Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Block Number


__ADS_3

Sekar terbangun dari tidurnya, ia masih mengantuk, semalam sangat melelahkan untuknya. Namun dia sadar harus bangun pagi, dan segera bersiap. Dengan berat Sekar membuka matanya perlahan, setelah terbuka penuh, di sambut senyum suaminya.


“Morning Bee,” sapa Danil, dengan senyum tulus mengecup kening dan bibir istrinya.


“Morning mas,” jawabnya sambil memeluk tubuh Danil.


“Masih ngantuk?” tanya Danil, sambil membelai rambut panjang Sekar. Danil senang sekali memainkan rambut ikal Sekar. Hobi lama yang kini bisa dia lakukan setiap saat.


“Kita berangkat jam berapa mas?” tanya Sekar tanpa melepaskan pelukannya.


“Mas merubah jadwal kita Bee. Semalam kamu tidak bisa tidur, mas enggak mau kamu sakit, jadi kita berangkat setelah makan siang.”


“Jadi masih bisa santai kan, mas mau sarapan kapan?”


“Santai Bee, sekarang baru pukul tujuh.”


“Peluk mas,” pinta Sekar.


“Masih kepikiran yang semalam?” tanya Danil, memeluk Sekar dan kembali membelai lembut punggungnya.


“Sedikit kesal saja mas.”


“Jangan terlalu di pikirkan Bee, ingat selalu, bahwa kamu punya mas.”


“Iya mas, kamu cerewet banget sih,” kata Sekar sambil mencium dada suaminya.


“Jangan nakal Bee, kalau enggak mau dapat hukuman.”


“Hukuman?” tanya Sekar menggoda Danil. “Memang Sekar salah apa? Sampai harus di hukum sama mas Danil.”


“Bee ah...”


“Ah ... Ah ... Ah ...” teriak Sekar, mengikuti nada lagu ratu dangdut Evie Sukaesi.  “Mandi dulu ya mas,” Sekar bangun dan akan meninggalkan Danil.


Danil menarik tangan Sekar yang akan beranjak dari tempat tidur. “Berani berbuat, berani bertanggung jawab sayang ku.”


“Aku enggak salah mas, mas Danil suami ku. Jadi mencium mas, hal yang wajar bukan?”


“Wajar dan sangat dianjurkan, melebihi resep dokter pun tidak masalah Bee. Nah sekarang, anggap saja mas harus minum obat, jadi mana obatnya?”


“Mas tidak sakit, jadi enggak harus minum obat,” jawab Sekar.


“Ok, kalau gitu mana vitamin mas?”


“Vitamin mas, ada di laci sebelah tv,” jawab Sekar, membuat Danil gemas, dan memeluknya erat.


“Cerdas! Pasti kamu tahu Bee, vitamin apa yang mas butuhkan. Jangan bertele-tele Bee.”


“Tele ... Tele ... Teletubbies mas” Sekar tertawa kencang. “Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa, Po” Sekar menyanyikan lagu serial anak tersebut, untuk menggoda suaminya. Danil terdiam lama menatap istrinya, menikmati tawa lepasnya.


“Berpelukan,” Sekar menambahkan akhir lagu tersebut sambil memeluk suaminya.


“Terus seperti ini Bee, jangan sering menangis,” Memeluk istrinya yang baru saja berhenti tertawa.


“Makasih mas, makasih sudah hadir kembali di kehidupan Sekar.”


Danil merasakan hal yang sama dengan sekar. Kehidupannya kembali berwarna, setelah mereka bersama. Rasa memiliki menguatkan cinta tulus mereka.

__ADS_1


“Jujur, sekar takut kehilangan mas Danil,” katanya sambil melepaskan pelukannya, dan menatap mata teduh suaminya yang sedang menatapnya.


“Mas tidak akan mengulang kebodohan yang sama Bee. Mas mencintaimu, apakah masih ragu?” tanya Danil.


“Sedikit, lebih ke takut mas, bukan ragu.”


“Apa ketakutan terbesar Bee?”


“Menghadapi semua ini mas, Sekar takut. Mugkin lebih tepatnya was-was.”


“Bukan Ragu, tapi takut, lebih tepat was-was,” Danil menghela nafasnya. “Bee, kamu tidak percaya sama mas?”


“Tidak mas, tidak, tidak. Justru Sekar yang tidak percaya terhadap diri Sekar sendiri mas.”


“Kamu takut, tidak bisa melanjutkan misi kita sampai selesai?”


“Iya mas.”


“Kamu takut Ryan?”


“Iya mas, Sekar takut, sangat takut. Mas cukup megenal Sekar kan, dan mas sudah tahu Ryan itu cowok seperti apa.”


“Bee, seperti janji mas, bisakah kamu untuk mempercayai mas?”


