Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Pertemuan Tidak Sengaja


__ADS_3

Sekar tampak kewalahan menghadapi Danil. Ia risih mendapat Tatapan dan senyuman orang yang melihat mereka berdua. Danil tidak peduli dengan semua itu, justru dia dengan sengaja memamerkan sikap posesifnya.


Sekar memilih sayur dan berbagai bahan masakan untuk persediaan, dengan cekatan ia memilih dan memasukan dalam troli belanjaan. Pekerjaan menjadi lambat karena suaminya tidak melepaskan genggaman, membuat Sekar semakin kesal.


“Mas!”


“Tidak ada perdebatan sayang, selesaikan semuanya sehingga kita bisa cepat pulang.”


“Bagaimana bisa cepat, mas membuat gerak aku terbatas, dan ini,” katanya sambil menunjukkan genggaman tangan mereka berdua. “Ini, faktor utama memperlambat waktu kita mas,” ucapnya kesal.


“Jangan marah-marah ah, nanti cepat tua.”


“Kamu menyebalkan mas.”


“Aku sudah tahu, dan kamu selalu saja mengutarakan kebencianmu padaku sayang.”


Sekar menghembuskan nafas beratnya, semakin dia merengek semakin tidak di hiraukan oleh Danil. Batu tidak mungkin dilawan dengan batu, namun air akan mengikis batu cepat atau lambat. Kali ini dia pasrah.


“Jangan marah-marah cantik, nanti kamu cepat tua.”


“Hidup aku akan sepuluh tahun lebih cepat bila bersama kamu mas.”


Danil tertawa kencang mendengar jawaban istrinya. “Tidak mungkin, jangan terlalu berandai-andai sayang. Nikmatilah, suatu saat kamu akan sangat merindukan hari-hari penuh kegombalan bersama mas mu tersayang. Ketika saat itu tiba aku akan jauh lebih merindukan wajah kesalmu ini.”


“Mengapa kata-kata kamu selalu merugikan aku ya mas?”


“Merugikan bagaimana Bee?”


“Ah sudahlah mas, kamu selalu saja punya trik untuk membuat aku kesal.”


“Jangan kesal, setelah ini kita makan ice cream,” usul Danil, Sekar tersenyum menatap Danil.


“Janji ya,” wajahnya tampak berbinar. Ia tersenyum senang, padahal baru saja dia menampakkkan wajah tidak bersahabat pada suaminya.


“Begitu senangnya hanya aku ajak makan ice cream,” celoteh Danil.


“Iya, dengan ice cream akan menaikan mood booster (penguat suasana hati) ku mas.”


“Aku sudah tahu itu,” ucap Danil sambil tersenyum jahil pada Sekar.


Sekar terdiam menatap Danil. “****! Kamu tuh mas,” ia kesal pada suaminya. Menggelengkan kepala menatap tajam dan pasrah dengan kelakuannya.

__ADS_1


“Bad word (kata kasar)! Dilarang mengumpat sayang, itu tidak baik,” ucap Danil sambil menjentikkan tangannya di kening Sekar. Ia tertawa puas menatap istrinya.


“Kelihatan murahan banget deh. Di sogok ice cream langsung happy.”


“Dasar murahan, enggak perlu tas model Louis Vuitton atau Channel mas, istrimu ini di beliin ice cream saja sudah jumpalitan.”


Danil tertawa kencang, ucapan istrinya membuat dia terpingkal-pingkal. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tanpa sadar melepaskan genggaman istrinya. Sekar yang merasa jalannya terbuka langsung meninggalkan Danil yang masih saja menertawakannya.


Menyebalkan, kenapa sih wajah ini berbinar ketika mendapatkan ice cream? Mungkin perempuan di luar sana masih merajuk bila hanya di kasih ice cream. Dasar murahan!


Sekar! Perempuan lain kalau merajuk itu dapat tas, dompet, sepatu, dengan brand terkenal dan harga yang fantastis. Bisa juga mendapat uang cash, ganti smart phone edisi terbaru, atau tiket liburan ke luar negeri yang kamu mau!


Salah sendiri, kamu di traktir ice cream saja happy, kok ndeso sih!


Hanya anak kecil yang dapat ice cream langsung bahagia.


Hellow, Sekar umur kamu sudah dua puluh lima tahun dan kamu bahagia mendapatkan ice cream. Apa yang salah dengan dirimu?


Mas Danil menyebalkan, selalu menjebak dengan kegombalannya. Tuhan berapa lama aku harus menikmati kegilaan ini?


Saat ini dia pasti masih tertawa. Kenapa kamu senang sekali membuat aku kesal sih mas?


Kamu selalu memanfaatkan kebodohanku mas, itu menyebalkan.


