
“Kita harus gimana mas?” tanya Sekar bingung, ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
“Siang ini aku janjian lagi sama Rena,” kata Danil, tidak kalah bingung.
“Kok tidak bilang-bilang aku?” tanya Sekar kesal.
Danil tersenyum melihat istrinya yang sedang kesal. “Are you jealous baby?”
“Batalin saja,” sekar meninggalkan Danil.
“Apa yang di batalin?” tanya Danil menggoda istri mungilnya
“Honeymoonnya,” jawab Sekar asal.
“Tidak mungkin Bee, gila apa, mau batalin gimana?" tanya nya."
"Semuanya pasti mengantar kita ke bandara, lagian mas juga mau honeymoon,” cerocos Danil yang sudah menyerupai bunda dan mamahnya, kalau seperti ini.
"Memangnya kamu tidak mau pergi honeymoon?"
"Mau mas, masa enggak mau."
"Terus salah nya dimana Bee?"
“Mas kamu nih ngeselin banget sih,” kata sekar menatap suaminya yang sudah berada di depannya.
“Ngeselin gini, tapi bisa buat kamu makin cinta sama aku kan?” tanya Danil menggoda Sekar.
“Apa yang di batalin Bee? Mas serius nanya.”
“Ya batalin ketemuan sama Renatanya, gimana sih,” Sekar semakin kesal, suaminya tidak mengerti maksudnya.
“Maafin mas ya, kamu sih marah-marah terus, mas kan jadi bingung."
"Sudah ya, jangan cemburu lagi, maafin mas mau bertemu Renata tidak bilang-bilang, maafkan sudah menyetujui ajakan dia untuk bertemu."
"Maksud mas, hari ini menyetujui ajakan Rena itu biar dia tidak curiga, kalau hubungan kita baik-baik saja. Mas masih harus nyelidikin kejadian yang terjadi sama kita kemarin itu.”
“Tapi kan bisa ngomong dulu sama aku, bukan ngambil keputusan sendiri,” omel Sekar yang semakin kesal mendengar ucapan suaminya.
“Kamu tuh kesal sama mas, karena aku tidak minta izin dulu janjian sama Rena, karena kamu tidak ada janji sama Ryan, atau karena cemburu?”
“Tetot,” kata Sekar memberi tanda silang di depan mata Danil.
“Semua tidak ada yang benar,” jawab Sekar.
“Kalau gitu nilainya tidak seratus dong?” tanya Danil menggoda Sekar.
“Hah?” Sekar menunjukkan kebingungannya.
__ADS_1
“Duh sayang, kalau lagi cemburu gini memang buat otak jadi dongo,” ucap Danil tertawa ngakak melihat Sekar bingung.
“Kan tadi kamu bilang salah semua, ya kalau salah semua nilai yang di dapat tidak seratus,” ucap Danil menjelaskan.
“Ya ampun mas, dong dong banget sih aku,” ucap sekar menepuk keningnya.
“Makanya jangan marah-marah aja, jadi otaknya pindah ke dengkul,” Danil masih menggoda Sekar.
“Nyebelin deh mas.”
“Kalau bibirnya manyun gitu, pengen mas makan deh,” Danil berusaha menggoda istrinya lagi.
“Makan aja bibir ikan koi kesayangan ayah, tuh di kolam yang paling ujung sana, bibirnya sexy, tinggal pilih mau yang warna apa.”
Danil mendekati sekar tanpa disadari, lalu hap bibir mungilnya sudah jadi sasaran empuk suaminya yang gemes ngeliat istrinya cemburu.
“Aku mau bibir istriku saja, bibir ini yang paling sexy, ikan koi lewat,” ucap Danil.
“Mas ah, nakal, ngeselin banget deh,” omel sekar menghindari suaminya, ketika ciuman Danil semakin menuntut.
“Bee, sudah dong marahnya,” pinta Danil sambil melanjutkan aktivitasnya yang sempat di interupsi oleh istrinya.
“Ya ampun dasar pengantin baru!” teriak mamah Fina, mengagetkan kedua pengantin baru yang sedang di mabuk asmara ini.
Danil dan Sekar langsung menghentikan ciuman mesra mereka, posisi keduanya langsung menjaga jarak, merapihkan pakaian mereka yang cukup berantakan.
