Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Boneka Keluarga


__ADS_3

Perjalanan pulang tidak terlalu lama, jalan raya masih ramai, walau tidak padat seperti saat berangkat tadi. Sekar memperhatikan suaminya yang sedang tersenyum bahagia. Di dalam benaknya mulai berseliweran pertanyaan-pertanyaan yang mengusik. Dia berusaha menghalau berbagai spekulasi yang hadir, hatinya pun mulai resah. Rasa kesal mulai mendominasi otak kecilnya.


“Aku bisa gila jika seperti ini terus. Mas mengapa kamu senyum-senyum sendiri. Apakah sesenang itu bertemu dengan Indah, atau Rianti?”


“Mengapa aku tidak suka dengan tingkah laku Indah, salahkah aku?”


Perjalanan menuju rumah terasa sangat lama untuk Sekar, terlebih saat ini ia kesal menatap suaminya yang sibuk tersenyum sendiri larut dalam lamunannya.


Bisma siap berdiri di samping pintu mobil, niat tulusnya membantu Sekar keluar dari mobil dengan selamat, namun tatapan maut dari Danil membuat dia membatalkan niatnya.


Danil merentangkan lengannya hendak menggendong Sekar, namun istrinya tidak menyambut. “Aku tidak mau digendong mas, masih bisa jalan,” pinta Sekar. Danil cukup lama berpikir, akhirnya menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaan istrinya.


Sampai di dalam rumah semua orang sudah berkumpul menunggu kedatangan Danil. Bunda Rianti dan Mama Fina langsung menghambur keduanya.


“Sakit apa Sekar?” tanya Ayah Bagas, langsung menghampiri Danil. Papa Andi pun menyusul dibelakangnya.


“Ayah dan papa akan menjadi Kakek. Sekar hamil,” Danil sangat antusias memberitahukan kabar yang membahagiakan.


Semua mengucapkan selamat, bunda dan mama langsung memberi wejangan dan pengalaman terhadap Sekar perihal kehamilan. Ayah Bagas dan Papa Andi tidak henti-hentinya tertawa mereka sangat menunggu kabar ini.


“Mas meeting sebentar ya Bee,” bisik Danil meminta izin istrinya. Sekar mengangguk, Danil menuju taman samping setelah mengecup keningnya.


Pembicaraan pertemuan kali ini lebih serius. Terlebih kabar yang Ryan bawa. Entah berita apa, namun terlihat suasana yang mencekam di teras samping. Guratan-guratan garis di kening para peserta rapat menandakan pembahasan ini akan memakan waktu yang cukup lama.


Sekar enggan beranjak ke kamar, dia senang berada diantara orang-orang terdekatnya. Tiba-tiba rasa mual menghampirinya kembali, dengan langkah cepat ia menuju kamar mandi. Mama langsung sigap mengikuti menantunya, sedangkan bunda mengambil air jahe yang tadi sudah di buatnya.


Sekar merasa sedikit lemas, dia langsung duduk kembali, dan mengambil secangkir jahe hangat dari tangan bundanya.


“Harum,” ucapnya sambil menghirup aroma dari uap yang menghembus ke udara.


“Apakah ibu hamil selalu merasakan seperti ini?”


“Tidak selalu sayang, waktu hamil mas mu, mama tidak mengalami muntah-muntah, tapi papa kamu harus siap setiap malam memijat kaki mama,” ucap Mama Fina terkikik mengingat kejadian ketika sedang mengandung.

__ADS_1


“Waktu bunda hamil kamu, yang mengalami muntah-muntah itu ayah.”


“Sekar jadi gampang emosi bun, mas Danil juga kalau godain Sekar suka kelewatan. Sekar suka kesal sendiri kalau mas sudah posesif dan marah-marah,” adunya pada bunda dan mertuanya.


“Emosi ibu hamil meningkat sayang, ditahan ya, kasihan anak kalian nantinya.”


“Iya bunda.”


Seorang laki-laki memasuki ruang keluarga, membawa paket yang cukup besar. Dengan sopan dia memberikan paket yang ditujukan untuk Sekar. Pria berbaju hitam itu pergi setelah Sekar mengucapkan terima kasih.


Sekar mengamati paket yang baru saja diterima, seingatnya dia tidak pernah membeli barang secara online. Paket tersebut bertuliskan nama sebuah online shop yang menjual kebutuhan bayi dan anak-anak.


Bi Ita membawa gunting untuk membuka paket yang tertutup rapat oleh lakban bening. Sementara bibi berusaha membuka paketnya, Sekar menatap Danil yang sedang serius rapat, dia senang sekali menatap wajah suaminya yang terlihat serius dan fokus.


