
Sekar dan Danil sudah melaksanakan proses akad nikah, Kini keduanya sedang istirahat di dalam kamar.
Masih ada waktu satu jam lagi, sebelum kedua pengantin baru ini harus melakukan perjalanan menuju Pelangi Hotel Resort.
Resort milik keluarga Danil, tempat resepsi pernikahan mereka nanti malam yang berada di daerah Puncak, kabupaten Bogor.
Sekar duduk di sebelah Danil setelah memberikan segelas air dingin untuk suaminya. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu kiri suaminya. Danil mengecup lembut kepala istrinya, dan mengulurkan tangan kirinya memeluk bahu Sekar.
"Hai istriku," sapa Danil.
"Hai suamiku," Sekar membalas sapaan Danil.
"Mas bahagia Bee, akhirnya kamu menjadi istri mas."
"Sekar juga bahagia mas," jawabnya sambil menatap suaminya.
"Jangan pernah takut apapun Bee, mas selalu ada buat kamu."
"Mas, mau jujur ...," Sekar menatap Danil, yang di tatap menatap balik.
"Mas, bagaimana dengan Ryan dan Renata?" tanya Sekar.
"Jujur Sekar takut mas, terlebih sama Ryan."
"Kita hadapi sama-sama ya. Seperti rencana awal, biarkan saat ini mereka tahu kita menikah karena perjodohan. Masih ada beberapa hal yang harus mas pantau."
"Mas ..."
"Apa sayang?"
"Takut."
Danil menatap sekar, "Kamu punya mas, sayang."
"Mas hanya minta, kita selalu terbuka. Apapun yang kamu takutkan, khawatirkan, kamu harus bilang sama mas."
"Intinya, semua harus kamu bicarakan sama mas, janji ya," pinta Danil lebih mirip sebuah perintah.
"Iya mas."
"Iya apa?"
"Iya janji, akan selalu terbuka dan nurut sama mas," ucapnya. "Tapi mas juga harus janji selalu terbuka, tidak ada yang boleh di tutupi."
"Mas janji," kata Danil sambil mengecup bibir Sekar.
"Mas, kalau nanti malam tiba-tiba mereka datang bagaimana?" tanya Sekar.
Sekar khawatir, bila Renata dan Ryan datang ke resepsi pernikahan mereka nanti malam. Ia sangat takut keduanya akan melakukan hal yang tidak di ingikan.
"Kita akan menyambutnya Bee."
"Mas yakin?" tanya Sekar terkejut.
__ADS_1
"Yakin, seyakin yakinnya Bee," jawab Danil tanpa ada keraguan.
"Baiklah aku percaya sama mas," katanya, walaupun dia masih takut terjadi hal buruk pada acara resepsi pernikahannya.
###
Renata dan Ryan memiliki kelakuan yang hampir sama seperti anak kembar identik, yang membedakan hanya jenis kelamin saja. Satu versi laki-laki dan yang satu versi perempuannya.
Sama-sama memiliki tingkat emosional yang tinggi, bila sudah marah-marah, hobinya melempar barang-barang yang berada di sekitarnya.
Untuk melampiaskan emosinya, keduanya kerap kali menjerit atau membentak siapapun yang berada di dekatnya. Hal ini yang membuat Sekar trauma, dan takut bila mereka datang lalu emosi, Sekar tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada resepsi pernikahan mereka.
"Jangan takut Bee, mas sudah memikirkan semuanya, kalau mereka datang dan berbuat yang aneh-aneh, anak buah mas sudah tahu harus berbuat apa. Papa dan ayah juga sudah mengantisipasi hal ini.
"Maafkan ketakutan sekar yang berlebihan ya mas."
"Iya sayang, wajar kalau kamu takut, mas enggak nyalahin. Percaya sama mas ya," pinta Danil meyakinkan istrinya.
"Iya mas."
"Bee, mas bahagia banget, bisa jadi suami kamu. Kita pacaran lama malah putus ya, sekalinya ketemu lagi, langsung menikah. Kamu bahagia sayang?"
"Jujur, pertamanya aku nolak perjodohan ini, karena mas sudah ada Renata. Mana mas nyebelin banget kalau lagi sama mak lampir satu itu, kenapa sih mas bisa jadi sama dia?"
"Kamu kenapa bisa jadian sama Ryan, mas enggak suka banget lihat kamu sama Ryan, apalagi kalau Ryan sudah mulai pegang-pegang kamu, bisa-bisa nya kamu diam aja, padahal dulu kamu selalu menjaga jarak sama mantan-mantan kamu," Danil mengeluarkan ungkapan hatinya.
"Mas, jangan marah-marah dong," pinta Sekar.
"Kamu yang mulai duluan," kata Danil langsung mencium bibir Sekar, dan Sekar pun membalas ciuman suaminya.
Kedua orang tua mereka dan keluarga besar sudah pergi duluan setelah acara akad nikah selesai, bahkan saat ini seluruh keluarga besar sudah sampai di resort dan sedang bersantai.
