Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Menenangkan Diri


__ADS_3

Ponsel Sekar berbunyi, ada beberapa message masuk di aplikasi whatsapp nya. Ia sangat terkejut dengan pesan yang baru saja diterimanya.


Foto Mas Danil dan Renata yang sangat mesra dan intim, terlihat Danil sedang tidur bersama Renata tanpa busana. Air matanya turun tanpa diminta. Sekar memutuskan untuk keluar rumah.


Ia masih harus mencerna apa yang baru saja terjadi. Saat ini sudah dipastikan dirinya tidak bisa berhadapan langsung dengan Mas Danil.


Ia harus melepaskan rasa sesak yang menggerogoti relung hati. Ia belum sanggup jika apa yang baru saja dilihatnya benar adanya.


Sekar pergi meninggalkan Danil yang masih berada di kamar mandi. Meninggalkan rumah, meninggalkan asisten rumah tangga yang bingung melihat anak majikannya pergi dengan tergesa-gesa. meninggalkan Pak Atmo, Jajang, satpam dan supir bunda juga sempat menahannya pergi.


Sekar mematikan ponselnya, saat ini ia tidak ingin semua orang mengganggunya. Tidak suaminya, bunda, ayah, dan mertuanya. Dia pun tidak ingin Nia, Adit, bahkan Ryan sekalipun ikut mengganggunya.


Sekar ingin merasakan kedamaian untuk hatinya. Mencoba berdamai dengan keadaan. Mencoba mengurai benang kusut yang terjadi, jujur dia belum siap mendengar jawaban, mau baik atau buruk sekalipun.


Kejadian yang begitu cepat, membuatnya harus menyegarkan isi kepala yang saat ini tidak bisa diajak bekerja sama.


Ia terus menjalankan mobilnya, berjalan tanpa arah dan tujuan. ketika tersadar ia sudah berada jauh dari Jakarta.


Ia menghentikan perjalanannya, memarkirkan kendaraannya diantara pohon teh.


Sekar menarik nafas sangat dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menghirup udara segar, sambil menikmati ciptaan ilahi, pemandangan sekitar yang menyejukkan hatinya.


Terpaku menatap para wanita pemetik teh yang sedang bekerja. Sayup terdengar tawa renyah tanpa beban dari mulut mereka. Sesekali terdengar suara mandor yang memperingati untuk tidak bercanda.


Sekar meneguk teh manis panas dari cangkir berwarna putih. Menikmati kesendiriannya sambil menghirup aroma daun teh.


Sekar baru menyadari bahwa ia sudah terlalu lama pergi meninggalkan rumah. Setelah memikirkan, menimbang akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Keputusan itu diambil setelah dia menghabiskan secangkir teh panas untuk ke lima kalinya.


Dia mulai menyadari perbuatannya salah ketika memikirkan akibat yang akan terjadi atas perbuatannya. Sudah dipastikan ayah dan bunda akan melakukan hal yang di luar batas.


Saat ini sudah dapat dipastikan selain kedua orang tuanya, mertuanya, suaminya pun akan kalang kabut mencari keberadaan dirinya.


Sekar menyalakan ponselnya ketika sudah berada di Jakarta. Banyak sekali pesan yang masuk sebagian besar dari Danil, kedua orang tuanya, mertuanya, Nia dan Adit pun tidak ketinggalan.


Banyak banget pesan dari Mas Danil, pasti sangat khawatir. Benarkah khawatir?


Tulilit.., Tulilit..., Tulilit.., ponsel Sekar berbunyi


“Kenapa mas?” tanya Sekar dengan dingin.


“Alhamdulillah, thanks god (terima kasih Tuhan). Sayang kamu di mana? mas nyariin dari tadi." ucapnya terdengar khawatir.


"Kamu dimana Bee?” tanya Danil kedua kalinya. "Mas jemput ya, kamu dimana?" tanpa memberi kesempatan Sekar menjawabnya, Danil bertanya kembali.


“Tenang, sebentar lagi aku pulang,” jawab Sekar.


“Bee, mas sangat khawatir,” Sekar diam tidak menjawabnya.


“Mas tunggu di rumah Bee.”


“Iya," jawab Sekar singkat.


“Hati-hati ya.”


“Iya.”


Sekar sambil mematikan ponselnya. Dia berhenti sebentar di rest area, ingin membaca semua pesan yang masuk.


Danil :

__ADS_1


“Sayang kamu di mana?”


“Sayang, kenapa kamu menghilang tiba-tiba?”


“Sayang, aku jemput ya?”


“Bee, mas salah apa, kenapa kamu pergi tiba-tiba?


" Bee, kabarin mas secepatnya."


" Mas sayang kamu Bee.”


“Bee love you.”


“Please hubungi mas sayang.”


Dan masih banyak pesan yang belum dibaca oleh Sekar.


Tulilit..., Tulilit..., Tulilit..., ponsel Sekar kembali berdering.


Sekar menatap tulisan yang muncul di layar ponselnya. “Iya iya iya gue tahu, gue salah,” kalimat pertama yang keluar dari mulut Sekar ketika menerima telepon dari Nia.


“Sudah tahu salah, masih juga dilakukan! Kok bisa nekat sih Kar?” tanya Nia sedikit sewot.


“Enggak usah sewot deh,” bentak Sekar.


“Ya loe enggak di pikir dulu kalau kabur,” balas Nia membentak Sekar.


“Emang apa yang mau loe lakuin kalau tiba-tiba ada yang ngirim foto suami loe tidur sama perempuan


lain?” tanya Sekar, membuat Nia terdiam.


“Ya udahlah ya, gue juga sudah mau pulang kok,” ucap Sekar kesal.


“Bunda gue parah juga yah?”


