
Kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di butik temannya Sekar. Danil segera membangunkan Sekar.
“Kita sudah sampai Bee,” Danil berbisik membangunkannya.
Sekar langsung terbangun mendengar suara Danil. Ia mencari kaca dan mengambil pouch make up dari dalam tasnya, dan merapihkan sedikit riasannya.
“Minum dulu Bee,” pinta Danil sambil memberikan satu botol air mineral siap minum.
“Makasih ay,” kata Sekar tanpa sadar.
“Kembali kasih ay,” Danil membalasnya sambil tersenyum.
Sekar langsung menatap Danil, dan pria disampingnya sudah lebih dulu menatapnya. Tatapannya menembus bola mata terkecil miliknya, membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang.
“Ay?”
“Bukannya kamu yang duluan yang manggil mas begitu?”
“Aku?”
Danil mengangguk “Iya.”
“Masa?” ucap Sekar sambil membuang mukanya, menghadap keluar.
“Kenapa kamu menghindar Bee?” tanya Danil sambil menarik dagu Sekar, menggesernya perlahan agar wajah Sekar menghadap dirinya.
Sekar salah tingkah, dia mengutuk perkataannya tadi, dia juga tidak sadar mengapa panggilan sayang untuk Mas Danil pada saat mereka pacaran dulu bisa terucap kembali dari bibirnya tadi.
“Kamu merindukan aku, ay?” tanya Danil menggoda sekar.
Wajah Sekar merona, “Kamu salah dengar mas,” kata Sekar berusaha membuang muka, tidak ingin melihat Danil karena jantungnya semakin berdetak dengan kencang.
“Jangan menghindari aku Bee,” pinta Danil, tangannya masih memegang dagu Sekar.
Sekar tidak menanggapi ucapan Danil. Saat ini mereka saling menatap tanpa berkedip, jantung mereka sama-sama berdetak dengan kencang. Tubuh mereka berdua semakin dekat, bibir Danil dan sekar hanya berjarak lima sentimeter.
Apakah ini pertanda rasa cinta masih ada di hati mereka, apakah cinta lama mereka kembali hadir?
Kring ..., Kring ..., Kring ...
Suara ponsel Danil mengagetkan keduanya, sebelum Sekar membuang muka menghadap keluar mobil, Danil sempat mengecup bibirnya. Pipinya merona merah, bibirnya mengulas senyum walau sedikit. Sudah dipastikan salah tingkah.
Danil langsung mencari ponselnya, senyum di bibir terlihat berbeda. Dia langsung mengobrol dengan Agung, tangan kanan kerpercayaannya. Danil nampak serius mendengarkan apa yang Agung ucapakan, sesekali nadanya terdengar tegas dan menakutkan.
Sekar menunggu Mas Danil, dia masih merasa tegang setelah olahraga jantung atas apa yang di lakukan Danil, belum lama ini. Tidak lama Danil memutuskan sambungan telfon Agung.
“Mau turun sekarang Bee?” tanya Danil.
“Iya,” tidak lama mereka berdua keluar dari mobil.
Mereka berdua memasuki bangunan dengan design minimalis yang sangat nyaman. Butik ini menjual berbagai macam kebutuhan wanita dan pria. Ada pakaian, tas, make up, sepatu dan accessories dari brand-brand internasional.
“Selamat datang Sekar yang selalu cantik, apa kabar sayang?” tanya Fabian menyambut Sekar sambil mencium kedua pipi dan memeluknya.
Danil melihat laki-laki di depannya dengan tatapan kurang suka, terlebih dia mencium kedua pipi dan memeluk Sekar dengan bebasnya.
“Hai Bi, kabar baik. Kamu sendiri apa kabar?” tanya Sekar ceria. Membuat Danil kesal.
“Seperti yang kamu lihat, don juan seperti aku selalu baik,” kata Fabian sambil merentangkan tangannya, melepaskan pelukan dari Sekar
“Aku masih saja terbelenggu dan patuh pada madam tercinta,” katanya mengedipkan sebelah mata pada Sekar, sengaja menggoda Danil yang mulai menunjukkan rasa tidak sukanya.
“Apa kata kamu, terbelenggu dan patuh sama madam?” tanya Luna sambil menjewer kuping suaminya. “Pasti dia menganggu kamu lagi ya sayang?” tanya Luna sambil memeluk Sekar.
