
Sekar masih bermalas-malasan di atas tempat tidur, dia menatap ponselnya dengan ketakutan. Beberapa pesan masuk dalam aplikasi whatsapnya, pesan dari Ryan.
Ryan :
Kamu dimana?
Ada acara apa hari ini?
Kita harus ketemuan sekarang!
Sekar
Sekar
Sekar jawab
SEKAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!!
Kenapa pesan aku cuma dibaca!!!!!
KAMU SIBUK APA SIH????
Tok ..., Tok ..., Tok ...
Pintu kamar Sekar di ketuk
"Bee ...,"
Tok ..., Tok ..., Tok ...,
Pintu kamar Sekar kembali di ketuk
"Bee ...,"
Tok ..., Tok ..., Tok ...
"Bee ...,"
"Bee, mas masuk ya," Danil meminta izin sambil membuka pintu kamar Sekar.
Sekar terkejut mendengar suara Danil, dia menutup matanya pura-pura tidur. Selimut berwarna hijau muda menutupi hampir seluruh tubuhnya. Nafasnya berhembus tidak beraturan, jantungnya berdetak lebih kencang. Pagi-pagi jantungnya sudah di paksa berolahraga.
Danil duduk di atas tempat tidur, disamping Sekar. Dia melihat tubuh calon istrinya bernafas tidak tenang. Bibirnya tersenyum, dia sangat tahu bahwa perempuan di balik selimut itu, sudah bangun sebelum dia mengetuk pintu kamarnya. Ia langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Sekar.
"Bangun Bee, mas tahu kamu sudah bangun dari tadi," ucap Danil.
Sekar masih belum bergerak, dia bingung apa yang harus dilakukannya.
Cup ...
Danil mengecup pipi kiri Sekar.
Cup ...
Untuk ke dua kalinya Danil kembali mengecup pipi Sekar.
Cup ...
"Kalau kamu belum bangun juga, mas cium bibir kamu sekarang," bisik Danil di telinga Sekar.
Sekar membalikan wajahnya, namun Danil masih di posisi yang sama sehingga, bibir mereka bersatu. Sekar langsung tersadar dan membuka matanya, sehingga mereka saling menatap.
Freezz!!!
Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Sekar memundurkan wajahnya, pipinya seketika merona, membuat Danil tersenyum.
"Kamu sudah tidak sabar jadi istri mas ya?" tanya Danil menggoda Sekar.
"Baru di ancam mau cium bibir kamu. Kamu sendiri yang cium mas duluan."
"Kalau sudah nikah, setiap pagi mas dapat
penyemangat, seperti ini ya. Lebih juga mas tidak akan menolak."
Sekar terdiam, dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, wajahnya semakin lama semakin menunduk, malu menatap pria di depannya.
"Kamu tuh masih sama ya, kalau malu, malah semakin menggemaskan," ucap Danil.
"Mas, apaan sih?"
"Mas serius."
"Mas Danil mau apa? pagi-pagi sudah nonggol disini, terus ngegombal," tanya Sekar masih menunduk.
"Kebiasaan deh. Kalau lagi bicara itu coba di tatap lawan bicaranya," pinta Danil.
"Iya mas," ucap Sekar, menuruti perintah Danil.
"Nah gitu dong, kamu lupa ya?" tanya Danil. "Hari ini kita harus fitting baju pengantin, sama membeli seserahan, kemarin kan baru beli perhiasannya saja."
"Ya ampun, iya lupa."
"Kebiasaan."
__ADS_1
Kring ..., Kring ..., Kring ...
Ponsel Sekar berbunyi, dia menatap layar di ponselnya, kemudian menghembuskan nafas dengan berat. "Sebentar ya mas," pamit Sekar di jawab anggukan kepala oleh Danil.
"Hallo ...,"
"KAMU KE MANA SAJA? DARI TADI AKU MENGIRIM PESAN, TIDAK ADA YANG DI BALAS!!!" teriak Ryan.
"Maaf, aku baru bangun Ryan."
"ALASAN SAJA, MUAK AKU LAMA-LAMA SAMA KAMU."
"BELUM MENIKAH SAJA TINGKAH MU SEPERTI INI, BAGAIMANA JIKA SUDAH MENIKAH???"
Sekar menjauhkan ponsel dari telinganya. Jujur saat ini dia tidak ingin dimarahi, dibentak, apalagi dihina oleh Ryan. Beberapa hari ini hidupnya terasa berat.
Danil mengambil ponsel Sekar. "Sorry Yan, seharian ini gue harus pergi sama Sekar. Jadi jangan ganggu dulu ya, terima kasih atas pengertiannya."
Danil memutuskan pembicaraannya dengan Ryan dan langsung mematikan ponselnya.
Dia melihat Sekar, perempuan di hadapannya terlihat ketakutan. Ia menghampiri lalu memeluknya.
"Menangislah Bee, jangan di tahan lagi," ucap Danil. "Maaf menempatkan kamu di posisi yang sulit."
Sekar merasa nyaman berada di pelukan Danil, tidak lama air matanya turun tanpa diminta. Pertahanannya seketika jebol.
Danil memeluknya dengan erat, mengelus rambut Sekar dengan lembut, memberikan ketenangan dengan perhatiannya.
Mas, apakah kamu melakukan hal ini pada Renata?
Bila iya, mengapa aku tidak rela. Maafkan aku terlalu egois dan masih mengharapkan cinta mu.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Danil. Sekar menganggukan kepalanya.
"Sekarang mandi lalu bersiap, kita akan ke butik sebelum hari semakin siang."
"Mas."
