
Semalaman Sekar tidur dalam pelukan Danil. Saat tidur pun suaminya ini terlihat posesif, tidak pernah melepaskan lengan dari pinggang istrinya, sebelah tangannya selalu dia jadikan bantal. Mungkin kedua tanggannya kebal dari rasa pegal.
Sekar bangun ketika suara azan subuh berkumandang, dia menatap wajah suaminya. Diusap dengan lembut pipi yang sedikit cubby, turun ke rahang yang kokoh, semenjak pacaran dulu, Sekar sangat menyukai rahang suaminya, yang kini di tumbuhi bulu-bulu halus itu. Rahang ini selalu terlihat menegang ketika menahan marah, menambah ketampanan seorang Danil bagi Sekar.
Cukup lama Sekar menikmati wajah suaminya, diakhiri kecupan lembut pada kening, pipi, bibir dan tentu saja pada rahang kokohnya. Kemudian dia berusaha melepaskan lengan Danil yang masih memeluknya, namun kedua anggota tubuh suaminya itu malah mengunci tubuhnya.
“Mau langsung kabur, setelah cukup lama kamu menggoda mas mu ini, Bee?” ucap Danil masih dengan mata tertutup.
“Mas, kamu sudah bangun?” tanya Sekar kaget, soalnya suami posesifnya ini masih terlihat pulas.
“Bee pikir mas masih tidur,” ucapnya dengan manja. “Siapa suruh pura-pura tidur."
“Tanggung jawab Bee,” kata Danil semakin erat memeluk Sekar.
“Mas, sakit ah kalau kamu meluknya terlalu kencang,” Katanya manja.
“Ok sayang, maafin mas,” katanya sambil mencium kening Sekar. “Ayo kita shalat subuh dulu, sudah itu ...,” Danil sengaja menggantung ucapannya.
“Sudah itu apa mas?”
“Kamu pura-pura tidak tahu keinginan mas?" Tanya Danil, mengedipkan mata menggoda istri manjanya.
Sekar menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Nanti mas kasih tahu,” bisik Danil, masih menggoda istrinya.
“Ah, tidak mas. Masih pagi ini,” ucap Sekar, yang baru menyadari permintaan suaminya.
Danil tersenyum lebar, dan mengecup kepala Sekar. “Ayo kita shalat dulu sayang,” ajak Danil.
Danil duluan masuk kamar mandi untuk berwudhu, tidak lama di susul Sekar.
Setelah melaksanakan kewajibannya, berdoa dan mencium tangan suaminya, Sekar mengikuti permintaan Danil menuju balkon kamar.
“Mas, mau makan apa? Aku buat sarapan dulu ya,”
“Nanti saja. Temani mas dulu, ayo sini duduk,” pinta Danil menepuk pahanya, menyuruh sekar duduk di pangkuannya.
Sekar menghampiri Danil, dan duduk di paha suaminya. Dengan manja kedua tangannya langsung memeluk leher dan dada suaminya dijadikan sandaran untuk kepalanya.
“Manja banget sih babynya mas. Sudah jadi istri, sudah bisa memuaskan suaminya,” ucap Danil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Sekar yang mukanya sudah berubah seperti udang rebus.
"Manja sekali, membuat mas gemas. Padahal sudah bisa mengandung tapi kelakuannya manjanya melebihi anak kecil,” ucap Danil sambil mengelus rambut panjang istrinya.
__ADS_1
“Kan manjanya sama suami sendiri,” jawab Sekar menggoda suaminya dengan memainkan jarinya di dada Danil.
“Mas nya dari tadi minta, tidak di kasih, tapi nakal nih, daei tadi ngegodain terus. Kalau tangannya tidak berhenti juga, kamu harus tanggung jawab,” ucap Danil, sambil ******* bibir mungil istrinya.
Kring... Kring... Kring...
“Mas, ada yang telepon,” kata sekar mengakhiri ciuman mesra dengan suaminya.
“Biarkan saja sayang, nanggung ah,” protes Danil, dia masih menikmati bibir mungil istrinya.
“Sebentar mas, aku ambil dulu ponselnya ya, siapa tahu penting,” interupsi Sekar, kemudian dia beranjak dari pangkuan suaminya.
Sekar mengambil ponsel milik suaminya, namun masih ada suara lain yang berbunyi dari ponsel miliknya.
“Mas, Ryan dan Renata menelepon, bersamaan, bagaimana ini?” tanya Sekar bingung.
“Kok bisa bersamaan ya?” tanya Danil bingung.
