Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Mencari Jabawan


__ADS_3

Danil pun semakin posesif, Sekar mulai curiga, ada hal apa yang membuat bulan madunya berakhir di sini. “Kamu hutang penjelasan mas,” katanya ketika pandangan mereka bertemu.


“Akan mas jelaskan nanti,” jawaban menggantung dari Danil membuat Sekar terdiam.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju bandara. Sekar sudah dapat memastikannya kemana tujuan mereka Kata “pulang” yang dimaksud suaminya berarti kembali ke tanah air.


“Ada apa, bagaimana kondisi kedua orang tuanya, kondisi mertuanya, apa yang sedang terjadi, ada apa dengan semua ini?”


Pertanyaan demi pertanyaan datang seperti menuntut jawaban yang tidak akan mungkin di dapat. Otak kecilnya sedang belajar memahami dan mencerna apa yang sedang terjadi. Spekulasi mulai bermunculan, namun ia tidak berani untuk bertanya kepada suaminya.


Kembali menatap suaminya dalam diam. Wajah tampan dengan berewok tipis  terlihat tenang seakan tidak ada yang terjadi, namun sebagai istri, dengan mudah dapat mengetahui perbedaannya.


Kedua bagian tulang atas dan bawah dalam rongga mulutnya menegang. Pandangannya menampakkan kecemasan. Sesekali garis mendatar terlihat menonjol jelas di keningnya, terlebih ketika mengerutkan alisnya.


Danil menoleh ketika menyadari tatapan menuntut penjelasan sedang memperhatikannya. “Everything it’s gonna be okay Bee,” katanya berusaha tersenyum.


Senyumnya terlihat pahit dimata Sekar, walau Danil berusaha menunjukkan  ketulusannya, seperti yang seharian ini di lakukannya .


Sekar masih menatapnya tanpa senyum balasan, kini dia yang berwajah datar menuntut kejujuran dari lelaki di sampingnya.


“Aku tahu semuanya akan baik-baik saja mas.”


“Do you believe me?” tanyanya.


“Kamu tahu kalau aku selalu percaya sama kamu mas,” jawabnya.


“Terima kasih sayang.” Danil membelai lembut wajah istrinya.


Musik yang terdengar dari tape mobil tidak membuat Sekar tenang, walau banyak lagu yang di putar adalah favorit dari idolanya. Biasanya lelaki tampan di sebelahnya, sudah mulai melancarkan kegombalannya. Kini, hening! Ibarat nonton film horor sedang menunggu hantunya muncul.


Beruntunglah malam telah tiba, dan jalanan tampak lengang, perjalanan dalam keheningan berakhir. Kendaraan ini sudah memasuki area Paris-Charles de Gaulle, salah satu dari dua bandar udara internasional yang ada di sini.


Danil menggenggam jemari Sekar. “Jangan pernah lepaskan genggaman ini apapun yang terjadi ya Bee,” pinta Danil.


“Kena...,”


“Jangan pernah,” ucap Danil dengan tegas, memotong pertanyaan yang belum sepenuhnya terucap.


“Baik mas,” jawabnya.


Mobil berhenti di depan terminal satu, seperti itulah yang tertera di dinding bangunan kokoh itu. Kedua pria berpakaian hitam itu sudah turun duluan dengan sigap. Mereka terlihat seperi turis yang akan berlibur, walau bagi Sekar mereka tetap terlihat seperti tukang pukul.


“Apapun yang terjadi, jangan pernah jauh dari mas, jangan percaya sama siapapun kecuali mereka berdua,” tunjuk Danil pada kedua pria yang berdiri di dekat koper mereka.


“Berikan satu jawaban agar aku tidak bingung mas,” tuntutnya.


“Genting!”


“Apa?”


“Genting sayangku,”


“Penutup atap rumah?”


“Bee,” Danil memohon dengan tatapan kesabaran.


“Tolong jawab dengan bahasa yang aku mengerti mas,” ucap Sekar kesal.


“Keadaaan darurat sayangku.”