Enak saja, kata siapa aku seperti itu. Mas Danil kamu harus tanggung jawab. Mood aku benar-benar drop saat ini, dan itu karena dirimu!


Sekar berjalan dengan cepat, memasukan apa saja yang dia mau ke dalam trolinya. Saat ini moodnya hancur karena suaminya. Tiba di lorong makanan ringan dan coklat.


COKLAT!


Wajah mungil itu kembali ceria, baru melihat bentuknya saja, seketika mood nya yang drop langsung naik. Dia sibuk mencari coklat putih kesukaannya. Di dalam kulkas dan mini bar kamarnya harus tersedia coklat.


Ketika dia akan memborong coklat yang ada di sana, dia langsung teringat sesuatu kemudian tersenyum manis, mencari ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.


Beberapa coklat yang sudah di masukan ke dalam troli tidak dia kembalikan, hanya yang masih dalam genggamannya ia kembalikan.


“Maafkan ya, namun aku sudah memesan coklat dari toko ku sendiri.”


Sekar berdiri dari jongkoknya setelah mengembalikan coklat yang dia ambil. Ketika dia berbalik, di hadapannya kini sudah ada mas Danil dengan wajah menahan emosi dan terlihat nafasnya tidak beraturan.


Dengan santai Sekar menatap suaminya, wajahnya terlihat masih kesal. Danil yang melihat Sekar langsung memeluknya.

__ADS_1


“Jangan pernah melakukan hal ini, jika kamu ingin kita hidup bersama sampai ujung usia,” ucap Danil sambil memeluknya.


Sekar terdiam ketika Danil mengucapkannya dengan terbata-bata. “Maafkan Sekar mas,” pintanya tulus.


Danil melepaskan pelukannya, ditatap wajah Sekar. Telapak tangannya membungkus wajah istrinya. “Kamu tahu, mas mu ini bisa gila kalau kamu benar-benar hilang!” ucapnya dengan emosi yang diredam sedemikian rupa. “Maaf, tidak ada maksud menertawakanmu sayang, maaf karena becanda mas sudah kelewatan,” ucap Danil sambil mencium kening Sekar.


“Tidak pernah ada yang menganggap kamu murahan, maafkan mas sayang. Mas tertawa karena memang kamu lucu, bagaimana kamu menganggap dirimu murahan hanya karena tidak meminta sesuatu yang memang tidak kamu inginkan.”


“Bee. Semua kekurangan dan kelebihan kamu mas sangat suka untuk saat ini, nanti, dan masa yang akan datang. Hal ini mas rasa cukup untuk mewakili rasa sayang padamu. Dapat memiliki kamu lagi, adalah hadiah terindah yang dikirimkan sang Maha untuk mas, tidak pernah terbesit sekalipun merendahkan kamu. Mas benar-ben ...,”


“Maafkan Sekar yang terlalu ke kanak-kanakan mas," ucapnya memotong pembicaraan Danil.


"Tidak ada maksud membuat mas cemas seperti saat ini. Maaf, karena tidak bisa mengendalikan emosi aku sendiri. Akhir-akhir ini aku merasa mudah lelah dan emosi ku tidak stabil mas.”


Danil memeluk Sekar tanpa canggung walau beberapa pasang mata menatap keduanya dengan sinis.


"Bisa-bisanya bermesraan di depan umum," seorang ibu berkata dengan sewot.


"Tidak tahu malu," dan masih banyak lagi yang terang-terangan menatap sinis terhadap mereka.


"Netijen maha benar dan maha tahu."


“Danil ..., Sekar ...,”


Panggilan dengan suara yang tidak asing di telinga keduanya, membuat Danil melepaskan pelukannya, dia menggenggam erat jari istrinya. Sekar membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Tubuhnya gemetar, dia hafal, sangat hafal suara ini.


Danil memeluk istrinya yang ketakutan. Kini dia sudah menatap kearah laki-laki yang memanggilnya. Dia tidak terlalu kaget ketika melihat Renata dan Ryan berada di depannya saat ini. Upin, Ipin dan dua srikandi tampak waspada melihat Danil menatap lawan bicaranya dengan posisi siaga penuh.


“Bisa kita bicara?” tanya Ryan, membuat Danil sedikit terkejut dengan pertanyaan lawan bicaranya.


Danil masih menatap keduanya dengan aneh, baru kali ini dia melihat kegelisahan seorang Ryan.


“Sekarang?”


“Secepatnya lebih baik, tapi tidak disini,” pinta Ryan.


Bisma mendekati keduanya, memberi kode pada Danil. Tanpa menatap keduanya Danil pergi bersama Sekar menjauh.


Pesan whatsap masuk ke dalam ponsel Danil.


Bisma :

__ADS_1


Setengah jam lagi di tempat biasa.


***


__ADS_2