
Pembicaraan masih berlanjut, dengan topik yang sama kitchen set dan island kitchen. Selamat datang di keluarga Sekar dan Danil, mari kita lanjutkan pembicaraan yang belum selesai.
“Mas pikir kitchen set saja tidak cukup Bee.”
“Aku tidak pernah menuntut apapun mas.”
“Kamu tahu Bee, si island kitchen ini. MMMM ..., sedikit susah ya ngomongnya,” ucap Danil. "Sebenarnya ini tuh apa sih?"
“Namanya tidak familier di kita. Jadi Island kitchen ini adalah sebuah meja terpisah dari kitchen set di belakang kita. yang membedakan adalah meja ini memiliki akses terbuka dari semua sisi. Biasanya terletak di tengah dapur, karena meja ini multi fungsi. Keberadaannya bisa menambah ruang untuk bekerja, bisa juga menjadi meja makan, dan rak-rak yang ada bisa di gunakan untuk apapun, tidak mengganggu kenyamanan ruang gerak dalam dapur.
“Sebut saja meja makan kalau gitu,” ucap Danil.
“Tapi dia bukan meja makan utama mas,”
“Berfungsi sebagai meja makan juga kan?”
“Iya mas."
"Mas tidak mengerti fungsinya, mas hanya ingin menghabiskan waktu disini.”
“Kenapa ingin menghabiskan waktu di meja ini?”
“Selalu membayangkan saja, menghabiskan waktu sambil minum kopi sambil memandang kamu Bee yang sibuk membuat kue atau memasak,”
“Ya ampun mas, jangan pernah berfikiran apa yang kamu baca di novel atau lihat di film-film itu sesuai dengan kenyataannya,” Sekar menatap suaminya, posisi mereka hanya di batasi meja panjang berwarna abu-abu muda itu.
“Mas tidak pernah membaca novel Bee,”
“Baiklah, jangan sama kan dengan film.”
“Kenapa?”
“Mas, pada kenyataanya realita itu lebih kejam dari pada dunia maya. Jangan pernah bandingkan keduanya, karena kenyataan dalam hidup tidak akan sejajar atau berbanding lurus dengan keindahan yang di suguhkan di film-film romantis. Nih ya, misalkan, contoh. Mas mau makan apa?”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Makan apa?”
“Thinking fast (berfikir dengan cepat)!”
“Kamu mengajak mas main teka teki?”
“Mas Danil, Sekar serius!!!”
“Kata siapa mas tidak serius?”
“Ya ampun mas Danil!”
“Iya Bee,” Dani masih sajal menggoda istrinya.
“Ya Tuhan!!!”
“Makan apa ya?”
“Misalkan mas Danil mau makan semur jengkol ...,”
“Kok semur jengkol sih?”
“Ya ampun Raja ku, bisa diam sebentar saja.”
“Baik ratuku,” ucap Danil sambil menaikan alisnya menggoda Sekar.
“Back to topic (kembali ke topik)! Misalkan mas mau makan semur tahu ...,”
__ADS_1
“Tadi semur jengkol, kok sekarang semur tahu?”
Sekar menutup pelupuk matanya, menarik nafas panjang dan “Cup,” kecupan singkat mendarat di bibir mungilnya, membuat istri raja gombal ini membuka matanya.
“Hembuskan nafasnya Bee, jangan di tahan terus. Masa belum satu jam sampai rumah, status suami mu ini bisa berubah menjadi DUREN!”
“Ucapan itu Doa loh mas,” mimik wajah Sekar terlihat sangat datar, tatapan tajamnya bagai pedang harakiri.
Danil merasa bersalah di tatap seperti itu oleh istrinya. Dia tidak bermaksud serius dengan ucapannya. “Bee, mana ada doa seperti itu sayang.”
