, yang satunya lagi di belakang. Mereka bagaikan tokoh kartun upin dan ipin, perbedaannya, mereka memiliki rambut. Tidak botak seperti ciri khas tokoh kartun yang disukai oleh anak-anak.
Sebut saja Upin, karena Sekar tidak tahu siapa namanya. Upin seorang pria yang selalu berjalan di depan, menggunakan kaos berkerah dengan paduan celana denim berwarna senada, tidak ketinggalan sneakers putih melekat pas pada kakinya. Tubuhnya wow, dapat dipastikan di balik baju yang dikenakan terdapat perut rata dengan belahan roti sobek yang menggoda. Wajahnya terlihat Cool, sedingin kulkas, pria seperti ini pasti jadi incaran perempuan di luar sana.
Ipin, tidak jauh berbeda dengan Upin, gaya nya yang santai tidak terlihat seperti seorang pengawal. Pria ini pun sama menariknya dengan Upin. Gaya berpakaiannya sedikit berbeda, kaos berwarna putih, ditimpa kemeja hitam yang di biarkan terbuka, dipadu dengan celana model chino berwarna hitam dan sepatu model slip on berwarna putih. Tatapannya tajam, seperti silet, mampu melukai siapa pun yang berusaha mencelakai boss nya.
Sekar menduduki kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket pesawat. Di kursi depan Upin duduk sendirian, begitu dengan Ipin dia duduk di belakang. Kursi di samping keduanya kosong. Entah kosong memang tidak ada yang membeli kursinya, atau sengaja dibiarkan kosong karena sudah di beli oleh pihak suaminya.
Sekar menatap keluar jendela, beberapa orang terlihat sibuk. Ada yang mengecek keadaan pesawat ada juga yang melakukan hal lain.
“Selamat Tinggal Paris.”
Ia mulai menyandarkan tubuhnya, baru terasa lelah. Banyak hal yang telah di lalui hari ini.
Bahagia! Kata yang tepat untuk merangkum semua aktivitasnya. Sekar mengingat kembali apa saja yang telah di lakukannya tadi. Tangan kanannya bergerak melihat foto-foto dan video kebersamaan mereka dari smart phone nya.
Sekar menahan sakit, tiba-tiba bahu sebelah kanannya terasa nyeri, Danil terlihat sangat cemas, ketika istrinya menahan sakit.
“Mana yang terasa sakit?”
“Bahu sebelah kanan mas, terasa nyeri dan ngilu.”
Danil langsung memeriksanya, terdapat lebam. “Bee, waktu di tabrak tadi apa yang terasa?”
“Sakit mas, seperti ada yang menusuk tapi tidak tajam. Mungkin seperti di pukul kepalan tangan seseorang,” Sekar memberi penjelasan.
“Ada lebam sedikit. Kalau tidak sengaja, mengapa kamu merasakan seperti ada kepalan tangan yang memukul?”
“Mungkin aku salah mas, bisa jadi itu seperti kepalan tangan. Belum tentu orang berniat mukul aku”.
“Jangan berburuk sangka mas, tidak baik.”
“Ada yang aneh, kalau saja orang itu memang tidak sengaja, kamu tidak akan merasakan sakit yang berlebihan. Masa hanya terdorong sedikit bisa menimbulkan lebam.”
“Apa ada hubungannya dengan masalah ini mas?”
“Mungkin saja.”
“Kapan mas akan mulai bercerita?”
“Kamu istirahat dulu,” pintanya, dia sangat cemas.
“Ayo lah kita sudah dalam pesawat dan mas terus saja mengulur waktu.”
“Sabar Bee,” pinta Danil.
“Mas terlalu mengulur-ulur waktu. Mas pikir dengan cara itu aku akan lupa. Tentu tidak!”
“Siap istri mungilku yang bawel,” ia menarik hidung Sekar, gemas dengan kelakuannya.
__ADS_1
“Aku siap mendengarkan mas.”
“Bahunya masih sakit?”
“Sedikit, ayo mas.”
“Janji dulu,” pinta Danil.
“Janji apa?” tanya sekar bingung.
“Ketika sampai di Jakarta kita akan langsung ke rumah sakit, memeriksa lebamnya.”
“Mas, ini hanya lebam, tinggal di kompres air hangat saja, tidak lama akan menghilang.”
Danil terlihat kesal, namun ia menyerah pada tatapan maut istrinya. “Baiklah, dengan catatan ketika ngilunya tidak hilang juga kita harus periksakan itu.”
“Setuju.”
