Cinta Milik Kita

Cinta Milik Kita
Rena Ryan SAH


__ADS_3

Ryan terbangun dari tidurnya, dia tatap calon istrinya yang masih terlelap di atas ranjang, wajah polos Rena terlihat sangat cantik, walau sebagian tertutup rambut panjangnya. matanya masih terpejam rapat.


Ryan merubah posisi, dari tidur menjadi duduk, dan langsung menatap pesan yang baru saja masuk.


“Mas kawin sudah siap seperti yang loe mau, segera siap-siap ya, nanti Ridwan dan Nadia yang akan menjemput kalian, seperti rencana kemarin,” isi pesan yang dikirim oleh Fajar.


Ryan menatap kembali wajah calon istrinya. “Terima kasih sayang, aku tidak tahu kedepannya hidup kita akan seperti apa, yang pasti, aku selalu membutuhkan dukunganmu, dan aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita,” janjinya.


Ryan mengecup kening Rena, membelai rambutnya tiga kali, dan mengelus pipinya. Dia menatap wajah calon istrinya tanpa berkedip. Setelah dirasa cukup, kemudian dia bangkit hendak bersiap, namun tangannya di tarik.


“Mau kemana ay?” tanya Rena dengan suara serak khas bangun tidur. Kemudian dia menggeliat, melemaskan otot-ototnya yang kaku.


Ryan menyodorkan botol air mineral yang sudah di buka pada Rena. “Terima kasih ay,” katanya setelah meneguk habis isi botol.


“Kembali kasih sayang,” jawabnya sambil mencium kening Rena untuk kedua kalinya.


“Mau kemana?”


“Mau siap-siap, Ridwan dan Nadia yang akan menjemput kita,” jawab Ryan. “Ayo, bangun sayang, ada yang mau aku tanyakan serius,” pinta Ryan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rena.


“Aku akan menanyakan hal ini untuk terakhir kalinya,” katanya sambil menghembuskan nafas beratnya dan menatap Rena. “Sayang, apakah kamu masih ingin menjadi istriku? Kamu masih bisa mundur sayang, dan jangan pernah khawatir karena aku tidak akan dendam sedikit pun.”


Rena tersenyum menatap balik Ryan yang berada di depannya. “Apakah kamu meragukan ku ay?” tanyanya, ada sedikit gurat kecewa ketika menjawabnya.


“Tidak, aku sama sekali tidak pernah meragukan apapun sayang, namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak bisa berjanji apakah aku dapat membahagiakanmu atau tidak.”


“Ketika aku memutuskan untuk menjaga janin yang ada di dalam kandunganku, saat itu aku sangat yakin untuk melangkah bersamamu ay,” jawab Rena, sedetik pun dia tidak mengedipkan matanya.


“Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun sayang,” Ryan kehilangan keprcayaan dirinya.


“Bukankah cinta lebih kuat dari apa pun, mengapa masih ragu bila kita mempunyai tujuan yang sama?”


“Maafkan aku sudah menjerumuskan kamu ke dalam situasi ini yang.”


“Kenapa senang sekali menyalahkan diri sendiri ay, bukankah ini semua terjadi karena kita yang menginginkannya. Berarti kita berdua yang harus menanggunya bukan?”


“Aku tidak ingin kamu menyesal menikah dengan ku dikemudian hari yang,” ucap Ryan.


“Berarti kamu masih meragukanku ay?”


“Maaf, tidak sayang.”


“Tidak apa?”


“Ini untuk kebaikan kamu,” jawab Ryan.


“Kebaikan seperti apa, jika tidak ada kamu didalamnya. Taruhlah aku menyerah sekarang ay, apakah kamu siap kehilangan aku dan anak kita?” tanya Renata kesal.


“Tidak sayang, aku tidak siap,” jawab Ryan nafasnya semakin berat. “Kamu dan anak kita adalah cahaya hidup aku, maaf sayang.”


“Berhentilah mengucapkan maaf dan terima kasih ay. Kita sudah sepakat dan  membahas semua ini kemarin, jangan berbelit-belit dan ragu terhadap semua keputusan yang sudah kita ambil. Mari kita melangkah bersama dalam suka dan duka membina rumah tangga kita dengan bahagia dan penuh kasih sayang.”


“Beruntungnya aku memilikimu sayang,” Ryan mengelus lembut pipi Rena kemudian menggenggam kuat jemarinya.

__ADS_1


“Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi ay, sekarang tinggal waktunya kita untuk sama-sama berjuang meraih impian.”


“Iya sayang, aku akan menggapai impian itu demi kamu dan anak- anak kita, selama ada dukungan dari kamu, aku rasa semuanya akan baik-baik saja.”


Rena memeluk Ryan dengan erat, “Jangan pernah letih untuk memberi dukunganmu sayang,” bisik Ryan.


“Tidak akan pernah ay,” jawabnya dengan yakin, seyakin ia memutuskan untuk menikah dengan Ryan.


**


Rena terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih, dan rok batik perpaduan warna hitam dan putih. Rambutnya di cepol sederhana dengan riasan natural menambah keanggunan seorang Renata.


Sedangkan Ryan menggunakan kemeja abu-abu muda, dibalut dengan jas abu-abu tua senada dengan warna celananya, tubuh atletisnya terlihat sangat gagah. Janggut tipis di dagunya membuat dia terlihat sangat tampan.


“Kalian berdua memang pasangan yang cocok, satu cantik yang satunya tampan,” puji Nadia setelah melihat keduanya selesai bersiap.


“Apakah Ryan setampan itu? Sampai-sampai pacarku ini memujinya,” ucap Ridwan, membuat perempuan yag menggunakan kebaya hijau muda itu menatap tajam wajah kekasihnya.


