Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Keputusan Besar Ryan Rena


__ADS_3

Ketika Sekar dan Danil sedang di mabuk cinta, di saat yang bersamaan Ryan sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan apa yang sudah mereka jalani. Mengurut benang kusut ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, bahkan keadaan yang mereka alami lebih menyedihkan.


Kisah Ryan dan Rena menyerupai Romeo dan Juliet dalam versi keluarga Wisesa dan keluarga Surawijaya keluarga pengusaha yang sukses dibidangnya masing-masing.


Romeo dan Juliet bukan hanya kisah tragedi yang terjadi dalam karya William Shakespeare. Pertama kali cerita ini dibuat berdasarkan cerita di Itali yang diubah menjadi sajak The Tragical History of Romeus and Juliet oleh Arthur Broke pada tahun 1562, dan diceritakan kembali dalam bentuk prosa pada Place of pleasure karya William Painter tahun 1582.


Shakespeare meminjam ide dari keduanya menggunakan unsur dramatik dalam ceritanya. Sehingga karya ini telah berkali-kali dipentaskan dalam bentuk drama, film, musikal, dan opera di seluruh dunia.


Bahkan sastrawan, penerjemah dan pelukis Trisno sumardjo yang sering menerjemahkan karya-karya Shakespeare telah menerjemahkan karya ini di Indonesia dengan judul Romeo dan Julia. Hingga pada tahun 1974 keluarlah film  Romi dan Yuli yang terinspirasi dari kisah ini disutradarai Arifin C. Noer yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman.


Begitu hebatnya kisah ini, namun tidak membuat kedua keluarga pengusaha ini belajar dari kisah kelamnya. Keluarga Wisesa, sebuah pengusaha yang bergerak dalam bidang ekspor import hasil laut, sedangkan keluarga Surawijaya dalam hasil alam, pengusaha sukses dalam bidangnya. Tidak tahu apa akar masalah yang membuat keluarga pengusaha ini saling bermusuhan, yang pasti ini telah berlangsung cukup lama.


Ryan menggenggam lengan Rena, keluar dari gedung pertemuan. Tidak ada yang menghalangi keduanya pergi. Semua orang terdiam, mereka masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Kedua perempuan menangis tepat di belakang tubuh para suaminya berdiri, namun kedua ibu itu tidak ada kuasa untuk menghentikan langkah kaki putra dan putrinya. Para bodyguard pun berdiri posisi sigap, siap menerima perintah dari kedua bos mereka. Namun sayang, Ego mengalahkan segalanya, sehingga kedua lelaki itu hanya saling menatap.


Dengan percaya diri, walau tidak ada tempat tujuan, hanya satu yang ada dalam otak Ryan, membawa calon istrinya pergi jauh. Mobil sport berwarna merah dengan logo kuda jingkrak, yang mereka kendarai tadi terlewati sudah, Ryan hanya menoleh sebentar seakan mengucapkan selamat tinggal pada kesayangannya.


Sebelum dia melangkah jauh. Gara, anak buah yang di tugaskan untuk menjaga dirinya menjegal langkah tenangnya. Ryan hanya tersenyum dan memeluk dengan erat. “Tolong jaga ibu dan princess, untuk aku,” katanya sambil melepaskan pelukannya.


“Mas, jangan lupa singgah. Hanya ini yang dapat saya lakukan untuk membalas semua kebaikan mas,” katanya sambil memberikan satu set kunci dari saku miliknya. Ryan menatap Gara dan ingin menolaknya.


“Gara ...”


“Ditempat biasa mas, di bawah jok ada tas kecil hitam semua milik mas Ryan. Jangan pernah menoleh kebelakang. Saya berjanji akan menjaga ibu dan princess. Selamat jalan mas, selamat berjuang,” katanya sambil berjalan meninggalkan Ryan yang mengerti kemana dia harus melangkah.


Ryan menatap Rena, “aku tidak bisa menjamin kebahagiaan di kemudian hari sayang. Masih ada waktu untuk berubah pikiran, dan aku tidak akan dendam atas keputusan yang kamu pilih.”


“Kamu percaya sama aku ay?” tanya Rena, menatap Ryan menunggu kepastian dari seorang lelakinya.


“Aku selalu percaya, cinta milik kita akan bertahan sepanjang usia kita, tapi mengingat kejadian barusan. Jujur, percaya diri aku luntur.”


“Tunggu apalagi ay, bawa aku untuk mewujudkannya,” dengan penuh keyakinan Rena menatap Ryan.


Ryan berfikir cukup lama, mencari kebohongan dalam tatapan sendu perempuannya, namun sia-sia waktunya karena dia tidak mendapatkannya. “Baiklah, aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan apapun di kemudian hari sayang, namun dapat aku pastikan, lelaki mu ini akan berjuang untuk mendapatkannya.”


