
Tulilit ... Tulilit ... Tulilit ...
“Mas telepon, angkat dulu, takutnya penting.” Kata Sekar sambil melepaskan tangan Danil yang mengelitiknya.
Danil menekan tombol pengeras suara... Bip, speaker berfungsi. Tangan kanannya memainkan rambut istrinya.
“Danil, seharian aku teleponin enggak diangkat, kamu kemana sih?” teriakan kekesalan Renata terdengar jelas oleh Danil dan sekar. Sekar langsung malas mendengarnya.
Danil menarik tangan Sekar agar duduk di depannya, dia tidak ingin Sekar menjauh, dia malah memeluk Sekar dari belakang. “Jangan pergi, temani mas disini,” bisiknya.
“Males dengerin pacar mas ngoceh.”
“Yang penting istri mas enggak ngomel.”
“Istri mas enggak bakalan ngomel, Cuma sebel dengerin mak lampir ngomong. Aku ke kamar mandi ya mas,“ Sekar meminta izin sambil berbisik. Danil menggelengkan kepalanya, dia bahkan semakin mengeratkan pelukannya.
Sekar menggerakkan tangannya menandakan pacarnya banyak ngomong. Danil mengangkat bahunya menandakan, malas berdebat.
Sekar mengangkat tangannya membuat garis lurus di leher antara wajah dan bahunya secara horizontal, menyuruh suaminya meng-cut pembicaraan dengan Renata. Danil mengangguk menyeujui permintaan istrinya.
“Rena, sinyal disini jelek, aku enggak bisa mendengar suara kamu sayang,” kata Danil, sukses membuat mata Sekar membesar.
Refleks Sekar memutar tubuhnya kembali, dan memberikan tatapan tajam “SAYANG!!!” gerakan bibir Sekar mengulang kata yang di ucapkan suaminya. Danil hanya tersenyum, seakan mengejek, menggoda dengan menaikan alisnya sambil menatap balik istrinya yang terlihat kesal.
“Besok aku coba telepon lagi ya, Ok?” tanya Danil meminta persetujuan yang sepertinya disetujui oleh Renata, karena tidak lama setelah itu Danil mengakhiri pembicaraannya.
“SAYANG!!!”
“Kalau kamu kan cinta nya aku beb,” Danil kembali meggoda Sekar. Dia senang sekali bila istrinya kesal, terlihat menggemaskan.
“Nyebelin pake banget, mesra-mesraan depan istri SAH nya.”
“Bentar lagi juga bakalan ada yang ngapel, sudah ketebak jalan ceritanya,” kata Danil sangat yakin. “Memang kamu saja Bee yang boleh cemburu, mas mu ini juga punya hati. Paling kesel kalau musuh mas itu, mulai ngerayu, terus marah-marah enggak jelas. Manusia bertemperamental tingkat tinggi, cocok temenan sama SUTET,” kata Danil.
“Kesetrum dong,” celetuk Sekar.
“Kamu jangan kesetrum sama dia, bisa mati. Mending kesetrum sama cintanya mas saja. Kesetrum dikit, semoga bisa langsung dapat double. Satu mirip ayahnya satu mirip bundanya,” Danil mulai menggoda istrinya.
“Memang enggak mau pacaran dulu?” tanya Sekar.
“Kan sambil pacaran,” jawab Danil. “Apa kamu mau menunda dulu Bee?” tanya Danil.
“Enggak mas, Sekar enggak mau menunda, biar berjalan mengikuti alurnya saja. Kalau di kasih kepercayaan masa mau kita tolak,” jawab Sekar membuat Danil bahagia.
“Makasih Bee, mari kita ikut kemana alur ini berjalan,” Danil mengecup kening sekar. “Kok tumben belum di telepon kamu Bee?”
“Ya ampun mas, mana sekar tahu, lebih bagus kalau Ryan enggak telepon, males kalau dia sudah bentak-bentak mas.”
“Biasanya enggak lama Rena telepon, dia telepon juga,” Danil penasaran.
__ADS_1
“Iya mereka seperti uang dalam dompet, prangko dan amplop, selalu bersama demi sebuah rencana, baru sadar aku.”
“Yang pasti kita harus lebih kuat dong Bee,” kata Danil, kembali memeluk Sekar.
“Mas ...“
“Iya ...”
Tulilit ... Tulilit ... Tulilit...
Seperti yang sudah mereka duga, sekarang giliran Ryan menelepon Sekar. Sekar melakukan hal yang sama seperti Danil, dia mengaktifkan mode pengeras suara.
“See,” Danil menatap istrinya dengan tertawa. “What i have say (apa yang aku katakan).”
“Hallo Ryan,” sapa Sekar.
“Kamu apa kabar?” tanya Ryan, membuat Sekar terdiam. Tidak biasanya Ryan berkata lembut, sontak membuat Sekar takut.