“Sekar tidak pernah meragukan mas sama sekali, Sekar percaya sama mas.”


“Lalu?”


“Kita berdua punya kehidupan masing-masing mas. Setelah honeymoon ini, mas akan kembali sibuk, Sekar juga. Masih ada beberapa kontrak yang harus dijalani, dan usaha Sekar juga harus tetap berjalan mas.”


“Kamu takut, Ryan dan Renata akan melakukan hal buruk lainnya terhadap kita?”


“Iya mas.”


“Apa syaratnya?”


“Kamu harus nurut, karena ini untuk keselamatan kamu.”


“Jangan bilang mas menyiapkan bodyguard untuk Sekar.


“Tepat sekali, istri ku memang pintar, tidak ada penolakan, tidak ada drama sinetron yang berkepanjangan. Jawab sekarang, kamu akan nurut sama mas Bee?”


“Iya mas, tapi dengan syarat,” kata Sekar menatap balik suaminya.


“Bodyguard enggak boleh mencolok, Sekar tidak mau jadi tontonan orang-orang mas. Anak presiden bukan, tapi pengawalan ekstra.”


“Mereka tidak akan terlihat Bee, hanya dua pengawal wanita yang akan bersama kamu, yang lain tidak akan terlihat mencolok, namun mereka siap melindungi kamu dimana pun,” jawab Danil.


“Ok Deal mas,”


“Good wife. Sekarang boleh lanjutin yang tadi ya, siapa tahu anaknya agak kebulean gitu, kan buatnya di Europe,” kata Danil, kembali menggoda Sekar.


“Aku merindukan suamiku sebagai CEO.”


“CEO sedang off cintaku, mas Danil, suami mu yang ada sekarang. Sebagai istri yang baik, maka patuhi lah suamimu.”


Danil seseorang yang tegas, terutama dalam pekerjaan, karena ketegasannya dia terlihat dingin. Namun di balik itu Danil adalah seseorang yang jahil, humoris dan penyayang. Catat, hal tersebut hanya dapat di rasakan oleh keluarga besar dan teman-teman dekatnya saja. Selain itu, mohon maaf kalian akan mendapati seorang CEO yang workaholic, dingin, dan pelit senyum.

__ADS_1


Tulilit ... Tulilit ... Tulilit ...


Ponsel Danil berbunyi, keduanya menatap smartphone berwarna hitam yang berbunyi dan bergetar di atas meja di samping tempat tidur.


Danil menatap layar ponsel dan segera menerima paggilan setelah mendapat persetujuan Sekar. Wajah suaminya langsung berubah, terlihat serius dan dingin. Sekar menatapnya, dan memberikan senyuman manis, sehingga Danil pun membalas senyuman istrinya.


“Ada apa mas?” tanya Sekar ketika Danil menyudahi pembicaraannya.


“Maaf Bee, sampai saat ini, anak-anak belum tahu siapa dalang di antara mereka.” Danil terlihat menahan emosinya.


“Kenapa mas jadi murung?” tanya Sekar. “Bukan kah mas akan selalu melindungi Sekar?”


“Mas sedikit gelisah Bee, mas ingin tahu siapa yang bersembunyi di belakang mereka. Mas pasti akan menepati janji mas. Kesal Bee, mas masih harus menebak permainan mereka. Mas takut salah langkah yang merugikan kita semua.”


“Mas, bolehkah kita stop pembicaraan ini?” tanya sekar.


“Kenapa?”


“Ini bulan madu kita mas. Sekar percaya mas Danil akan menepati janji, jadi Sekar mau menikmati bulan madu ini, tanpa ada Renata, Ryan atau masalah yang masih belum jelas juntrungannya,” jawab Sekar. “Apakah mas setuju?”


“Apapun permintaan mu Bee, mas setuju.”


“Baik, kalau mas setuju,”


“Syarat apa yang harus mas penuhi?”


“Mas Danil, tahu banget sih kalau ada syarat.”


“I know you Bee,” Danil tersenyum menatap istriya yang sedang menatap balik.


“Pertama, tidak boleh menerima atau menghubungi salah satu dari mereka.”


“Lanjut,”


“Kedua, sudah itu saja,” Sekar menatap suaminya dengan tersenyum jahil.


Danil mengusap lembut rambut istrinya. “Ok Bee, mari kita block nomor mereka.”


“Serius mas?”


“Iya, kita akan membukanya ketika sudah sampai di rumah.”


“Deal,” jawab Sekar.


“Sekarang lanjut, lakukan kewajiban mu Bee,” pinta Danil tersenyum manis menatap istrinya yang menggemaskan.


***


Ditunggu like, coment, sama vote nya


Terima Kasih.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2