Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Takkan Melepaskanmu


__ADS_3

Sekar dan Danil memasuki lobby, setelah menghabiskan waktu seharian bersama. Harap maklum pengantin baru, masih hangat-hangatnya. Ternyata para orang tua mereka berada di coffe shop, menikmati kopi dan teh panas, serta cemilan khas negeri kincir angin itu, pofertjes. Rasanya si pancake berukuran mini yang disajikan dengan gula halus ini akan selalu terlihat di setiap tempat makan yang dikunjungi di negeri kincir angin ini.


Keduanya memasuki coffe shop, dengan senyum yang dapat dipastikan sangat bahagia, setelah seharian menghabiskan waktu bersama.


“Melihat kesehatan Sekar yang sudah membaik, papah rasa besok kalian sudah bisa melaksanakan acara bulan madunya,” kata papah Andi, tiba-tiba.


“Iya, ayah rasa juga begitu,” Ayah Bagas meyetujuinya.


“Besok kalian bisa langsung ke Brussel di sana satu hari lah, dari situ...”


Danil langsung memotong pembicaraan papahnya “Engak usah dibocorin pah, biar jadi surprise buat kita. Iya kan Bee,” kata Danil sambil meminta persetujuan istrinya dan sekar mengganggukan kepalanya tanda setuju.


“Ok, besok kalian pergi jalan darat saja ya, Hadi yang akan mengantar kalian, selanjutnya kalau ada perlu apapun kalian bisa langsung hubungi Hadi.”


“Makasih pah.”


“Iya Sekar, kalau mas mu nakal, lapor sama papah ya,” kata papah Andi, tersenyum menggoda anaknya.


“Sebelum Danil nakal, ayah yang bertindak,” Ayah Bagas sudah memberi ancaman.


“Sudah Bee, lebih baik kita ke kamar dulu. Enggak ada habisnya kalau sudah mulai pembicaraan ini,” Danil langsung mengajak istrinya meninggalkan coffe shop tersebut.


“Buat anaknya jangan kelamaan Danil,” teriak papah Andi. “Ingat, besok berangkat jam 10,” katanya menambahkan.


“Sip,” kata Danil sambil mengacungkan jempol tangannya tanpa menoleh.


Untung saja papahnya bercanda dengan menggunakan bahasa Indonesia, bisa malu mereka berdua kalau di dengar orang banyak.


“Mas Danil,” panggil Sekar, ketika dia sudah masuk duluan.


“Mas,” panggil Sekar kedua kalinya, terlihat tidak sabar karena Danil tidak menjawabnya.


“Mas Daniiiiilllllll,” teriaknya untuk ketika kali, dia masih sibuk menatap ponselnya.


“Iya Bee, sabar dong,” Kata Danil sambil memeluk Sekar dari belakang.


Sekar memperlihatkan ponselnya, Danil pun melihat apa yang di tunjukan istrinya, namun dia masih diam.


“Jangan di angkat,” perintahnya.


“Mas tiga puluh delapan misscall mas. Panggilan ini akan menjadi ke tiga puluh sembilan kalinya,” Sekar masih melihat ponselnya yang terus menyala. Danil mengambil, lalu mematikan.


“Diemin saja.”


“Tapi mas ... “


“Jarak dia sama kita jauh Bee,” kata Danil sambil membalikan tubuh Sekar mengahadap dirinya.


“Tapi mas ... “


“Tapi apa lagi?”


Sekar menundukkan kepalanya, biasanya bila Ryan tidak akan berhenti menghubungi sampai keinginannya tercapai.


“Tatap mas Bee,” Danil dengan lembut memohon pada Sekar, wajah istrinya terlihat gelisah. “Apa yang kamu takutin?” sekar tidak menjawab, dia masih menatap Danil dengan gelisah.


“Bee, jarak kita sama mereka jauh, aku pastiin mereka ada di Indonesia. Mas pantau mereka selalu. Jadi sekarang, istri mas ini harus tenang,” kata Danil menatap Sekar dengan lembut, ia ingin menenangkan istrinya.


“Iya mas, maaf ya.”


“Maaf untuk apa? Stop minta maaf Bee, aku suami mu ingat selalu itu, melindungi mu adalah tugas mas.”


“Iya mas.”


Danil mencium kening istrinya, dengan lembut. Sekar menutup matanya, dia menikmati saat ini, dimana ketenangan mulai merasuki tubuhnya. Perlahan rasa ini, menghapus kegelisahan yang ada. Terlebih saat Danil memeluknya dengan erat.


“Mas mu ini akan jadi pelindung kamu Bee, jangan pernah ragukan itu.” Sekar mengangguk dan membalas pelukan erat Danil.


“Janji ya mas,” pinta Sekar.


“Iya janji.”


“Janji apa?”


“Ya ampun Bee, mas janji enggak akan ninggalin kamu, aku akan selalu jadi pelindung kamu dan anak-anak kita nanti ya sayang, cintaku, manisku, manjaku.”


“Aku enggak mau di bohongin lagi.”


“Di bohongin gimana?” tanya Danil menatap istrinya bingung.

__ADS_1


“Dulu juga bilangnya sayang sama Sekar, enggak akan ninggalin, tapi buktinya malah sebaliknya.”


“Bee, rasa sayang mas sama kamu itu, enggak pernah berubah sedikit pun,” dengan penuh keyakinan Danil menatap istrinya. “Hal Itu harus kamu tananmkan dalam hati. Kalau perlu diketok palu,” Danil menggoda istrinya.


“Bohong banget, kalau rasa sayang mas enggak pernah berubah. Kenapa mas jadian sama Renata?” tanya Sekar.


