
“Terus kenapa kamu bisa balik lagi?”
Sekar menatap suaminya dengan takut-takut “Mas pasti marah deh,” kata nya sambil menundukkan kepalanya.
“Jangan bilang...,” Danil menggantungkan kalimatnya, dia menatap istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mas.”
“Kamu masih saja seperti itu Bee, untung aku yang jadi suami kamu, untung perjodohan ini terjadi, kalau enggak...”
“Kalau enggak apa mas?”
“Aku yang bisa gila,” kata Danil.
“Mas.”
“Aku bisa gila,” kata Danil menatap Sekar.
“Kamu tuh ya, Bee, masih aja seperti ini? Cukup ya, ini yang terakhir kali kamu lemah mendengar orang minta maaf.”
“Iya mas,” jawab Sekar.
“Jangan cuma iya Bee, kamu terjebak sama Ryan hanya karena kamu tidak tega ketika dia minta maaf sama kamu, tapi apa yang terjadi, kamu malah disakiti, dan dengan gampangnya dia meminta maaf kembali."
"Kamu itu sudah masuk dalam lingkaran permainan dia sayang. Dia sudah tahu titik kelemahan kamu. Dengan bebas dia bisa berbuat apapun, hanya dengan minta maaf dan mendramatisir keadaan, kamu langsung tidak tega dan memaafkannya."
"Kamu terjebak dalam lingkaran setan, dan sampai kapan pun Itu hanya akan mutar-mutar disitu saja.”
“Iya mas, tidak lagi seperti itu,” jawab Sekar.
“Iya enggak lah, kamu istri aku sekarang. Siapa pun yang berani menyakiti, secara lisan apalagi fisik akan berhubungan sama aku." "
Aku tidak akan segan-segan menghabisi mereka semua," ucap Danil tegas.
“Aku percaya, mas akan selalu melindungi aku.”
“Bee sabar ya, kita harus bertahan dengan memainkan peranan ini, agar kita tahu apakah Ryan dan Renata ikut terlibat dengan semua kejadian yang menghampiri kita akhir-akhir ini."
"Mas ingin tahu siapa yang ingin mencelakai kita.”
“Iya mas.”
“Semua ini bisa jadi karena salah mas juga,” kata Danil sambil meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
“Salah mas, gimana maksudnya?”
"Hanya pikiran sesaat," jawab Danil.
"Aku tidak mengerti mas."
“Kamu mas panggil Bee dari kata baby, karena hampir semua orang punya panggilan sayang sama kekasihnya."
Sekar masih bingung, ke arah mana pembicaraan suaminya.
"Ketika hampir semua orang memanggil baby, sayang, cinta, mas ingin punya panggilan spesial dong, berbeda dengan orang lain. Makanya si baby ini mas singkat jadi Bee."
"Lalu?" Sekar belum dapat menebak arah pembicaraan suaminya.
__ADS_1
"Jangan-jangan karena sebutan ini otak dan hati kamu juga sekecil bayi baru lahir,” ucap Danil menggoda Sekar.
“Mas Danil! apaan sih,” protes Sekar sambil mencubit perut, tangan dan pipi suaminya.
“Habisnya, punya otak sama hati tuh dipake sayang, lihat dengan benar mana yang tulus mana yang tidak,
mana yang baik, mana yang buruk."
"Kamu sudah disakiti seperti itu, masih saja bertahan. Mas tidak dapat membayangkan kalau kamu jadi istrinya si Ryan itu,” ucap Danil masih menggoda istrinya.
“Kan sekarang aku istrinya mas,” kata Sekar manja.
“Iya, makanya mas tidak dapat membayangkan kalau kamu jadi istrinya dia."
"Orang yang mas sayang, malah disakitin sama orang lain. Sakit hati mas, tahu enggak,” ucap Danil sambil mengelus dadanya.
“Dosa apa aku ini, punya istri hatinya gampang luluh, otaknya mandek, jelek lagi kalau lagi cemberut gini,” goda Danil yang berlari menjauh dari Sekar yang tidak berhenti mencubitnya.
“Mas, nyebelin banget sih, aku enggak sebodoh itu mas, tapi aku punya hati yang bersih."
“Hati kamu bersih, lembut tapi jadinya gampang di manfaatin sama orang, kalau orangnya baik tidak apa-apa pasti ada hubungan timbal balik. Lah orangnya kayak Ryan gitu, yang ada memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” ucap Danil.
