Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Bonjour Paris


__ADS_3

Sekar terlihat bahagia, kedua bola matanya memancarkan kekaguman, membuat Danil dua kali lebih bahagia, ikut merasakan apa yang dirasakan istrinya. Senyum mengembang dari bibir mungil perempuan yang duduk disebelahnya, memamerkan lesung pipit di pipinya yang menggemaskan.


“Bee, coba di lap dulu ilernya,” kata Danil sambil memberikan tisu pada sekar, menggoda istri mungilnya.


“Mas jahil banget sih,” sekar menepis tangan Danil yang sedang mengelap ujung bibirnya dengan tisu.


“Suka banget deh lihat bibir manyun gitu, pengen mas cium,” bisik Danil membuat Sekar menatap suaminya dengan galak.


“Jangan galak-galak Bee, nanti mas beneran nekat,” ancam Danil membuat Sekar langsung tersenyum dengan sedikit terpaksa.


“Jangan nekat dong mas,” protes Sekar tahu banget bagaimana kalau suaminya sudah nekat.


“Nekatnya kan cuma sama istrinya,” Danil mengedipkan sebelah mata pada Sekar.


“Mas, kamu kok jadi genit sih?” tanya Sekar, menatap Danil dengan tanpa berkedip.


“Genitnya sama istrinya ini,” jawaban Danil membuat Sekar semakin kesal.


Pak Budi, supir yang bertugas mengantar mereka sudah memarkirkan kendaraannya di tempat parkir sesuai permintaan mas Hadi.


“Mas Danil, karena waktu disini sudah menunjukkan pukul delapan, bagaimana kalau kita makan malam dulu? setelah itu baru kita ke menara Eiffel.”


“Ok mas Hadi kita setuju.”


Hadi mengajak pengantin baru ini menuju restoran yang menyajikan menu Indonesia, semenjak mereka sampai di Belanda, mereka belum menyentuh masakan Indonesia.


Ketika memasuki restoran ini, kita akan merasakan seperti di rumah sendiri. Banyak hasil kerajinan tanah air yang menjadi dekorasi, ada satu lemari berisi boneka dengan menggunakan pakaian adat masing masing daerah, beragam alat musik tradisional dan beberapa senjata tajam yang menjadi pajangan.


“Danil,” teriak seorang perempuan seusia Sekar, sambil menghampiri meja mereka.


“Ki ... nan ... ti?” tanya Danil terlihat kaget.


“Wah, kumat penyakit loe ya?” tanya perempuan itu sambil melirik Sekar, dan tersenyum manis padanya.


“Kenalin istri gue, Sekar,” kata Danil sambil memeluk bahu istrinya.


“Hallo Sekar, kenalin aku Kinanti, sepupu Danil,” katanya sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.


Sekar tersenyum dan menyambutnya, “Hai Kinanti, aku Sekar.”


“Danil posesif?” tanya Kinanti tanpa basa basi, sambil menatap Sekar dengan tidak berkedip, mencari kejujuran, seolah taku Sekar membohonginya.


“Sedikit,” jawab Sekar tersenyum yang kemudian langsung melirik suaminya.


“Kok loe disini sih?” tanya Danil.


“Pulanglah kangen emak gue,” jawab Kinanti.


“Memang mama Maya di Paris?” tanya Danil bingung.


“Sekar, tolong bilang sama suamimu ini ya, mbok ya kalau ada acara keluarga itu datang, ikut kumpul, jadi kenal, tahu sama keadaan sodaranya” Kinan menumpahkan kekesalannya.


Sekar hanya tersenyum manis menanggapi Kinanti yang kesal dengan kelakuan suaminya yang super cuek.

__ADS_1


“Punya group chat keluarga ya di buka, dibaca ada kabar apa saja,” cerocos Kinanti gemas.


“Mas Danil lebih suka terima telepon dibanding baca chat,” kata Sekar, membela suaminya.


“Ya ampun, Sekar tuh istri idaman banget ya, selalu membela suaminya, walau dari hal yang kecil.”


“Istri siapa dulu dong,” Danil bangga sambil memeluk Sekar.


“Beruntung loe dapatkan istri seperti Sekar.”


“Berkali lipat beruntung banget,” jawab Danil. “Mama Maya mana?”


“Mama sed ...”


“Danil,” teriak seorang perempuan yang sudah berumur, sambil berjalan menuju ke arah Danil.


“Selamat malam mama Maya,” sapa Danil, memberi salam mencium puggung tangan mama Maya, kemudian mereka berpelukan cukup lama.


