Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Manis Tapi Pahit


__ADS_3

Ryan mengusap wajahnya berulang kali, kenangan proses pernikahannya dengan Rena seperti sebuah film yang baru saja selesai di putar ulang.


Semua proses yang dijalani tidak mudah, perjuangan beberapa tahun ini sangatlah sulit untuk Ryan dan Rena, betapa takdir membuat keduanya berpacu dengan waktu demi sebuah misi yang sampai saat ini belum berhasil di wujudkan.


Misi untuk memisahkan Danil dan Sekar, serta membuat keduanya depresi belum sepenuhnya berhasil. Ryan dan Rena sudah duluan disadarkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan salah.


“Apa yang sudah aku lakukan, sampai terjebak di dalam labirin yang tidak ada jalan keluarnya?’ tanya Ryan dalam hati.


“Kamu kenapa ay?” tanya Rena, melihat suaminya duduk termenung di teras rumah.


“Aku sedang memikirkan jalan keluar untuk memberi tahu Danil dan Sekar,” jawab Ryan.


“Jadi apa yang akan kita lakukan ay?”


“Aku akan meminta bantuan Fajar untuk mempertemukan kita dengan mereka berdua, hanya itu satu-satunya jalan yang dapat kita lakukan saat ini. Kita harus menceritakan semuanya dan aku harus meminta maaf pada Sekar.”


“Kita harus meminta maaf secepatnya pada mereka berdua ay,” ucap Rena.


“Iya secepatnya, semoga bulan madu mereka segera berakhir.”


“Aku harap begitu juga ay, agar semua ini cepat berakhir.”


“Jalannya tidak mudah, tapi demi ketenangan kita, aku ingin menyelesaikan apa yang sudah aku perbuat.”


“Lalu bagiamana dengan Heru dan big boss?”


“Masih aku fikirkan sayang, satu-satu ya,” katanya tersenyum menatap istri tercintanya.


***


Sekar menatap bahagia cake showcase di depannya. Beraneka macam kue berada di dalam etalase kaca. Ada kue yang terbuat dari coklat, keju, buah-buahan dengan warna yang menarik dan menggugah selera.


Danil tersenyum melihat kelakuan istri mungilnya. Membawa Sekar ke toko kue sama seperti membawa anak kecil ke toko mainan. Wajahnya berseri, matanya berbinar seakan menemukan keindahan dalam sebuah maha karya.


“Mas cium kamu sekarang Bee, jika dalam waktu lima menit belum menentukan kue mana yang akan mengisi meja pojok kita,” ancam Danil, disambut tatapan tajam Sekar.


“Kamu tuh mas dimana mana mesum terus,” celetuk Sekar kesal.


“Mesum sama istrinya sah dong,” jwab Danil.


“Sah,” jawab Sekar, tanpa menatap suaminya.


“Tapi?”


“Tidak ada tapi mas Danil sayang,” ucap Sekar gemas.


“Kita sudah sepuluh menit di sini sayang, dan kamu belum menentukan kue mana yang akan kita santap. Jadi dalam waktu lima menit, jika kamu belum bisa menentukan pilihan, mas akan cium kamu seperti pasangan itu,” tunjuk Danil dengan dagunya.


Sekar memalingkan pandangannya arah yang di tunjuk oleh Danil. Di sudut sebelah kiri, terlihat laki-laki dan perempuan berambut pirang, postur tubuh keduanya terlihat sempurna bagai model, atau mungkin sebenarnya mereka model. Mereka sedang asik bercumbu mesra dengan bebasnya. Seakan dunia milik berdua, dan kita yang berada disekitarnya sedang mengontrak.


Sekar menatap suaminya sambil tersenyum menggoda. “Kalau mas melakukan hal itu sekarang, aku akan ucapkan selamat tinggal pada janjiku mas,” ancam Sekar sambil mencubit perut Danil.


“Baiklah nyonya ku sayang, seharian ini kamu selalu saja mengancam, membuat tuan kesayanganmu ini tersiksa." Danil pura-pura menahan sakit pada perutnya.