"Hmmm,"
"Ingin di peluk lagi," pinta Sekar manja.
Danil tersenyum, lalu merentangkan tangannya, memeluk tubuh mungil di depannya.
"Kalau kamu terus seperti ini, bisa-bisa mas ikhlas menerima perjodohan ini," ucap Danil membuat Sekar mematung.
"Mas Sekar takut."
"Takut apa?"
"Kenapa harus takut?"
"Mas ...,"
"Kamu aman jalan bersama ku Bee," ucap Danil, tersenyum ramah. "Tapi maaf, mas mu ini masih posesif bila menyangkut dirimu."
"Dari dulu kamu memang posesif mas."
"Kamu yang paling tahu tentang aku Bee."
"Iya mas."
"Dia tahu kapan kita nikah?"
"Tidak mas, Sekar belum memberi tahu."
"Tapi berarti penjagaan harus diperketat, mas khawatir sama kamu."
"Renata bagaimana?"
"Renata, sibuk sama jadwal nya yang padat."
"Apa tanggapan dia, tentang pernikahan kita?" tanya Sekar.
"Marah, kesetanan, melempar semua barang, dan banyak hal lain yang dia lakukan. Dia mulai menerima penjelasan mas."
"Apa yang mas jelaskan?"
"Tentang pernikahan kita. Mas bilang pernikahan ini hanya berlangsung maksimal satu tahun, dan dia mulai menerimanya."
"Sebelas dua belas sama Ryan ya," kata Sekar.
"Bee.."
"Iya mas."
"Tidak apa-apa."
"Mas kamu paling tahu, aku tidak suka di gantung."
"Dan kamu tahu mas paling suka melihat kamu kesal."
"Kamu selalu menyebalkan mas," kata Sekar sambil mencepol rambutnya karena akan mandi.
__ADS_1
"Kamu sengaja menggoda mas?"
Sekar tersenyum manis, menatap Danil dari cermin di depannya. "Mas masih suka lihat Sekar cepolin rambut?"
"Kita nikah saja yuk, kamu masih sayang sama mas tidak?" tanya Danil gemas, dia tidak menjawab pertanyaan Sekar.
"Mas ...,"
"Iya sayang."
"Jangan bercanda deh," dia membalikkan badannya tepat di depan Danil, dan menatapnya
"Kamu tahu kan, mas paling tidak bisa, melihat kamu manja seperti ini." ucap Danil.
"Mas masih sayang kamu Bee, dan perasaan itu tidak pernah berubah."
"Mas Danil," Sekar terkejut mendengar pernyataan cinta pria yang berdiri di hadapannya.
"Bisakah kita menyampingkan urusan Renata dan Ryan?"
Sekar menatap Danil, mencari letak kebohongan dari tatapannya, namun dia tidak mendapatkannya.
"Mas masih sayang kamu Bee."
"Mas."
"Kamu masih menyimpan perasaan yang sama?"
"Perasaan apa mas?"
"Jangan bohongi perasaan kamu Bee."
"Mas jangan seperti ini," pinta Sekar.
"Apa maksud kamu?
"Mas Danil,"
"Mas sudah tidak kuat menahannya Bee. Perasaan ingin memiliki kamu selalu muncul semenjak kedekatan kita beberapa minggu ini."
"Mas ...,"
"Mas tidak sanggup bila kehilangan kamu lagi Bee. Mas sangat mencintaimu. Tolong jawab Bee, apakah kamu masih memiliki perasaan yang sama?"
Sekar menatap Danil, mencari kebohongan di dalam matanya, namun untuk kedua kalinya dia gagal. Dia tidak menemukannya.
Sekar mulai mencerna permintaan Danil, dia ingin mencari tahu mengapa pria di depannya tba-tiba ingin kembali bersama.
"Kamu kenapa mas? tiba-tiba jadi aneh seperti ini," tanya Sekar.
"Mas tidak bisa nutupinnya lagi Bee, mas sayang sama kamu."
Aku pun masih menyayangimu mas, tapi aku bingung, ini semua karena aku lelah menerima perlakuan Ryan, atau memang aku benar-benar masih menyayangimu.
Jujur aku nyaman bersama kamu mas, perasaan cinta ku padamu pun sama mas, tidak pernah berubah sedikit pun.
Salah kah aku bila memiliki perasaan yang sama dengan mu mas?
"Bisakah kita melupakan Renata dan Ryan untuk sementara waktu? tanya Danil.
"Mas..."
"Belum setengah jam aku disini dan hampir ratusan kali kamu memanggil namaku." Danil menggoda Sekar.
"Semua begitu mendadak, kamu membuat aku bingung mas."
"Tapi tidak bingung untuk menjawab pernyataan cinta mas mu ini."
"Apakah kamu memiliki perasaan yang sama terhadap ku Bee?"
"Mas Danil!" teriak Sekar. tangannya mencubit perut laki-laki yang berada di depannya.
"Aku masih mencintaimu mas, tapi..."
"Cukup Bee, mas hanya mau mendengar itu, tidak ada tapi untuk mencintai seseorang."
"Mas Danil ...,"
"Jadi kita kembali bersama kan?
"Mas Danil,"
"Tidak ada perjajian apapun di pernikahan kita. Benarkan Bee?"
Sekar menganggukkan kepalanya, masih menatap Danil.
"Itu bukan jawaban sayang. Pernikahan kita nanti murni karena kita saling sayang dan cinta. Benar kan Bee?"
"Pernikahan atas dasar cinta dan kasih sayang, tanpa syarat atau pun kebohongan."
"I love you Sekar."
"I love you too Mas Danil."
__ADS_1
***