Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Kecelakaan Kecil


__ADS_3

Sekar membalas tatapan suaminya, dia bingung apalagi yang harus dilakukan untuk membuat suaminya kembali seperti sebelumnya, walau terkadang kegombalannya membuatnya risih, dan terasa menyebalkan namun saat ini apapun akan dia lakukan agar suaminya kembali seperti semula.


“Jika mas masih mau diam, silahkan ucapkan selamat tinggal pada rencana kita nanti malam,” ucap Sekar, dia rasa itu satu-satunya jalan agar suaminya kembali normal. Namun Danil hanya menatap datar menanggapinya.


“Mas Danil, apa yang harus Sekar lakukan agar mas ceria seperti tadi?” tanyanya, dia sangat putus asa sekarang. Sekar mundur beberapa langkah agar dapat menatap suaminya.


“Je t’aime mas Danil, I love you,” teriak Sekar menahan malunya, ditatap orang-orang yang sedang berada di dek atas kapal tersebut. Danil mengukir senyum di bibirnya, Sekar langsung berlari kecil dan menghempaskan tubuh mungil dalam pelukan suaminya.


“I love you too cintaku,” bisik Danil membalasnya. Sekar terdiam dan menatap suaminya, melepaskan pelukannya agar dapat menatapnya.


“Jangan diam seperti tadi mas, aku bingung apa yang harus dilakukan, kamu tahu kan aku paling tidak bisa melakukan hal ini. Cukup ya mas, ini yang terakhir dan pertama kalinya, jangan buat aku tersiksa seperti ini. Aku bukannya malu karena kamu suami aku, aku tidak pernah terbiasa seperti ini mas. Mungkin buat mas ini hal biasa, tidak buat aku mas. Kamu paling tahu aku seperti apa, kenapa masih menguji dengan cari seperti ini sih,” cerocos khas Sekar mebuat Danil tersenyum.


“Sudah ngomelnya?”


“Sudah,” jawab sekar, memanyunkan bibirnya terlihat kesal.


Cup ...


“Bee,” panggilnya, setelah mengecup bibir istrinya dengan lembut. “Kita lagi honeymoon, dan mas mu ini tidak boleh bermesraan dengan istrinya, itu ngeselin tahu enggak,” katanya sambil mencubit hidung istrinya.


“Tapi mas,” Sekar terdiam ketika suaminya meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memintanya untuk diam.


“Kamu kedinginan, mau cari kehangatan dari siapa lagi kalau bukan dari suamimu?”


“Kita lagi di Paris, dan semua orang bebas melakukan apapun yang mereka mau dengan pasangannya. Lihatlah Bee,” tangan Danil menunjuk semua area yang disana terdapat pasangan seperti mereka sedang bermesraan.


“Tapi aku bukan mereka,” Sekar menolak disamakan dengan mereka yang berani mengumbar kemesraan di depan publik.


“Yang bilang kamu itu seperti mereka siapa?” tanya Danil sambil menarik hidung Sekar. “Tadi kamu itu kedinginan, dan mas juga tidak melakukan hal apapun yang membuat kamu malu kan. Masa dipeluk suaminya saja malu,” ucap Danil. “Ini bukan pertama kalinya kamu malu mas manjain.”


“Maaf mas,” katanya menundukkan kepalanya.


“Hey,” Danil menarik perlahan dagu sekar, agar kembali manatap dirinya. “Mas suami sah kamu sayang, bermesraan dengan istrinya itu sangat diperbolehkan loh,” godanya.


“Iya mas.”


“Iya mas apa?”


“Iya mas, mas adalah suami saha Sekar, dan di bolehkan untuk bermesraan dan memanjakan istrinya,” jawab Sekar.


“Mana senyumnya?” tanya Danil menggoda istrinya. Sekar tersenyum lebar memperlihatkan indah senyumnya.

__ADS_1


“Jangan sedih-sedih ah, cantikan kalau lagi senyum.”


Keduanya menghabiskan senja terakhir di kota ini, sebelum mereka pergi. Walau gelap mulai mendominasi, namun keindahan lampu-lampu yang mulai menyala disekitar sungai menyuguhkan perpaduan klasik dan modern yang memukau, memanjakan setiap pasang mata yang menikmatinya.


**


Selesai mengitari sungai Seine, destinasi terakhir adalah menara Eiffel. Permintaan terakhir dari istri mungilnya sebelum meninggalkan Paris. Danil selalu bahagia melihat tingkah laku istrinya yang terkadang ke kanak-kanakan bila sesuatu yang diinginkanya tercapai.