“Mau coklat atau cheese cake mas?” tanya Sekar tanpa menanggapi ucapan Danil. Dia juga tidak mengalihkan padangannya dari puluhan cake yang sedari tadi dilihatnya.


“Mas maunya kamu,” jawab Danil, sambil menunggu reaksi dari istrinya.


“Aku disini bersama mu mas, tapi aku tidak bisa dimakan,” jawab Sekar masih tanpa menoleh.


“Kamu manis Bee, jadi mas enggak perlu memakan kamu, cukup memandangi mu saja sudah membuat mas kenyang,” Bibir Danil tersenyum, dia sangat senang menggoda istri mungilnya.


“Sudah lah mas, kamu benar-benar menguji kesabaran aku.”


“Memang kesabaran kamu lagi mau naik tingkat ya Bee, kok harus di uji?” tanya Danil sambil menatap istrinya.


Sekar menatap suaminya dengan tatapan kesal. Matanya mengecil terlihat sipit, bibirnya digigit sedikit, dan menatap dengan wajah datar dan terlihat kesal. Hal itu terlihat sangat menggemaskan bagi Danil. “Jangan pernah menggigit bibir kamu depan orang lain Bee,” pinta Danil.


“Kenapa?” tanya Sekar tanpa menoleh pada suaminya.


“Kalau ngomong tuh di tatap lawan bicaranya sayang, apalagi mas ini suamimu,” katanya sambil mendekatkan wajahnya.


"Jawab aku mas, mengapa tidak boleh menggigit bibir di depan orang lain?"


"Karena itu sangat menggoda sayang, aku tidak mau orang lain berfantasi tentang kamu," jawab Danil sambil mengecup lembut pipi istrinya.

__ADS_1


“Mas nakal,” katanya sambil menyapu bibir Danil dengan jarinya.


“Waktu habis dan kamu sudah menentukan pilihan?”


“Simpan mesummu mas, aku sudah memesan kuenya,” jawab Sekar sambil mengajak Danil kembali ke meja pojok mereka.


“Lebih baik nahan mencium kamu, dibanding mas harus puasa nanti malam,” katanya menggoda istrinya.


Sekar menatap Danil sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Apa yang salah dengan suami aku sih, kamu benar-benar ngeselin tahu enggak sih.”


“Mas ngeselin?” tanya Danil menatap penuh cinta pada Sekar. “Kamu tahu Bee, yang harus disalahkan itu kamu, salahkan kamu terlalu menggemaskan buat mas, sehingga mas tidak tahan untuk tidak menggoda kamu.”


“Ya ampun tolong berhentilah mas Danil,” pinta Sekar sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.


Danil menatap Sekar sambil tersenyum penuh cinta, dia bangkit dan mencium kening istrinya dengan penuh sayang. Semburat merah menghiasi kedua pipi wanitanya.


“Salahkan kota ini Bee, cintaku semakin bertambah ketika kita sampai disini,” katanya sambil mengedipkan mata. Sekar menggelengkan kepala menatap suaminya.


Tiga piring kue tersaji di depan mereka. Sekar menata ketiganya dengan cantik lalu memfotonya, sudah banyak foto yang mengisi memory ponselnya. “Bee, yang di foto itu jangan hanya kuenya saja. Kita kapan di fotonya?” tanya Danil.


“Sejak kapan mas Danil senang di foto?” tanya Sekar yang kini mengarahkan kamera smart phonenya.


“Sejak kamu menjadi istriku, kalau bisa semua memory ponsel ini penuh sama foto kamu dan kita.”


“Apakah suatu saat mas takut melupakan wajah aku?”


“Tidak mungkin aku melupakan kamu. Wajah cantik ini dan seluruh tanda di tubuhmu, mas ingat setiap detailnya,” jawab Danil.


“Lalu untuk apa lagi foto aku?”


“Istriku sayang, ketika mas sibuk nanti, hanya kamu yang dapat mengganti lelah mejadi semangat. Setiap ada waktu luang, hal yang aku lakukan adalah menatap dirimu,” kata Danil sambil memperlihatkan foto-foto Sekar yang memenuhi galeri foto.