“Kenapa kamu jadian sama ryan?”


“Karena mas pacaran sama Renata.”


“Alasan saja,” Danil menatap sekar, mencari kebenaran dari mata coklat istrinya.


“Serius, masa mas enggak percaya?” tanya Sekar kesal. “Mas kan yang duluan ninggalin aku, terus jalan sama Rena.


“Emang enggak boleh ya?”


“Boleh apa?”


“Mas jalan sama Rena?”


“Statusnya mas saat itu, kamu tuh pacar aku. Izin kek, ngomong gitu,” Sekar mengeluarkan kekesalannya.


“Aku memang pengen ngetes kamu saat itu.”


“Pacaran kita sudah cukup lama mas, tiga tahun aku kenal kamu, kenapa ngetes di saat itu? Apa kamu enggak tahu kalau aku kecewa banget.”


“Sebenernya saat itu ada keraguan sedikit ketika kamu mulai deket sama Ryan.”


“Kapan pernah aku pergi berdua sama Ryan, kapan aku ngebohongin kamu di belakang mas?” Sekar sangat kesal.


“Terus?”


“Terus apanya?” tanya Sekar.


“Keluarin semua kekesalan kamu sama mas.”


“Kenapa mas jadian sama Rena? Apa mas enggak tahu kalau dia deketin mas karena ... “ Sekar tidak melanjutkan kekesalannya.


“Kekayaan mas?” tanya Danil, Sekar masih terdiam, dia tidak menjawab.


“Mas sudah tahu kalau Rena jadian sama mas karena ada maksud tertentu.”


“Terus kenapa masih pacaran sama dia?”


“Aku belum jadian mas, aku jadian sama Ryan baru satu tahun ini.”


“Kalian selalu bersama, jadi mas pikir kalian sudah pacaran.”


“Mas Danil.“


“Iya Bee.”


“Jawab pertanyaan Sekar mas,” Sekar sudah terlihat kesal.


“Mas kesal, marah waktu kamu dekat sama Ryan. Jadi mas terima aja Rena, mas yakin, bisa ngerubah niat dia.”


“Buktinya, bisa merubah niat dia?”


“Enggak. Tapi buat kamu kesal iya, mas tahu banget,” jawab Danil.


“Ngeles aja terus kayak bajaj,” Sekar terlihat semakin kesal.


“Siapa yang ngeles?”


“Mas. Mas Danil yang ngeles. Mas duluan pacaran sama Rena, sok bilang aku yang pacaran duluan.”


“Iya kalau yang kamu tahu seperti itu, berarti kenyataannya ya seperti itu,” kata Danil.


“Tuh kan, terus kenapa nyalahin aku?”


“Iya aku sering banget lihat kamu sama Ryan, jalan bareng. Jujur aku enggak suka.”


“Kebiasaan kamu mas, selalu kayak gitu. Tanya kek, whatsapp gitu, teknologi canggih loh, sok-sokan nuduh aku.”


“Masih mudah saat itu sayang, lima tahun lalu. Lagian aku sama Rena juga putus nyambung.”


“Tapi balikan terus.”


“Males cari yang baru, habisnya yang ada dihati susah dapatnya.”

__ADS_1


“Maksudnya?”


“Iya mas balikan sama Rena karena kamunya menghilang terus.”


“Iya usaha dong mas, kamu pacaran sama aku kan enggak sebentar, masa enggak ada usaha, katanya cinta. Bohong kan?”


“Maaf Bee, lima tahun lalu aku benar-benar kecewa, lihat kamu sama Ryan.”


“Picik banget pikiran kamu mas,” Sekar sangat kesal menatap suaminya. Emosi yang tertahan selama ini, terluapkan begitu saja.


“Maaf Bee.”


“Jadi, sekarang menyesal pacaran sama Rena?”


“Kesel sih engga, enggak pake hati juga.”


“Gimana enggak pakai hati mas? Kalian cukup lama berpacaran loh.”


“Iya walaupun aku pacaran sama dia, aku mengharap satu perempuan, namun dia tidak pernah sadar.”


“Apakah itu aku mas?”


“Menurut kamu?”


“Jadi menyesal enggak?”


“Enggak, cuma sedikit gondok aja, ternyata dia istri dari musuhnya mas, pacar kamu.”


“Jadi kecewa dong?”


“Eggak dong. Malah bersyukur banget bisa tahu kenyataaannya, sebelum mas pasrah menerima Rena.”


“Segitu desperate nya mas, sampai enggak bisa hubungi aku?”


“Desperate sih enggak. Tapi aku enggak terima kamu jadi sama Ryan. Cukup Bee, aku gengsi saat itu. Merasa dikalahkan Ryan.”


Sekar menatap suaminya tidak percaya, dia sangat tahu bahwa masnya bukan orang seperti itu.


“Aku kesal banget waktu Rena bilang, kalian sudah jadian, dan dia meregokin kalian berpelukan di koridor. Dia ngasih bukti foto kalian.”


“Kamu percaya gitu saja Mas?”


“Maaf Bee.”


“Kalau sekarang, mungkin enggak kejadian itu bisa terulang kembali?”


“Enggak. Yakin, enggak akan Bee. Aku tidak akan mengulang kebodohan yang sama Bee”


“Bagaimana Sekar mempercayai apa yang mas katakan?”


“Karena mas sudah punya istri, seseorang yang mas sayang.” kata Danil sambil menatap Sekar. “Mas tidak akan pernah melepaskan mu lagi.”


“Jangan pernah tinggalin Sekar, mas.”


“Mana bisa mas tinggalin kamu Bee.”


“Sekar pegang janji mu mas Danil.”


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2