Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Dilema


__ADS_3

“Nia, ke sini dong gue butuh loe nih,” Teriak Sekar dari jendela kamar.


Kurang dari sepuluh menit Nia sudah sampai di kamar Sekar. Seperti memahami apa yang dialami sahabatnya, ia lantas duduk tanpa berkata apa pun.


Hal ini sudah biasa dia lakukan jika Sekar sedang galau. Selain Ceria, Nia adalah pendengar yang baik. Dia tidak akan memotong pembicaraan kecuali memang terdesak.


Dengan air mata yang tidak dapat dia tahan lagi, disertai nafas pendek tidak beraturan, Sekar menceritakan pertemuannya dengan Ryan, tanpa ada yang di tutupi. Nia saksi hidup perjalanan kisah cintanya.


“Perlakuan Ryan sungguh keterlaluan. Ini bukan yang pertama Sekar, sudah kesekian kalinya dalam satu tahun kalian berpacaran."


"Jujur ya, pertama kali kita kenal Ryan, dia bukan orang yang seperti ini. Baik, sudah pasti. Ramah, mudah bergaul dengan siapa saja. Siapa sih yang tidak kenal dengan Ryan? keduanya itu ...,"


"Keduanya?"


"Danil dan Ryan memiliki sifat dan karakter yang tidak jauh berbeda. iya kan?" tanya Nia meminta persetujuan perempuan di depannya. Sekar menjawab dengan anggukan kepala.


"Baik, ramah, supel, mereka itu mudah bergaul dengan siapa saja, tidak memandang si A dan si B. Siapa saja bisa dengan mudah menjadi teman keduanya, dan yang pasti sangat menghormati wanita. setuju kan?" sekali lagi Sekar menjawab dengan anggukan kepala.


"Danil dan Ryan pun keduanya bersahabat, tapi sampai sekarang Adit pun bingung, entah apa yang menjadi titik masalah mereka hingga menjadi musuh."


Sekar mengangkat bahunya, tanda dia tidak mengetahuinya.


"Perbuatan Ryan hari ini, kalau menurut aku ya, sudah di luar batas kewajaran. Tanda lebam yang ada, bisa menjadi barang bukti. Loe bisa mengajukan surat untuk pemeriksaan. Ryan otomatis bisa saja di bui, atas perbuatannya."


Sekar menatap Nia yang saat itu juga sedang menatapnya. Kekasih Adit ini menghembuskan nafas beratnya. "Iya, ya, ya hal ini tidak akan terjadi. Loe mana tega melakukan hal ini."


“Nia, aku masih kesal, dan tidak tahu harus bagaimana. Setidaknya ayah sama bunda tuh bisa memberikan kepercayaan agar anaknya dapat mencari calon suami sendiri, bukan dengan perjodohan seperti ini.”


"Jadi mulai dari nol?"


"Memangnya pegawai SPBU mulai dari Nol."


"Namanya apa jika tidak mulai dari Nol? yang jadi masalah sekarang tuh apa sih?" tanya Nia bingung menghadapi Sekar.


“Tidak ada salahnya kan membahagiakan orang tua loe, gue jamin mereka pasti melakukan yang terbaik buat loe.”


"Kok loe malah belain ayah sama bunda sih, bukan belain gue yang tersiksa seperti ini?” tanya Sekar dengan sedikit marah.


“Gue belain loe? Ryan aja enggak melakukan hal yang membuat loe bahagia selama hampir satu tahun kalian pacaran. Intinya sebenernya loe tuh enggak bahagia-bahagia amat sama Ryan, iya kan?” tanya Nia.


Sekar hanya diam, tidak menjawab.


“Iya wajar dong kalau gue enggak ngedukung loe. Cerita loe barusan fix membuat gue semakin kesal sama Ryan, dan gue semangat dukung perjodohan loe," kata Nia.


"Gue tim Danil. Catet TIM DANIL,” teriak Nia.


"Tapi Ni..."

__ADS_1


"Loe masih enggak sadar juga ya? perlakuan Danil sama loe itu tadi, membuktikan dia pun masih ada rasa sayang sama loe."


"Nia..."


“Danil itu mantan loe Kar, dan loe berdua juga sempat pacaran lama. Setidaknya sudah tahu lah Danil itu cowok seperti apa, dia perfect buat loe kan?" tanya Nia ingin membuka jalan pikiran temannya.


"Loe tahu ...,"


"Denger cerita loe barusan, mas loe itu masih jadi cowok perhatian kan?”


“Maksud loe?”


“Loe ngerti maksud gue Kar.”


“Tapi Mas Danil punya Renata, dan gue punya Ryan.”


