Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Persiapan Menikah


__ADS_3

Ryan mengendarakan motornya menuju tempat makan, dia baru menyadari Rena belum makan sedari siang. Walau istrinya tidak megeluh namun dia sangat sadar untuk memperhatikan kondisi orang yang sangat dicintainya.


Ryan memarkirkan motornya di sebuah cafe milik Ridwan, sahabat terdekatnya. Dia langsung menuju ruang khusus di lantai paling atas.


Ryan menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat Ridwan sedang mencu*bu bibir perempuan yang sedang duduk diatas pahanya itu. Keduanya tentu saja terkejut atas kedatangan Ryan dan Rena.


“Si*lan loe,” kata Ridwan sambil melempar sebuah bantal pada Ryan, yang berhasil ditangkapnya.


“Kalau mau berbuat mesum, kunci dulu pintunya,” ucap Ryan sambil menyuruh Rena untuk duduk disebelahnya.


“Tatap Rena sekarang Ryan,” pinta Nadia, berusaha bangkit ingin, merapihkan kemejanya yang berantakan.


“Santai Nad, enggak akan nafsu lihat loe,” jawab Ryan santai.


“Sekarang Ryan, atau gue bawa kabur Rena,” ancam Nadia kesal.


“Bisa-bisanya kalian berbuat mesum tanpa mengunci pintu.”


“Tidak ada yang berani masuk kesini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kecuali sont*loyo macam loe,” omel Ridwan.


“Santai mas bro, gue lapar nih.”


“Bukannya pesan makanan dulu, malah ganggu orang,” omel Ridwan yang masih memangku nadia.


“Nanggung mas?”


“Tuhan, mimpi apa punya teman macam dia.”


“Mimpi indah jadi kenyataan,” Ryan tertawa sumbang.


“Sudah minta restu?” tanya Nadia.


“Sudah,” jawab Ryan singkat.


Tok ... Tok ... Tok ... pintu ruangan diketuk


“Masuk,” perintah Ridwan.


Dua orang pegawai masuk, yang satu memberikan buku menu, namun ditolak oleh Ryan. “Nasi soto daging satu, nasi goreng pedas satu, dua air mineral,” ucap Ryan.


“Baik mas Ryan, mba Rena mau jus alpukat?” tanya Cici sepupu Ridwan yang menjadi manager disana.


“Boleh ya ay?” tanya Rena, dijawab anggukan oleh Ryan.


“Pesan apapun yang kamu mau Rena,” kata Nadia, dijawab anggukan dan senyuman oleh Rena.


“Mau Ci, makasih ya.” Kemudian Cici dan seorang waitress pergi meninggalkan ruangan, setelah mencatat semua pesanan.


“Terusin, gimana?” tanya Nadia penasaran.


“Beginilah,” jawab Ryan.


“Beginilah apa sih? yang jelas dong” tanya Ridwan penasaran.


Ryan menceritakan kronologis kejadian tadi siang. Ridwan dan Nadia menatap prihatin kedua temannya. Nadia langsung mendekati Rena dan langsung  memeluknya.


“Hari ini kamu lelah, dan pasti belum menangis. Menangislah sayang, ada aku disini,” ucap Nadia sambil memeluk sahabatnya.


Ryan dan Ridwan menatap kekasihnya masing-masing, tidak lama isak tangis yang tadinya kecil semakin membesar, tubuh Rena berguncang sangat hebat. Nadia memeluk semakin erat, seakan mengetahui apa yang harus dilakukannya.


Ridwan menepuk bahu Ryan, mengajak ke balkon. Dia terenyuh, ikut prihatin atas kejadian yang menimpa keduanya sahabatnya.


“Wanita memang mahluk tuhan yang paling sulit dimengerti, mereka terkadang bisa kuat ketika dipaksa harus kuat, namun bisa lemah ketika momentnya tepat,” ucap Ridwan sambil menawarkan sebatang rokok.


“Thanks,” Ryan mengambil sebatang dan mulai membakarnya. Hempasan berat keluar beserta hembusan asap dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


“Semangat bro, loe harus mikir kedepan,” kata Ridwan membuka pembicaraan antara mereka.


“Loe, tahu saat gue berlutut meminta restu tidak ada satu pun tanggapan dari bokap gue dan Rena, mereka berdua hanya mematung, sedangkan ibu dan mama hanya menahan nangis berdiri di belakang,” kembali mengisap rokoknya yang semakin pendek. “Sampai kapan pun saya sebagai orang tua Rena tidak akan merestui hubungan kalian, enggak lama ayah mengatakan hal yang sama. Gue sampai sujud di depan mereka.”


Ridwan memberikan sebotol air mineral pada sahabatnya. “Thanks,” Ryan mengambil dan langsung menghabiskannya.


“Sekarang, apa yang akan loe lakukan?” tanya Ridwan.


“Besok gue akan menikah,” jawab Ryan.


“Secepat itu?”


“Harus! yang penting sah dulu dimata agama dan hukum,” jawab Ryan.


“Gue setuju, harus secepatnya.”


“Iya, dosa gue sudah terlalu banyak. Kasihan anak kita, dan gue enggak mau buat Rena juga malu.”


“Apa yang sudah loe siapin?”


“Belum ada. Sedih gue, berharap bisa memberikan pernikahan impian, sayangnya hal ini yang harus terjadi.”


“Minimal cari maharnya, mas kawin. Kepikiran apa?”


“Belum kepikiran,” jawab Ryan, tersadar dia ingin buru-buru menikah namun belum terfikir mahar apa yang akan diberikan.


“Nekad, enggak habis pikir gue.”


