Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Sakit Jiwa


__ADS_3

“Jangan di pikirkan perkataan Renata Bee,” untuk kesekian kalinya Danil memohon pada istrinya.


“Mas, aku tidak apa-apa, terserah dia mau berbicara apapun tentang aku, aku enggak masalah mas, yang


pasti aku tahu, bahwa cinta kamu hanya untuk aku mas.”


“Pastinya sayang, jangan pernah meragukan itu.”


“Iya mas.”


“Sekarang kamu telepon Ryan, dia pasti sudah banyak meninggalkan misscall.”


“Males mas. Aku tidak ingin menelepon balik. Tidak harus menelepon kan? Pasti ribut deh, marah-marah,” ucap Sekar.


“Telepon balik sayang,” perintah Danil, yang langsung dituruti oleh Sekar.


Sekar mengambil ponselnya yang dia simpen di bawah bantal dengan malas. “Ya ampun, banyak banget,” katanya memperlihatkan layar ponsel pada suaminya.


“Gila! seratus dua puluh misscall, dalam waktu dua puluh menit,” kata Danil, melihat layar ponsel istrinya. “Sakit jiwa itu orang.”


“Iya mas, pasti seperti ini, dia akan terus menelepon kalau tidak aku jawab,” ucap sekar.


“Telepon sekarang Bee,” pinta Danil.


“Iya mas,” Sekar langsung menelepon Ryan, dan tidak lama laki-laki itu berbicara.


“Kemana saja kamu, sengaja tidak mau jawab telepon aku?!” tanya Ryan marah.


“Maaf Yan, tadi sedang buat sarapan bantuin bunda, kamu tahu kan aku selalu bantuin bunda,” jawab Sekar menjelaskan.


“Bawa dong ponsel kamu, apa ini hanya alasan saja?” tanya Ryan.


“Yan, kamu kan tahu , kalau di rumah aku jarang pegang ponsel, apalagi kalau pagi. Aku selalu bantuin bunda,” jawab Sekar.


“Alasan saja,” kata Ryan ketus.


“Jangan marah-marah dong, ngomongnya pelan dikit, kebiasaan deh.”


“Makanya kamu jangan cari gara-gara kebiasaan saja, kamu kan tahu aku paling tidak suka menunggu,” Sekar menatap Danil, seakan meminta pertolongan.


“Kamu sudah marahnya?” tanya Sekar menahan kesal seperti biasanya.


“Sudah diapain saja kamu sama si kutu satu itu?”


“Kutu, maksudnya Mas Danil?” tanya Sekar reflek, seketika tersadar dia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Danil menangkap ponsel yang hampir jatuh, ketika kedua telapak tangan menutup wajahnya.


“Jadi kamu panggil dia mas, sedangkan ke aku cuma nama? Sekarang jujur sama aku, apa kalian sudah melakukannya?” tanya Ryan dengan emosi, Sekar terdiam, dia menatap suaminya, Danil hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Maaf Ryan, sudah sejak lama aku panggil dia dengan sebutan itu, terus aku harus panggil apa sama Mas ku itu?” seketika kembali tersadar, dia memukul kepalanya. Danil menahan tangan kanan istrinya yang berusaha memukul kepalanya sendiri.


Danil menggeleng dengan keras, seakan mengatakan "Stop Bee, jangan lakukan hal itu."


“Kamu benar-benar menguras kesabaran aku Sekar. Kenapa bisa kamu memanggil dia dengan sebutan MAS KU?!” tanya Ryan, semakin tinggi nada suaranya.


“Maaf Yan,” kata Sekar.


“Maaf, maaf, maaf Yan, gue salah ngomong, maaf kebelibet.”


“Kapan sih loe enggak belibet kalau ngomong? Kapan sih loe nurut sama gue? KAPAN SIH LOE BISA NGELUPAIN SI KUTU SATU ITU?”


“Yan, aku cape, please jangan teriak-teriak ngomongnya,” pinta Sekar. Biasanya bila dia sudah berkata seperti ini Ryan akan sedikit meredam emosinya, tapi Sekar salah, kali ini Ryan sudah benar-benar marah.


“MURAHAN!!!” Teriak Ryan, membuat Danil mengepalkan tangannya.


“Apa kamu bilang?” tanya Sekar kesal dan marah.


“MURAHAN,” jawab Ryan.


“Coba bilang sekali lagi!” Sekar mulai tidak bisa menahan emosinya.


“KAMU MURAHAN!” Ryan mengulang perintah Sekar. “YA KAMU MURAHAN SEKAR!!!"


Danil sudah sangat kesal, mendengar laki-laki di ujung telepon sana menghina istrinya. Tangannya mengepal dengan kuat, rahang kokongnya mengencang, membuat kerutan di sekitar keningnya, hatinya sudah jelas panas.


