Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Sepuluh Kali Lebih Sakit


__ADS_3

Sekar terlihat sangat kecewa, pernyataan dari pacarnya membuat dia sangat terpukul. Selama dia berpacaran dengan Ryan, ia selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, terlebih kekerasan yang selalu dilakukannya.


Danil terlihat lebih tenang, dia lebih mengkhawatirkan Sekar, walau di dalam hatinya sungguh terpukul mengetahui secara langsung kebenaran yang ada. sekar terlihat sangat shock, air matanya tidak terbendung lagi, walaupun menangis dalam diam, hal ini sangat membuat Danil cemas.


“Bee.”


Sekar mengalihkan pandangannya, dia menatap Danil dan berusaha tersenyum. “Apa mas?” tanyanya serak.


“Stop nangisnya, cukup, kamu tidak pantas menangisi laki-laki baji*gan itu.”


“Aku tidak menangisi dia mas,” pembelaan Sekar.


“Berhenti menangis dong sayang, mas tidak mau kamu sesak,” pinta Danil.


Sekar menarik Danil, dan langsung menyandarkan kepalanya di dadanya. Danil memeluknya erat, mencium kepala istrinya, membuatnya tenang, dan untuk beberapa saat ini Sekar merasa sangat nyaman.


Danil melepas sebentar tangan Sekar yang melingkar di lengannya, ia ingin membetulkan posisi duduk, agar Sekar nyaman di dalam pelukannya.


“Jangan dilepas mas,” pinta sekar. “Sebentar saja.”


“Mas cuma mau membetulkan posisi kamu, biar lebih enak.”


“Tidak mas, ini sudah nyaman, terima kasih,” katanya sambil memejamkan matanya.


Namun tiba-tiba Sekar melepaskan pelukannya, tubuhnya tegang, dan mata bulatnya terbuka lebar, nafasnya sesak, ia mulai kesulitan bernafas. Tangannya berusaha mencari sesuatu di dalam tasnya.


Dengan sigap Danil langsung mengambil tas sekar, mencari pouch hijau, benda wajib yang selalu ada di dalam tas istrinya.


“Ketemu,” Ia mengeluarkan inhaler untuk meredakan serangan asma istrinya.


Danil langsung membantu sekar duduk tegak, mengocok inhaler sebelumnya dan langsung memberikannya pada Sekar.


Bunda Rianti yang mendengar ada keributan kecil langsung menengok ke arah suara tersebut, dia sedikit panik namun masih bisa mengatasinya. Setelah melepas sabuk pengaman ia langsung menuju tempat duduk anaknya.


“Sekar.”


“Sudah menghisap inhalernya bun” ucap Danil, terlihat wajah bunda Rianti sedikit tenang


Indra dan Tara tidak kalah sigap mendekati Danil, namun dilarang oleh bunda Ria. “Kalian jangan mendekat, kasih ruang untuk Sekar,” keduanya langsung menurut.


Danil mengelus punggung sekar, dia terlihat sangat khawatir. Perlahan nafas Sekar mulai kembali normal. Ia melihat Danil dengan lemas, dan tersenyum.


“Mau minum Bee?” tanya Danil, di jawab Sekar dengan anggukan, tubuhnya terlihat lemas dan tidak bertenaga.


“Minumnya mas,” kata seorang pramugari pada Danil.


“Terima kasih,” ucap Danil, sambil mengambil gelas yang berisi air putih.


“Ada yang dibutuhkan lagi mas?” tanya pramugari.


“Boleh minta handuk basah,” jawabnya.


“Boleh, sebentar ya mas,” kata pramugari itu.

__ADS_1


“Bee, masih sesak?”


“Sedikit, sakit dadanya mas,” jawab Sekar sambil memegang dadanya.


Tidak lama pramugari kembali datang, membawa handuk hangat, dan langsung memberikan pada Danil. Sekar mengusap mukanya beberapa kali, hawa hangat dari handuk memberi sedikit kelegaan baginya.


Jangan sakit sayang, please.


“Maaf ya mas,” ucap Sekar sambil menatap Danil.


“Please, jangan sakit Bee,” pintanya.


“Mas khawatir?”


“Kamu selalu seperti ini, masih bisa tersenyum,” ucap Danil, sambil mengusap pipi Sekar. “Kamu tahu, aku khawatir sekali.”


“Maaf,” bisik Sekar.


“Mas tidak mau dengar permintaan maaf, mas mau kamu sehat. Ingat kita mau honeymoon Bee.”


