Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Bunga Taman Hati


__ADS_3

Danil masih memeluk Sekar, ketika Hadi datang menghampiri. Hanya dengan anggukan Danil, orang kepercayaan papa Andi mengerti, kemudian meninggalkan keduanya.


“Makasih mas,” kata perempuan berambut ikal ini, masih memeluk suaminya dengan erat.


“Kenapa masih mengucapkan terima kasih? Hmm.”


“Hanya ingin mas, rasanya pelukan mas menenangkan, obat kegelisahan hati aku mas,” jawabnya masih memeluk suaminya, walau tidak seerat sebelumnya.


Danil tersenyum mendengar jawaban istrinya, dia bahagia, sangat bahagia pastinya. Suami mana yang tidak bahagia, bila menjadi menjadi obat, penghilang rasa sakit, untuk istri tercinta.


“Mas,” panggil istrinya, sambil melepaskan pelukannya, namun jari mereka masih saling menggenggam..


“Iya Bee,” jawab Danil, menyelipkan rambut ikal istrinya di telinga sebelah kanan.


“Mas Hadi belum datang mas?” tanyanya sambil mengelus rahang suaminya.


“Sudah datang dari tadi,” jawab Danil, menatap istrinya dengan gemas.


“Kok mas enggak bilang, nanti kita kemalaman di jalan mas. Ayo kita berangkat sekarang,” Sekar merapihkan poni rambutnya dengan jari tangan yang menjadi sisirnya.


“Istri mas sangat manja tadi, minta di peluk dengan erat. Bagaimana bisa mas melewatkan kesempatan yang datang, terlebih permintaan datang dari istri manjaku. Permintaan istri ku adalah titah, tidak mungkin suami mu ini mengabaikannya.”


“Mas, kamu ini ngomong apa sih? Seperti pujangga saja.”


“Bee, kamu mulai menggemaskan di saat seperti ini. Pakai acara pura-pura tidak tahu, padahal pipinya merona, mau menghindar tapi bingung mau ngeles apaan,” Danil membeberkan pandangannya pada Sekar.


Perempuan berhidung mancung ini, menatap suaminya dengan tatapan maut namun menggemaskan. Untuk Danil apapun tingkah laku istrinya, selalu menjadi titik kebahagiaan dirinya, sekecil apapun yang istrinya lakukan.


Sekar adalah pohon bunga yang sedang tumbuh didalam hatinya, walau tangkainya kecil, seiring berjalannya waktu akan terus tumbuh, akarnya semakin kuat dan kokoh seperti akar beringin, tidak akan mudah goyah, walau hembusan angin kencang dapat merontokkan kelopaknya sekalipun.


Bunga ‘Sekar’ yang selalu ada dalam taman hati Danil, kini, esok atau pun nanti akan semakin kuat. Keberadaannya akan selalu menenangkan, keharumannya akan memabukkan, keceriaannya akan membawa warna, dan kesetiaannya akan selalu menuntunnya ke arah jalan pulang. Bila sudah seperti ini, nikmat mana yang akan di dustakan?.


Danil berharap istrinya, sang ratu dalam taman hatinya ini, selalu mendampinginya dalam setiap saat, belajar untuk lebih saling memahami, mengikis perbedaan yang ada dan menua bersama dalam cinta dan kasih sayang.


‘Tuhan berbaik hati lah padaku, tolong jaga rasa cinta tulus kami,” doa Danil dalam hatinya, tanpa merubah tatapannya dari Sekar.


“Ada apa mas?” tanya Sekar masih mengusap lembut rahang Danil.


“Tidak ada apa-apa Bee, mas bahagia.”


“Bahagia?”


“Iya tadi si mentul ini, meluknya kencang banget,” kata Danil, mencubit hidup mancung Sekar.


“Mas Danil, KDRT tahu, sakit!!!” Sekar protes, sambil mengusap hidungnya.


“Maaf Bee, kamu menggemaskan sayang.”

__ADS_1


“Ya ampun gombal kamu mas! Awas ya kamu milik aku, sudah tidak bisa gombal sama orang lain, s*nat nanti,” ancam Sekar.


"Segampang itu ngomongnya," membuat Danil bergidik ngeri, namun masih bisa menggoda istrinya. “Mas, tidak sabar ingin cepat pulang. Ingin manja sama Bee di rumah kita saja,” Bisik Danil, kembali membuat pipi istrinya merona.


Sekar menatap suaminya, tangannya masih membelai lembut rahang kokohnya. ‘Terima kasih mas Danil, tanpa mas, mungkin Sekar masih bersama Ryan. Maafkan sekar selalu bergantung sama mas,' ucapnya dalam hati.