“Aku sayang banget sama mas,” ucap Sekar dengan manja, memeluk suaminya yang masih kesal.
“Lihat saja kalau sampai dia masih melakukan hal kasar sama kamu, menyakiti kamu secara lisan maupun fisik, jangan salahkan mas kal...”
“Makasih mas ku sayang,” ucap sekar memotong ucapan Danil, sebelum sumpah serapah semakin keluar dari mulut suaminya.
“Beruntungnya aku memiliki mas,” katanya tulus sambil mengecup lembut bibir suaminya.
Danil terbangun lebih dulu, setelah olahraga pagi bersama Sekar, dipandangi wajah istrinya yang mungil dan mengemaskan.
Aku mencintaimu Bee, sangat mencintaimu. Kamu adalah bidadari di hati aku, sampai kapan pun hanya kamu dan anak kita kelak yang akan menjadi bidadari hati aku.
Tidak akan ada perempuan lain yang menempati hati ku selain mamah, bunda, kamu, dan anak perempuan kita jika kelak kita memilikinya.
*Aku pun berharap, hanya ada aku, ayah, papah dan anak laki-laki kita sebagai malaikat pelindung di hati kamu.
Selalu mencintaimu*.
Sekar menggeliatkan tubuhnya, dan tidak lama membuka matanya, ia sangat terkejut, ternyata Danil sedang tersenyum menatapnya.
“Selamat siang bidadari hatinya mas,” sapa Danil, masih menatap istrinya yang malu-malu.
“Selamat siang malaikat pelindung aku,” sapa Sekar, membuat Danil mengerenyitkan keningnya.
“Malaikat pelindung?”
“Iya, kamu adalah malaikat pelindung aku dan anak-anak kita kelak,” ucap Sekar.
“Malaikat pelindung?”
“Apa ada yang salah mas?” tanya Sekar bingung.
“Tidak, hanya saja...,”
“Apa?”
__ADS_1
“Mas juga memikirkan hal yang sama.”
“Hal apa?” tanya Sekar bingung. “Mas apa sih, aku bingung.”
“Mas juga menganggap mas adalah malaikat pelindung kamu dan anak-anak kita,” ucap Danil, sukses membuat Sekar kaget.
“Berarti kita satu hati dong,” katanya sambil tersenyum bahagia.
“Iya sayang, mas suka lihat kamu kayak gini, ngegemesin tahu enggak,” kata Danil sambil mencium pipi istrinya yang merona.
Sekar mencubit perut suaminya. “Kamu paling bisa ngegombal mas, nyebelin tahu,” kata Sekar sambil
berjalan ke kamar mandi.
“Aku mandi duluan ya mas, jangan rindu,” ucap Sekar sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Rindu?"
“Bangunin mas, kalau sudah ya,” pintanya.
“Baru bangun masa sudah mau tidur lagi."
"Mandi bareng ya,"
"Tidak mas," Sekar langsung nasuk kamar mandi dan menguncinya.
Lima belas menit kemudian Sekar telah selesai mandi dan berpakaian. Sesuai permintaan dia membangunkan suaminya, dan langsung menyuruh mandi.
“Aku tunggu di bawah ya mas.”
“Iya Bee, nanti mas langsung ke bawah.”
Sebenarnya Sekar agak deg degan menemui orang tua mereka, setelah kemarin pergi tanpa pamit, dan menghebohkan seluruh penghuni rumah. Tapi tidak mungkin dia hanya diam di kamar.
“Mas Danil mana sayang?” tanya mamah Fina, ketika Sekar menghampiri dua pasang orang tuanya yang masih berkumpul di meja makan.
“lagi mandi mah, sebentar lagi turun,” jawab Sekar.
“Bilang sama mas mu jangan lama-lama, ada yang mau kita bicarakan sama kalian berdua,” pinta bunda.
“Baik bunda,” jawab Sekar.
Sekar kembali ke kamar, saat itu jantungnya berolahraga, dia sampai merasa sesak, memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh orang tua dan mertuanya.
******! habis sudah riwayatmu kali ini Sekar. Pasti semuanya akan membahas yang kemarin deh.
Duh, aku harus bagaimana?
Sekar sudah berada dalam kamar, namun ia tidak berani mengetuk pintu kamar mandi.
Bila pembicaraannya tidak penting, pasti mereka tidak akan menyuruh dirinya memanggil Danil
***
Biarkan Sekar deg degan
sebentar ya...
__ADS_1