Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Aku Lebih Mencintaimu Mas Danil


__ADS_3

Danil menatap tajam pasangan suami istri ini secara bergantian. Tatapannya ibarat busur panah yang siap dilepaskan dari tangan seorang pemanah handal. Ia mencari titik kebohongan dari mata keduanya. Dengan pasrah ayah dari dua bayi kembar itu menguatkan dirinya menatap pria yang berada di hadapannya.


Ryan dan Renata ini terlihat salah tingkah, ditatap begitu tajam oleh suami Sekar. Danil mengepalkan tangannya, sudah tidak sabar ingin meninju wajah pasrah lelaki dihadapannya.


Dalam otak besar berbagai pertanyaan mulai muncul satu persatu, mendesak, menuntut jawaban dengan segera.


Sekar mengelus punggung tangan suaminya dengan lembut, berusaha menenangkan emosi laki-lakinya, dan itu berhasil! Senyum tipis tersungging dari bibirnya, walau tipis membuat Sekar lega menandakan kadar emosi suaminya mulai menurun.


Bisma pun berpikir keras, terlihat dari raut wajahnya, lelaki ini sudah tidak sabar melontarkan berbagai pertanyaan, namun dia masih menunggu Danil melakukannya lebih dulu.


“Maaf,” sebuah kata terucap dari indra pengecap seorang Ryan.


Danil melirik tajam ke arah suami kekasihnya, mulai beberapa saat lalu perempuan itu telah berubah statusnya menjadi mantan kekasih.


Pandangan wajahnya tetap pada Sekar, istrinya menggelengkan kepalanya sedikit, hembusan nafas berat suaminya menandakan dengan terpaksa untuk kesekian kali menurunkan kadar egonya.


“Kenapa?” tanya Danil tanpa mengalihkan pandangannya dari perempuannya.


Kali ini giliran Ryan menghembuskan nafas beratnya, Renata berusaha menenangkan suami dengan caranya. Tidak berbeda jauh dengan yang di lakukan Sekar, kini dia pun semakin mengeratkan genggaman jemarinya seakan memberi kekuatan lebih pada suaminya.


“Saat itu...,”


“Aku tidak ingin mendengar kembali kisah menyedihkan kalian, yang aku tanyakan mengapa kalian tega melakukan hal ini?”


“Kami terdesak Nil.”


“Aku mengerti kalian sangat terdesak dengan semua itu. Tapi kamu temanku Ryan!" Danil mulai meninggikan suaranya.


Fajar, Ridwan, Adit dan kamu, bukan lagi teman, tapi kalian sahabat terdekat aku. Mana ada sahabat yang tega mencelakakan sahabatnya sendiri?”


Akhirnya kekesalan itu terlontar sebagai pertanyaan yang menuntut jawaban kejujuran dari seorang Ryan.


“Jujur, aku tidak ingin melibatkan kalian dalam hal ini.”


“Oleh karena itu, kamu memilih memutuskan persahabatan denganku dan melakukan semua hal bodoh itu?”


“Maafkan aku Danil.”


“Aku tidak pernah peduli kamu akan melakukan hal gila sekali pun. Mau kamu memusuhiku, kamu manantangku, kamu yang selalu membuat masalah denganku, AKU TIDAK PEDULI RYAN!”


“TIDAK PEDULI!!!” Teriakan Danil bergema di ruangan yang cukup besar untuk pertemuan mereka.


“Tapi aku peduli terhadap kelakuanmu yang menjadi psikopat dan melakukan kekerasan pada perempuan, dan perempuan itu istriku Ryan! Terlepas kamu melakukan saat Sekar belum sah menjadi istriku, tapi kamu tahu betapa aku sangat menyayanginya.”


"Kamu tahu kan, sangat tahu sekali, betapa aku terpuruk karena putus dengannya, kehilangan cintanya. Kamu ada saat itu, saat dimana aku mejadi laki-laki paling menyedihkan, saat dimana aku rela menukar apapun demi cintanya kembali padaku."

__ADS_1


"Apa kamu tahu, aku tidak pernah menyentuh Renata, apalagi melakukan kekerasan kepadanya."


"Sungguh tega kalian mempermainkan cinta tulusku."


Sekar terkejut menatap suaminya, begitu besar rasa cinta terhadap dirinya. Dia menyesal teringat betapa bodohnya untuk pergi menjauh tanpa menuntaskan masalahnya saat itu.


“Maaf,” sekali lagi terlontar kata maaf dari mulut Ryan.


“MAAF KAMU BILANG!!!”


“Apa kamu tahu betapa sakit hati ini melihat lebam yang membekas di tubuh perempuan yang paling aku sayangi?”


“Apa kamu tahu rasanya sakit hati ini melihatnya meringis menahan sakit ketika aku menyentuhnya?”


“Apa kamu tahu bagimana rasanya mendengar perempuan ku selalu memohon untuk tidak meninggalkannya karena ketakutannya?”


“Setiap malam aku selalu memikirkan bagaimana carannya menghabisi dirimu!!!”


"Apa yang akan kamu lalukan bila hal ini terjadi pada Renata?"


“Maaf,” Ryan berbisik, kekuatannya hilang. Kini lelaki itu sudah tidak dapat menunjukkan taringnya. Dia lemah, merasa bersalah, dia terpuruk mengingat perlakuannya pada Sekar.


Danil melepaskan tangan Sekar dengan lembut, mengusap rambut perempuannya, berdiri dan meninggalkan istrinya yang sedikit panik, dan mendekati Ryan.


