
Sekar menatap suaminya dan tersenyum, Danil pun berusaha tersenyum membalasnya. Rasa cinta yang begitu besar terhadap istrinya, membuat pikirannya bercabang.
“Apa yang sedang terjadi?”
“Siapa saja yang terlibat?”
“Dimana kejadian?”
“Kapan mulai terjadinya?”
“Kenapa hal ini harus terjadi?”
“Bagaimana proses terjadinya?”
Satu persatu pertanyaan muncul kembali dalam otak besar Danil, bagaikan seorang jurnalis yang sedang mencari berita. Dia harus bekerja keras mengumpulkan fakta dan bukti-bukti yang hanya bersumber dari ucapan Ryan.
Kali ini suka tidak suka, Danil harus menurunkan egonya, dia harus bekerja sama dengan pasangan ini, untuk menyelesaikan masalah yang cukup pelik.
“Mas Bisma, bisakah kalian menyediakan kebutuhan untuk Ryan?” tanya Sekar menyita perhatian Danil.
Dengan sigap Bisma menyuruh beberapa anak buahnya melaksanakan perintah Sekar.
“Jangan menatapku seperti itu mas,” pinta Sekar, berusaha bangkit dari duduknya.
“Bisakah sebentar saja untuk tidak mengkhawatirkan orang lain Bee?” tanya Danil menahan Sekar untuk tidak beranjak dari kursinya.
“Jangan merajuk mas, kamu seperti anak kecil. Kurang cukupkah pembuktian rasa cintaku padamu?”
“Aku tidak suka kamu lebih memperhatikan orang lain.”
“Suamiku hampir saja menghilangkan nyawa seseorang, dan aku tidak boleh membantu korbannya?”
“Kita disini korbannya Bee!”
“Tapi Ryan korban keganasanmu mas?”
“Mas tidak suka ucapanmu,” Danil terlihat kesal.
“Turunkan emosimu mas, Sudah cukup marahnya,” ucap Sekar sambil mengelus rahang suaminya.
“Jangan mencoba mengalihkan perhatian aku Bee.”
“Cukup mas Danil, aku tidak punya balon untuk rengekanmu.”
“Aku tidak butuh balon Bee.”
“Bagus, karena bila butuh aku pun tidak ingin membelikannya.”
Danil menatap istrinya dengan kesal, sedangkan Sekar tersenyum menatap suaminya. “Sudah cukup marahnya, atau aku akan keluar meninggalkanmu.”
“Kalau sampai hal itu kamu lakukan...,”
“Apa yang akan mas lakukan?” tanya Sekar dengan tatapan sinisnya.
Danil langsung menarik tubuh istrinya, dan memeluk dengan erat. “Sudah selesai Bee, semua sudah berakhir. Mas tidak akan melakukan apapun,” ucapnya manja.
Sekar melepaskan pelukan Danil. “Diam disini, duduk manis, jangan berusaha mengikuti aku mas, sesekali patuhi istrimu,” Sekar memerintah suaminya, seketika tubuh Danil kaku, kesal melihat kelakuan istrinya yang mulai berani memerintah.
Sekar berjalan menuju Ryan dan Renata, tatapan Danil mengikuti langkah istrinya. Tidak rela istri mungilnya berjalan ke arah korban emosinya.
“Sekar,” Renata menyentuh lengan Sekar.
“Obati Ryan, karena aku yakin mas Danil masih ingin berbicara dengan kalian,” ucap Sekar tegas.
Ryan menahan lengan Sekar, Danil mulai terlihat emosi atas kelakuan Ryan. Dia melanggar perintah istrinya, dan berjalan mendekat.
“Maaf,” ucap Ryan.
“Aku tidak menyangka, kalian tega melakukan hal ini terhadap aku dan mas Danil. Tapi apa yang harus aku lakukan? setelah mendengar cerita kalian, justru kalian jauh lebih tersiksa daripada aku,” ucap Sekar menahan emosinya.
“Kamu boleh melakukan apapun...,”
“Aku tidak ingin melakukan apapun terhadap kalian,” ucap Sekar memotong perkataan Ryan. “Aku hanya ingin hidup tenang bersama mas Danil, seperti kalian yang ingin terlepas dari permainan ini.”
