
Danil beserta ayah Bagas dan Papa Andi terlibat pembicaraan yang cukup serius. Meja bulat di samping meja bar menjadi saksi bisu, alotnya pembicaraan mereka. Terlihat Bisma, Indra dan Tara mengemukakan berbagai argumen.
Rio yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya pun kali ini ikut berada dalam rapat penting. Entah sejak kapan, tiba-tiba sudah ada papan tulis di samping meja bar. Penuh coretan yang hanya berupa inisial saja. B, R, D, S, RN, H, Banyak lagi inisial yang tertulis oleh spidol berwarna hitam di papan tulis putih tersebut. Sekar menatap malas dan mengalihkan pandangannya pada taman di samping bar.
Sesekali Sekar menatap kedua supermom dan suaminya. Ia merasa semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Dengan langkah pasti kini dia menuju ke arah dapur, mulai menyibukkan dirinya, mencari berbagai bahan masakan yang ada.
Tidak lama suara mixer mulai terdengar samar, mungkin karena terlalu fokus dengan pembahasan hal itu tidak mengganggu siapa pun.
Dapur adalah tempatnya berkreasi, ia dapat menghabiskan seharian waktunya bila sudah sibuk di tempat ternyamannya. Dengan apron berwarna kuning muda, ia bergerak ke kanan dan ke kiri, mengolah berbagai bahan menjadi beberapa macam camilan. Risoles, lumpia, donat dengan berbagai toping, dan puding, sudah siap di santap. Sekar nampak puas menatap hasil kerjanya yang dibantu oleh Ibu Ita.
“Tidak salah Papa Andi keukeuh untuk menjodohkan kalian,” ucap Mama Fina. “Semakin cinta mas mu dimanjakan dengan berbagai macam makanan seperti ini.”
“Kesukaan mas Danil masih dalam oven mah,” ucap Sekar.
“Jangan bilang kamu buat pasta,” tebak mertuanya.
“Iya mah, Sekar membuat pasta, dan juga brownies.”
Pasta adalah makanan olahan yang di gunakan pada masakan Italia, terbuat dari adonan tidak beragi. Berbahan dasar tepung, yang dicampur dengan air dan telur dan dibentuk menjadi lembaran-lembaran atau bentuk yang beragam. Jenis pasta yang populer adalah spageti, makaroni, dan lasagna, namun tidak hanya itu masih banyak jenis pasta yang lainnya.
“Kamu buat pasta apa Sekar?”
“Sekar hanya membuat tiga macam mah, semua kesukaan mas Danil. Makaroni keju, spageti, sama Lasagna.”
“Perasaan kita mengobrol tidak terlalu lama ya, dan anak perempuanku sudah menyelesaikan berbagai camilan.”
Bunda hanya tersenyum membalas ucapan besannya. Inilah yang biasa anak semata wayang lakukan bila tidak ada hal yang dikerjakannya.
“Ma, kalau papa tidak masalah dengan makanan kan?”
“Tidak sayang. Kenapa memangnya?”
“Sekar membuat brownies takut papa tidak dapat memakannya.”
“Tidak masalah sayang, papa mu aman dari masalah diabet.”
“Syukurlah, karena Sekar takut papa tidak dapat memakannya.”
Brownies, sebuah makanan yang berbahan dasar coklat dapat dipanggang ataupun dikukus. Lazimnya berbentuk persegi, datar atau bar. Kue ini dikembangkan dan dipopulerkan di Amerika Serikat pada akhir abad sembilan belas.
Sulit memastikan asal usul kue coklat ini, namun kue bantat yang berbahan dasar coklat ini, sudah banyak dimodifikasi dengan beragam aneka rasa tambahan.
Mama Fina menatap penuh kagum pada Sekar.“Luar biasa, suatu saat kamu akan memiliki cafe sendiri.”
“Punya satu toko kue saja masih kelimpungan mah, belum terpikir ke arah sana.”
__ADS_1
“Mas mu bisa melar badannya bila tidak di jaga, jika kamu manjakan seperti ini.”
“Ada yang membicarakan aku?” tanya Danil pada Mama Fina.
“Kamu lihat mas, di tengah kalian rapat, istrimu membuat berbagai macam kue. Paling utama dia membuat aneka pasta dan brownies kesukaan kamu.”
“Istriku memang paling juara. Terima kasih bunda, telah menghadirkan bidadari paling segalanya untuk seorang Danil,” ucapnya mengambil risoles ragout keju yang ada di piring.