“Makanya kenapa orang tua selalu bilang, “Ucapkan lah yang baik-baik, terlebih dari mulut seorang ibu. Karena ucapan itu adalah doa.” Bunda selalu bilang begitu”
“Berfikirlah sebelum berucap, itulah yang biasa dilakukan oleh orang bijaksana, tapi apalah kita kan mas. Ilmunya masih cetek, ikut kajian pun tergantung siapa yang ngajak. MMM ..., itu aku sih,” ucapnya jujur.
“Yang memiliki andil paling besar dalam mengatur ucapan itu adalah hati!” tegas Sekar. “Seorang ustad pernah berkata, aku lupa ikut kajian di mana waktu itu.”
“Hati itu ibarat raja. Sedangkan anggota tubuh lainnya, termasuk lidah adalah prajuritnya. Mereka akan mengikuti titah raja, tidak peduli perintah itu baik atau buruk. Jadi intinya jaga hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini,” ucap Sekar sambil menyanyikan karya Aa Gym.
Danil mengajungkan kedua jempolnya. “Tuh kan, mas sih,” katanya menyalahkan suaminya. “Bukan maksud menggurui loh. Mas Danil kan imamnya, aku makmum tapi ...,” ucapnya menggantung. “Ah, pokoknya ini salah mas, jadi mas harus sabar menghadapi kecerewetan aku.”
“Kapan mas tidak sabar menghadapi nyonya banyak mau yang bawel bin cerewet ini.”
“Mas Danil!”
“Back to topic (kembali ke topik),” pinta Danil.
“Cukup lah mas, sudah malas membahasnya.”
“Tidak bisa! Kamu harus menyelesaikan apapun yang sudah kamu mulai Bee.”
“Aturan dari mana itu?”
“Aturan mas lah. Bukankah makmum harus menuruti imam?” tanyanya meminta pembenaran, sambil tersenyum jahil.
“Aku sudah tidak semangat lagi.”
Sekar mengangkat kedua tangannya sambil memegang kepala. “Rasanya aku butuh liburan lagi.”
Danil tersenyum menatap istrinya. “Harap bersabar ini ujian.”
Kembali menarik nafas dan cepat ia hembuskan. “Sampai mana tadi?” tanyanya dan langsung di jawab sendiri. “Jadi misalkan mas mau makan tumis kangkung ...,” Sekar mendelik menatap suaminya yang cekikikan. Lelaki di depannya menutup mulut dengan tangan kanannya dan tangan kiri mengisyaratkan agar dia melanjutkan ucapannya.
“Kalau masak kangkung biasanya pakai bawang merah, bawang putih, terasi, dan bumbu lainnya. Menurut mas, kalau kita masak aromanya tidak akan menempel di pakaian?”
“Tergantung.”
“Apa nya yang tergantung. Sudah pasti menempel lah mas. Iya kalau masaknya di film, kamuflase doang kalau itu sih.”
“Santuy dong Bee,” ucap Danil menirukan gaya bahasa anak muda zaman milenial.
“Mas tahu tidak? mengapa banyak pria pria di luar sana yang “jajan”,” katanya sambil mengangkat kedua tangannya dan menggerakan jari telujuk dan jari manisnya naik turun mengisyaratkan arti ucapannya.
“Mas tidak mau tahu.”
“Mas harus tahu, karena problematik ini banyak terjadi di perkotaan.”
“Ok lanjut kan,” ucap Danil.
“Tujuh puluh tujuh persen, laki-laki berselingkuh itu karena ...,”
“Mengambil data survei dari mana, buktinya?”
“Ya ampun mas, kamu tidak percaya sama aku?”
“Bukan tidak percaya sayang, kamu bisa di tuntut bila berbicara tidak berdasarkan fakta.”
__ADS_1
“Kenyataannya banyak fakta yang ditutupi. Mas bisa cek, nanti aku berikan datanya.” Danil megacungkan jempol tangan kanannya.
“Alasan perselingkuhan itu terjadi karena rasa cinta yang berkurang.”