“Mas Danil, foto-foto ini di dapat dari mana?”


“Ada deh,” jawab Danil.


“Foto Rena mana?”


“Kok nanyanya foto Rena sih, orang isinya foto kamu semua.”


“Iya, periksa saja ponselnya,” Danil tersenyum menatap istrinya yang cemburu.


“Hanya ini?”


“Mau sebanyak apa?”


“Selama ini kalian bersama?”


“Coba aku lihat,” kata Danil sambil mengambil ponsel Sekar.


“Mas, mau lihat apa?”


“Seberapa banyak foto kalian,” jawab Danil.


“Wow punya folder sendiri,” oceh Danil, tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel Sekar. “hanya ini?”


“Mau sebanyak apa?” tanya Sekar sama persis dengan yang Danil katakan, sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Cukup lima foto saja, jangan lebih,” jawab Danil. “Kamu dapat dari mana foto-foto ini?” tanya Danil ketika melihat foto dirinya di galeri foto ponsel Sekar.


“Ada deh,” jawab Sekar.


“Ayo jujur,” pinta Danil.


“Mas Danil jujur duluan,” pinta Sekar.


“Kamu duluan Bee.”


“Mas duluan.”


"Ladies first."


"Tidak ada salahnya sekali-kali para pria."


“Bee.”

__ADS_1


“Mas.”


“Ayo sayang.”


“Ayo mas.”


“Sekar.”


“Mas danil.”


“Kalau gitu dalam hitungan ke tiga kita sama-sama menyebutkan siapa yang berjasa dalam hal ini. Siap?”


“Siap mas,” jawab Sekar.


“Satu, dua, tiga,”


“Adit,” ucap Danil.


“Nia,” ucap Sekar.


“Ternyata mereka berdua ya. Beruntung kita memiliki sahabat seperti mereka,” ucap Danil, dijawab anggukan oleh Sekar sambil memotong kue Tiramisu kesukaan Danil dan menyuapinya. “Enak, semanis kamu Bee.”


“Enggak dong mas, masa semanis aku. Tiramisu itu perpaduan keju, coklat dan kopi. Manis, dan pahit. Maksud mas, Sekar itu manis tapi pahit?”


Danil tertawa menatap istrinya. “Mana ada manis tapi pahit. Kamu tuh selalu manis, terlalu manis sampai dapat membuat aku diabet kalau terus menatapnya.”


“Amit-amit deh mas,” ucap Sekar sambil mengetok meja kayu, berkali-kali. “Jangan pernah bercanda soal penyakit,” ancamnya.


Danil menatap Sekar sambil tersenyum. “Ini baru namanya manis rasa pahit. Istri mas ini manis, tapi kalau ngomongnya pedas. Ibarat makan satu bakwan rawitnya habis sepuluh.”


“Jadi maksudnya mas, Sekar itu judes?”


Danil kembali tertawa, kali ini dia mengacak rambut istrinya. “Kamu kenapa sih Bee, dari tadi marah-marah terus. Sudah enggak sabar nanti malam ya?” godanya.


“Ya ampun mas Danil, kamu tuh nyebelin banget sih.”


“Nyebelin tapi suka pake banget, cinta bin sayang, iya kan Bee?”


Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia menahan tawanya. Pusing menghadapi suaminya yang gombal setengah mati.


“Kalau lagi senyum coba sambil menatap suaminya gitu loh Bee. Mas ini senang sekali melihat kamu tersenyum, marah, kesal, bahagia, semua ekspresi kamu itu obat penenang jiwa.”


“Mas stop gombalnya please,” pinta Sekar menurunkan kedua telapak tangannya.


“Suatu saat ketika kita jauh, kamu pasti kangen mendengar kegombalan mas mu ini.”


“Kenapa ngomongnya gitu sih mas? Sekar enggak mau jauh sedikit pun dari mas.”


Danil menggenggam jemari Sekar, menyalurkan rasa cintanya yang selalu bertambah.


Bersambung...


***


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2