“Bagaimana rasanya mas?”
“Enak, mas suka,” jawabnya sambil menikmati kembali camilan yang dibuat istrinya sambil mengambil rawit untuk menambah kesempurnaan rasanya.
“Kalau pengantin baru semua juga enak ya Nil. Terlalu asin pun di bilang enak, hambar pun akan terasa nikmat.”
“Danil tidak bohong ayah, ini enak sekali.”
Sekar masuk sambil membawa loyang yang berisi lasagna, spagheti, dan makaroni. Semua menatapnya, yang ditatap malah asik sendiri dan tidak sadar.
Danil tidak berkedip menatap istrinya yang sedang fokus pada hasil masakannya. Dia pun menikmati pemandangan dihadapannya.
“Mohon dimaklumi, kalau Sekar sedang serius dia tidak akan peduli dengan sekitarnya,” ucap Bunda Rianti, takut Danil salah sangka dan merasa diabaikan.
“Tidak apa-apa bunda, istriku memang seperti itu. Selalu serius dan fokus bila sedang mengerjakan sesuatu,” ucap Danil.
“Mau makan yang mana dulu?”
“Mau kamu saja,” ucap Danil sambil menatap istrinya, dan menarik lembut agar duduk dipangkuannya.
“Mas Danil!” Sekar protes melihat kelakuan suaminya
“Kelakuannya persis seperti Papa Andi,” ucap Mama Fina.
“Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” ucap bunda menggoda menantunya.
“Jika ada kesempatan apapun Danil lakukan bunda, agar dapat memberikan kalian cucu secepatnya.”
“Kamu menyebalkan mas.”
“Sok jual mahal! Jauh di lubuk hati yang terdalam pasti suka dong.”
Sekar ingin bangkit dari pangkuan Danil, namun tiba-tiba tubuhnya terasa oleng. Danil sempat menangkap tubuh istrinya.
“Kamu kenapa Bee?” tanya Danil cemas.
“Tidak apa-apa mas, hanya sedikit pusing ketika bangun dari duduk,” jawabnya.
__ADS_1
Bunda memberikan segelas air mineral, Sekar lalu meneguknya hingga habis, dan menyimpan gelas diatas meja.
“Jangan kurang minum Sekar, kebiasaan kamu muncul lagi?”
“Tidak bunda.”
“Pasti semalaman kurang tidur, kamu terlalu memikirkan masalah ini.”
“Tidak bunda, semalam aku tidur nyenyak.”
“Jangan bohong Bee,” Danil terlihat khawatir.
“Aku tidak bohong mas,” kemudian Sekar tersadar dengan ucapannya.
“Tadi pagi tumben sekali mas mendengar kamu mengigau. Hal ini sudah kita bicarakan tadi kan.”
“Tanpa kamu sadari kamu terlalu stress Sekar,” Ayah Bagas, berdiri kemudian mengelus kepala anaknya.
“Pasrahkan, ayah yakin semua ini akan berakhir secepatnya. Jangan terlalu dipikirkan, percaya pada Mas Danil.”
“Bagaimana bila kalian kembali ke rumah ayah?” tanya ayah Bagas pada Danil.
Danil tampak terdiam, memikirkan tawaran ayah mertuanya. Bagaimana jika ayah dan papa yang menginap disini?”
Ayah menatap bunda, yang ditatap hanya menatap balik tanpa merespon apapun. Seakan berkata semua keputusan ada di tangan suaminya.
“Maafkan ayah Sekar, Danil, ayah memilih pulang ke rumah. Kita akan memantau semuanya dari sana. Mungkin setiap hari, kita yang berkunjung ke sini, atau kalian yang ke sana.”
“Kenapa tidak dibuat mudah dengan menginap disini?”
“Suatu saat kamu akan mengerti mas, bahwa tinggal di rumah sendiri itu ada sensasi yang sulit diungkapkan, hanya dapat dirasakan,” ucap ayah Bagas.
Bunda Rianti tersenyum menatap suaminya. “Rumah itu tempat kita pulang, terlepas bagaimana bentuk, rupanya, apa yang ada di dalamnya. Ada rasa rindu untuk selalu kembali pulang.”
“Mohon percaya pada Danil ayah, bunda,” pintanya. “Danil akan melindungi bidadari kalian,” janjinya.
“Ayah mempercayaimu Nil,” ucap Ayah Bagas sambil menepuk bahu menantunya.
“Terima kasih ayah.”
***
__ADS_1