“Anakku semakin ganteng saja,“ puji mama Maya, tantenya Danil, mamanya Kinanti.


“Dan ini pasti Sekar,” kata mama Maya, sambil memeluk Sekar.


“Iya mama Maya,” jawab sekar sambil mencium tangan dan memeluk mamanya Kinanti.


“Mama maya, adik dari papah Andi. Paling bontot, perempuan satu-satunya,” Danil menjelaskan status mama Maya.


“Sungguh cantik istri mu Danil\, awas ya jangan sampai kau kecewakan Sekar\, bisa-bisa kita datang ke Jakarta untuk menc*nc*ngmu\,” ancam mama Maya\, diangguki dengan semangat oleh Kinanti.


“Mana mungkin Danil mengecewakan Sekar. Danil tidak mau kehilangan Sekar untuk yang kedua kalinya mama,” jawab Danil jujur dan membuat pipi Sekar merona.


“Dengan senang hati, terima kasih mama Maya, Kinanti,” kata Sekar bahagia, sambil melirik ke arah Danil yang pasrah sedang menatap dirinya.


“Bee, sayangku, cintaku, manjaku, manisku, pelipurlara hatiku, mas tidak mungkin mengecewakan kamu. Cukup dengan kebodohan mas dahulu saja, membuat mas kehilangan kamu, cukup saat itu saja, tidak kali ini sayang,” Danil menggenggam jemari Sekar dan memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan manja dan erat.


“Jangan terlalu percaya sama laki-laki yang banyak ngomong, banyak mengumbar kata-kata, terkadang ucapan sama isi hati tidak sinkron,” kata Kinanti sambil menggerakkan telunjuknya, memperingati Sekar.


“Ya ampun, kamu paling tahu tentang mas Bee, jangan dengarkan semua yang bermaksud menjatuhkan mas mu ini.”


“Siapa yang mau menjatuhkan? Hanya memperingati sepupu cantik ini, agar tidak terbuai dengan omongan penuh cinta seorang Danil,” Kinanti sangat bersemangat membully sepupunya.


“Gue rasa loe sedang patah hati,” Danil menatap sepupunya penuh selidik.


“Siapa yang patah hati?”


“Habisnya, nyolot banget sih,” Danil tersenyum mengejek Kinanti, sambil manarik Sekar untuk duduk disebelahnya.


“Baru putus cinta Nil, pacarnya di tikung sama sahabat sendiri,” mama Maya menjelaskan.


“Seorang Kinanti, ditikung sahabat sendiri? Sulit di percaya,” Danil menatap sepupunya yang sedang kesal, karena mamanya sendiri membocorkan rahasianya.


“Justru bukannya bagus ya,” kata Sekar, menatap sepupu Danil yang baru saja di kenal. “Kita jadi tahu, dia bukan yang terbaik untuk kita. Berarti Allah telah menyelamatkan kita, dengan memberi petunjuk.”


“Luar biasa Sekar,” mama Maya memuji Sekar.

__ADS_1


“Istriku memang memiliki hati seluas samudra,” kata Danil.


“Apa Sekar salah?” tanyanya bingung. “Mas, Danil bohong banget, cukup gombalnya.”


“Tidak sayang, terkadang kita selalu negatif thinking terhadap apapun, namun kamu dengan mudah mengatakan bahwa ya ini semua terjadi atas kehendak Nya, jalan hidup, takdir yang sudah di tentukan.”


“Memang benar kan mama?” tanya Sekar, kemudian beralih menatap suaminya, Kinanti dan mas Hadi yang dari tadi hanya menyimak saja obrolan mereka.


“Benar sayang, garis hidup sudah di tentukan oleh sang pembolak balik hati, kita hanya tinggal berusaha menjalankan atau merubah takdir itu sendiri.”


“Iya mama, seperti cerita Sekar dan mas Danil, mungkin ini takdir kita bisa kembali dan menikah.”


“Cinta tiga tahun Danil yang kandas, membawa dia kembali mengingat keluarganya,” kata Kinanti. “Ya ampun demi apa, apakah dia Bee yang loe maksud Nil?” tanya Kinanti menatap Danil.


Danil tersenyum dan mengangguk dengan pasti. “Iya sayang, Bee itu Sekar,” kata Danil membuat Kinanti terkejut ...


 


 


***


Mohon maaf baru sempat up lagi.


Ditunggu like, komen, dan votenya.


Terima Kasih...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2