Di tarik kerah kemejanya, sehingga suami Renata ini bangun dari kursinya. Emosi Danil sudah di ubun-ubun, memuncak, dia sudah kehilangan kesabaran, mengingat semua kelakuan laki-laki dalam cengkramannya terhadap orang yang sangat dicintainya. Renata pasrah melihat Ryan tidak berdaya di depan Danil.


Pukulan bertubi-tubi dari tangan kanannya Danil. Ia layangkan pukulannya ke seluruh tubuh Ryan. Pria dihadapannya hanya diam tanpa berniat membalasnya. Renata menangis menatap suaminya yang mulai terkulai lemas.


Sekar ingin berlari mendekati Danil, namun Bisma menghalangi. “Jangan sekarang,” ucapnya berbisik.


Sekar menatap Bisma dengan penuh kesal. Bisma dengan lemah menggelengkan kepalanya, namun Sekar memberontak dan melepaskan cengkraman tangan orang kepercayaan suaminya.


Bugh...,


“Ini untuk sakit yang istriku alami.”


Bugh...,


“Ini untuk rasa pengecut loe!”


Bugh...,


“Ini untuk semua kebodohan loe!”


“Cukup Mas Danil!” teriak Sekar.

__ADS_1


“Sudah cukup Mas Danil,” Sekar berteriak kedua kalinya, kali ini dia beranikan diri, menahan kepalan tangan suaminya yang belum terangkat. Dia menggelengkan kepalanya menyuruh pria yang dicintainya menghentikan perbuatannya.


“Cukup mas,” ucapnya lirih.


“Mas,” Sekar memohon.


Danil memeluk istrinya, nafasnya tidak beraturan, dia berusaha mengontrolnya namun gagal. Wajahnya sangat merah, rahang kokoh itu mengatup tegang menahan emosi yang belum dapat diredamnya.


Renata pun menjatuhkan tubuhnya, memeluk Ryan yang sudah lemas. Membersihkan darah yang mengucur dari bibir dan hidung suaminya. Wajah tampannya kini sudah babak belur oleh amarah Danil. Renata menangis, isak tangisnyanya, terdengar sangat pilu. Dia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada lelakinya.


“Maaf Danil, Sekar,” ucapan permintaan maaf terucap dari bibir Renata dengan tulus.


Danil semakin mengeratkan pelukannya pada Sekar. Dia tidak ingin mendengar apapun dari mulut keduanya. Usapan lembut pada punggungnya membuat dia menatap dan kemudian mencium kening Sekar dengan penuh sayang.


Sekar menaruh tangan kanan di dada suaminya, mengelus dengan lembut, berharap emosi yang masih membara dapat luntur seiring usapan tanganya.


Semua diam, tidak ada yang bersuara atau pun bertindak, hanya terdengar isak tangis Renata yang masih memeluk Ryan. Dua srikandi serta Upin dan Ipin pun diam mematung, namun siaga penuh bila sewaktu-waktu mereka dibutuhkan.


Sekar menggenggam tangan lelakinya, berjalan menuju kursi tempat mereka duduk. Danil menuruti semua perintah istrinya dengan patuh. Sentuhan lembut kedua telapak tangan perempuan tersayang membuat dia menengadah, menatapnya.


“Buang semua rasa dendam itu mas, jangan pernah kotori tangan mas lagi,” pinta Sekar, dia sangat memohon pada suaminya.


“Luka boleh dibalas dengan luka, darah boleh di balas dengan darah, bahkan nyawa sah sah saja di balas dengan nyawa, tapi tidak dari tangan lelaki ku.”


“Tidak dari kedua tangan mu mas,” ulang Sekar.


“Kamu suamiku, calon bapak dari anak-anak kita kelak, jangan pernah menyimpan dendam apalagi membuat kenangan buruk untuk dikenang.”


“Lepaskan ego mu mas, luruhkan emosimu, hilangkan semua dendam. Aku tahu ini berat, dan aku sangat berterima kasih, mas begitu mencitaiku.”


“Aku lebih mencintaimu Mas Danil, sekarang, nanti, bahkan sampai dimasa yang akan datang,” Sekar mencium kening, kedua pelupuk mata, pipi, dan rahang tegas suaminya.


Danil langsung memeluk Sekar dalam duduknya, membenamkan wajah penuh amarah di tubuh mungil istrinya. Andaikan tidak ada Sekar, mungkin nasib Ryan sudah tidak bernyawa saat ini.


Mengapa kamu begitu mudah memafkan?


Semua yang aku lakukan ini belum seberapa, jika dibandingkan dengan apa yang telah dilakukannya terhadap mu.


Siapa yang tega ingin memisahkan kita Bee?


Aku tidak pernah memiliki musuh, kecuali Ryan.


Tuhan, sampai kapan pun tolong jaga “Cinta Milik KITA” jangan pernah engkau pisahkan aku dengannya. Kamu pasti lebih tahu bagimana terpuruknya aku bila kehilangannya. Aku tidak ingin kehilangan cintanya.


Berbaik hatilah padaku Tuhan.

__ADS_1


Danil memanjatkan doa dalam diam, dia berharap semua pengakuan Ryan hanya mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya. Namun semua itu hanyalah harapan, karena pada kenyataannya waktu tidak pernah berhenti dan semua ini sudah terjadi. Saat ini yang dapat dilakukan adalah mencari tahu, siapa dalang di balik semua kejadian ini.


***


__ADS_2