“Ok loe punya Ryan, kalau Ryan secara fisik sih gue ajungin jempol 8 lah, tapi untuk  kelakuannya sorry dori menyori ya. Kelakuan Ryan zero, nol dengan bulatan terbesar,” ucap Nia dengan memperagakan tangannya yang membentuk angka nol.


“Kelakuan yang gimana?”


“Stupid deh, loe itu cuma pura -pura bodoh dan mau cari pembenaran saja,” jawab Nia kesal “Loe sudah tahu jawabannya."


“Ni ...,”


“Baiklah. Dengarkan baik-baik Sekar. Kelakuan Ryan yang kelewatan adalah kalau marah-marah dia menghancurkan semua benda yang ada di sekitarnya. Biang kerok di semua tempat, terlebih suka main fisik sama loe."


“Tidak sepenuhnya benar apa yang loe omongin.”


“Mana yang tidak benar?” tanya Nia kesal.


Sekar terdiam dia tidak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya.


“Gue sayang sama loe, kalau loe nangisin si Ryan untuk masalah yang lebih penting gue orang yang paling tidak setuju.”


“Tapi loe sempet kaget juga kan waktu tahu gue bakal tunangan sama Danil?”


“Kaget sih iya. Tetangga sekaligus sahabat gue mendadak tunangan, siapa sih yang tidak kaget. Tapi setelah gue mendengar cerita tentang Ryan selama ini, dari loe, Adit, dan gosip di luaran sana, jangan salahkan kalau gue seratus persen mendukung keputusan ayah dan bunda,” jawab Nia santai.


“Emang loe denger apa dari Adit?”


“Banyak, dan telinga loe juga pasti denger isu-isu tentang si Ryan, gue yakin itu. Loe pasti sudah dengar selentingan Berita di luar sana tentang Ryan. Cuma, loe itu enggak percaya.”


"Bukan tidak percaya, tapi menutup mata atas semua yang terjadi."


“Please deh Ni, gue enggak mau berbelit-belit” kata Sekar tidak sabar.


“Dia deketin loe cuma untuk matrein loe doang."

__ADS_1


“Gue nggak percaya,” ucap Sekar.


“Itu sih bukan urusan gue.”


“Kata siapa bukan urusan loe?” tanya Sekar sewot “Loe yang memberi tahu hal itu sama gue.”


“Loh, gue kan cuma ngasih tahu apa kata Adit katakan. Dia juga terkadang ada di temoat kejadian, dan semua ceritanya dari sumber yang bisa di percaya."


"Tapi kalau loe enggak percaya, itu bukan urusan gue. Yang penting, sebagai sahabat gue sudah mengingatkan loe tentang hal ini beribu kali," ucap Nia kesal.


"Sedangkan si Mas Danil tercinta loe itu, loe sendiri yang suka muji-muji dia dan masih merindukannya."


“Tapi kan hubungan antara kita sudah berakhir."


“Yang terpenting sekarang, cari yang terbaik saja untuk keluarga kecil loe."


"Satu hal yang harus loe ingat, tidak mungkin seorang ayah akan menjerumuskan anaknya, kecuali seorang ayah hanya mementingkan dirinya sendiri."


"Semakin lama bicara sama loe, gue jadi mengerti satu hal. Ada harapan yang ayah Bagas inginkan dari pernikahan kalian."


“Apa?”


“Enggak usah pura-pura b*go deh, loe pasti tahu banget kalau ayah tidak suka sama Ryan.”


“Iya.”


“Pasti ayah punya alasan yang kuat mengapa, dia tidak menyukai Ryan."


“Ayah belum kenal saja sama Ryan.”


“Susah deh ngomong sama loe. Intinya pasti ayah mau yang terbaik untuk hidup putri semata wayangnya.”


“Maafin gue ya Ni, gue enggak bisa nahan emosi,” kata Sekar.


“Gue mengerti kok apa yang loe pikirin, positif thinking saja deh.”


Sekar kembali di sibukkan dengan urusan hatinya.


Pernikahan yang tinggal hitungan jari itu membuatnya semakin terpuruk, terlebih berita yang baru di dengarnya dari Nia.


Walaupun di depan semua orang, perannya sebagai calon mempelai yang bahagia bisa ia perankan dengan baik, namun ia tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia sangat ketakutan dan tidak berdaya menghadapinya sendirian.


Di satu sisi, dia takut akan perlakuan Ryan. Pria itu dapat melakukan apa saja yang diinginkannya.


Di sisi lain dia sangat menikmati perhatian yang Danil berikan. Perhatian dan kasih sayang yang tidak berubah, masih sama seperti saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.


DILEMA!

__ADS_1


 ***


__ADS_2