“Seperti biasa, bukan Fabian namanya kalau tidak menggoda” jawab Sekar. "Untung saja aku sudah terbiasa, bila perempuan lain mungkin akan berharap lebih," kata Sekar menatap Fabian, di balas kedipan nakal dari pria perancis ini.
Luna mundur beberapa langkah setelah melepaskan pelukan dari Sekar. “Siapa kah ini?” tanya Luna menyelidiki., menatap Danil dari ujung kepala hingga kaki secara terang-terangan.
“Oh ya, Luna, Fabian, kenalkan ini calon suami aku, Mas Danil Rahardi Kesuma” kata Sekar.
“Wow ...," Fabian dan Luna menatap Sekar bahagia.
__ADS_1
"MMM ..., calon suami! Ternyata calon suami Sekar,” ucap Fabian.
"Apakah ini Danil yang itu?" tanya Bian pada Luna.
"Maksudnya?" tanya Danil bingung.
Luna dan Fabian menatap Sekar tanpa berkedip, menunggu reaksi dari perempuan mungil di depannya. Sekar hanya tersenyum berharap Luna dan Fabian tidak berbicara yang aneh-aneh.
"Aku pastikan iya, jika kamu tidak menjawabnya sayang," ucap Fabian sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu, cinta mati Sekar," ucap Fabian lagi.
Sekar menutup matanya, dan berharap ada Genie, jin yang dapat membantunya menghilang dari hadapan ketiganya.
"Hallo Danil, senang sekali melihat kamu, akhirnya aku melihat dengan mata kepala ku sendiri cinta matinya Sekar. Aku Fabian Langit Persada, suami dari madam ku tercinta. Kamu bisa panggil aku Abi atau Bian, sama saja” katanya sambil memberikan tangan pertanda perkenalan mereka.
“Hai Abi, kamu bisa panggil aku Danil.”
“Hai Danil, aku Luna istri Abi,” Luna memperkenalkan diri sambil bersalaman.
“Hai Luna.”
“Kenapa kamu terlihat bahagia Bian?” tanya Luna.
“Kamu Danil, CEO Persada Musik?” tanya Bian pada Danil.
Danil tersenyum “Iya.”
“Keren. Aku suka kamu.” kata Bian kemudian dia menoleh pada Sekar. “Kamu mendapatkan jackpot sayang. Aku setuju banget kamu akan menikah dengan Danil daripada...” Fabian memikirkan sebuah nama “Siapa madam, cowok yang pernah dia bawa itu,” tanya Abi pada Luna.
"Cowok yang tempramental itu?"
"Betul sekali madam."
“Ryan?” tanya Danil pada Fabian.
“Nah, iya Ryan,” Jawab Fabian. "Kamu bahkan kenal dia?" tanya Abi pada Danil.
"Wow, kalian..." Bian tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya menggelengkan kepalanya. "Jangan bermain api gadis kecil. Baguslah sayang, akhirnya kamu membuka mata dan hati kamu, cowok bren*sek itu tidak cocok sama kamu. Dia tidak pantas untuk orang sebaik kamu," kata Fabian menyatakan ketidak sukaannya pada Ryan.
“Iya Ryan yang kasar,” kata Luna.
“Yes madam, Ryan yang itu.”
“Berapa kali aku bilang dan menasehati si nona manis yang baik hati ini. Dia selalu menjawab "suatu saat dia akan berubah,” kata Luna dengan kesal.
“Untuk orang seperti Ryan, hal itu mustahil sayang,” ucap Fabian sambil menunjuk Sekar dan menggelengkan kepalanya.
Sekar sudah tidak kaget dengan perkataan Fabian dan Luna. Mereka selalu menanyakan kapan akan mengakhiri hubungannya dengan Ryan, namun .kali ini ia berusaha fokus untuk tujuan utamanya dia datang kebutik ini, bukan untuk meladeni perkataan mereka.
“Sudah cukup kah kalian menasehati aku?” tanya Sekar. "Kalian membuat Mas Danil besar kepala."
Luna dan Fabian tertawa bersama “Jangan lupa mengundang kita sayang.”
"Kalian daftar lima besar sahabat aku yang wajib diundang," kata Sekar.
"Kita pasti datang kan sayang?" tanya Luna.
“Pastinya kita datang. Danil, maafkan aku harus pergi, kapan-kapan kita ketemu lagi ya. Tolong jaga my lady bala-bala aku, jangan sampai dia kembali ke tangan cowok bren*sek itu. Nice to met you (senang berkenalan denganmu)," ucap Fabian.