__ADS_1
“Marilah bekerja sama, untuk mengakhiri semua yang terjadi.”
“Untuk permintaan maaf kalian, aku belum bisa mengabulkannya. Terlalu sakit untuk mengetahui semuanya. Aku hanya manusia biasa, tidak semudah itu untuk memaafkan. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.”
“Aku hanya berharap semua ini cepat berakhir. Maka, bekerja samalah bersama mas Danil, dan akhiri semua ini.”
“Kita akan bekerja sama dengan Danil, dan mengakhiri semua ini,” Janji Ryan disetujui dengan anggukan Renata.
Sekar mengangguk, kemudian menggenggam jemari suaminya, dan pergi menjauh dari keduanya. Sehingga Renata dapat mengobati Ryan dengan leluasa.
“Kenapa kamu nakal mas, dan tidak bisa nurut sebentar saja?” tanya Sekar ketika sudah kembali duduk di tempat semula.
“Kamu menganggap mas anak kecil?”
“Iya, mas seperti anak kecil, yang harus selalu melihat punggung ibunya.”
“Mana bisa mas melihat Ryan memegang tangan kamu.”
“Mas, Ryan sudah punya Renata. Ada istrinya, disampingnya dan kamu masih saja cemburu!"
“Itu bukti cinta mas sama kamu.”
“Itu bukan bukti cinta.”
“Kalau bukan bukti cinta lalu itu apa?”
“Itu rasa posesif mu yang terlalu berlebihan, kamu tidak percaya padaku mas,” Sekar terlihat kesal.
“Jangan menggoda mas dengan bibir manyun kamu itu.”
“Disaat seperti ini kamu masih saja menggombal.”
“Ini bukan gombalan, ini rasa cintaku sayang.”
Sekar menatap suaminya yang tersenyum jahil. Belum ada hitungan jam, suaminya yang tadi mengamuk bagaikan beruang berebut makanan, kini sudah kembali menjadi seorang penggombal sejati.
Sekar menghembuskan nafasnya, ada apa dengan suaminya, mengapa dia sangat mudah berubah seperti bunglon.
"Memikirkan suami aku yang mudah berubah seperti bunglon."
"Bunglon?"
"Sudah mas, aku sedang tidak ingin membahasnya."
"Tapi aku ingin."
"Sekarang aku membuat pilihan. Mas ingin membahasnya sekarang dan kehilangan jatah hari ini, atau diam! dan cukup bersabar untuk mendapat bonus dari istrimu tercintamu ini."
"Aku diam dan sangat tidak sabar mendapatkan bonus dari istri tercintaku."
"*Dea*l," ucao Sekar sambil memberikan jari kelingkingnya.
"Deal," Danil menjawabnya dengan yakin dan menautkan jari kelingkingnya di kelingking Sekar.
"Baiklah besok pagi Sekar akan memberikan bonus telor ceplok pada nasi goreng mas," ucapnya santai tanpa dosa.
Seketika Danil kesal dengan kejahilan istrinya. Dia menatap tajam, sedang istrinya tertawa jahil penuh kemenangan.
Sekar tertawa menatap suaminya yang diam mematung. Dia tidak tahu tawanya itu menggelitik sisi jahil suaminya.
"Jangan tertawa puas istriku sayang," ancam Danil membuat Sekar tiba-tiba terdiam, dia sangat hafal ucapan dengan nada seperti ini.
"Ampun mas," Kali ini Danil balik tertawa kedudukan satu sama, dan sudah dipastikan ia tidak dapat menghindar dari suaminya.
“Mas, kamu percaya sama mereka?”
"Jangan coba mengalihkan pembicaraan Bee, aku tahu trik kamu."
"Aku serius mas."
"Mas duarius, kalau perlu seratusrius," ucapnya tertawa bahagia karena bisa membalikan keadaan.
"Aku serius mas."
__ADS_1
“Entah lah Bee, sulit untuk tiba-tiba percaya. Mas masih memiliki keraguan atas ceritanya, tapi melihat tingkah Ryan tadi, mas yakin dia tidak berbohong.”
“Apa mas sudah mengecek kebenarannya?”
