Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Volendam II


__ADS_3

“Masih tegang Bee?” tanya Danil khawatir.


“Enggak mas, tadi hanya deg degan saja. Baru kali ini aku enggak keluar keringat dingin, biasanya lihat laut udah shaking, pusing mas, bayangan kapal kebaliknya itu mas, aku enggak bisa lupa.”


“Nanti, kita jadwalin untuk sering ke laut ya, siapa tahu trauma kamu berkurang dan bisa hilang.”


“Iya mas, tapi janji kayak tadi ya, enggak ninggalin sendirian,” pinta Sekar.


“Iya Bee.”


Seorang waitres menyela pembicaraan mereka, memberikan pesanan Danil secangkir kopi hitam untuknya, dan secangkir teh untuk Sekar, tidak ketinggalan poffertjes.


“Alle bestellingen zijn uitgekomen, (semua pesanan sudah keluar ya)” kata waitres perempuan, bernama An.


“Dank je wel (terima kasih),” kata Sekar.


“Je bent welkom (sama-sama).”


“Mas kok ngeliatinnya kayak gitu sih?” tanya Sekar, menatap Danil.


“Kamu ok Bee?”


“Iya mas, aku enggak apa-apa,” jawab Sekar, tersenyum menatap suaminya yang khawatir.


“Kamu keliatan pucet, setelah ini kita kembali ke hotel saja ya,” kata Danil meminta persetujuan.


“Enggak mau, mas kan janji mau bawa Sekar ke museum.”


“Ok deh, kalau sudah marah-marah gini, berarti mas enggak harus khawatir lagi. Habis ini kita lanjut ke museum.”


“Yes,” teriak sekar sambil mencium pipi suaminya. “Makasih mas ku sayang, ik hou van jou (aku cinta kamu),” kata Sekar tersenyum bahagia.


“Ik hou ook van jou, schatje (aku juga cinta kamu sayang). Bagian ke museum saja langsung sayang sama masnya, kalau enggak mas turutin bisa manyun sampai dikabulin permintaannya,” omel Danil.


“Kan mas sudah janji.”


“Ja schat (iya sayang).”


“Mas, cepat habiskan minumnya. Ayo kita ke museum,” ajak Sekar tidak sabar seperti anak kecil.


“Bee ah, sabar dong. I’m jealous tahu, kamu lebih seneng ke museum dari pada nemenin aku disini,” Danil merajuk seperti anak kecil.


Sekar tersenyum menatap suaminya yang kesal. “Maaf ya mas, kita selesaikan disini dulu deh, baru antar aku ke museum ya.”


Danil menganggukan kepalanya, di balas senyuman manis istri mungilnya. Mau tidak mau dia pun tersenyum melihat tingkah istrinya.


Sekar menyukai sejarah, oleh karena itu dia begitu antusias bila melihat museum. Saat ini dia tidak sabar untuk mengunjungi museum. Danil menghabiskan sisa kopi dalam cangkirnya, dia ingin segera mewujudkan keinginan Sekar.


Museum Volendam memiliki bangunan kecil nan indah. Di sini kita disuguhkan sejarah dan cerita rakyat desa Volendam.  Kita dapat melihat pakaian tradisional, benda keagamaan, replika perahu nelayan, dan toko-toko tua. Di sini terdapat pula mosaik yang menajubkan terbuat dari sebelas juta pita cerutu.


“Are you happy Bee?” tanya Danil begitu mereka mengakhiri kunjungan ke museum.


“Iya mas, happy bangeeet ...”

__ADS_1


“Tapi?”


“Mas tahu saja ih kalau ada tapi,” kata Sekar menatap suaminya.


“Kamu istriku Bee, ya aku tahulah. Ikatan batin,” jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Mas, tadi lihat boneka yang memajang pakaian tradisionalnya enggak?” tanya sekar.


“Masa enggak lihat sih,” jawab Danil.


“Nyeremin ya mas, apa cuma aku yang ngerasa gitu?” tanya Sekar.


“Iya sayang, mas juga ngerasa gitu,” jawab Danil.


“Kayaknya mereka harus merenovasi ya mas, kasihan penderita pediophobia,”


“Kamu tulis di kotak saran,” kata Danil.


