Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Dukungan Princess


__ADS_3

Hampir satu jam Ryan menggendong Rena, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan terlihat seperti gudang namun terawat, temboknya berwarna abu abu tua dengan pagar tidak terlalu tinggi berwarna hitam.


“Ay, cukup turunkan aku,” pinta Rena, yang sejujurna dia tidak enak melihat lelakinya kelelahan.


Dengan hati-hati Ryan menurunkan Rena dari gendongannya, tubuhnya terasa sangat pegal, namun ia masih sempat mengelus perut rata calon istrinya. Rena mengusap punggung Ryan dengan lembut terutama dibagian pinggangnya.


“Makasih sayang,” ucap Ryan sambil mencium telapak tangan Rena.


“Ini tempat apa?” tanya Rena bingung.


Ryan melihat ke kiri dan ke kanan, seakan memastikan tidak ada yang mengikutinya. “Silahkan masuk sayang, mari kita bicara di dalam,” ajaknya.


Rena mengikuti Ryan, sambl menyusuri setiap sudut ruangan itu. “Bengkel ini punya siapa?” tanyanya ketika ia telah masuk ke ruangan.


Ryan melepaskan genggaman tangannya dan mengambilkan sebuah kursi lalu menyuruh Rena untuk duduk. “Tunggu sebentar,” katanya sambl masuk ke sebuah ruangan di pojok kanan. Hanya sebentar saja, tidak lama dia keluar sambil membawa sebotol air putih dingin.


“Minum dulu sayang,” pinta Ryan.


“Kamu sudah minum ay?”


Ryan mengangguk. “Kenapa sih kamu selalu mengkhawatirkan orang lain, ayolah minum dahulu, kasihan anak kita dia pasti kehausan,” pinta Ryan, dan perempuan yang duduk di depannya menuruti.


“Bengkel ini milik aku dan Gara, tapi orang-orang tahunya bengkel ini milik Gara. Ini satu-satunya penghasilan aku, hasil dari balapan, modifikasi mobil dan lainnya. Intinya ini adalah hasil dari keringat aku sendiri.”


“Apakah kamu keberatan jika aku mempercayakan bengkel ini pada Gara?”


Rena berfikir cukup lama, matanya menatap seluruh isi bengkel. “Tidak, tapi kenapa?”


“Aku takut usaha ini akan ditutup oleh ayah, bila ketahuan aku terlibat di dalamnya. Kamu tahu kan kedua orang tua kita tidak setuju atas hubungan ini, aku takut ini akan mempengaruhi keberadaan bengkel ini.”


“Baiklah, kita percayakan pada Gara. Tapi...” Rena ragu untuk mengatakannya, dia hanya menatap Ryan.


“Tapi apa sayang?” tanya Ryan. “Bicaralah, jangan takut.”


“Bila suatu saat nanti, bengkel ini hilang...” Rena tiba-tiba terdiam, dan Ryan masih menunggu kelanjutannya. “Maksudnya, kamu ngerti enggak ay,” Rena terlihat tidak enak untuk mengatakannya.


“Aku mengerti, maksudnya kalau tiba-tiba bengkel ini hilang dari kepemilikkan aku kan?”


“Iya.”


“Maka tugas kamu untuk mengingatkan aku, bahwa aku harus merelakannya.”


“Kenapa?”


“Tidak ada alasan, tapi aku percaya pada Gara. Bila hal itu terjadi, pasti ada sesuatu hal penting yang terjadi. Untuk itu, tolong kuatkan aku untuk mengikhlaskannya,” pinta Ryan.


“Semoga hal itu tidak terjadi ya,” harapan Rena.

__ADS_1


“Aku pun berharap seperti itu, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.”


Ryan teringat pesan Gara, dia berjalan menuju pojok sebelah kiri, terlihat menghampiri beberapa sepeda motor yang terparkir berjajar. “Kamu suka yang mana sayang?”


Rena menatap calon suaminya. “Maksudnya?”


“Kamu pilih salah satu mau yang mana,” tunjuk Ryan pada beberapa sepeda motor yang berjajar.


Rena berjalan mendekati Ryan, menatap bingung mana yang akan dia pilih. “Aku enggak ngerti ay,” jawabnya.


“Kamu saja yang milih, tapi enggak mungkin kita akan memilih salah satu dari motor besar itu,” tunjuk Rena, pada beberapa motor besar yang berada di parkiran.


“Tidak sayang, kita tidak akan dapat membiayainya.”


“Terserah kamu saja ay,” Rena kembali menyerahkan pada Ryan.


“Putih atau hitam?” tanya Ryan.


“Hitam sepertinya,” pilih Rena.


“Baiklah, kalian baik-baik saja di sini ya,” kata Ryan pada Honda Goldwing warna putih, Touring hitam Harley Davidsonnya, tiga Giant Vespa warna putih, biru, dan motif batik hasil modifikasinya.


Ryan mencari tas hitam yang dimaksud Gara, satu persatu motor diperiksanya. Wajahnya mulai putus asa.


“Cari apa ay?”


“Tas hitam, tadi Gara menyuruh aku membawa tas hitam, isinya milik aku katanya,” jawab Ryan, masih terus mencari.


“Apa isinya?’ tanya Rena penasaran, sambil mengikuti Ryan yang berjalan kembali ke tempat semula.


Lelaki ganteng di depannya mengeluarkan semua isi tas. Ada satu set kunci, satu time planner, dua pouch yang belum diketahui apa isi dalamnya, serta selembar kertas berisi tulisan tangan Gara.