“Darurat?” tanyanya bingung. “Perang kah, ada ******* menyimpan bom atau masalah kantor, atau apa mas? Tolong jangan bermain teka teki!. Gunakanlah bahasa manusia, bahasa yang aku mengerti,” ucapnya mulai panik dan bingung.


“Baiklah, mas tidak tahu kita berhadapan dengan siapa, tapi yang pasti saat ini ada yang tidak senang melihat kebersamaan kita. Hanya itu yang dapat mas sampaikan sekarang, bisakah kita mulai berjalan?”


Sekar tidak puas dengan jawaban suaminya. Ia masih menatap lelaki yang sudah tidak sabar menunggu jawabnya, sedangkan dia harus kembali kecewa tidak mendapat jawaban yang diinginkan.


“Sayang waktu kita sempit, bisakah kita masuk sekarang?”


“Baiklah,” jawab Sekar menuruti suaminya.


“Ingat apa yang mas sampaikan tadi ya, jangan pernah lepaskan genggaman ini apapun yang terjadi.” Sekar mengangguk menjawabnya.

__ADS_1


“Mengerti Bee?”


“Iya mas, sangat mengerti.”


Danil menoleh menatap istrinya dan tersenyum tanpa berkata apa pun. Jemari Danil semakin erat menggenggam jemari mungil Sekar. Langkah kakinyanya berjalan menuju kecepatan maksimal, membuat perempuan mungil ini, seakan berlari kecil mengimbanginya.


Banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan oleh Sekar, namun hal itu diurungkan ketika pandangan suaminya berubah serius, seakan sedang berada dalam ruang kerjanya.


“Baiklah apa yang sedang terjadi? Mengapa semuanya terasa mencekam. Mas Danil terlihat tegang, dan suasana ini sangat menyebalkan. Siapa yang tidak ingin kita bersama, Ryan kah, Renata kah, mengapa kebahagiaan hanya berjalan sebentar?” otaknya terus mencari jawaban, entah sampai kapan pertanyaan itu akan berhenti bertanya di kepala Sekar.


Sekar memperhatikan suaminya yang tiba-tiba melambatkan langkah dan pandangannya menyusuri setiap sudut. Terlihat di depan Hadi melambaikan tangannya.


Berbisik? Iya berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan hanya kata “Oke,” yang ia dengar, jiwa keponya berontak namun apa daya, tidak ada yang dapat dia lakukan untuk saat ini.


“Selamat jalan Mbak Sekar, semoga selamat sampai tujuan,” ucap Hadi setelah dia berbisik pada Danil.


“Terima kasih ya mas, mohon maaf kita berdua selalu merepotkan,” ucapnya dengan ramah.


“Tidak merepotkan mbak. Hati-hati, semoga selamat sampai di tujuan,” ucap Mas Hadi, seakan menekannkan keduanya harus berhati-hati. dijawab anggukan oleh Sekar.


“Terima kasih mas,” jawab Sekar, kemudian menatap suaminya yang masih menerima panggilan telepon.


Danil menganggukkan kepalanya, seperti sedang menangkap kode yang di berikan oleh Hadi. Kemudian Sekar kembali mengikuti kemana langkah suaminya membawa.


Hadi masih mengikuti hingga ruang tunggu, setelah melewati semua pemeriksaan kemudian ia pamit. Danil membawa Sekar duduk menjauh dari kerumunan orang.


“Tujuan kita kemana mas?” tanya Sekar.


“Pulang sayangku,” jawab Danil.


“Jakarta?”


“Iya, pulang ke rumah.”


“Ada apa sebenarnya mas?”


“Mas juga masih belum yakin, namun satu yang pasti...., ada yang tidak ingin kita bersatu,” Danil berbisik menjawabnya.


“Siapanya mas belum tahu dan belum dapat petunjuk sayang. Masalah Tahu dari siapa, yang pasti sumber terpercaya.”


“Mengapa?”


“Mas juga tidak tahu kalau kamu bertanya mengapa mereka ingin memisahkan kita,” jawab Danil.


“Jangan membuat aku takut mas,” katanya jujur.


“Tenang ada mas, selama kita bersama tidak ada yang perlu kamu takutkan.”