“Istri mungilku yang kekanakan,” katanya dalam hati. “Ya Allah, tolong jaga cinta kita, agar aku dapat merasakan senyum dan semua keceriaan tentangnya. Sehatkan kita selalu agar aku dapat menghapus semua kesedihan darinya. Selalu satukan kami dalam cinta dan kasih sayang, kuatkan kami dalam sedih dan keterpurukan, serta sehatkan kami,” doanya masih dalam hati. “Aamiin.”


Buugh ...


Tiba-tiba tubuh Sekar maju mendekati Danil, serasa di tabrak sesuatu dari belakang. Punggung sebelah kanan terasa sangat sakit, seseorang tampak sengaja mendorong tubuhnya dengan kuat. Dengan refleks Danil memeluk istrinya, agar tidak terjatuh. Sekar mengeluhkan rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya, tanpa sadar air matanya turun menahan rasa sakit.


“Hey,” Danil berteriak kencang sambil memeluk Sekar yang kesakitan. Pria itu hanya diam sebentar dan membalikan badannya.


“Hey,” Kembali Danil berteriak membuat beberapa petugas keamanan menatap Danil, dan mendekatinya.


“Hey Mr,” teriak marah Danil ketika pria itu hanya menatap dari kejauhan.


“Sorry,” katanya sambil berlalu, ketika melihat beberapa petugas keamanan mendekati Danil.


Danil mencoba memberikan penjelasan ketika petugas keamanan mendekatinya, namun pria itu sudah menghilang.


“Mana yang sakit?” tanyanya khawatir.


“Disini mas,” jawab Sekar sambil menunjuk posisi bahu sebelah kanannya.


“Masih mau di sini?” tanya Danil, Sekar mengangguk.


“Duduk disana yuk mas,” ajaknya pada sebuah kursi taman. Danil mengikuti kemauan istrinya, meskipun semua rasa jadi satu saat ini, kesal, marah dan khawatir menjadi satu.


“Mau kembali lagi kesini Bee?” tanya Danil menatap istrinya.


“Mau mas,” jawabnya ceria.


“Suatu saat, akan kembali kesini bersama keluarga kecil kita,” kata Danil.


“Aamiin.”


Ponsel Danil bergetar, dan dia menjawab panggilan itu dengan serius, terlihat wajahnya mengeras dan terlihat sangat marah. Dari jauh Danil menganggukan kepala kepada Hadi yang terlihat bergegas menjemputnya.

__ADS_1


“Bee, pulang yuk semakin diingin disini, mas tidak mau kamu sakit seperti pertama kali kita sampai.” Sekar menatap suaminya dan menyetujui. Kemudian dia merekam keadaan disana, hingga mengucapkan salam perpisahan.


“Selamat Tinggal Eiffel, suatu saat nanti aku dan Mas Danil akan menjenguk Cinta Milik Kita yang sengaja kita dititipkan di sini,” ucapnya, dibalas kecupan penuh sayang di pelipisnya.


“Kita akan kembali bersama personil baru tentunya,” ucap Danil.


“Aamiin,” katanya sambil mengakhiri rekaman videonya.


Danil menggenggam lembut Sekar, dia berjalan cepat sehingga istrinya harus berlari kecil ketika mengimbagi jalannya.


“Kita ke rumah sakit ya Bee,” pinta Danil tiba tiba, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Kerumah sakit, siapa yang sakit?” tanya sekar menatap suaminya dengan bingung.


“Mas ingin periksa punggung kamu yang tadi di dorong orang.”


“Tidak perlu mas, hanya nyeri sedikit. Aku tidak apa-apa mas Danil,” jawab Sekar, menolak di bawa ke rumah sakit. “Jangan berlebihan mas, aku tadi cuma kaget saja.”


“Aku sangat khawatir Bee, tolong jangan membantah.”


“Aku cape mas, bolehkah kita langsung pulang ke hotel?” tanyanya. “Aku hanya ingin istrirahat.


“Tapi harus mas periksa dulu takut butuh penanganan dokter.”


“Jangan terlalu posesif mas, aku baik-baik saja. Sampai hotel kita periksa ya, nanti biar mas saja yang mengobatinya.”


Danil menatap istrinya dengan kesal, dia sangat khawatir terlebih Sekar sangat kesakitan pada saat kejadian tadi.


“Aku masih punya janji loh,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata, menggoda suaminya.


Bersambung...


***


Ditunggu like, komen dan votenya.


Terima kasih.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2