Bila Ryan berada di depannya pasti sudah habis babak belur di hajar oleh Danil.


“Aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah berbicara seperti itu, dan aku tidak murahan Ryan. Kamu sangat tahu itu.”


“Kamu menikah sama si kutu, salah satu bukti, kamu terlihat murahan.”


“Cukup Yan, aku tidak ingin berantem, tidak ingin lagi berdebat aku cape Yan,” ucap Sekar, dia menarik nafas berusaha mengontrol emosinya.


“Kalau kamu mau telepon aku cuma untuk marah-marah, aku tutup teleponnya.”


“Ampun jangan sayang, maafin aku,” pinta Ryan, terdengar tulus tanpa emosi. Danil mengerutkan keningnya, menatap Sekar.


“Kasih aku waktu ya, sekarang kita tutup dulu ya, please,” pinta Sekar.


“Maaf sayang,” Ryan kembali meminta maaf.


“Please,” sekar memohon untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


“Maaf sayang, nanti aku hubungi kamu lagi ya,” kata Ryan.


“Iya,” jawab Sekar.


Akhirnya Sekar menghembuskan nafasnya dengan berat, pembicaraan dengan Ryan selalu melelahkan, selalu ada perdebatan.

__ADS_1


Sekar menatap suaminya yang tersenyum kecut, dia tidak ingin membuat Danil kesal dengan perlakuan Ryan terhadapnya, namun terlambat rahang suaminya sudah terlihat mengeras.


“Mas...”


“Dia selalu seperti ini Bee?” tanya Danil melepaskan pelukannya dan merubah posisi duduknya agar berhadapan dengan istrinya.


“Iya mas, selalu seperti ini. Kalau aku mulai mengancam dia bisa seratus delapan puluh derajat berubah, seperti tadi, dalam hitungan detik loh mas dia bisa tiba-tiba minta maaf.”


“Sakit jiwa dia Bee, kamu harus hati-hati sayang.”


“Beneran sakit kan mas? Aku tidaj salah kalau gitu.”


“Maksudnya Bee?” tanya Danil bingung.


“Iya bener kata mas, sakit jiwa ini orang. Ryan itu sakit mas,” kata Sekar menekankan.


“Coba cerita, kenapa kamu bisa memastikan dia sakit, walaupun sebenernya dengan melihat tingkah laku dia seperti tadi ke kamu itu, aku bisa memastikan kalau dia sakit jiwa.”


“Iya mas, bodoh aku sampai tidak sadar, padahal dulu dia tidak seperti ini mas. Waktu awal-awal pacaran dia itu seorang laki-laki yang baik, enak di ajak ngobrol, dia tuh orang yang positif thinking mengenai apapun, perhatian, penyayang deh mas. Sampai tiba-tiba dia menghilang selama seminggu, tanpa kabar, bles hilang gitu saja mas, dimana pun aku cari enggak ketemu.”


“Sebentar Bee,” kata Danil memotong cerita istrinya. Tidak lama dia datang membawa gelas minum, dan di berikan pada Sekar.


“Makasih mas,” Sekar meminum sedikit, lalu meletakkan gelasnya pada meja di depannya.


“Lanjut, sorry tadi mas potong.”


“Tidak apa-apa mas. Lanjut ya,” kata Sekar meminta persetujuan suaminya yang dijawab anggukan.


“Setelah seminggu menghilang, tiba-tiba dia datang dan membuat keributan mas."


"Sampai sekarang aku tidak tahu masalahnya apa. Saat itu aku, Nia, Adit, Fajar, dan Zahra, lagi makan pecel lele, tiba-tiba saja dia datang dan mukulin Adit, sontak dong buat semua orang kaget, heboh banget deh saat itu."


"Adit emosi banget, Fajar langsung melerai keduanya, terus aku yang ada di depannya dicuekin, lihat aku saja enggak mas, ngomong apa kek ketemu tuh, saat itu pergi aja nyelonong enggak jelas."


"Adit tuh sampai habis di introgasi sama Nia, sumpah-sumpahan tidak tahu kenapa Ryan bisa tiba-tiba datang dan langsung mukulin dirinya.”


“Sampai sekarang tidak ada penjelasan dari dia kemana dia pergi?” tanya Danil.


“Tidak ada mas, dia cuma bilang emosi sesaat ada masalah keluarga, ya aku enggak mau maksa dia untuk cerita apalagi yang berhubungan dengan keluarganya. Status aku cuma pacarnya saat itu, lain hal nya kalau posisi aku tunangannya,”


“Terus kenapa kamu bisa balik lagi?”


Sekar menatap suaminya dengan takut-takut “Mas pasti marah deh,” kata nya sambil menundukkan kepalanya.


***


Tahan dulu ya.


Ditunggu komen, vote dan

__ADS_1


likenya yaaaa....


Terima Kasih


__ADS_2