Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Senja Yang Sempurna


__ADS_3

Cuaca sedikit tidak bersahabat, mendung menghiasi pusat kota mode dunia saat ini. Tadi siang masih sempat terlihat matahari sedikit terik, namun tidak lama tampak malu-malu tertutup awan. Kini, tiba-tiba perubahan terjadi sedikit ekstrim. Waktu belum terlalu sore, namun suhu dingin terasa menyelimuti kulit.


Tiga derajat celcius, angin berhembus pelan dinginnya terasa sangat menusuk pori-pori kulit. Namun hal ini tidak menghalangi niat para wisatawan untuk menyusuri Sungai Seine atau mengunjungi menara Eiffel yang jaraknya sangat berdekatan.


Tidak sedikit pasangan yang mengabadikan pose mesra mereka di tempat ini. Terlihat juga beberapa spot cantik, di penuhi para pasangan calon pengantin yang  sedang melaksanakan foto pre wedding mereka, berlatar belakang Menara Eiffel dan Sungai Seine.


Sungai Seine membelah kota ini menjadi dua bagian tepi sebelah kanan, bagian Paris Utara dan tepi sebelah kiri, bagian Paris Selatan. Sungai ini menjadi sungai utama di bagian barat laut yang menjadi jalur lalu lintas komersial dan juga menjadi sebuah tujuan wisata tentunya.


Sekar terlihat sangat mengagumi keindahan sekitar sungai Seine, belum lagi matanya di manjakan oleh bangunan-bangunan bersejarah dengan design klasik menambah spot romantis untuk dijelajahi.


Di sisi lain terlihat sebagian orang ada yang bersepeda, berkelompok atau  sendirian. Sebagian muda mudi pun terlihat sedang piknik sambil bersenda gurau, diiringi petikan senar gitar, tidak memperdulikan cuaca yang semakin dingin.


Di bawah pohon, seorang pemain saxophone melantunkan melodi dengan santai seakan dia sedang menyelenggarakan mini konser. Para wisatawan dan penikmat seni terhanyut menikmati lantunan melodi indah Forever In Love yang di populerkan saxophonist terkenal Kenny G. Sungguh suasana romantis sore itu semakin terasa. Terlebih ketika Sentimental menjadi lagu selanjutnya yang dimainkan.


Danil memeluk tubuh sekar dari belakang “Love you Bee,” bisiknya sambil menghirup aroma melati dari rambut ikal istrinya.


“Love you too mas Danil,” jawab Sekar.


Tepuk tangan riuh terdengar ketika saksofonis itu mengakhiri melodi indahnya My Heart Will Go On, soundtrack  film Titanic yang diperankan Leonardo Di Caprio dan  Kate Winslet, kisah Jack dan Rose di atas kapal Titanic mewah yang fenomenal.


“Bonjour,” sapanya pada Sekar dan Danil.


"‘Bonjour,” jawab Sekar dan Danil bersamaan.


“What song do you want to request? (lagu apa yang kalian mau?)” tanyanya dengan bahasa Inggris.


“A Thousand Years,” jawab Sekar sambil menatap Danil, dan dibalas anggukan serta senyum.


“As my wife requested (seperti yang istri saya minta),” katanya sambil mengacak rambut ikal Sekar.


“Profite du spectacle (selamat menikmati),” katanya sambil tersenyum manis, dan mengangkat jempolnya seakan berkata enjoy the show.


Sekar mengalungkan pelukannya pada perut Danil, keduanya terhanyut dalam suasana yang romantis. Lagu Christina Perri ini memang terasa sangat menusuk jiwa, untung saja Sekar datang bersama Danil. Bila tidak, duh, rasanya pasti sesak sekali.

__ADS_1


Lantunan saxophone yang indah terdengar, ketika soundtrack film Breaking Dawn dari sequel Twilight ini dimulai membuat orang-orang yang menikmatinya ikut terhanyut dalam suasana yang romantis, terlebih Sekar. Dia sangat menyukai kisah fantasi romantis Bella dan Edward Cullen, karya Stephenie Mayer.


Sekar menikmati melodi ini sambil mengingat ketika Bella Swan menikah dengan Edward Cullen. Pernikahan sederhana namun terasa sangat sakral, dikelilingi keluarga, kerabat dan sahabat tercinta.


“Jangan bermimpi jadi Bella Swan sayang, karena mas mu ini bukan Edward Cullen,” Bisik Danil membuat Sekar mencubit perut kotak suaminya.


“Aku tidak pernah bermimpi menjadi Isabella Swan mas,” katanya menyebutkan nama lengkap tokoh faforitnya.


“Pokoknya jangan, karena mereka hanya fantasi, sedangkan kamu nyata.”


“Mas Danil,” sekar menatap datar wajah suaminya, Danil tersenyum lebar menatap balik istrinya.