“Hanya satu, jangan pernah meninggalkan aku dalam keadaan apapun ay,” pinta Rena.

__ADS_1


“Tidak akan pernah sayang, walau nyawa aku taruhannya,” janji Ryan.


Ryan menggenggam erat jemari Rena, dengan penuh keyakinan dan dukungan calon istrinya dia berjalan tanpa sekalipun menoleh kebelakang, seperti pesan Gara.


Sesekali Ryan menatap perempuan tangguh disebelahnya, peluh bercucuran membasahi tubuh mungilnya. Tanpa mengeluh sedikit pun dia berjalan mengikuti kemana langkah laki-laki tercintanya ini membawa.


“Kita istirahat dulu disana ya,” tunjuk Ryan pada sebuah kursi taman. Mereka sudah berjalan cukup lama tanpa berhenti.


“Bisakah kita tetap berjalan ay, jika sudah duduk aku tidak tahu dapat terus melangkah atau tidak,” katanya.


“Baiklah, maafkan aku sayang,” pintanya.


“Aku sudah memutuskan ay, jangan pernah menyalahkan dirimu. Asalkan ada kamu aku tidak butuh yang lainnya, saat ini aku mohon cepatlah berjalan sayang, sebentar lagi sisa tenagaku habis.”


Tiba-tiba Ryan menghentikan langkahnya, dan berjongkok. “Ayolah naik ke atas punggungku,” pinta Ryan.


“Aku masih sanggup berjalan ay,” tolak Rena.


Ryan berbalik menatap calon istrinya. “Di, dalam sini ada calon anak kita,” katanya sambil mengelus perut Rena yang mulai membuncit “Aku tidak ingin kamu dan anak kita kelelahan.”


“Tidak berat sayang, yang berat itu tanggung jawab aku terhadap hidup kalian kedepannya. Aku ingin kalian bahagia dan bangga memiliki suami dan ayah seperti aku.”


“Kamu pasti akan menjadi suami dan ayah yang membanggakan. Aku mencintaimu ay.”


“Aku lebih mencintaimu sayang. Siap ya, jangan lupa memelukku agar kamu tidak jatuh. Tidak lama lagi kita sampai kalau kamu tidak nyaman, jangan sungkan untuk ngomong sama aku.”


“Iya ay, maaf ya.”


“Berhenti meminta maaf sayang, siap ya aku mulai jalan.”


“Kita seperti di drama korea ya ay, biasanya di drakor pasangannya selalu menggendong seperti ini, tapi sayangnya aku tidak sedang mabuk minuman, aku mabuk karena anak kita.”


“Maaf, kamu harus mengalami semua ini,” ucap Ryan suaranya melemah berubah menjadi sebuah bisikan yang masih mampu di dengar oleh Rena.


“Bisa kah kita berhenti mengucapkan permintaan maaf ay,” pinta Rena untuk kesekian kalinya. “Aku mengikuti langkah mu, berarti aku siap untuk menghadapi suka duka di kemudian hari. Kamu tahu ay, dalam sepanjang usia, baru saat ini aku yakin untuk mengambil keputusan dan melangkah melewati hari-hari ke depan penuh warna bersamamu.”

__ADS_1


“Terima kasih untuk mempercayaiku sebesar itu sayang. Bohong rasanya kalau aku tidak takut untuk melangkah, aku masih mencerna apa keputusan yang aku ambil ini benar atau tidak, namun mendengar ucapan kamu tadi, membuat kekuatanku berlambah untuk melangkah menuju masa depan yang bahagia.”


“Jujur aku takut ay, aku tidak pernah memimpikan hal ini akan terjadi pada hidupku. Ketika kamu berlutut di depan orang tua kita tadi dan meminta restu hubungan ini kepada orang tua kita, saat itu keputusanku sudah bulat, aku akan melangkah bersama mu sampai ujung usia.”


Wajah Ryan tersenyum, kelelahan menggendong calon istrinya terbayar sudah mendengar ucapannya. Rena perempuan luar biasa bagi dirinya. Seribu banding satu perempuan yang bersedia melangkah, ketika dia harus meninggalkan atribut kekayaannya dan embel-embel nama besar keluarga.


‘Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk kebahagiaan keluarga kecil kita sayang, jangan pernah meragukan itu. Niat yang tulus, akan berbuah kebahagiaan bukan?. Aku pasti akan membahagiaan keluarga kecil kita,’ Janji Ryan dalam hatinya,


“Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu dan anak kita. Bila restu belum kita dapatkan, aku sadar hidup kita akan berat ke depannya. Aku akan berjuang semampu ku untuk kehidupan kita yang lebih baik kedepannya.”


 


 


***


Bersambung...


Sekilas, kisah Rena dan Ryan ya.


Kalian masih setia untuk membacanya kan, jangan lupa like, komen dan votenya. Terima kasih.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2