“Ada apa lagi Bee?”


“Tidak ada apa-apa mas,” jawab Sekar.


“Jangan pernah berbohong sedikit pun sama mas. Kamu sangat tahu mas tidak suka dibohongi.”


“Sekar bahagia menjadi istri mas, maafkan Sekar selalu bergantung sama mas.”


“Kembali meminta maaf, apakah tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain meminta maaf cantikku?”


“Sekar sangat bersyukur mendapatkan mas, entah apalagi yang harus Sekar lakukan selain meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih.”


“Mas lebih bersyukur mendapatkan Sekar,” Danil mendekatkan wajah pada wajah istrinya, menatap tanpa berkedip. “Bukankah kita saling bersyukur mendapatkan satu sama lain?”


“Iya mas,” jawab Sekar, masih menatap suaminya.


“Berarti kita impas sayang, sekarang tinggal bagaimana kita menjaga rasa ini, agar tidak pernah memudar atau hilang. Mas ingin kita berjalan bersama, saling memperkuat agar akar bunga dalam hati ini semakin kokoh dan kuat.”


“Mas tidak bisa menggambarkan bagaimana menunjukkan ekspresi kebahagiaan ini.”


“Mas, Sekar juga bahagia. Boleh minta pelukannya lagi mas?”


“Berangkat sekarang ya mas, enggak enak, sama mas hadi, Kita sudah molor dari waktunya” ajak Sekar. “Sekar malu sama mas Hadi, mas.”


“Kenapa harus malu? Kan yang di peluk suaminya sendiri.”


“Mas nih, paling suka godain istrinya.”


“Istrinya juga paling suka godain suaminya,” kata Danil sambil menggenggam tangan istrinya.


“Lepasin mas,” pinta Sekar ketika Danil memegang tangan kanan Sekar, menghentikan aktifitasnya. “Mas, senang ngelus rahang mas,” rengeknya dengan manja.


“Mas juga senang, tapi apa kamu mau kita undur perjalanan kita?” tanya Danil menggoda balik Sekar.


“Mengundurkan perjalanan?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“kenapa kata kamu sayang,”

__ADS_1


“Iya kenapa?”


“Bee, please deh kamu tuh pura-pura enggak tahu apa gimana sih?”


“Mas Danil apaan sih?”


“Ya ampun sayang, masa momennya lagi romantis gini, dong-dongnya muncul sih,” Danil mengecup bibir Sekar.


“Sekar tidak dong-dong mas Danil,” katanya kesal.


“Jadi sekarang mas harus menjelaskan seperti apa?”


“Sedetail mungkin,”


Danil tersenyum menatap istrinya yang polos, dan menggemaskan. “Bee, dari tadi kamu mengelus rahang mas, kamu tahu kan, hukuman apa yang pas untuk kenakalan kamu sayang?”


Sekar mulai mencerna ucapan suaminya, dia terdiam dan kemudian memperlihatkan keterkejutannya. “Ya ampun mas Danil,” Sekar melotot melihat suaminya.


“Apa Bee, sudah mengerti sayang?” tanya Danil gemas.


“MESUM!”


“Kalau sama istrinya enggak mesum dong sayang.”


“Mas Danil...”


“Makanya stop Bee, jangan buat mas meng-cancel perjalanan kita.”


Sekar bukannya menurut, dia malah semakin menggoda suaminya, membuat Danil menarik lembut wajahnya dan berbisik. “Berhenti atau mas cium sekarang,” ancamnya.


Diancam Danil malah membuat sekar semakin menggoda suaminya. “Cup...” Sekar mencium bibir Danil dan langsung berdiri. “Ayo mas, berangkat sekarang,” katanya, membuat Danil semakin gemas terhadapnya.


“Awas ya, berani godain mas, berarti siap menerima hukumannya nanti malam,” bisiknya, sambil berjalan menggenggam tangan Sekar menuju Hadi yang sudah menunggu mereka di Lobby tempat mereka menginap.


Hadi langsung menuju mobil yang telah siap, membawa sepasang suami istri ini menuju pusat kota mode dunia, Prancis.


Setelah memakan waktu kurang lebih tujuh jam perjalan darat menggunakan mobil dari Belanda menuju Paris, akhirnya mereka sampai bertepatan dengan Azan Isya waktu setempat. Perjalanan panjang cukup melelahkan, namun keduanya sangat menikmati.


***


Maaf baru sempat up...


Semoga kalian masih tetap setia membacanya, di tunggu komentar, like dan votenya. Terima kasih


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2