
“Ay, bisakah kita hidup normal seperti orang lain?” Renata bertanya pada Ryan.
Ryan menatap istrinya, dengan berat hati memaksakan diri untuk tersenyum menutupi kegundahan hatinya, namun kemudian dia menunduk dan menutup wajahnya.
Renata menarik kursi dan berhenti ketika dia tepat berada di depan Ryan. “Sekarang jujur sama aku ay, apa yang kamu pernah lakukan sama Sekar. Tidak ada penambahan apalagi pengurangan cerita,” Renata berkata tegas tanpa mau di bantah.
Ryan menatap istrinya dengan pasrah, dia tahu apa yang akan diceritakannya berdampak besar terhadap sikap istrinya. “Kamu harus janji dulu sama aku sayang...” Ryan berucap ragu.
“Mengapa?” Renata menatap Ryan.
“Karena ...”
“Kenapa harus ada janji?” tanya Renata memotong jawaban suaminya.
“Janji untuk tidak marah, atau mendiamkan aku.”
“Hal buruk apa yang kamu lakukan ay? sehingga aku harus berjanji untuk tidak marah atau mendiamkan kamu,” Renata menatap wajah suaminya, dia sangat curiga terhadap permintaan laki-laki yang berada di depannya.
“Janji dulu,” pinta Ryan.
Dengan berat hati, dan masih menatap tajam suaminya “Baiklah, kita lihat apa yang akan kamu jelaskan ay. Jangan salahkan aku bila setelah mendengar ceritamu sikap ku akan berubah,”
“Itu bukan janji sayangku?”
“Ayo cerita ay, tidak usah bertele-tele”.
“Kamu boleh marah, namun tolong jangan mendiamkan aku.”
“Kita lihat nanti ay, ayo sekarang mulai,” perintah Renata lebh tegas dari sebelumnya, tidak ingin ada bantahan atau interupsi lagi.
“Baiklah,” ucap Ryan pelan, dia bingung harus memulai dari mana. “Maafkan aku sayang,” katanya sebelum dia melanjutkan ceritanya, membuat Renata mengerutkan alisnya, matanya semakin tajam menatap suaminya.
“Perintah Big boss yang disampaikan Heru adalah membuat hidup sekar tersiksa...”
“Tersiksa?” Renata memotong cerita Ryan.
“Sayang, bolehkah aku menyelesaikan ceritanya dahulu, dan tolong bila akan berkomentar setelah aku menyelesaikan ceritanya,” pinta Ryan, dia sudah tahu istrinya pasti akan banyak menginterupsi.
“Sorry ay, ok aku tidak akan bertanya sampai kamu selesai bercerita. Ingat tidak ada penambahan atau pengurangan cerita,” ancam Renata.
“Siap sayang, aku janji,” janji Ryan.
__ADS_1
“Hampir setahun ini, aku menyiksa Sekar ay, maafkan aku,” Ryan menatap Renata tanpa berkedip, wajahnya menyiratkan penyesalan, sedangkan istrinya semakin menyipitkan matanya.
“Suamimu ini menjadi pacar yang tempramental, pemarah. Aku selalu mengumpat, membentak, memarahinya, dalam kondisi apapun. Hal sekecil apapun bisa aku jadikan alasan untuk melakukan semua itu. tidak perduli, dia ketakutan atau sakit hati atas apa yang aku lakukan.”
“Mungkin kamu bisa bahagia bersama Danil, namun tugas yang Heru berikan padaku itu berat. Aku harus menyiksa Sekar, fisik dan batin. Kalau bisa mungkin membuat Sekar depresi.” Ryan menatap Renata, wajah istrinya mengeras menahan amarah.
“Aku seperti psikopat sayang, tidak hanya sekali dua kali, lebih dari itu aku menyiksanya. Mencubit atau sekedar meremas tangannya dengan kuat, menjadi makanan Sekar bila bertemu aku. Hal paling mudah yang dapat aku lakukan.”
Renata menatap Ryan tidak percaya, suami tersayangnya melalukan hal yang sangat dia benci, hal yang tidak pernah ada dalam daftar hidupnya.