“Tidak masuk akal Bee,”
“Masuk akal mas. Sekarang begini, misalkan kita ...,”
“Tidak, tidak tidak. Ibaratkan orang lain jangan kita,” pinta Danil.
“Baiklah, misalkan sebuah keluarga memiliki tiga orang anak. Suami bekerja, istri menjadi ibu rumah tangga, dan misalkan anak pertama sudah masuk SD, anak kedua masih di TK, dan si bungsu bayi, kira-kira umur dua tahun lah ya.”
“Lanjut,”
“Aktivitas setelah bangun tidur, pagi-pagi ibu harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk suami, dan kedua anaknya. Belum lagi di masa sekarang, banyak sebagian ibu pasti ingin memberikan asupan gizi yang baik untuk keluarganya, contoh dengan membuat bekal. Itu juga bisa termasuk dalam kategori berhemat. Bisa kamu bayangkan mas berapa waktu yang diperlukan seorang perempuan untuk menyiapkan semua itu.”
“Menyiapkan sarapan dan bekal, menyiapkan pakaian untuk suami dan anak-anak, belum lagi satu minta ini yang satu minta itu. Terkadang, anak kecil masih bisa di atur dari pada seorang suami. Sorry to say this (maaf untuk mengatakan hal ini) ya mas, aku tidak bilang itu kamu, karena aku belum merasakannya.”
“Ibarat sebagai anak, maka suami ini adalah anak sulung. Terkadang dari curahan hati sebagian istri, anak sulung itu paling egois, dan banyak mau nya. Semoga Mas Danil tidak seperti itu,” doa Sekar dalam sela ucapannya.
“Tentu tidak dong.”
“Ya kita lihat nanti lah mas,” Sekar tersenyum.
“Lanjut.”
“Nah permasalah bukan hanya disitu, misalkan anak diantar bapaknya ke sekolah sekalian jalan ke kantor, itu kalau lagi tidak ada meeting pagi, kalau ada, pasti ibu lah yang mengantarnya. Kebayang enggak mas, ritual pagi yang harus dijalankan seorang ibu?”
Danil mengangguk. “Aku harap mas bisa membayangkannya.”
“Ok itu belum sampai setengah hari. Ketika ibu pulang mengantar anak dia pasti mengurusi si bungsu, sambil menyiapkan makan siang, dan banyak hal yang harus dia kerjakan sebagai ibu rumah tangga.”
“Kalau si ibu memiliki asisten rumah tangga, kalau tidak. Mas bisa bayangkan satu hari buat seorang ibu itu bukan dua puluh empat jam lagi, tapi dua puluh delapan jam, bisa jadi tiga puluh jam jika anak ada yang sakit.”
“Mulia kan menjadi seorang ibu,” ucap Danil.
“Memang, tapi untuk sebagian pria diluar sana, hal ini tidak berlaku mas.”
“Kenapa?”
“Karena mereka menuntut istrinya selalu wow.”
“Seperti apa wow itu?”
“Tetap cantik, tetap langsing, tetap menarik dan sebangsanya.”
“Tidak fair dong.”
“Mana ada yang fair di dunia ini mas?”
“Jangan meng-underestimate(meremehkan) pria Bee.”
“Bukan meng-underestimate pria mas, ini tuh kenyataan yang terjadi. THIS IS REAL! (ini nyata) Mas Danil. Ada dan terjadi dalam kehidupan nyata. Dimana seorang suami berselingkuh karena tidak mendapatkan "wow" dari seorang istri.
“Kenapa hanya pria?”
“Bukan hanya pria, wanita pun banyak mas, aku mengakuinya. Namun perselingkuhan karena istri tidak “wow” ini meningkat tajam. Alasan ini menjadi peringkat satu dari lima alasan utama mengapa suami berselingkuh.”
***
Mari kita istirahat sejenak pembahasan terlalu berat kelihatannya.
Jangan lupa like, komen, dan vote.
Terima Kasih.
__ADS_1