
Sekar menikmati kebersamaanya dengan Danil, Volendam menjadi tujuan pertama mereka, kota ini terletak di bagian barat, di provinsi Noord Holland, Belanda. Tempat ini menjadi destinasi wisata, letaknya tidak jauh dari Amsterdam, desa ini berada di tepi danau Ijsselmeer.
Desa nelayan tua ini terkenal dengan pelabuhan yang indah, pasar ikan, dan pakaian tradisional Belanda.
Sekar dan Danil mulai berjalan-jalan menyusuri De Dijk, sebuah wilayah di sekitar pelabuhan utama, yang merupakan pusat perbelanjaan dan derertan perumahan cantik, mereka dapat melihat kapal pukat dan nelayan yang sedang berlabuh.
Danil tersenyum melihat istrinya yang tidak berhenti minta di foto di setiap sudut, memang suasana disini memanjakan siapapun.
“Mam, wil je een foto van ons maken? (Ibu, bisa tolong foto kami?)” pinta Sekar, pada seorang perempuan paruh baya yang mengamatinya dari tadi.
“Met plezier (dengan senang hati)” jawabnya sambil mengambil ponsel dari tangan Sekar.
“Wacht even mam (tunggu sebentar ibu)” pinta Sekar, berjalan mendekati suaminya, dan menarik tangannya, agar mau berfoto.
“Is dit je man? (ini suami kamu?)”
“Ja mam (iya ibu)” jawab Sekar.
“Knappe echtgenoot (suami yang ganteng)” katanya sambil menepuk bahu Danil, ia hanya tersenyum bingung. “
“Klaar?(sudah siap?)” tanyanya lagi.
“Is klaar (siap)” jawab Sekar.
“Een ... twee ... drie...(satu ... dua ... tiga ...)” katanya memberi aba-aba.
“Nog een keer mam (sekali lagi ibu),” pinta Sekar.
“Ok,” jawabnya.
“Mas sekali lagi,” pintanya dengan manja.
“Kalian dari Indonesia?” tanya perempuan itu.
“Iya ibu, kami dari Indonesia. Ibu dari Indonesia juga?” tanya Sekar.
“Kalian foto dulu, ayo anak ganteng, berikan foto terbaik untuk istrimu,” kata nya sambil menjepret mereka dalam banyak gaya di setiap sudut.
“Terima kasih ibu, nama saya Sekar, ini suami saya mas Danil,” Sekar memperkenalkan.
“Panggil sama Oma Mien, saya sudah lama tinggal disini. Keluarga saya sebagian masih ada di Indonesia,” katanya.
“Oma, sedang apa di sini?” tanya Danil.
“Menikmati hari boy,” jawab Oma Mien.
“Bagaimana kalau oma ikut kita, aku ingin menikmati poffertjes khas sini,” pinta Danil.
__ADS_1
“Ok boy, dengan senang hati.”
Dengan semangat oma Mien menceritakan sejarah desa ini, dan kenangan-kenangan yang hadir saat opa Fred masih ada.
“Hari ini, tanggal pernikahan oma dan opa. Semenjak tinggal di Belanda, kami selalu merayakannya berdua. Kami selalu makan sepiring poffetjes, bitterballen, opa minum kopi hitam, dan oma selalu minum teh hangat.”
“Oma sangat mencintai opa pastinya,” kata sekar.
“Sangat, Alfred orang yang baik, laki-laki tangguh. Danil, oma titip pesan ya, agar kalian selalu rukun, perempuan itu suka sekali di manja,” Oma mien menatap Sekar. “Benar kan apa yang oma bilang?”
“Iya oma,” jawab Sekar. “Mas Danil pun terkadang romantis,” kata Sekar.
“Kamu sebagai kepala keluarga, harus kuat, dan lindungi istri dan anak-anak kamu.”
“Siap oma,” kata Danil.
“Kamu juga sayang, jadilah istri yang terbaik.”
“Siap oma,” jawab Sekar.