“Mas ma...,"


“Kamu sudah lama tidak kambuh Bee,” ucapnya memotong permintaan maaf Sekar.


“Maaf.”


“Stop meminta maaf Bee, aku hanya ingin kamu sehat. Lupakan ******** itu, lupakan istrinya juga, dan lupakan semua perkataan mereka,” pinta Danil.


“Tentu, kamu istriku, bagaimana bisa aku tidak perhatian,” kata Danil.


“Kamu tahu, aku jauh lebih sakit ketika melihat kamu sakit, jangan pernah seperti ini Bee. Kamu membuat umur ku memendek jika kamu sering seperti ini.”


“Mas, jangan ngaco deh. Jangan pernah ngomong seperti itu lagi, aku tidak suka.”


“Makanya kamu harus selalu sehat. Jika kamu sakit, maka mas mu ini akan sepuluh kali lebih sakit, jika kamu terluka, maka masmu ini pun akan merasakan jauh lebih terluka. Aku mencintai kamu dalam suka dan duka, sedih dan senang, jangan pernah meragukan apapun dari cinta mas mu ini Bee,” pinta Danil tulus.


“Makasih mas, kamu tidak pernah berubah.”


“Memangnya kapan aku berubah?” tanya Danil. “Aku selalu seperti ini,” katanya lagi.


“Makasih mas.”


“Sekarang istirahat ya, perjalanan kita masih panjang. Mas tidak mau kamu sakit saat kita bulan madu. Aku ingin perut ini cepet membesar,” ucap Danil sambil mengusap lembut perut Sekar yang masih rata.


Sekar tersenyum dan mencubit tangan suaminya, “Aamiin,” katanya tulus.


“Mas sudah tidak sabar ingin di panggil ayah,” katanya penuh harap.


“Ayah, ayah, ayah, cukup?” tanya Sekar.


“Cukup dari kamu bunda, aku ingin raja atau ratu ku juga memanggilku seperti itu,” kata Danil.


“Sabar lah mas, nikah juga belum lama, sudah tidak sabar.”

__ADS_1


“Mas sudah tidak sabar Bee.”


“Aku tidak menolak mas jika di beri kepercayaan secepatnya,” ucap Sekar.


“Makasih Bee, sekarang istirahat ya. Jangan sampai kumat lagi.”


“Tapi mas jangan kemana-mana,” pinta Sekar.


“Kita di pesawat Bee, mas bisa pergi kemana memangnya?”


“Mulai dong dong ya?”


“Perasaan yang kumat asmanya deh, kok otaknya ikutan pindah ke dengkul.”


Sukses Danil dapet cubitan mesra di perut oleh Sekar. “Ampun sakit Bee.”


“Seneng banget kalau sudah mengejek istrinya,” ucap Sekar kesal.


“Becanda sayang, sudah ah kamu cuma mau ngulur waktu biar tidak tidur.”


“Mas,” bisik Sekar.


“Mas tidak mau membahas hal itu sekarang,” ucap Danil yang mengerti, mau di bawa kemana obrolan kali ini.


“Aku tidak bisa tidur, dan aku pengen bahas ini sekarang.”


“Baiklah, tapi janji tidak nangis, mas tidak mau kamu kambuh lagi.”


“Iya mas.”


“Jadi kenapa?”


“Apa yang akan mas lakukan?”


“Mas belum tahu Bee, mas juga kaget, tidak menyangka kecolongan sejauh ini.”


“Jujur aku takut mas,” kata Sekar.


“Mas tahu, mas masih mikir siapa di balik semua ini.”


“Apa perlu kita bahas sama ayah dan papah mas?”


“Sempat kepikiran, mau bahas sama semuanya. Sudah jangan di pikirkan, mas cari waktu terbaik untuk membahas ini.”


“Iya mas. Jujur aku takut mas, apa Ryan sakit atau tidak?” tanyanya. “Psycho sih pastinya.”


“Sekarang kamu tenang ya, kita akan bahas ini lebih detail, setelah ngobrol sama semuanya. Tapi yang pasti sepulang dari kita honeymoon, kamu jangan pernah menolak kalau penjagaan kamu mas perketat.”


“Iya mas,” jawab Sekar patuh. “Tapi tidak mencolok ya,” pintanya.


“Iya, kita juga tidak bisa buat mereka curiga, mas ingin tahu dalang di balik semua ini. Yang utama, keselamatan kamu, dan seluruh keluarga, atau bahkan sahabat kita.” Sekar memeluk erat lengan Danil, seakan mendapatkan kekuatan dan ketenangan.


***

__ADS_1


__ADS_2