“Sekar ini tidak main-main,” teriak Nia kesal.


“Ok, gue tau. Tenang deh, gue sudah mau deket rumah, nanti lagi ngomelnya ya,” ucap Sekar sambil memutuskan pembicaraannya dengan Nia.


Sekar bisa membayangkan apa yang akan terjadi begitu sampai di rumah. Ayah dan bunda sudah pasti akan memarahinya, Papah Andi dan Mamah Fina pasti akan mencapnya sebagai menantu yang seenaknya, dan Mas Danil pasti akan menginterogasinya.


Sekar mempersiapkan dirinya, sebelum masuk ke dalam rumah. Semua supir dan asisten rumah tangga menyambutnya dengan lega, setelah tadi mereka diinterogasi habis-habisan oleh bunda.


“Sayang,” Danil langsung memeluk Sekar. Mencium pipi, rambut, bahkan Danil tidak melepaskan pelukan eratnya.


“Bunda, ayah, papah dan mamah Sekar sudah pulang, semuanya tidak usah khawatir lagi."


"Danil mau ke kamar dulu sama Sekar,” ucap Danil tanpa melepaskan pelukannya.


Setelah pamit, Sekar dan Danil langsung menuju kamar mereka. Sekar sudah tahu apa yang akan menimpanya. Danil pasti marah-marah dan menyalahkan semua ini pada dirinya.


Tapi kenyataan berkata lain, sesampainya di kamar Danil tidak marah. Setelah melepaskan pelukannya pada bahu Sekar, ia langsung duduk mengambil rokoknya dan pergi menuju balkon.


Sekar menjadi serba salah. Lebih baik dia di marahi atau kalau perlu dibentak-bentak daripada di diamkan seperti saat ini.


“Jujur Bee, kenapa kamu pergi meninggalkan mas?”


“Mas Danil,” panggil Sekar takut-takut dan setengah berbisik.

__ADS_1


“Ya,” jawab Danil, serak dan hampir tidak terdengar.


Sekar kemudian memberikan ponselnya, memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Renata.


Seketika keningnya berkerut, rahangnya mengeras, menahan amarah.


“Kamu dapat ini kapan?”


“Tadi pagi waktu mas mandi.”


“Kenapa enggak langsung ngomong sama mas?”


“Aku kesel mas, aku muak melihatnya. Belum seminggu kita menikah, tiba-tiba aku dapat kiriman foto seperti ini, apa yang sudah mas lakukan sama Renata?”


“Dengar Bee, mas belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun, hanya kamu yang pertama dan seterusnya hanya sama kamu,” ucap Danil menahan emosinya.


“Yang seharusnya marah itu aku mas, kenapa kamu yang marah-marah. Istri mana yang enggak marah dikirimin pesan seperti itu."


"Istri mana yang tidak marah melihat suaminya tidur dengan perempuan lain, entah kapan kalian melakukan itu,” teriak Sekar mengeluarkan semua emosinya.


“Sayang, Demi Allah Bee, mas belum pernah melakukan hubungan dengan siapapun, mas baru melakukannya dimalam pertama pernikahan kita. Please, percaya sama mas.”


Sekar tidak bisa menahan emosinya, air matanya turun tanpa bisa dia hentikan, nafasnya sudah tidak dapat dia kontrol. Danil perlahan mendekatinya, mengenggam tangan istrinya dengan lembut. Sekar memalingkan wajahnya, namun Danil menahannya.


“Lihat aku sayang, please,” pinta Danil. Dengan tatapan yang masih kesal akhirnya Sekar menatap suaminya.


“Percaya sama mas Bee, mas tidak bohong.”


Sekar memejamkan matanya, air matanya masih turun membasahi pipinya. “Sakit aku lihat itu mas, aku merasa dibohongi.”


“Tidak sayang, mas tidak bohong. Hanya sama kamu.”


Danil langsung mengambil ponsel Sekar, mengirimkan semua foto yang ada di ponsel istrinya, ke ponsel dia dan Bisma. Tidak lama ponsel Danil berbunyi, dia langsung menerimanya.


“Cari tahu, kebenaran foto itu, lacak nomornya, dan tolong jaga istri dan seluruh keluargaku dua puluh empat jam,” perintah Danil pada Bisma, dia langsung berjalan menuju balkon, mengambil rokok dan membakarnya.


Sekar tahu Danil juga terpukul dengan pesan yang dikirim padanya. Tanpa sadar dia berjalan menuju suaminya.


“Mas Danil, maafin sekar,” katanya sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang.


“Seharusnya Sekar langsung bilang sama mas, bukan emosi. Sekar takut menghadapi kenyataan, takut bahwa apa yang orang itu kirim, adalah kenyataan yang harus Sekar terima.”


Danil membalikkan tubuhnya, memeluk Sekar dengan erat. “Kamu harus janji, mulai saat ini apapun harus kamu omongin sama mas. Mas tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi."


"Mas sayang sama kamu Bee, kamu pasti bisa merasakannya. Iya kan?”


“Sekar bisa merasakannya mas. Sekar juga sayang sama mas.”


“Janji kalau ada seperti ini lagi, kamu harus langsung ngomong sama mas.”


“Iya mas.”


‘Iya apa?”


“Iya Sekar janji mas. Sekar salah, maafin Sekar ya mas,” pintanya dengan perasan bersalah.


“Tidak ada yang salah sayang, tapi sumpah kamu buat mas khawatir banget. Mas tahu ini berat buat kamu, tapi tolong jangan buat semua panik,” pinta Danil.


“Iya mas, maaf” ucap Sekar.

__ADS_1


Danil memeluk istrinya dengan erat, walau dalam hatinya ia sangat kesal, dan tidak sabar menunggu kabar dari Bisma.


***


__ADS_2