Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Labil


__ADS_3

Semenjak kepulangan orang tua mereka, Sekar berada di dalam kamar. Danil menghampiri istrinya yang sejak tadi sudah duluan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Dengan lembut dia menyampingkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Sekar mulai bergerak mimiknya membuat gemas, hingga sebuah kecupan mendarat mulus di bibir mungilnya.


Sekar langsung membuka matanya, dan menatap suaminya sambil membesarkan tatapannya. “Mas ah,” ucapnya sambil menahan bibir suaminya yang hendak mencuri kesempatan kedua.


“Kenapa mulut mas ditahan, kamu suka juga,” Danil menggoda Sekar, yang wajahnya mulai merona.


“Mas ah..., sana,” ucap Sekar kedua kalinya sambil menutup hidungnya.


“Baru bangun mas.”


“Biasanya juga langsung curi-curi kesempatan.”


“Mas Danil, sudah ah,” pinta Sekar menatap suaminya dan tiba-tiba terdiam.


“Ada apa Bee?” Danil bertanya menggoda, ia menyangka istrinya pura-pura.


Tiba-tiba Sekar semakin membulatkan matanya, menutup mulutnya dan bangun menuju kamar mandi. Danil yang bingung langsung mengikutinya. Sekar langsung memuntahkan isi perutnya begitu sampai di kloset. Danil pun langsung mengusap punggung Sekar, dan menunggunya dengan sabar.


“Kamu kenapa Bee?” tanya Danil cemas setelah mereka keluar dari kamar mandi dan Sekar menyikat giginya.


“Tidak tahu mas, rasanya mual, mungkin masuk angin,” jawab Sekar.


Setelah Sekar kembali ke atas tempat tidur, Danil kemudian menyelimuti istrinya. “Jangan pergi mas,” pinta Sekar menahan tangan suaminya yang masih memgang selimut.


“Sebentar saja, mas minta Ibu Ita membuatkan air jahe hangat.”


“Nanti saja,” pintanya memohon.


“Sebentar saja, agar rasa mualnya hilang.”


“Kirim pesan saja mas.”


“Sebentar ya,” ucap Danil sambil tersenyum.


Sekar memanyunkan bibirnya, terlihat kesal karena suaminya tidak menuruti permintaannya. Ia menutupi seluruh bagian tubuh dengan selimutnya. Danil yang tidak lama kemudian masuk kembali ke dalam kamar menatap aneh ke arah tempat tidur.


“Kamu kenapa Bee?” tanya Danil penasaran.


Sekar hanya diam saja, membuat Danil gemas ketika dia tidak mendapatkan jawaban setelah tiga kali bertanya.


“Jika kamu marah, marahlah. Bicara ada apa,  jangan seperti ini. Mas tidak suka jika kamu hanya diam!” terdengar suara Danil meninggi.


Ancaman Danil membuat Sekar terisak sehingga membuat lelaki ini semakin bingung, dan membuka paksa selimut yang menutupi tubuh istrinya.


“Bee,” Danil memanggil dengan lembut, ia tidak kuat bila melihat istrinya menangis.


Sekar membalikkan tubuhnya menghadap Danil, air mata masih membasahi pipinya. Ia ikut merebahkan tubuhnya agar mudah menatap istrinya.


“Sudah mau cerita?” tanya Danil ketika Sekar mulai berhenti menangis.


“Mas Jahat!”


“Jahat?”


“Mas tega!”

__ADS_1


“Tega?”


“Mas menyebalkan!”


“Jahat, tega, menyebalkan. Apalagi?”


“Mas tidak mengerti aku.”


“Lalu?”


Sekar menatap suaminya. “Mas kamu sangat menyebalkan!”


“Jahat, tega, menyebalkan, tidak mengerti kamu, menyebalkan lagi. Masih ada yang belum kamu sampaikan Bee?”


“Iiiih mas Danil,” Sekar kesal terhadap suaminya.


“Iya sayang ada apa?”


“Kamu tidak sadar membentak aku tadi?”


“Maafkan mas, habisnya mas tanya kamu tidak menjawab. Tidak ada niat membuat kamu kesal sayang.”


“Itu menye-bal-kan...,” Sekar langsung menutup kembali mulutnya, dan berlari menuju kamar mandi.


Danil mengikuti Sekar, dan ikut panik ketika istrinya kembali berlari sambil menutup mulutnya. Untuk kedua kalinya dia memuntahkan isi perutnya, istri mungilnya terlihat lemas. Danil kembali memflush kloset dan membantu Sekar yang ingin menggosok giginya.


“Apa yang dirasa?”


“Tiba-tiba mual mas, tidak enak.”


“Kamu tidak pusing?”


“Ayo kembali ke kamar,” pinta Danil semakin cemas menatap istrinya.