“Ok, Nice to meet you too,” ucap Danil.
“Sayang, kamu harus jaga baik-baik calon suami kamu. Firasat aku tidak pernah salah, hanya dia yang bisa melindungi kamu. Jangan pernah memikirkan cowok seperti Ryan," ucap Fabian mengingatkan untuk kesekian kalinya.
"Selalu ingat ya firasat ku tidak pernah meleset.”
Sekar hanya tersenyum “hati-hati Bian, jangan pernah melirik cewe-cewe liar di luar sana, jangan sampai kau menyesal.”
“Enggak akan pernah, aku tidak ingin kehilangan madam tercintaku,” ucap Fabian sambil mencium pipi Luna dan meninggalkan mereka bertiga.
“Jadi kalian membutuhkan apa?” tanya Luna sambil menatap Sekar dan Danil bergantian.
__ADS_1
“Aku mencari barang-barang untuk seserahan Luna, untuk pernikahan kami.“
"Ok” kata Luna sambil mengajak Sekar dan Danil duduk di Sofa, dan tidak lama asisten Luna mengeluarkan perhiasan yang Sekar maksud.
Setelah hampir satu jam sekar memilih barang yang di butuhkan, Asisten Luna menyimpan beberapa perhiasan yang akan dipilih Sekar.
“Mas, kamu suka yang aku pilih?” tanya sekar.
Danil melihat hasil pilihan calon istrinya. "Apapun pilihan kamu, aku suka,” jawab Danil.
Danil sangat tahu, Sekar bukan perempuan seperti perempuan lainnya.
Seperti saat ini dia hanya mengambil satu set perhiasan Berlian lengkap satu set, ada kalung, gelang, giwang, dan cincin.
“Hanya ini?” tanya Danil berbisik.
“Iya."
“Di butik ku, Sekar hanya akan memilih berlian,” jawab Luna.
“Kenapa?” tanya Danil.
“Karena berlian yang aku punya asli buatan pamannya Fabian dari Perancis. Aku bisa memperlihatkan sertifikatnya,” Jawab Luna.
“Kamu suka?” tanya Danil memastikan.
Sekar tersenyum “Sekar suka mas.”
“Mas Danil suka?”
“Kalau kamu suka, aku pasti suka Bee.”
Sekar perempuan yang sederhana, perhiasan yang dia pilih hanya berlian bermata kecil, ia tidak pernah berlebihan dalam memilih.
“Ini tuh Sekar yang terlalu lugu dan bodoh atau Danil yang terlalu baik?” tanya Luna.
“Maksudnya?” tanya Sekar.
“Hey baby, kamu tahu semua orang yang ke sini, untuk melihat perhiasan, mereka akan memilih yang TER ..., terbesar, terbaik, terkeren, terkilau, dan masih banyak ter ter ter lainnya. Sedangkan kamu tetap saja seperti dulu tidak pernah berubah, selalu memilih yang simple, namun elegan, terlihat sederhana namun memukau. Bukan
semata hanya karena berliannya, namun karena aura yang kamu punya.”
Sekar tidak membalas perkataan Luna, hanya di balas senyuman dari bibir mungilnya, Danil hafal banget sifat Sekar yang satu ini.
“Itu lah Sekar, selalu sederhana namun memukau,” kata Danil.
“Yes, karena itu Fabian selalu menyayangi Sekar, namun dia sangat kesal ketika perempuan di depanku ini memutuskan untuk pacaran dengan Ryan.”
“Berlian memiliki simbol kekuatan, kesetiaan, kemurnian dan keseimbangan. Semoga kalian berdua selalu bersama dalam cinta dan kasih sayang, aku selalu percaya feeling Fabian,”
kata Luna.
“Tolong jaga lady bala-bala kita ya Nil,” pinta Luna.
“Pasti,” jawab Danil, membuat Sekar menatap Danil dengan ribuan pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Jadi pilihan kamu sudah ok kan?” tanya Luna.
“Iya sudah ok,” jawab Sekar.
“Ok” kata Danil sambil mengucek rambut Sekar.
Setelah membayar mereka langsung pulang. Kali ini mereka berdua terlihat lebih santai walaupun kadang mereka terlihat sedikit canggung namun saat ini suasana lebih mencair.
*** .
Hai teman-teman, apakah kalian mulai menyukai cerita Sekar dan Danil?
Ditunggu like, vote dan komennya ya...
Terima kasih...
__ADS_1