
Sekar dan Danil sudah siap di lobby menunggu kedatangan Hadi yang akan mejemput mereka dan melanjutkan perjalanan menuju Paris. Negara paling romantis, menurut versi seorang model bertubuh mungil ini.
Banyak tempat wisata yang masuk dalam daftar untuk di kunjungi, setibanya mereka disana. Dengan rapih Sekar menuliskan berbagai tempat yang ingn di kunjungi.
Danil merebut planner book milik istrinya, membaca satu persatu daftar tempat wisata yang di tulis oleh perempuan bermata coklat ini. Dia tersenyum ketika membacanya.
“Mau extend di Paris Bee?” tanya Danil.
“Terserah mas Danil, Sekar ikut,” jawabnya sambil memasukan planner miliknya ke dalam tas.
“Kalau mau, kita harus bilang Hadi, biar bisa reschedule.”
“Ganggu jadwal mas, tidak?” tanya Sekar mempertimbangkan ucapan suaminya.
“Bisa diatur sih, sebenarnya ayah sama papah, tidak ada masalah kalau kita mau extend juga Bee.”
“Kalau tidak masalah, kita extend ya mas,” jawab Sekar di sambut senyum dan anggukan Danil.
“Makasih mas ku sayang,” katanya manja, sambil memeluk suaminya.
Danil memainkan rambut ikal istrinya. “Bee...”
“Iya mas,” Sekar melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.
“Risih enggak di panggil Bee?” tanya Danil, membuat sekar menatap Danil bingung.
“Risih?” tanya Sekar, dan Danil mengangguk. “Biasa saja sih mas, itu kan panggilan mas dari dulu, jadi tidak ada masalah sih.”
“Tapi?”
Sekar tersenyum menatap suaminya “Tapi, Sekar merasa agak gimana gitu dipanggil Bee.”
“Mau nya di panggil apa?”
“Belum kepikiran mas,” jawabnya.
“Sementara mas panggil Bee saja ya.”
“Iya mas.”
“Kalau sudah tahu mau di panggil apa, cepat beritahu mas,” pinta Danil.
“Ok mas Danil sayang.”
“Bee...”
“Iya,”
“Mas sayang banget sama Bee,”
“Makasih mas, Bee, selalu sayang mas.”
“Sampai rumah kita, harus lebih sering manja sama mas ya, jangan sibuk sendiri,” pinta Danil.
__ADS_1
“Nanti kalau Sekar sering manja, mas Danil bosan lagi,” jawabnya Sekar memanyunkan bibir mungilnya.
“Tweetynya mas, ngegemesin deh,” Danil menggoda Sekar, karena bibirnya sengaja dimayunkan memperlihatkan kekesalannya. “Belum juga berangkat sudah menggoda,” Danil mengecup bibir mungil Sekar.
“Mas ih,” Sekar mencubit perut suaminya.
“Aw, sakit Bee. Doyan banget nyubit sih,” protes Danil, menahan sakit.
“Maaf mas, Malu tahu,” jawab Sekar sekaligus meminta maaf, sambil menggosokkan tangannya ke perut Danil yang dia cubit tadi.
“Di jakarta saja banyak yang seperti kita Bee, masa disini malu. Lagian sudah halal, tidak mungkin di gerebek satpol PP.”
“Iya enggak mungkin di gerebek lah mas, mana ada satpol PP di sini.”
“Cerdas!”
“Maksud mas?” tanya Sekar kesal. Namun tidak lama ia tertawa geli mendengar perkataan suaminya tadi. “Kok mas bisa tahu, tentang di gerebek satpol PP, pernah ya?” tanya Sekar menggoda Danil.
“Dong dong nya mulai nih. Sampai rumah, harus minum vitamin yang banyak, biar tidak dong dong,” celetuk Danil sambil mengetuk jari telunjuknya ke pelipis kanannya.
“Kalau Bee dong dong, mana mau mas Danil sama Bee.”
“Habisnya kamu lucu Bee, sangat menggemaskan.”
“Lucu dan menggemaskan beda tipis sama dong dong ya mas?”
“Kelakuan kamu yang lucu dan menggemaskan, tapi kalau dong dong bawaan kayaknya.”
“Kan ngegemesinnya cuma sama mas, dan Sekar tidak dong dong ya mas,” katanya manja.
“Danil Rahardi Kesuma, CEO Perdana Musik, keperegok sedang bersama seorang wanita.” Katanya dengan suara pelan. “Bisa-bisa, mas mu ini dipecat jadi anak, sama papah. Sembarangan aja deh Bee, kalau ngomong. Yang pasti mas masih sering lihat acara televisi lah Bee.”
“Masih ada waktu lihat acara televisi?”
“Masih dong. Memangnya kamu, selalu sibuk baper”
“Siapa yang sibuk baper? enak saja.”