“Mas Ryan, bila terpaksa mas harus menemukan surat ini, maka pada saat ini saya tidak bisa menjaga mas setiap saat, seperti sebelumnya. Maafkan saya, saya tidak tahu mengapa saya menyimpan ini sebelumnya, namun semenjak mas berhubungan dengan mbak Rena, saya takut terjadi sesuatu hal di kemudian hari. Saya simpan, surat-surat penting mas dalam bentuk fotokopi, mohon maaf untuk kartu keluarga, semua di simpan bapak, saya tidak bisa mengambilnya. Ada buku tabungan, satu buku berisi hasil keuntungan bengkel, satu lagi hasil dari berbagai kompetisi yang mas ikuti. Semoga ini dapat menjadi modal, bila dikemudian hari terjadi sesuatu hal sama mas. Tidak ada yang perlu mas Ryan takutkan bila akan melangkah, saya berjanji akan menjaga ibu dan princess. Semoga mas Ryan selalu dalam lindungan Allah. Semangat selalu mas Ryan, mohon maaf saya tidak bisa mendampingi mas dimasa-masa kedepan, tolong jaga diri mas dan mba Rena. Hormat saya, Gara.”


Ryan melipat surat itu, dan menyimpannya di atas meja, dia mulai memeriksa isi tas kecil yang dimaksud Gara. Tubuhnya berguncang hebat, dia tidak menyangka penghasilan bengkelnya bisa mencapai angka yang lumayan fantastis. Cukup untuknya memulai sebuah usaha.


“Besok kita akan menikah, apapun yang terjadi secepatnya kamu harus menjadi istriku ay. Apakah kamu setuju?”


Rena mengangguk menyetujui ucapan Ryan, dia tersenyum menatap ketulusan cinta lelakinya. Ryan menatap calon istrinya dan tersenyum manis, walau gurat kelelahan terlihat dari wajahnya.


“Malam ini, kita akan menginap di hotel ya,” pinta Ryan.


“Tidak sayang uangnya ay?”


“Tidak. Aku ingin istri dan anakku beristirahat dengan nyaman setelah kita melewati hari yang berat,” jawabnya sambil tersenyum menatap Rena.


“Jangan memaksa ay, kedepannya kita butuh banyak biaya. Aku tidak masalah tidur dimana pun, tenang saja aku gampang beradaptasi” kata Rena cemas.

__ADS_1


“Tenang sayangku, jangan banyak pikiran. Kamu harus fokus terhadap kehamilanmu saja. Siap untuk jalan?” tanya Ryan, dijawab anggukan oleh calon istrinya.


Tulilit...Tulilit...Tulilit... ponsel Ryan berbunyi, dia menatap tulisan yang terlihat di layar, wajahnya memperlihatkan guratan bingung.


“Hallo,” sapanya memulai pembicaraan.


“Abaaaaaaaaaannnnnnnnnngggggggg,” teriakan nyaring dan panjang terdengar dari ujung telepon.


“Ada apa princess, kenapa kamu pakai telefon Gara?”


“Kenapa abang pergi, abang sudah tidak sayang ibu dan aku, sedari tadi ibu menangis, mengapa abang tega?”


“Maafkan abangmu ini sayang,” Ryan tidak kuat mendengar suara tangisan adik perempuannya.


“Video call now!” Adik semata wayangnya mematikan telepon secara sepihak. Ryan mengusap wajah dengan telapak tangannya, kemudian mengaktifkan video callnya.


“Abang lihat aku,” katanya ketika panggilan itu terjawab.


Dengan tersenyum Ryan menatap adik perempuannya, dia berusaha tersenyum untuk Vania, princess hatinya setelah ibu.


“Abang jelek, kuyu, mata kelelahan tampak tidak ganteng sekali. Mana kakak ipar?” tanyanya antusias.


Ryan menggeser posisi, mendekati Rena memenuhi permintaan adik kesayangannya. Rena tersenyum menatap layar ponsel.


“Waw abang, kakak ipar sangat cantik sekali, tidak berbeda dengan foto yang abang tunjukan tempo hari,” katanya tulus. “Hallo kakak ipar, aku Vania princess kedua di hati abang Ryan setelah ibu. Maafkan kakak ipar harus jadi princess ke tiga, jangan marah ya kakak, tapi Vania tahu, cinta tulusnya abang hanya untuk kak Rena seorang,” cerocos Vania tanpa henti.


Rena tersenyum mendapat sambutan baik dari calon adik iparnya, setelah melewati kejadian tadi siang, keceriaan Vania membuat Rena dan Ryan merasa sangat bahagia terlebih ada yang mendukung hubungan mereka.


“Malam ini, abang tidur dimana?” tanya Vania polos.


“Jangan khawatir, abang dan kakak ... kita berdua pasti baik-baik saja,” jawab Ryan.


“Baiklah abang, jaga kondisi kalian. Kakak ipar, sehat-sehat selalu, jaga calon ponakan aku baik-baik ya. Vania mencintai kalian.”


“Mana Gara?”


“Iya mas, Gara hadir di samping Vania. Aku pergi, sudah aku ambil titipannya.”


“Baik mas, hati-hati.”


“Abang, ada salam dari ibu, katanya ibu selalu sayang kalian berdua. Bye abang,” katanya pamit dan layar pun mati. Ryan sadar ada yang tidak beres, namun dia sudah mempercayakan semuanya pada Gara. Segera dia mengajak Rena meninggalkan tempat, untuk mencari tempat beristirahat..


***


Bersambung...


Masih seputar kisah Rena dan Ryan, semoga kalian masih setia membacanya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya...


Terima kasih


__ADS_2