“Jangan pernah bermimpi walau hanya dalam khayalan, karena kamu adalah Sekar istri mas Danil, yang paling ganteng. Walau aku bukan Edward Cullen, si vampir pucat pasi yang punya kekuatan super sehingga dapat menggendong Bella dengan cepat melintasi lembah pohon pinus, melewati gunung, menyusuri pantai dan menyelam sampai ke dasar lautan atau bahkan menaiki puncak pohon tertinggi. Tapi percayalah di balik semua itu mas Danilmu adalah lelaki paling segalanya yang nyata dan tulus mencintaimu.”


Sekar tersenyum pasrah menatap suaminya “Sudah sore mas dan kamu semakin menggila saja,” kata sekar sambil menggelengkan kepalanya.


“Yang penting kamu selalu tersenyum, mas menyukai ekspresi kamu yang selalu berubah ketika terseyum,” ucap Danil sambil membingkai wajah Sekar dengan tangannya.


“Perfect twillight (senja yang sempurna),” ucap Sekar sambil menatap Danil, mengalihkan pembicaraan agar suaminya mengurangi kegombalannya.


“Terima kasih mas, mau menuruti permintaan Sekar,” ucapnya lagi sambil mencium pipi suaminya.


“Dengan senang hati, apapun yang membuat nyonyaku bahagia.”


“Mau ngelilingi sungai Seine mas,” pintanya dengan manja.


“Kan niatnya juga gitu, keasyikan mendengarkan suara saksofon sih,” ucap Danil sambil mengajak sekar mendekati cruise.


Menaiki cruise dan menyusuri sungai Seine adalah pengalaman pertama bagi sekar. Keduanya kini tengah berada di kapal pesiar. Dari dermaga kapal ini bergerak mendekat ke arah menara Eiffel. Di tepi sebelah kanan kita dapat melihat Museum Louvre, Champs Elyees dan Basilica Secre Coeur. Sedangkan di sebelah kiri kita dapat melihat destinasi wisata Museum Orsay dan makam Napoleon


“Mau ke atas?” tanya Danil menunjuk ke arah tangga. Sekar mengangguk, Danil langsung menggenggam kuat jemari istrinya dan berjalan menuju dek paling atas.


Di sepanjang perjalanan mereka sangat menikmati pemandangan indah, dan melewati kurang lebih tiga puluh dua kolong jembatan. Pemandangan disini memang sangat menajubkan, terlihat beragam desa kecil dan aneka bangunan megah nan klaik seperti Katedral, museum, terlihat taman-taman cantik di tepian sungai

__ADS_1


“Dingin Bee?” tanya Danil melihat istrinya berulang kali menggosokkan tangannya.


“Lumayan mas,” jawabnya sambil sedikit menggigil.


“Danil menggenggam jemari istrinya dan memasukan ke saku jaketnya. “Sini peluk mas, masukin tangannya ke saku jaket,” perintah Danil.


“Malu ah mas,” Sekar menolak.


“Kamu malu karena melakukan hal ini atau kamu malu jadi istri mas?”


“Ya ampun mas, malu melakukan hal ini lah. Masa malu jadi istrinya mas,” jawab Sekar, Danil terdiam dan melemparkan pandangannya jauh ke arah menara Eiffel yang tinggi menjulang melebihi gedung-gedung lain yang berada di sekitarnya.


“Mas marah?” tanya Sekar. Danil tidak menjawab dan masih berada di posisi yang sama.


“Mas, tatap mata Sekar,” pintanya, namun Danil tetap masih di posisi yang sama. Biasanya hal apapun selalu dijadikan bahan bercanda oleh suaminya.


“Mas Danil tatap Sekar,” Sekar menggeser wajah Danil hingga menatapnya dengan kedua telapak tangan. “Mas marah?” tanyanya sedikit was-was.


Danil menatap Sekar tanpa berkedip, pandangannya teduh namun menusuk. Sekar menjadi salah tingkah sendiri ditatap oleh suaminya. “Mas, marah ya?” tanyanya sekali lagi. “Mas, jangan marah,” pintanya.


Sedetik, dua detik, satu menit, lima menit, Danil masih menatap Sekar tanpa menjawab.


“Mas, jangan seperti ini. Bicara dong mas,” Sekar merengek seperti anak kecil, memohon agar suaminya kembali normal. “Mungkin buat semua orang, bermesraan di depan umum itu biasa mas, tapi buat aku tidak. Jujur aku malu mas Danil. Bukan malu karena mas suami aku,” Sekar berbicara dengan bibir bergetar.


“Mas bicara lah, jangan diam saja,” pinta Sekar nyaris putus asa, dan masih belum ada tanggapan dari suaminya.


Bersambung...


***


Jangan lupa like, komen dan votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2