Ada semburat bahagia diwajah Sekar, mengingat suaminya yang selalu memberikan kejutan tidak terduga. Tidak sabar ia menunggu Bi Ita membuka paketnya, ingin melihat apa isi dibalik kotak besar yang sedang dibuka.


“Ini mba,” ucap Bi Ita memberikan paketnya.


Mama dan bunda terlihat antusias, keduanya saling berspekulasi mengenai isi paket. Dari hadiah paket babymoon, makan malam romantis, atau perhiasan, sampai tas atau accesories wanita dari brand ternama, dan masih banyak lagi yang menjadi bahan perdebatan ringan diantara kedua super mama tersebut.


Sekar membuka amplop kecil di depan kotak. “Semoga kamu menyukainya,” ucap Sekar. “Ucapannya singkat seperti bukan tulisan Mas Danil.”


Bunda, mama dan Bi Ita ikut penasaran, mereka menunggu Sekar membuka paketnya. “AAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHHH!” Teriak Sekar setelah melihat isi paket dan dengan refleks dia melemparnya.


Tubuhnya teras lemas, kakinyanya bergetar, jantungnya berdetak sangat kencang, bunda memeluk anak semata wayangya yang ketakutan. Sedangkan Mama Fina dan Bi Ita berusaha memastikan isi kotak yang telah jatuh, keduanya pun ikut lemas,


Danil langsung menghampiri ketika mendengar teriakan Sekar dan kedua ibunya. Begitu pun Bisma yang selalu sigap mengekor dibelakang bossnya. Kini hampir semua orang memasuki ruang keluarga.


“Siapa yang tega berbuat seperti ini terhadap keluarga kita?” Papa Andi mulai naik pitam.


Danil mengepalkan tangannya ketika melihat isi paket. Didalam plastik bening terlihat dua boneka orang dewasa dan dua boneka anak kecil semuanya berlumuran darah. Boneka bapak kaki sebelah kiri patah, boneka ibu tangan sebelah kirinya juga patah, dan pada boneka anak juga sama hanya patahannya terlihat bagian sebelah kanan. Setiap boneka dibagian perutnya ditusuk paku payung kecil dan diberi nama.


Tertulis disana bapak, ibu untuk boneka perempuan dan laki-laki dewasa, serta tulisan boy, untuk boneka anak laki-laki yang memakai baju biru, dan tulisan girl diboneka anak perempuan yang memakai kaos merah muda.

__ADS_1


“BERSIAPLAH!!!”


Danil mengepalkan tangannya, ia sangat marah lawannya kali ini tidak main-main. Secara terang-terangan mereka sudah menyatakan perang. Ia tidak gentar bila ingin bersaing secara jantan, tidak seperti saat ini. Walaupun belum terbuka siapa otak dibalik semua ini, tapai pastinya mereka sudah merencanakan dengan baik semua ini.


Tanpa disuruh, Bisma, Rio, begitu pun Indra dan Tara tangan kanan Ayah Bagas dan Papah Andi langsung memperketat penjagaan. Ryan terlihat sedikit lega karena Rena sedang bersama Nadia di rumah Zahra, Fajar memberitahu karena setelah kejadian ini bisa jadi siapapun yang terlibat dengan Danil akan menjadi sasaran dia yang masih misterius keberadaaannya.


“Mas tahu ini tidak mudah Bee,” ucap Danil sambil memeluk istrinya yang pucat.


“Aku takut mas,” ucap Sekar membenamkan wajah pada dada bidang suaminya.


“Apa mau pindah kerumah ayah untuk sementara waktu?”


“Aku ingin selalu sama mas,” pintanya.


“Mas juga. Tidak ada dalam kamus mas, tinggal terpisah sama kamu dan calon anak kita.”


“Sudah selesai meetingnya?”


Danil menggelengkan kepalanya. “Mas selesaikan sebentar lagi ya, lalu kita bicarakan lagi masalah ini.” Sekar mengangguk, menjawab permintaan suaminya.


“Bunda, mama, tolong temani istriku. Danil akan menyelesaikan pembahasan kita dulu,” pintanya.


Dia memamerkan senyum manisnya, berharap dengan begitu akan menghilangkan ketakutannya.


Danil melangkah menuju teras samping dan menatap teman-temannya yang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dalam otak kecil mereka. “Semua dalam keadaan ok?” tanyanya.


“Rena sedang bersama Nadia di rumah Zahra,” ucap Ryan. Ia sangat mengetahui tabiat Danil, dia akan lebih khawatir dengan keadaaan teman-temannya apalagi terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan keluarga terdekat.


 


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2