“Kamu angkat duluan mas, kebetulan Ryan mematikan panggilannya,” ucap Sekar, kemudian dia mengubah nada dering di ponselnya menjadi diam.
Danil menjawab telepon dari Renata, dan mengeraskan suaranya agar Sekar bisa mendengar.
“Morning beb, sorry tadi lagi di kamar mandi,” Danil memberikan alasan agar Rena tidak menceramahinya.
“Awas kamu kalau macam-macam ya beb,” ancam Rena. “Kemana istri kamu yang menyebalkan itu?”
“Tidak!”
“Kenapa tidak percaya?” tanya Danil sambil memainkan rambut Sekar.
“Mana Sekar?”
“Dia lagi di kamar mandi. Kenapa menanyakan Sekar?”
“Aku benci dia!” jawab Rena dengan ketus.
“Sebenarnya kenapa sih, kamu tuh benci sama dia?” tanya Danil penasaran.
“Soalnya dia yang selalu ada di hati kamu, jujur beb!”
“Kamu kata siapa? Jangan marah-marah dong, masih pagi juga."
“Kamu ingat waktu kamu mabuk sama temen-temen kamu itu, kenapa kamu berkali-kali menyebutkan nama Sekar? Padahal kalian sudah putus cukup lama, dan pada saat itu aku adalah pacarmu Danil.”
__ADS_1
“Aku mana tahu beb, saat itu aku mabuk, orang mabuk bisa berbicara apa saja,” jawab Danil.
“Pada saat mabuk, kejujuran akan terungkap,” kata Renata emosi.
“Kamu menelepon aku hanya untuk membicarakan hal ini beb?” tanya Danil tanpa emosi, tangannya masih memainkan rambut istrinya.
“Aku ingin kita bertemu, aku kangen beb,” pinta Renata.
“Maaf hari ini aku tidak bisa beb, seluruh keluarga masih berkumpul. Mereka pasti curiga bila aku pergi,” tolak Danil secara halus.
“Pasti kamu senang bersama perempuan itu, kamu sangat menyebalkan. Kamu sudah tidak cinta lagi sama aku kan beb? mengakulah!"
"Kamu tega banget sih beb. Apa yang sudah perempuan itu lakukan sama kamu, apa dia bisa memuaskan kamu?” Renata kesal dan semakin cerewet, membuat Danil berusaha menahan emosinya.
“Kamu percaya aku beb?” tanya Danil dengan lembut, membuat Sekar sedikit kesal mendengarnya, dia cemburu.
“Aku percaya kamu, tapi tidak perempuan ****** itu!” jawab Renata marah.
Danil mengepalkan tangannya mendengar ucapan Renata, dia sangat marah ketika istri tercintanya di juluki seperti itu.
Sekar melihat suaminya sangat emosi, dia langsung mengusap punggung suaminya, dan memberikan senyum manisnya, berharap suaminya dapat meredam emosinya.
Terbukti! Danil menatap istrinya dan tersenyum, kepalan tangan mulai mengendur, rahang kokoh yang sempat menegang sekarang terlihat lebih santai. Danil tersenyum pada Sekar, dan menggengam tangannya sambil mendengarkan Renata yang terus saja menjelek-jelekan istrinya.
“Pokoknya tidak mau tahu hari ini kita harus bertemu!!!” pinta Renata.
“Maaf beb, aku benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan kamu saat ini.” Renata langsung memutuskan pembicaraannya, setelah mendengar jawaban Danil.
“Mas...”
“Jangan dengarkan kata-kata Renata Bee,” pinta Danil. “Mas mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Danil, mengutarakan betapa dia sangat mencintai perempuan yang berada dalam pelukannya.
“Aku tidak apa-apa mas, dan aku pun sangat mencintaimu,” ucap Sekar, membuat Danil lega.
"Ternyata dalam keadaan mabuk pun aku masih ada dalam pikiranmu,” ucap Sekar sambil menggoda suaminya.
Danil langsung melepaskan pelukannya, menatap istrinya yang tersenyum jahil. “Kamu menggoda aku sayang,” katanya sambil menarik hidung istrinya.
“Jangan senang dulu Bee ...,”
“Aku tidak masalah kalau mas tidak mau mengakuinya,” ucap Sekar.
“Sayang, baiklah mas nyerah. Memang kamu selalu ada di hati mas,” kata Danil sambil kembali memeluk dan mengelitik pinggul istrinya.
__ADS_1
bersambung ...
***