
Danil dan Sekar sudah kembali ke rumah keluarga Jayanegara. Kedua orang tua Danil pun ikut menginap disana, mereka masih belum puas untuk menghabiskan waktu bersama.
Kamar Sekar yang di sulap menjadi kamar pengantin itu terlihat indah. Namun di sudut kamar, Danil sedang sibuk menelepon Renata.
Sesekali Sekar sibuk mengusap air mata yang tidak sengaja menetes di pipinya. Biarpun dia tahu kalau Danil hanya pura-pura bermesraan dengan Renata, namun hatinya terasa sakit. Lebay sih tapi Sekar ingin Danil tidak semanja dan semesra itu pada Renata.
Ia mencoba memejamkan matanya berulang kali, agar bisa tidur untuk melepaskan sesak yang dirasakannya.
Walaupun air mata masih saja membasahi pipinya yang mulai memerah. Lambat laun suara Danil sudah tidak terdengar lagi, hanya suara detik jam yang membuatnya tersadar bahwa ia belum juga beranjak menuju mimpi indah.
Tubuhnya terasa menggigil, entah karena ac kamar yang terlalu dingin, atau memang tubuhnya yang merasa kedinginan.
Tiba-tiba ia merasa tubuhnya menghangat, Danil menyelimuti Sekar. Ia tidak berani membuka matanya.
“Bee, Bee,” Danil membangunkan Sekar.
Dengan pura-pura terbangun dari tidur Sekar membuka matanya “Ada apa mas?”
“Kamu kenapa menangis?” tanyanya.
“Tidak apa-apa mas.”
“Berani bohong sama suamimu?”
Sekar tidak menjawabnya, hanya menatap suaminya tanpa berkedip, Danil pun menatap istrinya dengan bingung.
Hening menyelimuti keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Biarpun berkali-kali Sekar memaksa memejamkan matanya, namun ia tetap tidak bisa. Bukan hanya Sekar yang tersiksa, Danil pun sebetulnya merasakan apa yang Sekar rasakan.
“Jujur sama aku sayang, kamu kenapa?”
“Kamu mesra banget ngobrol sama Renatanya, Sekar tidak suka mendengarnya mas,” jawab Sekar kesal, saking kesalnya dia menggigit bibirnya yang terlihat menggemaskan.
“Ya ampun istri aku cemburu ternyata, senang sekali mendengarnya,” ucap Danil menggoda Sekar.
Danil mencium wajah Sekar, namun karena masih kesal Sekar kembali merebahkan tubuhnya, dan menutupi wajahnya dengan bantal.
Danil berusaha melepaskan bantal yang menutup wajah istrinya. "Mau becanda sama mas ya,” bisik Danil berusaha mengelitiki perut istrinya.
“Mas, lepasin enggak.”
“Enggak mau, buka dulu bantalnya, masa mas tidur sama perempuan berwajah rata.”
“Apaan sih mas, serem banget,” ucap Sekar, melemparkan bantalnya ke muka Danil.
“Jadi istri mas yang cantik ini, cemburu,” goda Danil sambil mengelus wajah Sekar.
“Kamu menyebalkan mas, sayangnya mas itu kan cuma aku.”
__ADS_1
“Yang bilang bukan kamu siapa?” tanya Danil gemas, sambil mencubit hidung istrinya. “Tapi kan kita tetap harus menjalankan rencana kita, sayang.”
“Iya mas, tapi sebel dengernya,” ucap Sekar kesal melipat bibirnya dan mengigitnya.
“Kamu tuh menyebalkan tahu enggak. Berhenti gigit-gigit bibirnya buat gemas saja,” kata Danil sambil mencium bibir istrinya dengan lembut.
Ciuman yang berakhir dengan kepuasan keduanya. Mereka menghabiskan beberapa ronde dalam penyatuannya, membuat Sekar terlihat lelah dalam pelukan Danil.
“Terima kasih sayangku,” ucap Danil sambil mengecup kening istrinya. “Aku mencintaimu.”
“Aku pun mencintaimu mas,” balas Sekar.
###
Sekar terbangun dari tidurnya, dia merasa hangat, terlebih lengan suaminya yang masih memeluk dengan erat.
Diusap wajah suaminya dengan sayang, kemudian mengecup bibirnya. Setelah merasa cukup mengagumi wajah suaminya, dia beranjak menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan melaksanakan kewajibannya, dia membangunkan Danil.