“Yaa enggak aku tulis, emang ada kotaknya tadi?”


“Mas juga eggak lihat sih,” Kata Danil sambil tersenyum menatap istrinya.


“Sekarang kita mau kemana?”


“Aku bingung mas, lagi pengen menikmati suasana disini mas.”


“Kamu enggak takut melihat lautnya?”


“Mas enggak akan pisah sama kamu Bee.”


Desa nelayan ini sangat menenangkan untuk Sekar, atmosfernya menyenangkan walau ramai banyak wisatawan. Desa mungil ini terlihat cantik dan berwarna, deretan toko-toko sovenir, restoran, bar, serta rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan batu bata sangat memanjakan mata kita.


Asli kalau kalian main kesini, pasti sepakat dengan Sekar dan Danil desa ini menyenangkan, tidak membosankan walau hanya berkeliling, serius desa ini layak untuk dijelajahi.


“Aku mau makan seafood mas,” pinta Sekar.


Danil menatap istrinya dan tersenyum. “Baru mas mau ngajak kamu makan seafood.”


“Jadi sehati lagi kita?”


“Memang satu hati Bee.”


“Ok, lanjut mas, mau makan dimana kita?” tanya Sekar antusias.


“Tapi, aku mau coba belut asapnya mas.”


“Mau makan seafood dulu atau belut asap?”


“Belut dulu aja ya mas, kalau enggak enak lanjut seafood.”


“Siap Nyonya Danil.”


Setelah mengantri kurang lebih setengah jam, mereka mendapatkan tempat, sebuah restoran dengan pemandangan menghadap laut. Sekar menatap suaminya, seakan bertanya, “Inikah tempat kita?”. Danil hanya tersenyum menatap istrinya. Ia langsung memesan berbagai menu yang belum pernah mereka cicipi.

__ADS_1


“Takut?” tanya Danil menatap Sekar yang gelisah.


“Risih mas, mata aku penuh dengan laut.”


“Coba sekarang tutup matanya dulu, tarik nafas, dibuat sesantai mungkin. Bayangkan semua yang indah, kalau sudah, perlahan buka matanya,” Sekar menurut apa yang diperintahkan Danil. Membuka perlahan matanya dan langsung menatap suaminya.


“Apa yang kamu rasain?”


“Iya happy mas, tapi depan aku masih laut.”


“Jangan disugestiin dong.”


“Iya enggak, tapi kan pelan-pelan mas. Ini kemajuan loh buat aku, tingkat penyembuhan trauma itu beda-beda mas.”


“Iya maaf ya, jadi mau pindah tempat duduk?” Sekar menggelengkan kepalanya.


Sekar menatap hidangan yang ada di mejanya. Dia memperhatikan satu persatu dengan teliti.


“Mau coba yang mana dulu?” tanya Danil.


“Belut,” jawabnya namun terlihat tidak yakin. Sekar, membagi dua makanannya. “Kita coba yuk mas,” katanya sambil memberikan garpu. Ia menatap Danil, “Satu, dua, tiga,” keduanya langsung mencobanya.


“Lumayan,” katanya memberi jawaban. “Kalau dibanding dengan cumi, mas mending cumi.”


“Sekar lebih suka belut yang ada di sushi sih mas, dari pada ini.”


“Ini ikan herring itu Bee?”


“Iya mas, agak bau amis ya. Coba biar enggak penasaran,” katanya. Padahal dia juga tidak yakin melihat ikan herring berwarna abu-abu keperakan, baunya agak amis, yang disajikan mentah dengan taburan bawang bombay dan acar ketimun


“Satu ... Dua ... Tiga ...” keduanya mencoba makan, baru segigit Sekar langsung memuntahkannya.


“Aku menyerah mas, enggak suka,” katanya sambil meminum ice lechy pilihannya.


“Mas juga enggak suka katanya.”


“Paling aman pilih fish and chip, sama seafood platter aja,” kata Sekar.


“Setelah ini kita kemana?”


“Muter sebentar ya mas,”


“Ok, as you wish Bee.”


***


Biarkan Sekar dan Danil menghabiskan hari bersama... dan kalian menghabiskan waktu untuk membacanya. Jangan lupa untuk like, vote dan komennya.


Terima Kasih


 


 

__ADS_1


__ADS_2