“Kenyataan ini yang membuat aku takut mas. Aku tahu mas masih menyembunyikan sesuatu, belum menceritakan keseluruhan cerita ini....,” Sekar sengaja menggantung ucapannya, melihat reaksinya lawan bicaranya.


Danil menoleh ke arah istrinya, tatapan matanya seakan tidak fokus. Bola mata itu terlihat waspada, menyisir setiap sudut.


“Bisakah hanya menatap aku saja mas, istrimu ada disini loh, di depan kamu mas. Apa ada pemandangan lebih indah dibanding aku?”


Pertanyaan Sekar otomatis membuat Danil mengerutkan keningnya dan tertawa lepas. “Tidak ada pemandangan yang lebih indah dibanding melihat istri ku sendiri,” ucapnya.


“Tertawalah mas, aku lebih suka melihatmu seperti ini dari pada berwajah datar seakan  menunjukkan bahwa kamu menyimpan beban yang sangat banyak. Malu tahu,” ucap Sekar.


“Malu?”


“Iya malu. Seakan tertulis di keningmu itu Aku sedang ada masalah, namun istri bawel ku tidak perhatian, hanya banyak menuntut.”


“ISTRI BAWELKU!” kembali Danil tertawa. “Mas suka mendengarnya, istri bawelku tersayang.”


“Ini kedua kalinya mas tertawa semenjak kita keluar dari hotel, jujur aku tidak menyukai wajah datarmu itu mas.”


“Maaf Bee.”


“Boleh simpan maaf mu mas, dan mulai menceritakan semuanya secara detail,” pinta nya menuntut.


“Baiklah....,” Ada sedikit ragu yang terdengar dari ucapan Danil.

__ADS_1


Pengumuman agar penumpang segera memasuki pesawat menghentikan pembicaraan mereka. Kedua pria bebaju hitam mulai berdiri menunggu tuannya begerak, satu siap di depan Sekar dan Danil, satu lagi siap di belakang.


Mereka tidak terlihat seperti dua orang bodyguard bagi orang lain, namun untuk Sekar ia risih dengan keberadaan mereka.


“Apakah kita harus membawa mereka mas?”


“Demi keselamatan kamu?”


“Aku?”


“Iya kamu Bee, istri ku.”


“Bukan KITA?”


“KITA.”


“Kenapa hanya mengucapkan aku?”


“Apa pertanyaan itu harus di jawab?”


“Iya.”


“Maafkan mas salah menjawab.”


“Apa kamu sungguh merasa hebat, sampai tidak perlu di jaga lagi?” Danil diam.


“Tidak Bee.”


“Apanya yang tidak?”


“Mas tidak merasa hebat.”


“Terus, mengapa tadi mas bilang mereka ada untuk menjaga aku?”


“Hanya berjaga-jaga.”


“Jangan bermain teka teki dengan aku mas. Aku tahu mas menyembunyikan sesuatu, menjaga agar aku tidak takut, tegang, panik, atau apalah namanya itu. Tapi aku bukan anak kecil, yang bisa mas sogok dengan es krim atau coklat, lalu kembali ceria.”


“Aku istrimu mas, buatlah aku berharga dimatamu dengan membagi semua beban berat yang kamu pikul. Bukan kah kita sepakat mengenai hal ini?”


“Semua akan terasa lebih ringan mas. Beban kamu ya beban aku juga. Bahagia aku, otomatis menjadi kebahagiaan kamu juga mas.


“Kamu benar-benar bawel tahu,” ucap Danil sambik menjentikan jarinya di hidung Sekar.


“Sayangnya aku memang bawel, dan kamu sudah tahu itu sejak lama mas.”


“Baiklah.”


“Baiklah apa?”


“Baiklah sekarang kita harus masuk pesawat. Setelah itu mas akan membacakan dongeng tidur.”


“Aku bukan balita lagi mas, cukup bercerita tanpa perlu menjadi dongeng. Ini bukan kisah princess tokoh kartun.” Danil tertawa mendengar jawaban kesal istrinya.


“Tapi kamu princess di hati ku sayang.”


 


 


Bersambung...


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2