“Mamah sama bunda apa-apaan coba, ganggu anaknya aja,” ucap Danil menatap mama dan mertuanya dengan sedikit kesal.
Sekar yang setengah tubuhnya berada di belakang Danil hanya menunduk malu.
“Dari tadi kita mengetuk pintu kamar kalian, tapi tidak di bukakan, ya sudah kita masuk,” jawab bunda Rianti.
“Lagian kalian lagi mesra-mesraan begitu, pintu kamar tidak di kunci, jangan salahkan kami berdua dong, dapet tontonan gratis,” kata mamah Fina menggoda anak dan menantunya.
“Terus, mamah sama bunda mau apa nyari kita?” tanya Danil menatap kedua perempuan yang dicintainya.
“Mau lihat kalian packing saja,” jawab mamah Fina.
“Mama dan bunda kita tercinta, please deh kita bukan anak kecil lagi yang butuh kalian awasi untuk mengurusi isi koper kita."
"Apalagi sekarang aku sudah punya istri yang akan membereskan semua keperluan suaminya. Iya kan Bee?” tanya Danil sambil menatap mesra istrinya, Sekar mengangguk walau pipinya sudah seperti udang rebus, merah tersipu malu.
“Ya ampun bunda sama mamah Fina ngapain di kamar penganti baru?” tanya Ayah Bagas, yang ikut masuk ke dalam kamar bersama papah Andi.
“Kangen saja sama penganti baru kita, pengen ikut nimbrung,” jawab Bunda Rianti, menggoda anak dan mantunya.
“Masa ikut nimbrung di kamar pengantin baru, kalian menggangu privasi kita,” omel Danil.
“Sudah cukup kalian berdua ganggu Danil sama Sekar, nanti yang ada tidak jadi cucu kita,” kata Papah Andi menggoda keduanya.
__ADS_1
“Cukup kekepoan kalian para aki, nini, nenek dan kakek. Silahkan keluar, jangan ganggu anaknya yang lagi mesra-mesraan,” pinta Danil sambil mengusir halus kedua orang tua dan mertuanya.
“Kalau butuh les tambahan kita bisa mulai private loh Nil,” goda ayah Bagas.
“Ya ampun ayah,” Sekar berteriak sambil menutup matanya melihat kelakuan ayahnya.
“Benar Sekar, kamu butuh kiat dan trik khusus tidak?” tanya Mamah Fina.
“Ma, please deh,” Sekar sudah pasrah melihat keluarga besarnya yang somplak.
“Jangan lupa kunci pintunya,” perintah papah Andi.
“Pastinya, mengingat kelakuan kalian yang luar biasa,” ucap Danil, menggelengkan kepalanya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.”
“Les private bisa melalui video call Nil,” goda papa Andi.
“Tidak butuh papah, kalian semua menggangu saja,” ucap Danil sambil menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
“Kenapa orang tua kita jadi aneh begini sih mas?” tanya Sekar.
“Mereka pikir kita belum dekat Bee, apalagi kemarin kamu sempet menghilang.”
“Mas ah, diungkit terus deh,” Sekar merasa bersalah.
“Bukannya mengungkit sayang, mereka tahunya kita masih tidak setuju dijodohkan, pasti masih berfikiran suatu saat nanti kita akan berpisah. Makanya mereka melakukan semua hal, biar kita semakin dekat, salah satunya ya honeymoon ini.”
“Maafin aku ya mas, suka bertindak semaunya.”
“Lain kali hal apapun harus diceritakan sama mas,” Sekar mengangguk.
“Sekecil apa pun.”
“Iya mas,” jawab Sekar. “Mas juga, aku tidak mau tahu paling belakangan,” pinta Sekar.
“Siap dan,” kata Danil sambil menaikan tangannya memberi hormat.
“Janji,” ucap Sekar dan Danil bersamaan.
“Iya janji,” jawab keduanya.
“Mas mau hubungi Rena dulu, kamu juga jangan lupa hubungi Ryan, Bee.”
Ryan menghubungi Renata begitu juga Sekar menghubungi Ryan, masing-masing menghadapi pasangannya, dengan sedikit perdebatan, akhirnya keduanya mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan.
Saatnya berangkat Honeymoon.
bersambung...
***
__ADS_1