“Ba ... Ba ... Baik,” jawab sekar terbata, membuat Danil menatap istrinya.
“Kamu happy?” tanya Ryan.
“Alhamduillah,” jawab Sekar.
“Senang bulan madunya?”
“Syukur kalau kamu bahagia.”
Perkataan Ryan sukses membuat Sekar mematung. “Apakah ini Ryan, ada yang salahkah dengan Ryan?” tanyanya dalam hati. Danil seakan mengetahui kebingungan Sekar, dia menggenggam jemari mungil istrinya, memberikan kekuatan dan ketenangan,mengingat istrinya sangat mudah panik.
“Dia berubah,” Sekar berbicara dengan Danil dengan bahasa bibirnya, Danil menganggukkan kepalanya, dia mengerti yang Sekar ucapkan.
“Ada apa Ryan?”
“Aku bahagia, kalau kamu bahagi ... a,” Ryan sempat menggangtungkan kalimatnya.
“Terima kasih,” jawab Sekar. Namun ucapannya malah membuat Ryan marah.
“JADI LAKI-LAKI ITU TELAH MEMBAHAGIAKAN KAMU!!!”
BLASH ... dengan sekejap, dalam hitungan detik sikap manis Ryan berubah seratus delapan puluh derajat. Membuat Sekar terkejut, namun bukan hal baru. dia memang sudah terbiasa dengan sikap Ryan yang seperti ini, namun bentakan, bicara dengan nada tinggi terkadang membuat nafasnya sesak, dan jantungnya berdetak lebih kencang.
Danil terlihat mengepalkan tangannya, dia sangat marah dengan perlakuan Danil, terlebih saat ini status Sekar adalah istrinya. Suami mana yang tahan mendengar istrinya dibentak oleh laki-laki lain. Danil mencoba menahan emosinya, Ryan terus saja berteriak mengeluarkan sumpah serapahnya.
Danil memeluk Sekar dari belakang, bahu istrinya turun naik, dia menangis dalam diam, sesak hatinya atas semua ucapan Ryan yang menyakitkan. Danil masih terlihat menahan emosinya.
“Maaf,” hanya kata itu yang terucap dari Sekar, masih belum bisa membuat Ryan menutup mulutnya di ujung telepon.
“Maaf,” untuk kedua kalinya Sekar meminta maaf.
__ADS_1
“Maaf,” untuk Ketika kalinya, dan Danil langsung mematikan sambungan telepon dari Ryan, dan langsung mematikan ponsel Sekar.
“Cukup Bee, stop. Cukup meminta maaf. Please jangan nangis lagi,“ pinta Danil, memeluk istrinya semakin erat. “Mas ada disini, mas akan selalu melindungi kamu, ingat kamu bukan perempuan seperti yang dituduhkan laki-laki itu.”
Sekar berbalik, wajahnya di tundukan pada dada bidang suaminya, ia mengeluarkan tangisannya, sudah tidak kuat menahannya. Kepalan tangan Danil semakin kuat, ia bisa merasakan sakit hati istrinya.
Andaikan saat ini musuhnya berada tepat di depan dirinya, sudah di pastikan, laki-laki itu tidak akan lolos dari bogemnya.
“Sekar tidak pernah melakukan apa yang Ryan tuduhkan mas,” katanya di sela isak tangisnya.
“Mas percaya, mas sudah buktikan semuanya Bee.”
“Jangan percaya apa kata Ryan mas, demi Allah mas, Se ... Ka ... r ...”
“Stop sayang, cukup nangisnya, mas tahu kamu sakit hati,” Danil berusaha menenangkan istrinya.
“Semua yang Ryan bilang bohong mas,” Sekar masih berusaha meyakinkan Danil, tanpa penjelasan apapun, Danil sudah sangat tahu istrinya seperti apa.
“Tatap mas Bee,” pinta Danil, Sekar menuruti permintaan suaminya. Dia menatap Danil, terlihat sembab wajah mungil itu, menutupi keceriaannya seharian ini.
“Demi Allah mas,” katanya.
Danil menutup bibir istrinya dengan jari telunjuk. “Mas percaya sama Bee, mas sudah merasakannya.”
“Tapi mas ...”
“I believe you, you are mine forever (aku percaya kamu, kamu milikku selamanya).”Bee, I’m the winner, and i am a man who lucky to have you (Bee, aku pemenangnya. Aku adalah laki-laki yang beruntung memiliki mu).”
“Mas, sampai kapan kita harus berpura-pura?”
“Sampai kita tahu, siapa yang ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga kita.”
“Semoga ini tidak lama. Mas berjanji akan selalu melindungimu,” Janji Danil.
Sekar menganguk, mempercayai suaminya.
***
__ADS_1