“Sebentar mas, mau menyikat gigi dulu. Mulut rasanya tidak enak.” Danil mengangguk dan menunggu hingga Sekar selesai.


“Kita ke rumah sakit ya,” pinta Danil.


“Tidak mas, di rumah saja. Ini hanya masuk angin biasa saja,” tolak Sekar.


Danil menatap istrinya dengan kesal. Mungkin dia terlalu khawatir dengan keadaan istrinya, sehingga kesal ketika Sekar tidak menurutinya. Apapun mengenai perempuannya selalu menjadi prioritas.


“Jika sekali lagi kamu muntah, kita ke rumah sakit ya Bee,” ucap Danil tegas, tidak mau dibantah.


“Iya mas.”


Ibu Ita mengetuk kamar, dan memberikan secangkir jahe hangat pada Danil. Segera Danil berikan pada Sekar, dan menyuruh menghabiskan isi cangkirnya. Setelah menyimpan cangkir kosong di meja, ia kembali ke samping istrinya.


“Terima kasih mas,” ucap Sekar “Maafkan Sekar,” ucapnya tulus.


“Maafkan mas juga, tidak ada niat membentak kamu sayang.”


“Iya mas. Peluk dong mas,” pinta Sekar manja, seakan lupa baru saja dia marah-marah pada suaminya. Danil tersenyum dan langsung memenuhi permintaan istrinya.


Hanya dalam hitungan detik, Sekar tertidur pulas. Mungkin pelukan Danil membuatnya nyaman sehingga bisa kembali tertidur pulas. Danil mengamati istrinya dengan tersenyum. Dia sangat menikmati menatap wajah Sekar yang beberapa saat lalu menguji kesabarannya.


Danil memeriksa pekerjaannya, sambil sesekali menatap istrinya yang masih tertidur. Ia takut bila Sekar terbangun dan tidak mendapati dia disampingnya. Tidak ingin jika Sekar marah-marah seperti tadi.

__ADS_1


Telepon Danil berbunyi, ia segera mengangkat sebelum deringnya membangunkan tidur nyenyak Sekar.


“Danil.”


“Nomor siapa ini?”


“Kalian kesinilah, nanti aku hubungi yang lain,” ucap Danil menutup pembicaraannya.


Danil menelepon Bisma, memberitahukan apa saja yang harus dilakukannya, sehubungan dengan pertemuan mendadak yang akan dilaksanakan di rumahnya. Danil tidak ingin meninggalkan Sekar dengan kondisinya saat ini.


Sekar menggeliat, dia merasa tubuhnya lemas. Kepalanya terasa sedikit berat. Dia tersenyum ketika melihat Danil sedang menatapnya.


“Jangan menatap aku seperti itu mas,” pinta Sekar.


“Kenapa kamu malu?”


“Apaan sih mas, aku mau mandi dulu.”


“Mandi bareng yuk, sudah lama kita ti-dak,” Sekar menutup mulut Danil dengan tangannya dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak mas!”


“Baiklah tidak saat ini, tapi nanti ya,” katanya membuat pernyataan.


“Kapan-kapan,” jawab Sekar terus berjalan menuju kamar mandi.


“Baik, kapan-kapan juga mas akan...,” Danil sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Akan?”


Danil menaikan kedua Alisnya menggoda Sekar. “Jangan macam-macam mas, pilihannya berat.”


“Bila macam-macam apa yang akan kamu lakukan?”


“Kesempatan kamu habis. Aku akan mengambil jalan pintas untuk berpi-sah,” Danil mengecup bibir Sekar.


“Jangan pernah berkata seperti itu. Seperti kamu pernah bilang ucapan adalah doa. Aku tidak mau itu terjadi.”


“Oleh karena itu, tidak ada macam-macam!”


“Kamu pegang janji mas Bee, tidak akan ada macam-macam.”


“Iya mas. Aku mandi dulu ya,” ucap Sekar kemudian dia berbalik menatap Danil dan tersenyum jahil. Namun sebelum masuk kamar mandi kepalanya tiba-tiba terasa pusing, dan ia hilang kesadarannya.


Danil panik segera menangkap tubuh Sekar yang hampir terjatuh, ia langsung merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur dan segera menelepon Bisma.


“Semua sudah diberitahu mas, satu jam lagi kita akan melakukan pertemuan di sini, sesuai permintaan mas Da-...,”


“Cepat siapkan mobil, Sekar pingsan aku akan membawanya ke rumah sakit!” Bisma langsung menjalankan perintah dari Danil.


Danil menggendong Sekar dengan hati-hati, dia sangat cemas saat ini. Begitu sampai di teras dia langsung masuk mobil ditemani Bisma dan menuju rumah sakit.


***


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2