“Ada beberapa masalah di kantor Bee,” katanya memulai cerita. “Masalah kontrak yang di langgar oleh Trio Manis dan salah satu anggota Riak band, tertangkap di rumah temannya. Dinyatakan negatif namun masih diminta keterangan karena dia berada di tempat kejadian.”
“Semua masalah kantor dapat di selesaikan dengan mudah oleh Bisma.”
“Syukurlah. Kedua masalah apa?”
“Sebentar dong Bee,” pinta Danil. “Setelah kejadian kamu di senggol orang, tidak lama Bisma telepon memberi tahu bahwa menurut sumber terpercaya ada seseorang yang tidak ingin kita bersatu. Lebih parahnya mereka ingin kita berpisah.”
“Mengapa?”
“Ini yang sedang kita selidiki, apa benar berita ini atau hanya hoax saja. Biar bagaimana pun kita harus tetap waspada bukan. Jujur mas takut sekali, mana sebelumnya kamu sempat hampir jatuh di senggol orang yang mencurigakan.”
“Wajar kan kalau mas menyambungkan kejadian yang kamu alami dengan berita yang baru saja sampai di telinga kita.”
“Wajar dan sah-sah saja, aku pun tidak melarang mas berprasangka seperti itu, tapi alangkah bijaknya jika mas tidak memikirkan dulu kemungkinan yang dapat membuat kita parno gitu loh mas. Contohnya saja yang mas lakukan saat ini, Upin dan Ipin....,”
“Upin dan Ipin?”
“Iya dua orang ini? Upin dan Ipin versi dewasa dan tidak botak.”
Danil tertawa sambil mencubit pipi istrinya. “Kamu nih, maaf mas lupa memperkenalkan. Gaha yang selalu berjalan di depan, dan Marko yang selalu berjalan di belakang kita.”
“Baiklah Gaha yang di depan, Marko di belakang,” ucap Sekar menyimpan dalam memorinya. Oh iya menurut aku lebay, keberadaan mereka berdua,” Ucap Sekar.
“Tidak ada yang lebay jika itu menyangkut masalah keselamatan kamu,” Danil berbicara dengan tegas.
“Tapi mas...,”
“Keselamatan kamu adalah prioritas buat mas. Kalau perlu sepuluh orang atau seratus orang untuk menjaga kamu itu tidak masalah buat mas.”
“Tapi masalah buat aku, dan itu ter – la - lu berlebihan mas.”
“Ini hanya sementara sayang, ketika sampai di Jakarta kamu akan mendapatkan pengawal wanita yang akan mendampingi Upin dan Ipin.”
__ADS_1
“Gaha dan Marko mas,” ucap Sekar. “Kembali mas berlebihan,”
“Mas tidak perlu mengulangnya kan?”
“Baiklah mas Danil sayang. Jadi intinya adalah ada seseorang yang menginginkan kita pisah, dan masih teka teki siapa orangnya dan ada masalah apa di balik semua itu.”
“Iya, seperti itu.”
“Apa yang akan mas lakukan?”
“Semua sedang di selidiki, kamu tidak perlu khawatir.”
“Aku tidak khawatir mas. Justru kamu yang terlalu khawatir, sangat berlebihan dan itu menyebalkan.”
“Tidak ada bantahan Bee, semuanya demi keselamatan kamu!”
“Bagaimana keadaan ayah, bunda, mamah dan papah?”
“Tidak perlu mengkhawatirkan mereka sayang, penjagaan mereka lebih luar biasa. Semuanya aman.”
“Semua aman kecuali kita?”
“Kita pun aman.”
“Tapi?”
“Tidak ada tapi sayangku, istirahatlah.”
“Tapi mas, “
“Apa yang tapi?” Danil menghembuskan nafas beratnya
“Mas tidak akan meninggalkan aku kan?”
“Cukup mengkhawatirkan yang tidak perlu Bee. Mas akan ada selalu disampingmu. Sekarang tidurlah,” pinta Danil kedua kalinya.
Sekar masih menatap suaminya, semuanya begitu tiba-tiba. Hari ini jantungnya di pacu untuk berdetak lebih kencang, sensasinya ibarat naik roler coaster. Ketakutan, kegembiraan, kecemasan menjadi satu kesatuan yang kuat.
Wahana ini tentu ada akhirnya, hanya dua atau tiga menit saja semua berakhir, sedangkan masalah yang akan dihadapi baru saja dimulai, jangankan ujungnya, untuk mencapai titik tengah saja semuanya masih abu-abu, ibarat novel masalah ini baru mencapai prolog.
“Jangan memikirkan hal yang berat Bee. Biar Dilan saja yang menanggung semua itu.”
“Iya biarkan Dilan saja yang menanggungnya mas.”
Bersambung...
***
__ADS_1