
Jakarta
Siang menjelang sore, bandar udara internasional Soekarno Hatta, terlihat sibuk. Beberapa penerbangan dari berbagai negara mendarat dengan jadwal yang berdekatan. Termasuk pesawat yang membawa Sekar, Danil beserta dua pengawal mereka Gaha dan Marko.
Begitu lampu tanda sabuk pengaman telah dipadamkan, semua orang bergegas mengambil barang bawaannya, terlihat wajah-wajah kelelahan tiidak sabar untuk segera keluar.
Gaha langsung sigap berdiri di depan begitu pun dengan Marko di posisinya. Sekar memperhatikan keduanya.
“Jangan merajuk Bee, mereka ganteng seperti kata kamu, walaupun masih gantengan mas mu,” kata Danil yang sempat kesal karena istrinya memuji pria lain.
“Mas juaranya.”
“Pastinya.”
“Mereka tidak terlihat seperti tukang pukul Bee, mana mungkin bodyguard aku ada yang seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Kamu selalu menggemaskan ketika dong dong,” ledek Danil.
“Tega kamu mas.”
“Selama liburan jarang kumat penyakit kamu yang satu itu, kenapa setibanya kita di ibu kota, penyakitnya kumat lagi?”
“Mas Danil, kamu sangat menyebalkan.”
“Tukang gombal, menyebalkan apa lagi?” tanya Danil, menikmati menggoda istrinya.
“Jahil,” Sekar menekuk wajahnya, kesal karena ulah suami.
“Tukang gombal, menyebalkan, Jahil, tapi tampan dan sudah pasti menjadi kesayangan istrinya,” dengan percaya diri tinggi Danil mengucapkannya.
“Tampan bukan jaminan kalau dia itu yang terbaik.”
“Tapi kalau mas mu berbeda tentunya. Sudah dipastikan termasuk dalam dua kategori itu. Tampan dan ter-ba-ik.”
“Sudahlah mas, hentikan kegombalanmu itu.” Danil tersenyum menanggapi kekesalan Sekar.
“Kamu suka malu-malu mengakuinya.”
Sekar membuang muka menatap jendela, terlihat pesawat lepas landas. Pintu pesawat belum juga terbuka, beberapa orang mulai gelisah. Bunyi pesan masuk dari berbagai jenis smart phone mulai terdengar, suara anak kecil bertanya pada orang tuanya ikut meramaikan suasana.
Danil menatap istrinya “Bee, semuanya akan baik-baik saja,” ucap Danil, menggenggam jari istrinya.
“Iya aku percaya mas.”
“Ingat ya ...,”
“Jangan pernah lepaskan genggaman mas dimanapun juga. Benar begitu?”
“Ya, benar sekali.”
“Intinya mas, sebenarnya siapa yang kita hadapi?”
“Kalau mas tahu, tentu kamu orang yang pertama kali tahu.”
“Mana mungkin, pasti Bisma atau mereka berdua.”
__ADS_1
“Kamu cerewet sekali, sabar ya. Ayo kita keluar,” ajak Danil melihat pintu pesawat sudah terbuka.”
Sekar mulai terbiasa mengimbangi jalan cepat versi Danil. Tidak lama terlihat sosok Bisma bersama dua orang perempuan cantik berada di belakangnya. Sekar dapat memastikan bahwa dua perempuan yang berdiri di belakang Bisma itu adalah pasangan Upin dan Ipin, seperti yang di ucapkan suaminya.
Danil tersenyum menatap Bisma, tanpa henti mereka terus berjalan melewati orang-orang yang sedang mengantri koper. Dua perempuan cantik yang tadi berdiri bersama orang kepercayaan suaminya pun langsung membentuk formasi, satu menghampiri Gaha satu lagi menghampiri Marko, keduanya langsung tampak akrab.
“Juara mereka semua. Sungguh permainan tingkat tinggi. Jika pensiun dini dari pekerjaannya, mereka akan alih profesi menjadi pemain sinetron.”
Sekar menatap suaminya, Danil tersenyum tanpa menoleh. Seakan tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
“Kamu terlalu posesif mas! Ini semua berlebihan, sangat berlebihan!”
“Jangan kesal Bee, nanti kamu cepat tua,” bisik Danil. “Kalau mau marah, tunggu sampai kita di rumah.”
Sekar menatap suaminya kembali, kali ini dia benar-benar kesal dengan sikap Danil. “Ini sangat berlebihan mas.”
Seperti cenayang, seakan tahu rencana istrinya. Danil kembali membuat Sekar kesal, pasalnya pasangan upin dan Ipin beserta dua srikandi ikut dalam satu mobil.