“Kalau sudah mulai kerasukan, aku lebih baik menjambaknya, terkadang sampai beberapa helai rambut panjangnya berada dalam genggaman di tangan ini,” Ryan mengangkat tangan kanannya, kemudian menurunkannya bersamaan dengan hela nafas yang berat. “Lebih baik cara ini, karena aku tidak perlu menatap Sekar yang penuh ketakutan. Sungguh aku tidak tega menatap wajahnya sayang, aku takut bila hal ini terjadi sama kamu,” Ryan menunduk, menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Renata menangis dalam diam, tidak sanggup mendengar cerita dari orang yang sangat ia sayangi. Dia seorang perempuan dan istri dari psikopat dadakan bernama Ryan, hatinya sangat sakit memikirkan bagaimana bisa semua ini terjadi. Semenjak mengenal suaminya, tidak pernah sedikit pun hal menakutkan ini akan dilakukan suaminya, terlintas dalam bayangan saja tidak pernah.
“Bahkan aku pernah memukulnya dengan benda keras,” pengakuan ini membuat Renata sangat terkejut.
Renata menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia tidak tahu bahwa Ryan tega berbuat seperti itu terhadap Sekar. Suaminya adalah seorang pria yang baik hati, lembut, bahkan berbicara dengan nada tinggi saja tidak pernah, dan sekarang pengakuan ini membuat shock perempuan yang memiliki rambut sebahu.
“Maafkan aku sayang,” Ucap Ryan nyaris tidak terdengar.
Tangis Renata semakin pecah, dia sudah tidak bisa menahannya. “kamu menakutkan ay.”
“Maafkan sa ... ya ... nggg ...” dengan terbata Ryan meminta maaf. Ratusan kata maaf terucap dari bibirnya.
“Ay...”
“Mungkin dalam hati Sekar dia mengutuk atau menyumpahi aku habis-habisan. Maaf sayang, sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan, yang penting kamu tidak harus melakukan hal keburukan terhadap Danil, karena aku yakin kamu tidak akan sanggup.”
“Maafkan ay, aku tidak tahu hal ini membuat kamu harus melakukan yang tidak seharusnya kamu lakukan.”
“Aku ingin mengakhiri semua ini, namun aku tidak tahu bagaimana caranya?”
“Haruskah kita jujur pada Sekar dan Danil?”
“Aku sempat berfikiran seperti itu, namun aku takut sayang,” Ryan menarik rambutnya, ada banyak hal yang mengganggu pikirannya.
“Apa yang kamu takutkan ay?”
“Big boss, Heru, aku tidak tahu sejauh apa mereka memata-matai kehidupan kita sayang, dan aku takut bila Sekar dan Danil tidak akan memaafkan kita.”
“Kemana Ryan, suamiku yang pemberani, selalu berdiri tegak tanpa takut apapun demi sebuah kebenaran.”
__ADS_1
“Sudah lama sekali aku menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Maafkan aku sayang, menjerumuskan kamu dalam masalah ini.”
“Tidak ay, aku menyusahkan kamu selama ini. Kamu sudah banyak berkorban untuk kehidupan kita. Maafkan istrimu yang tidak bisa bersikap tegas, tidak bisa memberikan solusi yang terbaik, karena aku masalah ini ada, karena aku kamu menjadi seseorang yang ... yang ...” Renata menangis.
Ryan merengkuh istrinya penuh sayang, keduanya menangis sambil berpelukan, perasaan bersalah memenuhi relung jiwa keduanya, betapa penyesalan selalu datang terlambat.”
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi jujur ay, aku ingin menyelesaikan semua ini. Aku ingin semua ini berakhir,” harapan Renata.
“Aku akan memikirkan jalan terbaik yang harus diambil, secepatnya kita akan mengakhiri semua ini,”
“Akhiri secepatnya ay, aku ingin hidup tenang.”
“Siapa yang tidak ingin hidup tenang sayang, kasih aku waktu untuk menyelesaikannya, aku sudah lelah menjalani semua ini.”
“Kita sudah lelah ay, semoga kita tidak membutuhkan waktu lama untuk mengakhiri drama yang tak kunjung usai ini,” Renata mengusap wajahnya berkali-kali.
“Kasih aku waktu sayang, janji tidak akan lama...”
Bersambung...
Akankah Ryan menemukan cara tercepat untuk mengakhri semua ini?
Bagaimana kisah bulan madu Sekar dan Danil?
Semoga kalian masih setia menunggunya...
Ditunggu like, komentar dan votenya...
Terima Kasih
__ADS_1