“Otak gue buntu, yang ada di pikiran gue, malam ini Rena harus tidur nyaman dan besok kita akan menikah.”


“Loe pikirin maharnya mau apa?” tanya Ridwan kedua kalinya sambil menatap pria disebelahnya. “Jangan lupa juga beli cincin kawin, bukti loe serius,” Ridwan masih melirik ke arah Ryan.


Ryan mengusap wajahnya berkali-kali dengan telapak tangannya. “Sumpah gue blank banget bro,” jawabnya.


“Gaya loe,” kata Ryan sambil menggelengkan kepalanya.


“Jangan salah, masalah pernikahan lagi gue pelajari, masih ragu gue buat nikahin Nadya,” kata Ridwan sambil tersenyum lebar. “Loe tahu enggak kalau cincin itu jangan ada yang meliuk-liuk, usahakan tetap bulat.”


“Kenapa?” tanya Ryan memotong perkataan Ridwan.


“Main potong saja, sabar makanya belum juga gue jelasin. Cincin yang melingkar pada jari loe dan jarinya Rena, selaku pasangan loe nanti, menunjukkan komitmen yang kuat antara suami istri untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama-sama.”


“Bucin loe.”


“Loe yang bucin, sekarang yang penting mahar dulu. Loe harus tahu kalau mahar itu salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan. Itu dulu deh yang loe pikirin,”


“Si*lan, loe pikir gue enggak belajar agama apa,” omel Ryan.


Ridwan ketawa kencang banget. “Kan loe lagi pusing mas bro, makanya gue ingetin lagi.”


“Jadi apa saja yang harus gue siapin?”


“Mahar lah, mas kawin. Wajib hukumnya. Kira-kira maharnya mau apa? yang umum kan seperangkat alat sholat sama emas atau uang. Loe mau apa? tapi kalau enggak salah disunahkan mahar itu enggak boleh kurang dari 10 dirham dan enggak lebih dari 500 dirham. Seingat gue ya, satu dirham itu setara dengan 2,975 gram emas.”


“Yang benar kalau kasih info, benar enggak nih?”


“Loe ya, tanya ustad lah kalau mau lebih yakin, itu hasil rangkuman gue ikut kajian di rumah Fajar.”


“Gaya loe, ikut kajian, nah tadi apa yang loe lakuin sama Nadia, mesum begitu,” kata Ryan mengskakmat sahabatnya.


“Iya, sebulan sekali bro. Butuh proses lah kalau mau jadi orang benar,” jawab Ridwan.


“Jadi gue siapin mahar ya, terus apalagi?”


“Gue telfon Fajar bentar lagi, biar tahu apa saja yang harus loe siapin, takut salah gue.”

__ADS_1


“Fajar mana sih?”


“Fajar Ramadhan Aqil”


“Dokter?” katanya.


“Iya Fajar mana lagi teman kita.”


“Iya, masa  gue lupa,” kata Ryan sambil membasuh wajahnya untuk kesekian kali dengan telapak tangan.


“Makan tuh cinta.”


“Loe pasti bakal ngalamin, apa yang gue rasain saat ini.”


“Loe berdua memang gila, berani-beraninya melawan keluarga,” ucap Ridwan sambil memukul lengan sahabatnya.


“Cinta.”


“Makan tuh cinta.”


“Memang lagi gue makan nih cinta,” jawab Ryan sambil mematikan puntung rokok dalam asbak, entah sudah berapa batang yang dia habiskan.


“Loe mau menikah dimana?” tanya Ridwan, untuk kesekian kalinya.


“Belum tahu gue masih blank, yang pasti besok gue harus menikah, di KUA langsung  juga enggak masalah, Rena sudah menyetujuinya. Gue takut kedua orang tua kita melakukan hal yang enggak bisa gue bayangin.”


“Loe tinggal dimana?”


“Belum tahu, malam ini mau bawa Rena ke hotel, kasihan hari ini berat banget untuk dia pastinya.”


“Yakin mau bawa ke hotel?”


“Iya yakin lah, gue punya tabungan,” jawab Ryan.


“Bukan itu, gue tahu banget loe punya tabungan, kalau pun loe enggak ada pegangan, gue kan bisa bantu loe sementara,”  kata Ridwan. “Maksud gue bukan itu, tapi apa loe yakin bawa ke hotel, sementara loe tahu banget bokap loe berdua enggak akan ngebiarin kasus ini begitu saja. Loe ngerti enggak maksud gue?” tanya Ridwan menatap sahabatnya yang sibuk menatap ke arah jalanan.


“Sorry, maksud loe apa?”


“Enggak akan bener kalau di lanjutin. Sudah sekarang makan dulu kalian berdua, Rena juga sudah berhenti nangis. Kasihan baby dalam perut dia,” ajak Ridwan. Kembali Ryan mengikuti sahabatnya.


“Makan duluan ay,” kata Rena ketika melihat Ryan menghampiri dirinya.


Ryan tersenyum dan mengangguk, tidak lupa mengelus perut Rena penuh sayang. “Baik-baik didalam perut mama ya sayang, makan yang banyak.”


“Pengen dipanggil bunda, boleh?” tanya Rena, berharap.


“Boleh apapun yang bunda mau,” katanya sambil mencium kepala Rena.


“Gue sama Nadia kebawah dulu ya, kalian makan dengan santai,” kata Ridwan. Disambut anggukan keduanya.


Bersambung...


***


Mohon maaf banyak typo...


Kisah Rena dan Ryan tidak kalah menarik kan, semoga kalian masih setia membacanya.


Ditunggu like, komen dan votenya ya...


Terima kasih


 


 

__ADS_1


__ADS_2