Rencana tinggal rencana, Sekar sudah siap akan menumpahkan kekesalannya ketika mereka di dalam mobil, namun apa daya suaminya menjelma menjadi rubah licik. Sudah dipastikan tidak akan terjadi apa yang Sekar harapkan.
Danil tersenyum membalas tatapan tajam dari istrinya. “Di rumah ya,” pinta Danil sambil mengelus punggung tangan istrinya.
Waktu berjalan terasa lambat, terlebih pesawat mereka mendarat ketika jam kerja kantor usai. Berbagai jenis kendaraan memadati jalan bebas hambatan tersebut. Sekar yang terlihat kesal pun tertidur di bahu suaminya.
Satu jam kemudian mereka memasuki gerbang pagar berwarna hitam. Halaman depan cukup luas, ditanami berbagai jenis pohon sehingga bangunan rumah terlihat kecil. Sekar terbangun begitu mobil telah terparkir di garasi rumah.
“Kamu enggak tidur mas?”
“Enggak Bee.”
“Maaf aku ketiduran mas,”
“Kita dimana?” Sekar bertanya tanpa menjawab pertanyaan Danil.
“Di rumah kita lah masa di rumah Bisma.”
“Kita?”
“Iya.”
“Kenapa tidak pulang ke rumah bunda?”
“Kenapa harus kerumah bunda kan rumah kita disini,” jawab Danil.
“Rumah kita?”
“Ayo turun Bee,” pintanya tidak sabar.
Sekar mengamati keadaan rumah dan tangan Danil masih setia menggenggam jemarinya. Mereka memasuki daerah ruang tamu. Tidak terlalu besar, namun cukup menampung tamu lebih dari sepuluh orang. Dinding kayu itu memamerkan lukisan mereka berdua.
“Selamat datang di rumah kita Bee,” untuk pertama kalinya Danil melepaskan genggamannya, dan berdiri di depan istrinya. “Sudah siap berkeliling nyonya?”
Sekar mengangguk menjawabnya. Kembali Danil menggenggam jemari Sekar sebelum berkeliling.
Danil menghentikan langkahnya. “Jangan bandingkan dengan rumah ayah dan bunda ya,” pinta Danil.
Kali ini Sekar yang melepaskan genggamannya, mengamati ruang keluarga. Berjalan perlahan mendekati sofa berwarna hitam, kemudian memutar tubuhnya menyisir dengan perlahan. Dua lemari di samping kanan dan kiri mengapit televisi
__ADS_1
“Sini mas, mengapa hanya berdiri di sana?” Danil menghampiri istrinya.
“Bolehkah aku membukanya?” tanya Sekar menunjuk pintu yang berada di samping kirinya.
“Tidak penasaran dengan dapurnya?” tanya Danil sambil menunjuk dapur di depannya.
Sekar menghadap belakang, melihat ke arah telunjuk suaminya. Senyum lebar tersungging di wajahnya. Mata nya berbinar-binar seakan dapur di depannya adalah berlian 24 karat dalam bantul sebuah kalung.
“Terima kasih mas,” ucapnya bahagia.
“Sesuai harapan?”
“Iya, Kok bisa?”
“Bisa dong. Mas mu gitu loh.”
“Terima kasih mas,” sekali lagi Sekar mengucapkannya.
“Mas belum membeli banyak barang. Bagian dapur dan ruang makan mas serahkan kekuasaannya pada mu Bee.”
Sekar mengangguk. Dia masih mengamati ruangan dapur yang bernuansa monochrome. Perpaduan gaya klasik dan modern tentu akan bertolak belakang, namun interior yang di suguhkan di depannya menepis semua itu.
Gaya elegan klasik tetap sesuai dipadu dengan bahan metal yang dominan dalam teknologi dapur yang semakin modern. Terlebih paduan kabinet dan island dapur, menambah manis wilayah kekuasaannya.
“Bagimana Bee?”
“Perfect (sempurna),”
“Suka apa tidak?”
“Suka banget mas,” jawabnya. “Bagian paling aku suka, kabinet dan island kitchen ini.”
“Mas tahu kamu pasti suka.”
“Aku suka kitchen setnya, tapi island kitchen ini juara banget sih.”
“Island Kitchen?”
“Jangan bilang mas main pasang saja tanpa tahu kegunaannya.”
“Kegunaannya pasti tahu lah, tapi baru tahu kalau meja panjang di depan kitchen set ini namanya island kitchen.”
“Kok bisa tidak tahu namanya?”
“Mas hanya menceritakan keinginan mas sama arsiteknya, jadi lah rumah ini.”
“Oh baik, sultan mah bebas ya.”
***
Ada yang mau ikut berkeliling rumah Mas Danil dan Sekar?
Jangan lupa, komen, like dan votenya.
Terima kasih.
__ADS_1