
“Kenapa hanya pria?”
“Bukan hanya pria, wanita pun banyak mas aku pun mengakuinya. Namun perselingkuhan karena istri tidak “wow” ini meningkat tajam. Alasan ini menjadi peringkat satu dari lima alasan utama mengapa suami berselingkuh.”
“Peringkat kedua alasan poligami.”
“Tatapan kamu menyeramkan Bee.”
“Karena banyak dari mereka tidak paham arti poligami itu sendiri, mereka menyalah gunakannya mas.”
“Cukup Bee, mas tidak akan membahas masalah yang satu ini."
"Baiklah."
"Ilmu mas belum sampai untuk membahas masalah ini. Tidak pernah terpikir, jangankan terpikir, terlintas pun tidak untuk masalah ini.”
“Baiklah, karena aku pun akan emosi bila membahas masalah ini.”
"Intinya seorang istri harus pandai bersolek dan membuat suaminya selalu mencintainya.”
“Istri lagi yang harus berkorban?”
“Iya dong kan suami cari uang untuk membahagiakan keluarganya.”
“Untuk sebagian orang dengan tingkat pendapatan ekonominya tinggi hal ini tidak jadi masalah, dia bisa mempekerjakan pengasuh anak, kalau perlu satu anak satu pengasuh. Ditambah asisten rumah tangga, sopir pribadi, tukang kebun. Makmur hidupnya. Sangat beruntung banget, seperti Nia Ramadhani.”
“Siapa Nia Ramadhani?”
“Mas Danil tidak tahu?”
“Teman kamu?”
“Bukan.”
Danil memperlihatkan wajah bingung dan mengangkat bahuya, tanda dia tidak mengenal nama yang di sebutkan Sekar.
“Istrinya Ardi Bakrie mas.”
“Kamu kenal?”
“Tidak kenal mas, tadi kan aku sudah jawab.”
“Terus?”
“Iya masa suamiku CEO Perdana Musik, tidak tahu siapa Nia Ramadhani.”
“Ada masalah dengan itu?”
“Tidak mas.”
"lalu ada masalah apa dengan Nia itu?”
“Beruntung hidupnya, dahulu dia harus bermain sinetron untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sekarang apapun yang dia inginkan pasti dengan mudah ia dapatkan."
“Roda kehidupan kan berputar terus. Kadang di atas kadang di bawah. Kamu tidak bisa menyimpulkan seperti itu.”
“Itu bukan kesimpulan aku Mas Danil. Iya sekarang dia yang lagi jadi pembicaraan di acara-acara gosip itu, gara-gara buka salak saja tidak bisa.”
“Istriku sayang, lebih baik membaca buku atau memasak ya, jangan ghibah, tidak ada manfaatnya tahu.”
“Bukan-bukan mas, ini kan contoh. Mmmm ..., ya bergosip sih. Gosip yang kenyataan.”
“Gosip yang kenyataan, tuh maksudnya apa?”
“Tidak apa membicarakan tentang seseorang tapi yang baiknya.”
"Pantas saja terkadang kamu dong dong, acara gosip kamu tonton. Nyinyir yang ada.”
“Mana Ada nyinyir. Orang suami nya sendiri yang buka aib istrinya, dan Nia nya cuma ketawa aja tuh menanggapinnya.”
“Iya ini hidup.”
“Betul sekali. Tapi kan tidak semua orang seperti itu mas. Nah kembali lagi, bagaimana dengan mereka yang pendapatan tingkat ekonominya sedang atau bahkan rendah. Pasti mereka memperketat pengeluaran untuk kebutuhan hidup. Walaupun perselingkuhan tidak pernah mengenal si kaya atau si miskin ya.”
“Kenapa kamu semangat sekali membahas masalah perselingkuhan ini Bee?”
__ADS_1
“Karena aku ingin meluruskan, tidak semua yang indah dalam film dan novel itu sesuai dengan kenyataannya mas.”
“Tadi mas mengatakan bahwa meja panjang ini ada karena mas ingin menikmati secangkir kopi sambil melihat aku memasak atau membuat kue. Pada kenyataan nanti yang mas hadapi adalah, aroma masakan akan menempel pada pakaianku, belum lagi peluh yang akan bercucuran, tangan yang bau bumbu masakan, apalagi kalau masakan memakai kunyit jari jari ini akan menguning mas,” ucap Sekar sambil menunjukkan kesepuluh jariya.
“Kan nanti ada asisten rumah tangga.”
“Ada tapi tidak untuk memasak.”
“Kenapa?”
“Iya karena harus aku yang memasak.”
“Kenapa begitu?”
“Memang harus begitu.”
“Aturan dari mana?”
“Aku yang buat.”
“Iya kamu tetap memasak, yang potong potong asistennya lah.”
“Untuk yang satu ini, aku inginnya melakukannya sendiri.”
“Mas tidak pernah mempermasalahkannya.”
“Aku yang mempermasalahkannya.”
“Kenapa harus begitu?”
“Karena aku seorang istri, dan suatu saat nanti akan menjadi seorang ibu. Aku ingin memastikan, asupan yang terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi.”
“Tidak pernah salah mencintaimu.”
“Ini idealisnya aku mas.”
“Dan aku mencintai semua kekurangan dan kelebihan mu sayang, termasuk idealis mu ini.”
“Waktu yang akan menjawabnya mas.”
“Aku tidak takut.”
“Lanjutkan.”
“Setelah yang aku jabarkan tadi, mungkin sesekali mas bisa menikmatinya, namun lama lama belum tentu.”