“Mas, peluk dong,” pinta Sekar, menutupi perasaan hatinya yang sedang gelisah.
“Ada apa sayang?”
“Mas takut, hati ini tidak tenang,” Sekar kembali mengutarakan isi hatinya pada Danil.
“Bisma, tolong berenti sekarang,” perintah Danil.
Danil tidak berani melanjutkan perjalanan bila Sekar sudah mengutarakan kegelisahannya yang dia sendiri tidak bisa menahannya.
Bagi Danil bila isrinya sudah mengutarakan kegelisahan hati secara berlebihan biasanya akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Hal ini terbukti beberapa kali terjadi saat mereka masih berpacaran.
Bisma memhentikan kendaraannya di sebuah cafe di daerah Gadog, beberapa mobil yang mendampingi mereka ikut menepi, termasuk mobil yang dikendarai Nia dan Adit.
“Tolong cek keadaan mobil,” perintah Danil pada bisma dan beberapa anak buahnya ketika Sekar dan Nia sudah berada di dalam cafe.
“Masuk dulu Nil,” kata adit, yang disetujui oleh Danil, dibelakangnya Bisma mengikuti.
“Sudah tenang Bee?” tanya Danil yang khawatir terhadap keadaan istrinya.
“Sudah minum teh manis hangat, tapi tangannya masih dingin dan gemetaran Nil,” jawab Nia.
__ADS_1
Danil menghampiri istrinya, merentangkan tangannya dan memeluk dengan erat. Sekar membalas pelukan erat suaminya.
“Tenang Bee, mas disini,” Danil berusaha menenangkan Sekar.
Adit menoel bahu Danil yang masih memeluk sekar dia menatap Adit yang memberi kode menyuruhnya keluar bersama Bisma. Danil pun mengedipkan matanya seakan memberi tahu nanti dia akan menyusul.
Sekar mulai merenggangkan pelukannya, kini dia menatap suaminya. Danil membalas dengan senyuman, seakan memberi tahu bahwa dia selalu ada untuk istrinya.
“Minum lagi Bee,” Danil menyodorkan gelas berisi teh manis pada istrinya.
“Makasih mas.”
“Mas ke depan sebentar ya,” Danil meminta izin Sekar, dan istri yang sudah sedikit lebih tenang mengangguk menjawabnya.
“Titip istriku Nia,” pinta Danil, mengecup kening Sekar dan berjalan menuju tempat parkir.
“Ada kabar apa?” tanya Danil.
“Barusan kita cek mobil yang loe pake, montir bilang, kalau bisa mobilnya di simpan di bengkel untuk di cek,” jawab Adit.
“Kenapa?”
“Tadi waktu Rio nyupir mobil ada tanda muncul, masalah pada rem, hanya saja Rio dan Bisma pikir masih bisa di atasi," ucap Adit.
"Anehnya, sebelum pergi Rio sudah cek kondisi mobil dan ok semuanya mas,” Rio menjelaskan pada Danil.
“Pantas saja perasaan istriku gelisah dari tadi,” kata Danil.
“Mas, gimana kalau mobil tetap kita jalanin, dengan hati-hati, kalian pergi ikut mobil Mas Adit, Bisma sama anak-anak tetap ngikutin kalian. Dua mobil mengikuti saya seperti formasi awal, saya akan coba pelan-pelan jalaninnya mobilnya,” pinta Rio.
Danil masih berfikir, langkah apa yang harus dia ambil, namun Rio dan bisma mendesak karena waktu terus berjalan, dan semakin mendekati acara resepsi penikahan mereka.
“Mas ayolah, saya akan diikuti montir, dan beberapa teman yang lain,” pinta Rio mendesak Danil mengambil keputusan.
“Baiklah, tapi kamu harus selalu memberi kabar pada Bisma,” perintah Danil pada Rio, dan tangan kanannya itu mengangguk.
“Formasi seperti tadi, di simpang depan kalian langsung menyusul,” Rio memberi perintah. Semua pun langsung mengerti perintah yang diberikan.
Danil menjemput istri dan sahabatnya, kemudian langsung menjalankan rencana yang sudah mereka susun tadi.
Empat puluh menit kemudian, mereka sampai dengan selamat di resort, dengan perintah Danil pengawalan serta keamanan ditingkatkan di area resort, setelah Danil mengadakan rapat mendadak bersama Ayah Bagas, papah Andi, Adit dan Bisma.
Sekar kini sudah masuk ruang rias, ditemani Nia, bunda Ria, mamah Fina. Tidak lama mamah Maya, masuk ke dalam ruangan.
Mamah Maya adalah ibunda Nia, sahabat Bunda Ria dan Mamah Fina. Kini ruangan rias tempatnya dijaga ketat oleh para bodyguard pilihan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? semoga resepsi pernikahan mereka berjalan dengan lancar.
***
Apakah kalian menyukai jalan ceritanya?
ditunggu komen, dan like nya ya.
__ADS_1
Terima kasih