“Pokoknya sampai rumah kita nanti, Mas tidak ingin ada kesedihan, rumah kita nanti harus terasa nyaman, dan menenangkan. Mas tidak ingin meihat istri mas murung, dan tidak bahagia.”
“Iya mas.”
“Jangan hanya iya di mulut saja Bee. Mas tidak mau lihat kamu nangis, gelisah, atau tidak nyaman. No baper ini our home Bee,” pinta Danil
“Iya mas.”
“Mas ingin, mas yang pertama tahu tentang hal sekecil apapun. Kesedihan, kebahagiaan, kegelisahan, ketenangan, apapun harus kamu bagi bersama mas. Everything Bee, you must tell me. Kita sama-sama terbuka dan berbagi dalam keadaan apapun. Jangan pernah ada yang di sembunyikan dari mas.”
‘Iya mas. Tapi..”
“Tapi apa lagi? Kalau mas lagi kerja, masih ada ponsel untuk menelepon, masih ada aplikasi whatsapp untuk memberikan pesan, bisa telepon juga, bahkan bisa video call. Zaman semakin canggih Bee, ja...”
“Iya mas Danil ku sayang, apapun beritanya, mas yang pertama kali tahu. Kalau bisa ikan KOI di kolam lagi berenang juga, mas yang pertama kali Sekar kasih tahu
__ADS_1
“Benar ya, tepat sekali! Cerdas istrinya Danil,” kata Danil disambut manyun oleh Sekar.
“Iya cerdas dong, masa enggak.” Danil mencubit pelan pipi istrinya, dia selalu gemas bila istrinya kesal.
“Bee, mas ingin makan siang mas, buatan istri mas yang cantik dan menggemaskan ini,” pinta Danil sambil mencubit hidung Sekar.
“Siap, makan siang CEO harus homemade buatan Ny Danil.”
“Pastinya itu. Harap di ingat nyonya, makan siang CEO, harus siap pukul dua belas tepat.” pinta Danil yang lebih menyerupai perintah. Namun Sekar sangat senang terhadap permintaan suaminya.
“Siap tuan CEO yang tercinta. Pukul dua belas tepat, makan siang anda akan siap di meja.” Janji Sekar. Untuk masalah yang satu ini, dia sangat bersemangat. Jangankan makan siang, dia juga akan membuatkan camilan untuk suaminya. Ini hanya masalah kecil untuk jebolan terbaik jurusan boga dari Universitas kulinari yang terkenal hingga ke manca negara.
“Jadi apa lagi yang harus di ingat sebagai istri Danil sang tuan CEO?”
“Suami mu ini orang sibuk, maaf kalau nanti, Bee sering mas tinggal,” katanya dengan perasaan bersalah.
“Mas, Sekar mengerti sekali pekerjaan mas Danil, namun tetap, tolong tanamkan dalam hati bahwa keluarga harus jadi nomer satu mas.”
“Pastinya sayangku, jangan pernah meragukan itu.”
“Jadi jangan pernah bersedih mas, harusnya semakin semangat. Mas bekerja keras karena tanggung jawab terhadap ribuan karyawan mas. Mereka pun memiliki keluarga yang harus mereka biayai. Tanpa kerja keras, bagaimana mempertahankan apa yang sudah di raih selama ini. Oleh karena itu lakukan tugas dan kewajiban mas sebagai CEO dan suami yang bertanggung jawab. Begitu pun Sekar akan melakukan tugas sebagai istri mas.”
“Terima kasih cintaku, mas mu ini akan bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga.”
“Inilah mas Danil suamiku,” katanya Bangga, sambil mengusap bulu-bulu halus yang menghiasi rahang suaminya.
“Kamu tahu enggak Bee, mas paling suka lihat kamu manja,”
“Mas ini aneh, banyak loh suami yang risih karena istrinya manja, tapi mas malah pengen Bee, manja sama mas.”
“Karena manja kamu beda banget, dan mas enggak risih. Mas suka,” kata Danil sambil memainkan rambut Sekar.
“Peluk dong mas,” pinta nya dengan manja.
Danil langsung memeluk istrinya. “Jangan malu-malu kalau mau manja sama mas.”
“Jangan risih ya, Sekar cuma manja sama mas loh.”
“Wajib, awas ya enggak boleh manja sama orang lain. Kamu tahu kan mas cemburuan,” Ucap Danil dingin.
“Tahu banget,” kata Sekar sambil mengusap dengan lembut rahang suaminya.
“Nanti malam saja dielusnya cantik, perjalanan kita, lumayan panjang. Mas tidak mau kalau tiba-tiba di tengah jalan kita harus cari hotel.”
“Ya ampun mas,” Sekar menatap suaminya sambil menggelengkan kepalanya.
***
__ADS_1