“Jangan menuduh sembarangan Bee. Kamu menarik kesimpulan terlalu dangkal.”
“Tidak menuduh mas, aku hanya meluruskan. Membuat pikiran mas terbuka melihat realita kehidupan yang banyak terjadi. Kesimpulan apa yang dangkal?”
Danil menghempaskan nafas beratnya “Pembicaraan luar biasa, bersama perempuan tangguh. Ini terjadi ketika kita baru saja sampai di rumah.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan mas, selesaikan apa yang sudah kamu mulai,’ ucap Sekar tersenyum lebar.
“Seru juga ya.”
“Apanya yang seru?”
“Obrolan kita.”
“Tentunya, lanjutkan mas.”
Danil menggelengkan kepalanya, “Separuh aku, dirimu.”
“Lanjut.”
Danil mencubit gemas pipi istrinya. “Kesimpulan dangkal itu ya, kamu pukul rata dalam menilai semua pria. Tidak sedikit laki-laki yang setia pada istrinya. Apa lagi orang tua zaman dulu, yang menikah karena perjodohan. Mereka bisa langgeng berumah tangga sampai puluhan tahun, bahkan sampai maut yang memisahkan keduanya.”
“Mas Danil picik banget sih, sejak kapan aku menarik keseimpulan sedangkal itu?”
“Dari ucapan kamu.”
“Ucapan yang mana mas?”
“Tadi kamu bilang, Mas Danil mungkin sesekali bisa menikmatinya, namun lama-lama belum tentu. Itu tuduhan dangkal yang tidak berdasar Bee.”
__ADS_1
“Mana ada tuduhan dangkal.”
“Iya itu tadi.”
“Itu bukan tuduhan dong mas. Tadi aku bilang “mungkin”, dan “belum tentu”. Kedua hal tadi memang harus dibuktikan, dan waktu yang akan membuktikannya.”
“Kamu sama saja seperti tukang bajaj ngeles terus.”
“Masih mending tukang bajaj bisa ngeles sambil menyalip, dari pada tukang gombal, nyes rasanya kalau cuma bisa ngegombal. Hari gini perempuan sudah makin pintar, tidak mudah termakan gombalan para pria. laki-laki yang pintar merayu kelaut aje,” ledek Sekar.
“WOW,” ucap Danil. “Anggaplah kamu sedang membaca novel ya Bee. Si wow yang mas ucapkan barusan itu, tulisannya huruf kapital semua, auto caps lock jebol,” Danil menggambarkan jawaban istrinya.
Keduanya cekakan bersama. Akhirnya perdebatan tingkat tinggi yang cukup menguras energi itu berakhir. “Aturan itu memang selalu berlaku ya.”
“Aturan apalagi mas? Hidup kamu penuh aturan deh.”
“Bahwa wanita itu selalu benar, dan jika ...,”
“Jika wanita itu salah, kembali baca peraturan sebelumnya “WANITA ITU SELALU BENAR!”,” kembali keduanya tertawa.
“Mencari apa Bee?” tanya nya melihat istriya bingung membuka semua laci.
“Gelas, aku haus setelah berdebat dengan mas.”
“Tidak ada”
“Rumah sebagus ini tidak ada gelas?”
“Mas ingin urusan dapur kamu yang memilihnya.”
“Ya ampun mas, kasihan Upin dan Ipin serta dua srikandi itu belum makan dan minum.”
“Tenang saja kalau masalah mereka. Bagian paviliun sudah tersedia semua.”
“Paviliun?”
“Kamu belum berkeliling sayang, waktu kita dihabiskan dengan ocehan mu tadi.”
“Aku istrimu bukan anak kecil. Apa mas bilang barusan, ocehan?” tanya Sekar mengejek. Itu pembicaraan berbobot di banding gombalan mu mas.”
“Suatu saat kamu akan merindukan gombalan aku Bee. Perlu kamu tahu, hanya sama kamu, mas melakukan itu.”
“Aku sudah mencatatnya mas, disini.” Tunjuk Sekar pada perutnya.
“Perut?”
“Kan hati manusia letaknya di perut,” ucap Sekar
“Bukan hati yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi tubuh cintaku,” ucap Danil gemas. “Ini hati, Qalbu kalau dalam bahasa Arab dan kalbu dalam bahasa indonesia. Lubuk hati.”
“Santai dong mas,” ucapnya. “Tapi mas ...,”
“Jangan bertanya apa arti qalbu ya, takut salah menyampaikan. Seperti kata kamu tadi, ilmu kita masih cetek. Jadi sebaiknya sekarang kita berkeliling rumah saja Bee.”
Danil merentangkan tangan kirinya, meminta sekar untuk mengikutinya. “Hidup mas semakin berwarna sejak kehadiran kamu Bee.”
“Hidup aku akan tersiksa dengan gombalanmu mas.”
“Awas kamu ya,” ucap Danil menarik hidung istrinya. “Suatu saat kamu akan menyesal pernah berkata seperti itu.”
“Tentu tidak, gombal mu berlebihan mas, sangat berlebihan. Sebelas dua belas dengan jiwa posesif mu itu.”
“Suami mana yang tidak posesif, kalau punya istri cantik dan menggemaskan.”
“Banyak, menurut survei ...,”
“Lama-lama kita buat kantor survei bagaimana Bee?”
bersambung
***
Semangat membacanya, di tunggu like, komen dan votenya
Terima kasih
__ADS_1