“Bisma sedang mengeceknya, jangan takut Bee. Mas akan selalu melindungimu."
"Bila semua ini harus ditukar dengan nyawa sekalipun akan mas lakuk...,” Sekar menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya.
“Jangan bicara apa pun tentang kematian mas, aku tidak sanggup mendengarnya sekecil apa pun pembicaraan itu.”
“Kita harus memikirkan semuanya Bee, kondisi apapun. Terbaik, atau bahkan terburuk sekali pun.”
“Apa semenakutkan itu cerita ini mas?”
“Semua masih abu-abu, mas belum mendapat gambaran detailnya.”
“Aku sudah selesai mengobati Ryan,” ucap Renata memberi pengumuman. Menghentikan oembicaraan Sekar dan Danil.
“Apakah kalian lapar, atau ingin minum?” tanya Sekar.
“Tidak terima kasih,” jawab Renata.
“Nil,” panggil Ryan.
“Bagaimana keadaan anak kembar kalian?” tanya Sekar. Ryan dan Renata saling menatap, ada keraguan ketika ingin bercerita.
“Tidak perlu bercerita bila kalian ragu,” ucap Sekar.
“Bukan kami ragu pada kalian Kar,” ucap Renata berusaha menjelaskan. “Namun,”
BRAKK! Pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Bisma memasuki ruangan dengan tergesa, membisikkan sesuatu pada Danil.
“Ryan, ada yang belum kamu ceritakan?”
Ryan mengingat apa saja yang sudah dia ceritakan tadi. “Semuanya sudah aku ceritakan. Mengenai identitas Heru dan big boss sudah aku ceritakan. Mengenai identitas mereka secara detail dan lengkapnya aku tidak tahu.”
Dia berpikir dengan keras info apa yang belum disampaikan pada Danil.
Bila Danil memaksa sekalipun dia sama sekali tidak mengenal Heru. Lelaki itu sudah pasti tangan kanan big boss yang paling setia.
Heru, Kedatangan dan kepergiannya tidak dapat diprediksi, sesuka hatinya, terlebih bila ada tugas mendadak dari big boss.
Heru bagaikan jalangkung. Roh halus yang datang tidak jemput pulang tidak diantar. Tugasnya hanya menyampaikan pesan, bila dia menolak atau ada protes yang dilayangkan, sosok Heru akan berkata “Jangan macam-macam dengan big boss sekali saja kamu melawan nyawa taruhannya.”
“Masalah siapa Heru sudah aku ceritakan tadi. Mengenai tuan besar, sumpah sampai detik ini aku belum pernah bertatap muka. Tapi dia mengetahui semua tentang aku dan Renata,” ucap Ryan.
“Sampai sejauh mana?”
“Sangat mendetail, terutama latar belakang keluarga kita masing masing.”
“Siapa saja yang tahu masalah ini?”
“Sampai saat ini hanya aku dan Renata yang tahu. Aku curiga Fajar mengetahui sesuatu hal, karena dia dan Gara membantu menyembunyikan anak kami.”
“Apakah perusahaan tempat kamu bekerja milik tuan besar itu?”
“Jujur aku sepenuhnya tidak tahu Danil, kamu tahu sendiri aku bekerja disana dan tidak dapat mengundurkan diri seenaknya. Kamu tahu siapa pemilik oerusahaan itu. Dugaan aku, perusahaan tempat aku bekerja adalah salah satu milik big boss.”
“Aku masih membutuhkan pertolongan yang lainnya, apakah kamu keberatan jika aku membicarakan hal ini dengan sahabat kita?”
“Tidak, tentu saja tidak. Paling utama, bagian terpenting, sudah aku ceritakan dengan mu.”
“Aku dan Bisma masih mencari siapa sosok big boss dan Heru, masih ada data-data yang misterius.”
“Danil, aku dan Renata meminta maaf atas apa yang terjadi selama ini," ucap Ryan sekali lagi.
"Sekar, aku tahu kamu mungkin tidak bisa memaafkan perbuatanku, aku hanya ingin meminta maaf atas semuanya, maafkan kami.”
“Seperti yang sudah aku katakan tadi, aku hanya manusia biasa, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya," ucap Sekar masih dengan jawaban yang sama.
***
__ADS_1