“Dia sahabat kamu yang dan akan menikah, kamu cemburu? itu sungguh kelewatan sayang,” kata Nadia sambil mencubit perut Ridwan.


“Itu tandanya gue memang tampan, terbukti cewek loe muji gue,” goda Ryan, membuat Ridwan mencibir, pura-pura kesal.


“Jangan terlalu percaya diri Yan, itu hanya pujian biasa, yang tertampan hanyalah Ridwan seorang,” ucap Nadia sambil tertawa.


“Dengar bro, itu hanyalah pujian biasa jangan melambung tinggi, kalau jatuh sakit.”


“Ryannya aku tidak akan melambung tinggi karena pujian Nadia. Dia sudah membuktikan hanya mencintai aku dan anak kita. Pujian itu hanya serpihan debu, yang akan tertiup angin, dan menghilang,” Rena membalas Ridwan, dihadiahi kecupan mesra dikeningnya.


“Kamu segalanya sayangku,” kata Ryan.


“Sudah siap semuanya?” tanya Fajar yang tiba-tiba saja masuk bersama Zahra, istrinya.


“Siap,” jawab Ryan, disertai anggukan kepala Rena.


“Na, Ryan nya aku pinjam sebentar ya,“ Fajar meminta izin pada Rena, di jawab anggukan oleh calon mempelai wanita itu.


“Bu, sampai ketemu di luar,” pamitnya pada Zahra, dan istrinya pun membalas denga senyum manis dan anggukan kepala..


“Ya ampun Fajar, tenang saja istri cantikmu ini tidak akan ada yang menculiknya. Serahkan saja pada Nadia, dengan senang hati pasti akan menjaga akan menjaga Zahra mu,” goda Nadia.


“Ada juga Zahra yang bakalan ngejagain loe,” balas Fajar, sambil meninggalkan ruangan, diikuti Ryan dan Ridwan.


“Nyenyak tidurnya semalam Na?” tanya Zahra.


“Nyenyak banget Ra, aku sampai tidak sadar tiba-tiba sudah pagi.”


“Semalam kamu kecapean, Ryan tadinya nekad mau bawa ke hotel, tapi pasrah setelah Ridwan marahin, alhasil kalian berdua tidur di kamar Ridwan,” Nadia menjelaskan.


“Semalam rasanya cape sekali,” ucap Rena. “Zahra cantik sekali, sejak kapan menggunakan hijab” puji Rena tulus.


“Baru satu bulan Na. Selama itu kita tidak pernah bertemu ya,” jawab Zahra.


“Kalian berdua sih, pake acara menghilang sebulan ini,” kata Nadia.

__ADS_1


“Kita butuh waktu untuk ngobrol, nanti ya setelah acara ini selesai,” kata Rena.


“Sudah siap Na?” tanya Zahra, dijawab anggukan kepala oleh Rena. Kita sudah harus ke ruangan,” katanya, setelah membaca pesan yang masuk.


“Bismillahirrahmannirahim, “ bisik Zahra, dan Rena pun mengikutinya.


Zahra dan Nadia mengapit Rena menuju tempat akad nikah, area outdoor Masa Depan Cafe milik Ridwan telah di sulap menjadi tempat yang sangat cantik, walau sederhana namun membuat hati Rena terharu. Terlebih saat dia tahu wali nikahnya adalah Kak Damar, kakak kandungnya.


Damar tersenyum pada adik semata wayangnya, kedatangannya membawa kebahagiaan tersendiri untuk Ryan dan juga Renata. Air matanya turun tanpa diminta, Damar tersenyum dan mengelengkan kepalanya seakan berkata, “Jangan menangis adik, kakak disini untuk merestuimu.” Semua proses berjalan perlahan dan khidmat, hingga tiba saatnya Damar dan Ryan saling bersalaman, melaksanakan proses ijab qabul.


“Saudara Ryan Wisesa bin Cahya Wisesa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik kandung saya bernama Renata Surawijaya binti Agung Surawijaya dengan mas kawinnya berupa emas logam mulia lima belas gram tunai.”


“Saya terima nikahnya dan kawinnya, Renata Surawijaya binti Agung Surawijaya dengan mas kawinnya yang tersebut tunai.”


Dengan sekali tarikan nafas, Ryan mengucapkan qabulnya. “Sah,” ucap kedua saksi yang diwakilkan oleh Fajar dan Ridwan.


Resmi sudah Ryan dan Rena menjadi sepasang suami istri. Walau ada rasa yang kurang, namun mereka bersyukur kini sudah sah dalam ikatan pernikahan.


“Terima kasih kakak,” ucap Rena sambil memeluk kakak semata wayangnya.


“Berbahagialah adik kecilku,” Ucap Damar memeluk erat tubuh mungil adiknya.


“Maafkan Rena kak,” pinta Rena sambil terisak.


“Semua sudah terjadi bukan, apalagi yang harus di sesali?” tanya Damar.


“Semua terjadi karena Rena,” jawabnya.


“Sudahlah sayang, jalannya sudah seperti ini, by the way selamat menempuh hidup baru adikku sayang. Berbahagialah, apapun yang terjadi di masa depan, selalu tersenyum seperti hari ini. Kamu sangat cantik,” puji Damar.


“Ryan,” Damar menatap laki-laki yang berada di sebelah adiknya.


“Iya mas,” jawab Ryan.


“Ada yang ingin aku bicarakan berdua saja.”


***


Bersambung...


Apa yang akan di bicarakan oleh Damar ya? Semoga kalian masih tetap sabar menunggunya.


Mohon maaf masih banyak typo dan kekurangan. Ditunggu like, komen dan votenya


Terima kasih


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2