“Mas, mas, mas Danil,” Sekar mengguncangkan tubuh suaminya
“Selamat pagi sayang, sudah cantik aja sih,” kata Danil.
“Shalat dulu mas, aku buat sarapan dulu ya. Mas mau sarapan apa?”
“Manja banget sih mas ku ini, ayo bangun mas, nanti subuhnya telat.”
“Iya sayang.”
Sekar kemudian berjalan keluar kamar, menuju ruang makan, tidak biasanya rumah terlihat sepi. Sekar tidak menjumpai siapapun. Ayah, bunda, mamah dan papahnya tidak terlihat dimana pun, dan Danil masih dikamar, tidak ikut Sekar turun.
Sekar terus berjalan menuju dapur, setelah mencari keberadaan orang tuanya, yang tidak dia ketemukan.
Terlihat Siti dan Inah, kedua asisten rumah tangga sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Ti, Nah, semua orang pada kemana sih? sepi sekali,” tanya Sekar pada kedua asisten rumah tangganya.
“Mbak Sekar, selamat pagi mbak,” jawab kedua asistennya dengan sopan.
“Bagaimana tidurnya mbak?” goda Inah.
“Nyenyak dong.”
“Masa cuma nyenyak?” tanya Siti nakal.
“Rahasia, kamu mau tahu saja,” jawab Sekar tersenyum “Semua orang pada kemana sih, kok sepi?” tanya Sekar untuk kedua kalinya.
__ADS_1
“Semua pada pergi dari pagi mbak, saya tidak tahu kemana?” jawab Siti.
“Mau minum apa mbak? Saya buatkan ya?” tanya Inah.
“Tidak usah Nah, aku buat sendiri saja” jawab Sekar.
“Oh sekalian buatin untuk mas Danil ya mbak?” goda Inah.
“Iya dong, masa aku enggak buatin suamiku sarapan” kata Sekar sambil tersenyum malu-malu.
Akhirnya setelah berbingung ria, Sekar memutuskan untuk membuat kopi susu dan roti bakar rasa coklat kacang kesukaan Danil. Setelah selesai ia membawa sarapannya ke dalam kamar.
Danil terlihat nyenyak sekali, Sekar berniat untuk menggoda suaminya. Ditaruh nampan berisi kopi tangannya di tarik Danil, sehingga tubuh Sekar jatuh ke atas tempat tidur.
“Mau kemana sih, enggak bisa apa nemenin mas disini.”
“Bangun dong, sarapan dulu, nanti kopinya keburu dingin mas. Aku sudah siapin sarapan mas, di sofa.”
“Makasih sayang, yuk kita sarapan,” ucap Danil bangun dari tidurnya.
Sekar memberikan secangkir kopi pada suaminya, kemudian menyajikan sepiring roti bakar isi coklat kacang.
“Kopi buatan kamu tidak berubah, mas suka. Makasih Bee.”
“Iya mas, dimakan juga roti isi coklat kacang kesukaan mas,” kata Sekar.
“Bahagia banget, kalau setiap hari ada kamu yang menyediakan semua keperluan mas,” ucap Danil, tidak bisa menutupi kebahagiaannya.
“Sekar akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Mas Danil. Kalau ada apa-apa diomongin ya mas, aku masih harus belajar banyak,” pinta Sekar.
“Kamu yang terbaik sayang,” kata Danil mengecup kening istrinya.
"Kamu juga yang terbaik buat aku mas."
Sekar selalu berharap kebahagiaan akan selalu bersamanya. Dengan Danil hidupnya lebih berwarna, terlebih suaminya ini sangat memanjakan dirinya.
Terkadang kalau Danil sedang melakukan misinya, Sekar menjadi lebih egois, dan cemburu buta, walau dia tahu bahwa suaminya melakukan itu karena ada misi yang harus diselesaikan.
Sebenarnya bukan hanya Sekar yang egois, Danil pun sama, terlihat egois dan lebay bila Sekar sedang menerima telepon dari Ryan.
Jadi dapat disimpulkan sebenarnya, sifat mereka itu sama, sebelas dua belas lah, tanpa mereka sadari.
***
Apakah kalian juga seperti Sekar dan Danil? namanya juga cinta ya, tidak ingin milik kita jadi milik orang lain.
Semoga kalian masih setia ya membacanya, ditunggu komen, like dan votenya. Terima Kasih
__ADS_1