“Maaf, oma harus pamit, bahagia selalu ya kalian. Kalau berjodoh kita pasti ketemu lagi,” kata oma Mien, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Mereka kembali menyusuri pusat desa yang terkadang disebut labirin, karena jalannya sangat sempit dan membingungkan.
Danil menyewa sepada, cara yang pas untuk menjelajahi desa ini. Sekar mengeratkan pegangannya pada perut suaminya. “Mas, nanti ke museum ya,” pintanya.
“Kamu enggak mau naik kapal dulu?” sekar tidak menjawab, dia hanya diam. Danil pun berhenti mengayuh sepedanya, ketika melihat kursi kosong di dekat cafe.
“Iya mas, tapi,”
“Mas enggak mungkin celakain kamu sayang. Kalau takut, Bee bisa peluk mas atau remas tangan mas, terserah mau melakukan apa.”
“Tapi mas,”
“Ada mas,” kata Danil meyakinkan Sekar.
“Baiklah,” dengan berat hati Sekar menyetujui permintaan suaminya. Sekar tidak menyukai hal apapun yang berbau laut, suasana pantai dia masih suka. Namun demi suaminya, dia pun menyetujuinya.
“Mas, tapi nanti ke museum ya,” pintanya.
“Ok Bee.”
Sekar sangat menikmati susana di desa nelayan ini, ada anggapan belum ke Belanda bila belum ke Volendam. Bila pernah melihat teman sanak saudara atau siapapun di foto dengan menggunakan baju khas negara Belanda, di Volendam ini tempatnya.
“Mas ... mas ... mas ...”
“Kenapa Bee?” tanya Danil yang langsung menghentikan kembali sepedanya.
“Kita foto ya,” pintanya. “Itu yang pake baju khas sini,” katanya sambil menunjuk sebuah toko bercat warna bata, etalasenya di hiasi foto wisatawan dari berbagai negara di dunia.
Danil pun mengikuti istri mungilnya. akhirnya di foto dengan menggunakan baju kebanggaan negara tersebut, banyak hasil foto yang di cetak oleh Danil, dia ingin menghiasi rumahnya dengan kenangan mereka berdua.
__ADS_1
“Siap ya Bee, setelah ini kita naik perahu,” kata Danil membuat sekar terlihat menegang. “Jangan panik, ada mas.”
Sepertinya Danil sudah merencanakannya, terbukti ketika sampai pelabuhan, kapal mereka sudah siap, dengan sedikit terpaksa Sekar mengikuti langkah suaminya.
“Mas,” Sekar mengencangkan genggaman tangannya.
“Tenang, ada mas,” kata Danil tersenyum, membuat Sekar ikut tersenyum membalasnya.
Kapal mulai menjauhi pelabuhan, mengitari desa kecil itu, genggaman yang mengencang semakin lama semakin mengendor.
“Kamu menikmati Bee?”
“Mas, ini kapan selesainya ya?”
“Sebentar lagi, kamu masih takut?”
“Kita enggak akan jatuh kan mas?”
“Kalau jatuh, kamu tidak akan aku lepaskan Bee, seperti Jack dan Rose dalam Titanic,” goda Danil.
“Sudah mas kita selesai, aku enggak mau seperti mereka.”
Danil memeluk istrinya yang merasa tidak nyaman “Sebentar lagi selesai,”
Sekar memiliki trauma, waktu kuliah dulu dia pernah ke Bali bersama teman-temannya, dan kapal yang mereka sewa mengalami kerusakan, pada saat cuaca tiba-tiba buruk, angin kencang, disertai ombak tinggi, membuat kapal mereka terbalik. Semenjak saat itu dia tidak berani lagi untuk bermain di laut.
Sekar bernafas lega, ketika mereka sudah menepi di pelabuhan, wajahnya terlihat pucat, namun saat ini dia dapat mengendalikan traumanya. Danil langsung mengajak memasuki cafe, tidak jauh dari pelabuhan.
***
__ADS_1